Oleh Set
Wahedi
Aufa,
film -dengan segala keinginan pembuatnya- hanya
reportoar yang saya nikmati tanpa tendensi. Saya menikmatinya semisal makan
camilan atau melempar guraun di tengah “paceklik” sebagai dosen baru. Karena
itu, dalam beberapa hal, film tak membuat saya untuk antusias atau bersemangat
dalam mengenali nama-nama aktornya. Tapi dalam beberapa hal lainnya, semisal di
tengah kasus-kasus hukum yang semrawut, rupiah yang melemah, dan kesenjangan sosial yang
disinyalir semakin menganga, film menjelma menjadi semacam tanah lapang atau
lanskap untuk mencari udara segar.
Menikmati
film di tengah suasana yang sama silang sengkarutnya dengan suasana film
tersebut, ternyata menimbulkan riak tersendiri. Mungkin riak itulah yang menggerakkan
saya untuk menulis surat ini padamu –entah kau kini di mana- seusai menonton
film “Kill the Messenger”. Film yang dirilis tahun 2014, saya dapatkan dari
seorang teman, Bapak Niko, seorang dosen mata kuliah bahasa Inggris. Bapak Niko
mempunyai koleksi film yang lebih banyak dibanding koleksi film di dalam notebookku.
Ketika
menawariku film-film koleksinya, saya hanya menyebutkan genre atau tema yang
saya sukai. “Kill The Messenger, saya kira sesuai dengan selesa Bapak.” Dia
memanggilku bapak. Kami ber-bapak-ria sejak diterima sebagai dosen kontrak di
Universitas Trunojoyo Madura. Padahal dulu –sewaktu kami sekelas kuliah di
Universitas Gadjah Mada- kami ber-mas-ria. Ternyata tempat kerja itu tidak
hanya mengekang “imajinasi’, tapi mulai mengatur kata-kata yang akan kita
ucapkan. “Film ini mengisahkan seorang wartawan koran kecil dalam mengungkap
kasus besar, Pak.”
“Boleh
tuh,” saya menyambutnya dengan antusias. Aku berharap film itu kembali
membangkitkan gairah menulisku yang hampir tergerus kesibukan menyusun materi,
mengajar dan tugas-tugas lainnya. “Kalau ada film dengan genre sejenis, atau
bernuansa intelijen, politik, atau seni boleh disertakan, Bapak.”
Setelah
berpindah ‘ruang-memori’, saya tidak membiarkan film itu begitu lama mengendap
di flasdiskku. Saya mendapatkan film itu Kamis siang, sore harinya saya sudah menikmatinya
(dua hari setelahnya, baru saya mulai membuat catatannya untukmu).
***
Film
“Kill the Messenger” dibuka dengan suara deraman tentang pernyataan-pernyatan
perang pada narkoba oleh para petinggi Negara Amerika Serikat, “Musuh
masyarakat nomor satu di Amerika adalah penyalah gunaan narkoba.” Lalu disusul kutipan
dari pidato Nixon untuk mempertegas undang-undang tentang narkoba: “Hampir satu
tahun saya mencurahkan seluruh perhatian untuk mengatasi masalah yang
menghancurkan kesejahteraan masyarakat kita: penyalahgunaan narkoba.
Mengikuti
pembuka “Kill The Messenger” saya diseret pada berita-berita seputar Bandar
narkoba dua nine-bali yang ekskusi matinya ditunda. Saya kadang merasa heran
Aufa, kenapa hukam mati terhadap gembong narkoba itu ditentang? Padahal Nixon
dengan tegas menandaskan bahwa, “Narkoba itu mengancam masyarakat kita. Mereka
mengancam nilai-nilai dan melemahkan lembaga kita. Mereka membunuh anak-anak
kita,…”
Mendengar
kutipan kalimat Nixon, saya sempat memeriksa beberapa bagian tubuh untuk
memastikan diri saya dapat mengunyah bahwa pendapat mereka yang menentang
hukuman mati terhadap dua bali-nine, itu
memang berdasarkan hak asasi manusia. Bukan karena proyek hak asasi manusia dan
tekanan Australia. Ok, saya setuju pembunuhan itu bertentangan dengan
nilai-nilai hak asasi manusia. Tapi bisakah kita mengabaikan dampak buruk para
pengedar narkoba ini? Ok saya setuju dengan “bencilah perbuatannya. Tapi jangan
benci orangnya”, tapi bagaimana saya mesti memilah antara perbuatan dan tubuh
itu?
“Kill
the Messenger” mula-mula saya nikmati sebagai tontonan yang “segar” di tengah
kecamuk tafsir “kemanusiaan” atas hukuman mati yang ditimpakan pada dua
bali-nine. Tapi itu hanya bertahan lima sampai sepuluh menit. Utuk selanjutnya,
saya tidak merasakan kesegaran lagi. Saya mulai melupakan dua bali-nine. Saya mulai
fokus pada “Kill the Messenger”.
Gary
Webb, tokoh utama film ini begitu menarik dan eksotis. Saya seperti diseretnya
untuk mengikuti jejak-langkah keberaniannya dalam mengungkap drama konyol
negaranya. Para penguasa Amerika yang menyatakan perang, ternyata hanya melontarkan
pepesan kosong. Pernyataan-pernyataan mereka tak ubahnya iklan sekadar meraih
kekuasaan. Bahkan, CIA, badan intelejen resmi Negara Amerika, diam-diam
melakukan “perdagangan” narkoba. Lebih kejinya lagi, perdagangan haram ini
dilakukan untuk membiayai perang di kawasan Amerika Tengah.
Aufa,
tapi bukan itu yang benar-benar menarik dan membuat saya gelisah sekaligus punya
harapan. Gary Webb, tokoh utama film ini mengingatkan saya pada Udin, Oriana
Fallachi dan lainnya. Gary Webb mungkin hanya wartawan koran kecil, San Jose
Mercury-News, yang tidak diperhitungkan. Oplah korannya tidak mampu mengalahkan
jawa pos dan kompas. Akan tetapi berkat keberaniannya, San Jose Mercury-News
mampu mencuri perhatian publik. Pada puncak perjalanannya, Webb mendapatkan
penghargaan sebagai jurnalis terbaik dan dua butir peluru yang menutup kisah
hidupnya.
Webb,
mulai menarik perhatian orang-orang di sekitarnya ketika dia menulis artikel
tentang bandar narkoba. Dia tidak sepakat atas penyitaan yang dilakukan
pemerintah terhadap rumah, mobil dan barang lainnya. Menurutnya, sebelum ada
keputusan hukum yang inkrah, pemerintah tidak boleh menyita barang-barang milik
warga Negara secara sembrono. Webb berpegang teguh pada hak seorang warga
Negara untuk diberlakukan secara “kemanusiaan yang adil dan beradab.” Apa
pun profesinya, setiap warga Negara
berhak mendapat perlakuan yang manusiawi. Dalam mempertahankan prinsipnya, Webb
sempat berdebat dengan editornya. Demi mempertahankannya prinsipnya, Webb
meminta editornya untuk menghapus namanya dari artikel yang ditulisnya, jika
kalimat tentang kemanusiaan itu dihapus.
Aufa,
pada bagian ini, Webb memperlihatkan pentingnya kalimat untuk mewakili sikap
dan pendirian seorang jurnalis. Pemotongan kalimat yang dilakukan editornya,
sama halnya dengan pengebirian terhadap keberanian seorang jurnalis menyuarakan
kebebasannya. Pada bagian ini, saya mulai dihinggapi penasaran pada sepak
terjang wartawan Webb. Saya pun tambah bersungguh-sungguh untuk mengikuti
petualangannya. (bersambung…)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar