Lelaki
itu, kini, menghadapi hantu yang paling ditakutinya: masa lalu. Kini ia seperti
pesakitan yang hanya bisa meringis.
Kata-katanya seperti kehilangan suara, ditindih nyeri dan ngilu. Nyeri-ngilu
yang menyeruak dari setiap sendi, urat, dan –mungkin?- denyut nadi dan hembusan
nafasnya. Kenapa masa lalu itu begitu menakutkan baginya? Entahlah! Padahal
masa lalunya bukanlah catatan merah atau gemuruh gerakan bawah tanah yang akan
mengundang banyak pertanyaan dan tuntutan. Masa lalunya hanya bergerak antara ruang
ketakberdayaan kedua orang tuanya dan mimpi-mimpi kehadiran gurunya.
Tetapi,
–betapa pun menakutkannya hantu itu- ia “mesti” menghadapinya. “Mesti”
menghadapinya. Dua lelaki –dengan usia kisaran dua puluh tahunan, sepuluh
tahunan di bawahnya- yang menghubunginya dua bulan lalu, dengan “kepentingan”
sekadar kopi darat, dan janji singkat
pertemuan di Kafe MAYas’A, kini menatapnya dengan dengan mata runcing dan
gigi-gigi berkatupan dalam irama renyah dan nada rancak. Dua lelaki itu
memintanya untuk bercerita: “Kami hanya ingin memasuki ruang dan waktu yang
terentang per-episode. Tapi bukan seperti sinetron yang berputar.”
Tapi
permintaan dua lelaki itu seperti moncong senapan “AK-47” yang mematikan: “Ayo
buka pintu gudang masalalumu. Biarkan hantu-hantu itu berkelebat. Biarkan
dinding kamar-kamarmu dan pualam masjid itu menakik ingatanmu. Biarkan alunan emrete dan permainan tasrif membongkar
endapan lumpur mimpimu. Biarkan semuanya berkelebat.”
Dan
ia pun menghela, mengumpulkan serakan peristiwa yang berlumut di kepalanya.
Yang berlumut selama enam tahun. Yang tumbuh di dinding kamar mandi, kamar
tidur, dan pilar-pilar masjid. Yang bernas di antara hentakan dan teriakan fa’ala yaf’ulu fa’lan. Yang matang di
antara jeda yang berupa “pengkhianatan”: pulang atau cerita-cerita pertemuan
‘terlarang’ tanpa surat kuning.
***
Nasib
saya di bangku sekolah seperti daftar menu terakhir dalam sebuah perjamuan
makan. Saya hanya bisa memilih itu. Tidak boleh tidak. Apalagi yang
menyodorkannya sepasang soca yang
memandang dengan nyala kasih sayang. Saya sengaja menyebutnya dengan istilah
kasih-sayang, meski saat itu saya menamainya sorot yang penuh kebencian. Di
kemudian harilah, saya –mungkin sampeyan juga? –baru mengetahui itu sebagai
nyala, ketika seribu beban menghimpit kepala. Ketika suara kita habis berteriak
atau airmata sudah tak mampu menyungai. Ketika itu kita akan tahu dua soca itu
–hanya dua soca itu- yang selalu menyala. Mengisi suara kita yang hilang.
Menggemericikkan kesedihan yang mengering.
Selepas
sekolah dasar, saya sebenarnya berhadapan dengan tahun ‘panas’. 1997. Kalian
tentunya mungkin mendengar cerita-cerita di sekitar tahun itu, hingga puncaknya
di bulan Mei 1998? Tapi tahun panas yang tercatat sejarah itu tidak pernah
membakar tubuh saya. Seujung rambut pun tidak. Cerita tahun panas itu sampai
pada saya setelah beberapa tahun kemudian. Tapi di tahun panas itulah, saya
mulai memakan menu ‘mujarab’ dari sekian daftar menu terakhir di meja perjamuan
nasib bangku sekolah saya. Saya menyebutnya menu “mujarab,” karena menu itulah
yang menyebabkan saya memasuki ruang-ruang penuh cerita. Yang namanya cerita, pasti penuh imajinasi dan fantasi.
Dengan sebuah cerita, kita bisa merangkai mimpi yang retak. Kita bisa mengobati
luka yang akut, dan kita juga bisa menentukan takdir.
Karena
itulah saya menyukai cerita. Menyukai dalam arti sebenarnya dan arti yang lain.
Saya selalu teringat dengan Gao Xingjian1 mengenai cerita. Yang saya
ingat ketika ia mengucapkan kata-katanya ketika menerima hadiah nobel. Ia
menulis cerita sekadar ingin menghibur dirinya sendiri. Bahkan ia pun tak
menyangka kalau ceritanya akan diterbitkan. Saya selalu teringat itu, dan saya
setuju dengannya. Dengannya pula saya jadi bersemangat untuk mengobati deraan
luka dan mengurangi tumpukan kesedihan dengan cerita. Hanya dengan cerita.
(Lelaki
itu tertawa. Tawa dengan nada renyah tapi canggung. Kedua lelaki di hadapannya
mengikutinya dengan senyum sumir. Sebelum melanjutkan ceritanya, lelaki itu
meminta dua tamunya menyeruput suguhan: dua gelas besar es juice avocado dan
segelas kecil kopi tanah seberang)
Di
tahun panas itulah, dengan langkah gugup, pakai baju merah tanpa kerah, kali
pertama saya mencium tangan guru kita. Tepatnya pukul 14.45 WIB, Selasa, 27
desember 1997. Lebih tepatnya lagi, adegan cium tangan bersejarah dalam hidup
saya itu, bisa dirunut dari pagi pukul 07.40 di sebuah rumah 59 RT.08 RW.04
Dusun Ageng Desa Pinggir Papas. Berdasarkan petunjuk Ki Siti, saya mesti
berangkat di hari itu. Hari kelahiran saya tiga belas tahun lalu. Di hari itu
saya dianjurkan untuk keluar dari rumah pukul 08.00 WIB pas. Pukul 07.55, saya
pun bersiap merangkak sebanyak tiga kali di bawah kangkangan ibu saya. sebelum
merangkak saya mohon doa restu dan kerelaan ibu untuk melepas saya. Ibu
menangis. Saya pun tak bisa menahan haru.
Rumah
saya nomor 59. Kalau kalian suatu waktu ingin berkunjung, di depan rumah saya
ada jambu air dan siri merahnya. Dari pintu rumah itulah, saya diarak oleh ibu,
ayah, kedua adik saya, nenek, dan seorang paman. Jalan depan rumah saya waktu itu
sempit. Becak tidak muat. Para tetangga pun menghantarkan saya dengan tatapan
yang tak bisa saya artikan. Mereka hanya memanggil nama saya dan melekatkan
pesan singkat di punggung saya: hati-hati. Jalan rumah saya ke jalan raya
sepanjang 27 meter dengan tiga bagian. Bagian pertama jalan antara pintu kekes dan Buju’ Kabesa. Bagian ini sepanjang sepuluh meter. Jalan ini dapat
dibilang berupa jeda kecil nan panjang atau sulur yang mirip garis tebal diapit
muka-muka rumah di kanan-kiri. Di jalan inilah, kaki tumit saya mengeras. Pun
usia hijau saya mencari matahari. Bagian kedua jalan ini hanya garis lengkung.
Garis itu melingkari rumah Bha’ Supiarto, seorang Tuan Tanah Garam. Tuan Tanah
di dusun saya begitu dihormati. Sehingga orang-orang yang melintasi garis lengkung
ini mesti melengkungkan (:bukan melengkingkan) suaranya. Tapi kelak, ketika
saya selesai membaca Gadis Pantai2, saya memiliki keyakinan baru:
melengkungkan suara di garis lengkung itu, gerak tumbuhan tidak mengikuti sumbu
matahari. Jalan bagian dua ini hanya lima meter.
Untuk
jalan bagian ketiga, saya tertarik pada malam harinya. Jalan ini lengang.
Rumah-rumah yang berjejer di kiri-kanannya memutuskan untuk membelakanginya. Keputusan
ini ternyata kesempatan bagi kambing membangun “kamar-tidur” yang begitu luas
di malam hari. Di malam hari, gelap di jalan itu begitu pekat. Sehingga setiap
jengkal punggung rumah-rumah jalan itu seperti menyimpan bayang-bayang hitam
yang menyeringai. Kalau malam sudah larut, sudah begitu larut, ketika baru usai
melihat tv di balai desa, saya melintasi jalan itu dengan dada deg-degan.
Ketika seorang kambing menggoyangkan kepala dan punggungnya, saya pun menggegaskan
langkah saya. Mempercepat bayang-bayang tubuh saya.
Ketika
saya melintasi jalan itu menuju ke pondok kita, saya seperti melihat
sulur-sulur putih. Sulur-sulur yang menyimpan aura yang menggoncang sekaligus
menarik-narik tubuh saya. Hingga tubuh saya berguncang. Dada saya berdredek.
Sulur-sulur itu seperti menjulur dari kekes, batu-batu, dan derainase di sepanjang
jalan. Sulur-sulur itu berombak lebih pekat ketika saya melintasi pasar
sintral.
Tapi
sebenarnya sulur-sulur itu menjalar dari percakapan dengan ibu saya dua hari
lalu.
“Set,
sudah bulatkah kau ingin mondok?”
“Saya
ingin seperti Riyadi, Bu.”
“Mondok
itu minimal dua puluh lima tahun, Set. Selama itu kau akan jarang pulang.”
Suara ibu bergetar. Getarnya menikamkan sebilah belati khawatir berkarat. Tapi
buru-buru senyum tirusnya segera melapisinya. “Ibu hanya bisa berdoa. Kau yang
akan menjalani.”
Dari
getar suara ibu, saya pun paham arti ‘jarang pulang.’ Arti yang
sebenar-benarnya. Artinya saya akan jarang bertemu dengan ibu, ayah, dua adik
saya, nenek, dan kerabat yang lain. Selain itu tidak.
(cuplikan
dari cerita panjang “Mathali’: Syahdan...”)
Note:
1.
Gao
Xingjian, seorang novelis peraih nobel sastra tahun 2000. Kutipan aslinya: “Untuk memelihara kebebasan intelektual,
orang hanya berbicara dengan dirinya sendiri dan itu harus dengan kerahasiaan
paling dalam... Soul Montain ditulis
untuk diri saya sendiri dan tanpa harapan akan diterbitkan. (Pidato Nobel:
Persoalan Bagi Sastra. Saya masih mencari ‘identitas’ penerbitnya)
Novel Pramoedya Ananta
Toer. (Saya belum sempat memberikan keterangan singkat tentang novel ini dan
pengarangnya)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar