Hari
ini (selasa, 30 April 2013) tergelar aksi (:demo) di depan pintu gerbang UIN
Sunan Kalijaga. Pesertanya anak-anak muda (:mahasiswa) berusia 20 tahunan.
Jumlah mereka kurang lebih 20 orang. Dengan dikelilingi teman-temannya, di atas
bekas tong minyak, yang sudah dicat belang hitam putih, seorang orator berdiri
memegang mikropon dan mengepal tangan. Panas matahari pukul 10an dan keringat
yang berlinang dengan berat, tak membuat suara mereka cepat parau. Secara
bergantian mata mereka nyalang di atas tong. Gema teriakan menghambat laju
kendaraan. Dan dengan nada-nada yang berkobar, hanya satu suara yang mereka
lontarkan: Tolak Kenaikan BBM Jilid II.
Sebagian
yang lain memegang poster: “Tolak Kenaikan BBM”, “Kenaikan BBM akan
Menyengsarakan Rakyat”, “BLT hanya tipu rezim yang tidak beres”, dan kalimat
lainnya menyimpan nada marah. Dalam selebaran yang dibagikan atas nama “Gerakan
Rakyat Anti Kenaikan BBM” (Sekber-FAM J-SMI-LMND) dengan label “Tolak Kenaikan
Harga BBM Jilid II” diuraikan lebih jauh bagaimana rezim SBY-Budiono sebagai
antek kapitalisme global,
Salam Anti
Penindasan
Tahun
ini rezim SBY-Budiono kembali memunculkan isu kenaikan BBM dengan alasan biaya
subsidi yang membengkak penghematan harga 30 triliun makan BBM harus dinaikkan.
Dengan menaikkan BBM yang merupakan aspirasi masyarakat yang diwakili oleh para
pengusaha yang merupakan antek-antek kapitalisme global.
Sudah
seharusnya rakyat sadar dan membuka mata lihatlah penghasilan freeport 70 tahun
dan beberapa tambang dan perkebunan milik asing yang mengeruk sumber daya alam
kita dengan penghasilan super besar, di satu sisi rakyat Indonesia
terlunta-lunta dan menderita.
Rezim
SBY-Budiono yang tidak becus mengelolah sumber daya alam tetapi rakyat
Indonesia menjadi korban
Maka
saatnya rakyat bersama-sama “MENOLAK KENAIKAN BBM” dengan segala retorika dan
skenario negara karena negara ini bukan “PANGGUNG SANDIWARA”
Maka
kami dari Gerakan Rakyat Anti Kenaikan BBM menuntut
1. Menolak Kenaikan
BBM Apapun Skenarionya
2. Nasionalisasi
aset-aset vital
YOGYAKARTA
30 APRIL 2013
Selesai membaca
selebaran para “aktor” saya seperti mengingat banyak hal: pidato ‘lelet’ SBY,
berita rakyat Indonesia makan nasi aking, studi banding anggota dewan,
eksploitasi SDA oleh pihak asing, mental para pejabat yang “korup”, dan masih
banyak menyembul dan menyerbu saya di bawah pohon beringin.
Melihat para
‘aktor’ mulau bergerak ke arah pertigaan Jalan Adisucipto, saya seperti
terseret pada empat tahun lalu. Empat tahun lalu saya pernah meneriakkan
kata-kata yang hampir sama: Tolak Kenaikan BBM. Melihat para aktor bergerak
dengan yel-yel saya seperti ingin bernostalgia. Saya ingin ikut mereka:
mengepalkan tangan, menyanyikan lagu juang mahasiswa, dan meneriakkan kata-kata
yang membakar semangat mereka. Yang pasti, andai saya jadi ikut: saya ingin
membaca puisi di tengah mereka. Memperdengarkan tentang arti kemanusiaan yang
dipermainkan oleh BBM.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar