Oleh Set Wahedi
Kami
mesti membuat tagline baru: perjalanan sejati adalah perjalanan yang mengikuti
kata hati. Karena jalan sering bercabang, ‘hati’
kami pun bercabang. Syeikh Maulana Ishaq tidak ada dalam rencana kami. Plang pertigaan jalan Paciranlah yang menyeret kami ke maqbarohnya. Syeikh Asmoro Qandi
sempat kami niatkan, tapi janji-makan-rajungan-Tuban
yang minta kami
menundanya pada perjalanan berikutnya. Selesai dari Sunan Bonang dan Goa Akbar,
kami pun menemukan rute lain: Makam Gus Dur. Pilihan ziarah ke makam Gus Dur bukan secara
spontan. Siapa pun Anda, mungkin sudah kenal dan akrab dengan Gus Dur. Pun
begitu dengan kami. Abu meski orangnya sedikit urakan, idolanya tetap Gus Dur.
Anam ingin sekali ziarah ke Gus Dur. Budi dan aku sama seperti anak muda
lainnya: takdim Gus Dur. Gus Dur bukan sekadar idola
yang melampaui zamannya. Gus Dur menjadi kekuatan tak terduga bagi kami
–mungkin siapa saja- untuk mengenang keagungan kemanusiaan di tengah kecamuk
politik kepentingan. Ziarah ke makam Gus Dur bukan sekadar mengingat kematian.
Ziarah ke makam Gus Dur semacam jalan menemukan belang yang akan ditinggalkan
harimau.
Rute
baru pun ditempuh. Keluar dari Tuban, kami mencari arah Babat. Sebelum mencapai
Babat hujan menghadang. Kami sedikit kalap. Babat terlewati. Hujan tidak
memberi kami ruang membuka google map. Kami
tersesat dalam gemuruh hujan. Di sini
kenangan tentang hujan menetes pada dua sisi. Di sisi kanan, perjalanan ini
terasa bermakna menemukan kebersamaan. Dengan hujan kami mendekat dingin di
dekat kami. Mulut kami gigil mengucapkan kata-kata yang tak sempat kami hitung.
Singkatnya, hujan di sisi kanan kami membuat kami tibat-tiba merasakan
kebersamaan yang dilumat lengang dan bising. Pada sisi kiri, kami menemukan
hujan menyeringai. Tetasannya menyinyikan lagu sumbang. Kami ditantang untuk
menghitung, menyepadankan antara hujan dan nyali kami. Pakaian yang basah,
jalanan licin, dan tubuh yang gigil adalah tanda-tanda matematika perjalanan.
Hampir
20 menit kami menikmati hujan dari pelataran toko yang tutup. Hujan reda, kami
putar balik. Masuk jalan Raya Babat, lalu lintas sedikit renggang. Abu dan Budi
melesat jauh. Saya dan Anam hampir kehilangan jejaknya. Di pertigaan lurus-Babat
dan kanan-Bojonegoro,
hujan kembali menghadang. Abu berseru basah. Jaket consinaku tahan hujan, tapi
tubuh sedikit oleng dalam terpaan angina basah. Di
sela konter dan toko jok sadel motor, kami ngiup. Hujan menari-menari. Google
map memperkirakan kami akan sampai 17.12. Ini masih pukul 15.13. Sekitar dua
jam lagi kami akan sampai di makam Gus Dur.
Tapi
bukan dua jam yang kami takutkan.
Mendung yang bergayut dan hujan yang timbul tenggelam membuat raut kami
dipenuhi ricik was-was. Hujan sejenak reda. Saya sedikit berseloroh pada
teman-teman, "Bilang sama hujan, kita mau ke makam Gus Dur. Kita anak putu
Anggasauto. Masak hujan tidak ngerti Anggasuto dan pengagum Gus Dur?" Rintik sedikit
mereda. Butiran air seperti serbuk tepung. Benarkah
hujan mereda karena selorohku tentang Syeikh Anggasuto dan Gus Dur?
Selain
hujan, kami juga dihadapkan pada rasa was-was motor Anam. Ban depan motor Anam
tidak mampu mencengkram. Lonyo.
Sehingga saya atau Anam enggan untuk melakukan rem depan. Sialnya, rem belakang
motor Anam tidak begitu menggembirakan. Saya dan Anam harus hati-hati. Kami
tidak boleh ceroboh. Jalanan licin bukan sekadar hambatan. Jalan licin bisa
merontokkan motor Anam dan nasib kami.
Di
tengah pergulatan melahap jalan aspal-licin dan hujan yang sesekali menyeringai
deras, saya teringat pasutri kakak kelasku: Mas Hafidz dan Mbak Nafis. Google map mengonfirmasi, perjalanan ke makam Gus Dur
satu jam lagi. Rumah Mas Hafidz-Mbak Nafis lebih pendek lagi: setengah jam.
Rumah kakak kelasku tidak ditemukan: di depan kantor polsek tembelang. Sebelum
sampai di rumah samping mushalla itu, kami dua kali berdamai dengan hujan
hampir 30 menit lebih: pertama, di depan rumah sakit Al-Aziz. Budi diserang
sembeng akut. Rautnya gelisah menahan beban air-seni. Mungkin perutnya sedikit
nyut-nyutan. Aku merasakan nyut-nyutan bersekutu dengan hujan: lebih menyiksa.
Abu lebih cair. Hujan yang diperkirakan akan berlangsung lama tidak
menyurutkannya untuk bermain smart-phone. Abu menawarkan ide-ide persinggahan
di teman-teman kopmanya. Shit, sayangnya teman-teman dikontak Abu tidak di
tempat yang diinginkan: di luar rumah. Perhentian kedua terjadi dengan jas
consinaku dipenuhi butiran hujan lebih banyak dibanding sebelumnya. Untuk
menahan nyanyian perut, aku memutuskan membeli roti tawar dan susu.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar