Mathali’: Syahdan... - santriwarrior

Breaking

Header Ads

SANTRIWARRIOR 728X90

Rabu, 08 Mei 2013

Mathali’: Syahdan...


Lelaki itu, kini, menghadapi hantu yang paling ditakutinya: masa lalu. Kini ia seperti pesakitan yang hanya bisa meringis. Kata-katanya seperti kehilangan suara, ditindih nyeri dan ngilu. Nyeri-ngilu yang menyeruak dari setiap sendi, urat, dan –mungkin?- denyut nadi dan hembusan nafasnya. Kenapa masa lalu itu begitu menakutkan baginya? Entahlah! Padahal masa lalunya bukanlah catatan merah atau gemuruh gerakan bawah tanah yang akan mengundang banyak pertanyaan dan tuntutan. Masa lalunya hanya bergerak antara ruang ketakberdayaan kedua orang tuanya dan mimpi-mimpi kehadiran gurunya.

Tetapi, –betapa pun menakutkannya hantu itu- ia “mesti” menghadapinya. “Mesti” menghadapinya. Dua lelaki –dengan usia kisaran dua puluh tahunan, sepuluh tahunan di bawahnya- yang menghubunginya dua bulan lalu, dengan “kepentingan” sekadar kopi darat, dan  janji singkat pertemuan di Kafe MAYas’A, kini menatapnya dengan dengan mata runcing dan gigi-gigi berkatupan dalam irama renyah dan nada rancak. Dua lelaki itu memintanya untuk bercerita: “Kami hanya ingin memasuki ruang dan waktu yang terentang per-episode. Tapi bukan seperti sinetron yang berputar.”

Tapi permintaan dua lelaki itu seperti moncong senapan “AK-47” yang mematikan: “Ayo buka pintu gudang masalalumu. Biarkan hantu-hantu itu berkelebat. Biarkan dinding kamar-kamarmu dan pualam masjid itu menakik ingatanmu. Biarkan alunan emrete dan permainan tasrif membongkar endapan lumpur mimpimu. Biarkan semuanya berkelebat.”

Dan ia pun menghela, mengumpulkan serakan peristiwa yang berlumut di kepalanya. Yang berlumut selama enam tahun. Yang tumbuh di dinding kamar mandi, kamar tidur, dan pilar-pilar masjid. Yang bernas di antara hentakan dan teriakan fa’ala yaf’ulu fa’lan. Yang matang di antara jeda yang berupa “pengkhianatan”: pulang atau cerita-cerita pertemuan ‘terlarang’ tanpa surat kuning.

***

Nasib saya di bangku sekolah seperti daftar menu terakhir dalam sebuah perjamuan makan. Saya hanya bisa memilih itu. Tidak boleh tidak. Apalagi yang menyodorkannya sepasang soca yang memandang dengan nyala kasih sayang. Saya sengaja menyebutnya dengan istilah kasih-sayang, meski saat itu saya menamainya sorot yang penuh kebencian. Di kemudian harilah, saya –mungkin sampeyan juga? –baru mengetahui itu sebagai nyala, ketika seribu beban menghimpit kepala. Ketika suara kita habis berteriak atau airmata sudah tak mampu menyungai. Ketika itu kita akan tahu dua soca itu –hanya dua soca itu- yang selalu menyala. Mengisi suara kita yang hilang. Menggemericikkan kesedihan yang mengering.

Selepas sekolah dasar, saya sebenarnya berhadapan dengan tahun ‘panas’. 1997. Kalian tentunya mungkin mendengar cerita-cerita di sekitar tahun itu, hingga puncaknya di bulan Mei 1998? Tapi tahun panas yang tercatat sejarah itu tidak pernah membakar tubuh saya. Seujung rambut pun tidak. Cerita tahun panas itu sampai pada saya setelah beberapa tahun kemudian. Tapi di tahun panas itulah, saya mulai memakan menu ‘mujarab’ dari sekian daftar menu terakhir di meja perjamuan nasib bangku sekolah saya. Saya menyebutnya menu “mujarab,” karena menu itulah yang menyebabkan saya memasuki ruang-ruang penuh cerita. Yang namanya cerita, pasti penuh imajinasi dan fantasi. Dengan sebuah cerita, kita bisa merangkai mimpi yang retak. Kita bisa mengobati luka yang akut, dan kita juga bisa menentukan takdir.

Karena itulah saya menyukai cerita. Menyukai dalam arti sebenarnya dan arti yang lain. Saya selalu teringat dengan Gao Xingjian1 mengenai cerita. Yang saya ingat ketika ia mengucapkan kata-katanya ketika menerima hadiah nobel. Ia menulis cerita sekadar ingin menghibur dirinya sendiri. Bahkan ia pun tak menyangka kalau ceritanya akan diterbitkan. Saya selalu teringat itu, dan saya setuju dengannya. Dengannya pula saya jadi bersemangat untuk mengobati deraan luka dan mengurangi tumpukan kesedihan dengan cerita. Hanya dengan cerita.

(Lelaki itu tertawa. Tawa dengan nada renyah tapi canggung. Kedua lelaki di hadapannya mengikutinya dengan senyum sumir. Sebelum melanjutkan ceritanya, lelaki itu meminta dua tamunya menyeruput suguhan: dua gelas besar es juice avocado dan segelas kecil kopi tanah seberang)

Di tahun panas itulah, dengan langkah gugup, pakai baju merah tanpa kerah, kali pertama saya mencium tangan guru kita. Tepatnya pukul 14.45 WIB, Selasa, 27 desember 1997. Lebih tepatnya lagi, adegan cium tangan bersejarah dalam hidup saya itu, bisa dirunut dari pagi pukul 07.40 di sebuah rumah 59 RT.08 RW.04 Dusun Ageng Desa Pinggir Papas. Berdasarkan petunjuk Ki Siti, saya mesti berangkat di hari itu. Hari kelahiran saya tiga belas tahun lalu. Di hari itu saya dianjurkan untuk keluar dari rumah pukul 08.00 WIB pas. Pukul 07.55, saya pun bersiap merangkak sebanyak tiga kali di bawah kangkangan ibu saya. sebelum merangkak saya mohon doa restu dan kerelaan ibu untuk melepas saya. Ibu menangis. Saya pun tak bisa menahan haru.

Rumah saya nomor 59. Kalau kalian suatu waktu ingin berkunjung, di depan rumah saya ada jambu air dan siri merahnya. Dari pintu rumah itulah, saya diarak oleh ibu, ayah, kedua adik saya, nenek, dan seorang paman. Jalan depan rumah saya waktu itu sempit. Becak tidak muat. Para tetangga pun menghantarkan saya dengan tatapan yang tak bisa saya artikan. Mereka hanya memanggil nama saya dan melekatkan pesan singkat di punggung saya: hati-hati. Jalan rumah saya ke jalan raya sepanjang 27 meter dengan tiga bagian. Bagian pertama jalan antara pintu kekes dan Buju’ Kabesa. Bagian ini sepanjang sepuluh meter. Jalan ini dapat dibilang berupa jeda kecil nan panjang atau sulur yang mirip garis tebal diapit muka-muka rumah di kanan-kiri. Di jalan inilah, kaki tumit saya mengeras. Pun usia hijau saya mencari matahari. Bagian kedua jalan ini hanya garis lengkung. Garis itu melingkari rumah Bha’ Supiarto, seorang Tuan Tanah Garam. Tuan Tanah di dusun saya begitu dihormati. Sehingga orang-orang yang melintasi garis lengkung ini mesti melengkungkan (:bukan melengkingkan) suaranya. Tapi kelak, ketika saya selesai membaca Gadis Pantai2, saya memiliki keyakinan baru: melengkungkan suara di garis lengkung itu, gerak tumbuhan tidak mengikuti sumbu matahari. Jalan bagian dua ini hanya lima meter.

Untuk jalan bagian ketiga, saya tertarik pada malam harinya. Jalan ini lengang. Rumah-rumah yang berjejer di kiri-kanannya memutuskan untuk membelakanginya. Keputusan ini ternyata kesempatan bagi kambing membangun “kamar-tidur” yang begitu luas di malam hari. Di malam hari, gelap di jalan itu begitu pekat. Sehingga setiap jengkal punggung rumah-rumah jalan itu seperti menyimpan bayang-bayang hitam yang menyeringai. Kalau malam sudah larut, sudah begitu larut, ketika baru usai melihat tv di balai desa, saya melintasi jalan itu dengan dada deg-degan. Ketika seorang kambing menggoyangkan kepala dan punggungnya, saya pun menggegaskan langkah saya. Mempercepat bayang-bayang tubuh saya.

Ketika saya melintasi jalan itu menuju ke pondok kita, saya seperti melihat sulur-sulur putih. Sulur-sulur yang menyimpan aura yang menggoncang sekaligus menarik-narik tubuh saya. Hingga tubuh saya berguncang. Dada saya berdredek. Sulur-sulur itu seperti menjulur dari kekes, batu-batu, dan derainase di sepanjang jalan. Sulur-sulur itu berombak lebih pekat ketika saya melintasi pasar sintral.

Tapi sebenarnya sulur-sulur itu menjalar dari percakapan dengan ibu saya dua hari lalu.
“Set, sudah bulatkah kau ingin mondok?”
“Saya ingin seperti Riyadi, Bu.”
“Mondok itu minimal dua puluh lima tahun, Set. Selama itu kau akan jarang pulang.” Suara ibu bergetar. Getarnya menikamkan sebilah belati khawatir berkarat. Tapi buru-buru senyum tirusnya segera melapisinya. “Ibu hanya bisa berdoa. Kau yang akan menjalani.”

Dari getar suara ibu, saya pun paham arti ‘jarang pulang.’ Arti yang sebenar-benarnya. Artinya saya akan jarang bertemu dengan ibu, ayah, dua adik saya, nenek, dan kerabat yang lain. Selain itu tidak.

Hari pertama di pondok sulur-sulur itu bukan hanya mengguncang tubuh saya. Menjelang malam, ketika adzan berkumandang, ketika orang-orang berseragam baju koko dan kopyah putih, dengan sarung warna-warni, saya merasakan menit dan jengkal bumi mengeras di ujung pupil mata saya. Kerjap waktu saya mengeras seperti manik-manik dan mencair laksana licin kelingking hujan. Sulur-sulur itu terus menyeret saya menjauh dari jalan di depan rumah, jambu air, siri merah, dan pasar sintral.


(cuplikan dari cerita panjang “Mathali’: Syahdan...”)
Note:      
1.      Gao Xingjian, seorang novelis peraih nobel sastra tahun 2000. Kutipan aslinya: “Untuk memelihara kebebasan intelektual, orang hanya berbicara dengan dirinya sendiri dan itu harus dengan kerahasiaan paling dalam... Soul Montain ditulis untuk diri saya sendiri dan tanpa harapan akan diterbitkan. (Pidato Nobel: Persoalan Bagi Sastra. Saya masih mencari ‘identitas’ penerbitnya)
Novel Pramoedya Ananta Toer. (Saya belum sempat memberikan keterangan singkat tentang novel ini dan pengarangnya)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar