Hidayat Raharja (Cerita buat Aufa I) - santriwarrior

Breaking

Header Ads

SANTRIWARRIOR 728X90

Minggu, 26 April 2015

Hidayat Raharja (Cerita buat Aufa I)

Oleh Set Wahedi

Aufa, kali ini saya ingin bercerita tentang seorang guru yang menjadi inspirasiku dalam bersikap dan menulis: Hidayat Raharja. Cerita itu menyergapku ketika siang itu (Minggu, 04 Januari 2014) diawali oleh pertemuan tak sengaja dalam acara bincang literasi, kami ngopi dan bercerita banyak tentang beberapa kegelisan yang kami hadapi. Siang itu, di warung belakang stadiaon Panglegur A. Yani, Sumenep, dia meragukan komitmen para elite negeri ini tentang kebudayaan. Dia mulai mengurai keraguannya dari persoalan kawin-silang antara sapi limusin dan sapi sepudi (Madura). Kawin-silang ini melahirkan varietas sapi jenis baru: sapi madrusin. Tapi varietas baru ini tidak memiliki ketahanan seperti halnya sapi  Madura pada umumnya.

“Padahal, dulu undang-undangnya melarang itu,” dengan setengah mengeluh, Pak Dayat –begitu kami memanggilnya- menyayangkan kebijakan pemerintah saat ini. “Tapi kini sudah direvisi. Saya sempat bertanya pada kepala dinas peternakan, kalau begini varietas lokal akan habis?”

Aufa, seperti halnya masyarakat Madura pada umumnya, Pak Dayat menekankan bahwa pengembang-biakan sapi dengan tetap menjaga ‘keotentik’ varietas sapi lokal itu penting. Dengan bertumpu pada sapi lokal, kita tidak hanya bisa meningkatkan kesejahteraan petani lokal. Tapi juga menjaga nilai-nilai lokal itu sendiri. “Kalau pun kita mesti mencapai suatu kemajuan haruslah bertumpu pada nilai-nilai kebudayaan yang kita miliki. Bukan mengikuti cara-cara orang lain, yang jelas-jelas hanya mengedepankan keuntungan semata.” Saya jadi malu Aufa mendengar uraian “visi-misi” kebudayaan Pak Dayat.  

Selain suramnya budidaya sapi, Guruku juga mengeluhkan amburadulnya tata kelola potensi wisata daerah kami. Menurutnya, banyak desa atau tempat yang bisa dikelola oleh pemerintah daerah untuk dijadikan tempat wisata. “Tetapi tujuannya bukan sekadar ‘menjual’ ke para turis. Akan tetapi melindungi dan melestarikan kearifan lokal.”

Setelah memperbincangkan berbagai kebijakan pemerintah yang mengkhawatirkan, beliau  kemudian mengingatkan tentang mimpi saya: desa ekowisata. Beliau mendorong saya untuk tidak berhenti berusaha membangun perpus desa, menjaga ekosistem lingkungan, dan menanam pohon di desa serta melatih masyarakat dengan kecapakan ‘industri-kreatif’.

Sebelum beralih topik, kami menyeruput kopi dan menyambar sepotong pisang goreng. Setelah obrolan kegelisan ringan, saya sedikit menggeser Pak Dayat pada ruang gelap yang menghantui saya. Mula-mula saya bercerita tentang film “Senyap” yang tidak senyap. Siang itu, kami seperti bersepakat untuk tidak menjadi kritikus film. Kami membaca “Senyap” atas isu dan kenangan sejarah yang menggelayut. Dalam hal ini, Pak Dayat memberi saya beberapa peringatan kritis (hati-hati). (1) 1965 adalah percaturan yang memilukan. Karenanya, seperti pertarungan catur, pihak yang kalah selalu dihabisi. Karenanya, dia meminta saya untuk tidak gegabah bersikap dan berpihak. “Hati-hati Set. Baca lebih cermat lagi. Kalau ingin “membongkar”nya dalam fiksi saja.” (2) “Kami korban.” Istilah ini dikeluarkan Pak Dayat untuk melihat kecenderungan isu yang dihembuskan oleh pihak yang kalah (dalam 1965: PKI). Pak Dayat berpandangan, bagaimana kalau seandainya mereka yang menang? Di sini dia juga menggaris-bawahi, bahwa korban yang sebenar-benarnya adalah para petani yang tidak tahu-menahu tentang PKI. Akan tetapi karena mereka pernah menerima bantuan dari PKI atau ikut pagelaran kebudayaan yang diselenggarakan PKI, mereka juga dianggap PKI. “Kalau mereka (para petani) itu benar-benar korban. Karena mereka memang tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Mereka hanya simpatisan yang tinggal terima dan tanda tangan. Tapi kalau para petinggi PKI itu, saya kira bukan korban. Mereka adalah pihak kalah perang?” (3) Propaganda asing. Untuk istilah ini kami  merumuskan bersama. Pak Dayat mengutip buku Hermawan Sulistyo “Palu Arit di Ladang Tebu” (kau mungkin membisa membacanya sendiri, Aufa). Sedangkan saya menegaskan beberapa poin: (a) film sebagai media-senyap propaganda (tak ada kebetulan dalam propaganda), (b) pengetahuan dan kebudayaan sebagai strategi penghancuran. Ilmu pengetahun –saya mengutip Michel Foucault- merupakan kekuasaan. Ilmu pengatahun memiliki implikasi pada kekuasaan dan kekuasaan memiliki pengaruh pada ilmu pengatahuan. Karenanya, siapa yang ingin berkuasa, harus memiliki pengetahuan seluas-luasnya. Pun sebaliknya, siapa yang ingin melanggengkan kekuasaan harus mampu menciptakan “ilmu-pengetahuan”. Dalam pembacaan saya, propaganda asing dengan ilmu pengetahuan dalam menata dan menguasai dunia dapat dilihat dari dua hal, yaitu isu dan sokongan dana. Demokrasi, multikulturalisme, HAM, feminisme merupakan isu-isu logis yang sering kali kita terima dengan “lahap”. Tanpa perlu berpikir untuk merumuskan kembali dan memadukannya dengan nilai-nilai lokal yang baik (maaf Aufa, di sini saya belum bisa menguraikannya secara satu persatu. Mungkin di ceritaku yang lain?). Sedangkan dalam kebudayaan dapat dilihat dari acara pertelevisian (saya pun belum bisa menjelaskannya di sini) yang begitu awut-awutan.

Aufa, siang itu kami seperti menemukan gairah untuk kembali bersikap dan berpihak pada nilai-nilai kebudayaan kami. Bersikap berarti kami harus berjuang menerjemahkan nilai-nilai lokal secara utuh. Kami sepakat, kearifan lokal tidak mengajari kami untuk melakukan diskriminasi, pelanggaran HAM dan pengekangan kebebasan. Bahkan dalam hal kesetaraan dan perdamaian, kearifan lokal memiliki metode dan caranya sendiri. Bukan dengan propaganda. Akan tetapi dengan sentuhan-sentuhan kemanusiaan. Dengan demikian, kemajuan yang hendak dicapai tidak menyisakan lubang hitam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar