Pedagang Besi Tua di Kepalaku - santriwarrior

Breaking

Header Ads

SANTRIWARRIOR 728X90

Selasa, 07 Mei 2013

Pedagang Besi Tua di Kepalaku


Hari ini (selasa, 30 April 2013) tergelar aksi (:demo) di depan pintu gerbang UIN Sunan Kalijaga. Pesertanya anak-anak muda (:mahasiswa) berusia 20 tahunan. Jumlah mereka kurang lebih 20 orang. Dengan dikelilingi teman-temannya, di atas bekas tong minyak, yang sudah dicat belang hitam putih, seorang orator berdiri memegang mikropon dan mengepal tangan. Panas matahari pukul 10an dan keringat yang berlinang dengan berat, tak membuat suara mereka cepat parau. Secara bergantian mata mereka nyalang di atas tong. Gema teriakan menghambat laju kendaraan. Dan dengan nada-nada yang berkobar, hanya satu suara yang mereka lontarkan: Tolak Kenaikan BBM Jilid II.

Sebagian yang lain memegang poster: “Tolak Kenaikan BBM”, “Kenaikan BBM akan Menyengsarakan Rakyat”, “BLT hanya tipu rezim yang tidak beres”, dan kalimat lainnya menyimpan nada marah. Dalam selebaran yang dibagikan atas nama “Gerakan Rakyat Anti Kenaikan BBM” (Sekber-FAM J-SMI-LMND) dengan label “Tolak Kenaikan Harga BBM Jilid II” diuraikan lebih jauh bagaimana rezim SBY-Budiono sebagai antek kapitalisme global,

Salam Anti Penindasan

Tahun ini rezim SBY-Budiono kembali memunculkan isu kenaikan BBM dengan alasan biaya subsidi yang membengkak penghematan harga 30 triliun makan BBM harus dinaikkan. Dengan menaikkan BBM yang merupakan aspirasi masyarakat yang diwakili oleh para pengusaha yang merupakan antek-antek kapitalisme global.

Sudah seharusnya rakyat sadar dan membuka mata lihatlah penghasilan freeport 70 tahun dan beberapa tambang dan perkebunan milik asing yang mengeruk sumber daya alam kita dengan penghasilan super besar, di satu sisi rakyat Indonesia terlunta-lunta dan menderita.

Rezim SBY-Budiono yang tidak becus mengelolah sumber daya alam tetapi rakyat Indonesia menjadi korban

Maka saatnya rakyat bersama-sama “MENOLAK KENAIKAN BBM” dengan segala retorika dan skenario negara karena negara ini bukan “PANGGUNG SANDIWARA”

Maka kami dari Gerakan Rakyat Anti Kenaikan BBM menuntut
1.      Menolak Kenaikan BBM Apapun Skenarionya
2.      Nasionalisasi aset-aset vital

YOGYAKARTA 30 APRIL 2013  

Selesai membaca selebaran para “aktor” saya seperti mengingat banyak hal: pidato ‘lelet’ SBY, berita rakyat Indonesia makan nasi aking, studi banding anggota dewan, eksploitasi SDA oleh pihak asing, mental para pejabat yang “korup”, dan masih banyak menyembul dan menyerbu saya di bawah pohon beringin.

Melihat para ‘aktor’ mulau bergerak ke arah pertigaan Jalan Adisucipto, saya seperti terseret pada empat tahun lalu. Empat tahun lalu saya pernah meneriakkan kata-kata yang hampir sama: Tolak Kenaikan BBM. Melihat para aktor bergerak dengan yel-yel saya seperti ingin bernostalgia. Saya ingin ikut mereka: mengepalkan tangan, menyanyikan lagu juang mahasiswa, dan meneriakkan kata-kata yang membakar semangat mereka. Yang pasti, andai saya jadi ikut: saya ingin membaca puisi di tengah mereka. Memperdengarkan tentang arti kemanusiaan yang dipermainkan oleh BBM.

Tapi hingga mereka selesai menyuarakan tuntutannya, saya tetap di tepi. Saya tak beranjak. Hanya kepala saya bergerak ke mana-mana. Dan ketika melihat mereka membagikan snack dan air mineral, kepala saya dipenuhi kenyataan lain: bahwa rezim yang mereka kutuk tak ubahnya pedagang besi tua. BBM yang mereka perdebatkan di meja dan kantor pemerintahan hanya sisa-sisa saja. Dan namanya pedagang besi tua, mereka memiliki wajah dingin dengan sebilah belati di tangan kirinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar