Kill the Messenger: Pada Sebuah Hari Gelisah (Catatan Buat Aufa I) - santriwarrior

Breaking

Header Ads

SANTRIWARRIOR 728X90

Rabu, 01 April 2015

Kill the Messenger: Pada Sebuah Hari Gelisah (Catatan Buat Aufa I)

Oleh Set Wahedi

Aufa, film -dengan segala keinginan pembuatnya- hanya reportoar yang saya nikmati tanpa tendensi. Saya menikmatinya semisal makan camilan atau melempar guraun di tengah “paceklik” sebagai dosen baru. Karena itu, dalam beberapa hal, film tak membuat saya untuk antusias atau bersemangat dalam mengenali nama-nama aktornya. Tapi dalam beberapa hal lainnya, semisal di tengah kasus-kasus hukum yang semrawut, rupiah yang  melemah, dan kesenjangan sosial yang disinyalir semakin menganga, film menjelma menjadi semacam tanah lapang atau lanskap untuk mencari udara segar.

Menikmati film di tengah suasana yang sama silang sengkarutnya dengan suasana film tersebut, ternyata menimbulkan riak tersendiri. Mungkin riak itulah yang menggerakkan saya untuk menulis surat ini padamu –entah kau kini di mana- seusai menonton film “Kill the Messenger”. Film yang dirilis tahun 2014, saya dapatkan dari seorang teman, Bapak Niko, seorang dosen mata kuliah bahasa Inggris. Bapak Niko mempunyai koleksi film yang lebih banyak dibanding koleksi film di dalam notebookku.

Ketika menawariku film-film koleksinya, saya hanya menyebutkan genre atau tema yang saya sukai. “Kill The Messenger, saya kira sesuai dengan selesa Bapak.” Dia memanggilku bapak. Kami ber-bapak-ria sejak diterima sebagai dosen kontrak di Universitas Trunojoyo Madura. Padahal dulu –sewaktu kami sekelas kuliah di Universitas Gadjah Mada- kami ber-mas-ria. Ternyata tempat kerja itu tidak hanya mengekang “imajinasi’, tapi mulai mengatur kata-kata yang akan kita ucapkan. “Film ini mengisahkan seorang wartawan koran kecil dalam mengungkap kasus besar, Pak.”

“Boleh tuh,” saya menyambutnya dengan antusias. Aku berharap film itu kembali membangkitkan gairah menulisku yang hampir tergerus kesibukan menyusun materi, mengajar dan tugas-tugas lainnya. “Kalau ada film dengan genre sejenis, atau bernuansa intelijen, politik, atau seni boleh disertakan, Bapak.”

Setelah berpindah ‘ruang-memori’, saya tidak membiarkan film itu begitu lama mengendap di flasdiskku. Saya mendapatkan film itu Kamis siang, sore harinya saya sudah menikmatinya (dua hari setelahnya, baru saya mulai membuat catatannya untukmu).

***

Film “Kill the Messenger” dibuka dengan suara deraman tentang pernyataan-pernyatan perang pada narkoba oleh para petinggi Negara Amerika Serikat, “Musuh masyarakat nomor satu di Amerika adalah penyalah gunaan narkoba.” Lalu disusul kutipan dari pidato Nixon untuk mempertegas undang-undang tentang narkoba: “Hampir satu tahun saya mencurahkan seluruh perhatian untuk mengatasi masalah yang menghancurkan kesejahteraan masyarakat kita: penyalahgunaan narkoba.

Mengikuti pembuka “Kill The Messenger” saya diseret pada berita-berita seputar Bandar narkoba dua nine-bali yang ekskusi matinya ditunda. Saya kadang merasa heran Aufa, kenapa hukam mati terhadap gembong narkoba itu ditentang? Padahal Nixon dengan tegas menandaskan bahwa, “Narkoba itu mengancam masyarakat kita. Mereka mengancam nilai-nilai dan melemahkan lembaga kita. Mereka membunuh anak-anak kita,…”

Mendengar kutipan kalimat Nixon, saya sempat memeriksa beberapa bagian tubuh untuk memastikan diri saya dapat mengunyah bahwa pendapat mereka yang menentang hukuman mati  terhadap dua bali-nine, itu memang berdasarkan hak asasi manusia. Bukan karena proyek hak asasi manusia dan tekanan Australia. Ok, saya setuju pembunuhan itu bertentangan dengan nilai-nilai hak asasi manusia. Tapi bisakah kita mengabaikan dampak buruk para pengedar narkoba ini? Ok saya setuju dengan “bencilah perbuatannya. Tapi jangan benci orangnya”, tapi bagaimana saya mesti memilah antara perbuatan dan tubuh itu?

“Kill the Messenger” mula-mula saya nikmati sebagai tontonan yang “segar” di tengah kecamuk tafsir “kemanusiaan” atas hukuman mati yang ditimpakan pada dua bali-nine. Tapi itu hanya bertahan lima sampai sepuluh menit. Utuk selanjutnya, saya tidak merasakan kesegaran lagi. Saya mulai melupakan dua bali-nine. Saya mulai fokus pada “Kill the Messenger”.

Gary Webb, tokoh utama film ini begitu menarik dan eksotis. Saya seperti diseretnya untuk mengikuti jejak-langkah keberaniannya dalam mengungkap drama konyol negaranya. Para penguasa Amerika yang menyatakan perang, ternyata hanya melontarkan pepesan kosong. Pernyataan-pernyataan mereka tak ubahnya iklan sekadar meraih kekuasaan. Bahkan, CIA, badan intelejen resmi Negara Amerika, diam-diam melakukan “perdagangan” narkoba. Lebih kejinya lagi, perdagangan haram ini dilakukan untuk membiayai perang di kawasan Amerika Tengah.

Aufa, tapi bukan itu yang benar-benar menarik dan membuat saya gelisah sekaligus punya harapan. Gary Webb, tokoh utama film ini mengingatkan saya pada Udin, Oriana Fallachi dan lainnya. Gary Webb mungkin hanya wartawan koran kecil, San Jose Mercury-News, yang tidak diperhitungkan. Oplah korannya tidak mampu mengalahkan jawa pos dan kompas. Akan tetapi berkat keberaniannya, San Jose Mercury-News mampu mencuri perhatian publik. Pada puncak perjalanannya, Webb mendapatkan penghargaan sebagai jurnalis terbaik dan dua butir peluru yang menutup kisah hidupnya.

Webb, mulai menarik perhatian orang-orang di sekitarnya ketika dia menulis artikel tentang bandar narkoba. Dia tidak sepakat atas penyitaan yang dilakukan pemerintah terhadap rumah, mobil dan barang lainnya. Menurutnya, sebelum ada keputusan hukum yang inkrah, pemerintah tidak boleh menyita barang-barang milik warga Negara secara sembrono. Webb berpegang teguh pada hak seorang warga Negara untuk diberlakukan secara “kemanusiaan yang adil dan beradab.” Apa pun  profesinya, setiap warga Negara berhak mendapat perlakuan yang manusiawi. Dalam mempertahankan prinsipnya, Webb sempat berdebat dengan editornya. Demi mempertahankannya prinsipnya, Webb meminta editornya untuk menghapus namanya dari artikel yang ditulisnya, jika kalimat tentang kemanusiaan itu dihapus.

Aufa, pada bagian ini, Webb memperlihatkan pentingnya kalimat untuk mewakili sikap dan pendirian seorang jurnalis. Pemotongan kalimat yang dilakukan editornya, sama halnya dengan pengebirian terhadap keberanian seorang jurnalis menyuarakan kebebasannya. Pada bagian ini, saya mulai dihinggapi penasaran pada sepak terjang wartawan Webb. Saya pun tambah bersungguh-sungguh untuk mengikuti petualangannya. (bersambung…)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar