Menuju Gus Dur, Menembus Hujan I - santriwarrior

Breaking

Header Ads

SANTRIWARRIOR 728X90

Jumat, 02 Februari 2018

Menuju Gus Dur, Menembus Hujan I

Oleh Set Wahedi

Kami mesti membuat tagline baru: perjalanan sejati adalah perjalanan yang mengikuti kata hati. Karena jalan sering bercabang, ‘hati’ kami pun bercabang. Syeikh Maulana Ishaq tidak ada dalam rencana kami. Plang pertigaan jalan Paciranlah yang menyeret kami ke maqbarohnya. Syeikh Asmoro Qandi sempat kami niatkan, tapi janji-makan-rajungan-Tuban yang minta kami menundanya pada perjalanan berikutnya. Selesai dari Sunan Bonang dan Goa Akbar, kami pun menemukan rute lain: Makam Gus Dur. Pilihan ziarah ke makam Gus Dur bukan secara spontan. Siapa pun Anda, mungkin sudah kenal dan akrab dengan Gus Dur. Pun begitu dengan kami. Abu meski orangnya sedikit urakan, idolanya tetap Gus Dur. Anam ingin sekali ziarah ke Gus Dur. Budi dan aku sama seperti anak muda lainnya: takdim Gus Dur. Gus Dur bukan sekadar idola yang melampaui zamannya. Gus Dur menjadi kekuatan tak terduga bagi kami –mungkin siapa saja- untuk mengenang keagungan kemanusiaan di tengah kecamuk politik kepentingan. Ziarah ke makam Gus Dur bukan sekadar mengingat kematian. Ziarah ke makam Gus Dur semacam jalan menemukan belang yang akan ditinggalkan harimau.

Rute baru pun ditempuh. Keluar dari Tuban, kami mencari arah Babat. Sebelum mencapai Babat hujan menghadang. Kami sedikit kalap. Babat terlewati. Hujan tidak memberi kami ruang membuka google map. Kami tersesat dalam gemuruh hujan. Di sini kenangan tentang hujan menetes pada dua sisi. Di sisi kanan, perjalanan ini terasa bermakna menemukan kebersamaan. Dengan hujan kami mendekat dingin di dekat kami. Mulut kami gigil mengucapkan kata-kata yang tak sempat kami hitung. Singkatnya, hujan di sisi kanan kami membuat kami tibat-tiba merasakan kebersamaan yang dilumat lengang dan bising. Pada sisi kiri, kami menemukan hujan menyeringai. Tetasannya menyinyikan lagu sumbang. Kami ditantang untuk menghitung, menyepadankan antara hujan dan nyali kami. Pakaian yang basah, jalanan licin, dan tubuh yang gigil adalah tanda-tanda matematika perjalanan.

Hampir 20 menit kami menikmati hujan dari pelataran toko yang tutup. Hujan reda, kami putar balik. Masuk jalan Raya Babat, lalu lintas sedikit renggang. Abu dan Budi melesat jauh. Saya dan Anam hampir kehilangan jejaknya. Di pertigaan lurus-Babat dan kanan-Bojonegoro, hujan kembali menghadang. Abu berseru basah. Jaket consinaku tahan hujan, tapi tubuh sedikit oleng dalam terpaan angina basah. Di sela konter dan toko jok sadel motor, kami ngiup. Hujan menari-menari. Google map memperkirakan kami akan sampai 17.12. Ini masih pukul 15.13. Sekitar dua jam lagi kami akan sampai di makam Gus Dur.

Tapi bukan dua jam yang kami takutkan. Mendung yang bergayut dan hujan yang timbul tenggelam membuat raut kami dipenuhi ricik was-was. Hujan sejenak reda. Saya sedikit berseloroh pada teman-teman, "Bilang sama hujan, kita mau ke makam Gus Dur. Kita anak putu Anggasauto. Masak hujan tidak ngerti Anggasuto dan pengagum Gus Dur?" Rintik sedikit mereda. Butiran air seperti serbuk tepung. Benarkah hujan mereda karena selorohku tentang Syeikh Anggasuto dan Gus Dur?

Selain hujan, kami juga dihadapkan pada rasa was-was motor Anam. Ban depan motor Anam tidak mampu mencengkram. Lonyo. Sehingga saya atau Anam enggan untuk melakukan rem depan. Sialnya, rem belakang motor Anam tidak begitu menggembirakan. Saya dan Anam harus hati-hati. Kami tidak boleh ceroboh. Jalanan licin bukan sekadar hambatan. Jalan licin bisa merontokkan motor Anam dan nasib kami.

Di tengah pergulatan melahap jalan aspal-licin dan hujan yang sesekali menyeringai deras, saya teringat pasutri kakak kelasku: Mas Hafidz dan Mbak Nafis. Google map mengonfirmasi, perjalanan ke makam Gus Dur satu jam lagi. Rumah Mas Hafidz-Mbak Nafis lebih pendek lagi: setengah jam. Rumah kakak kelasku tidak ditemukan: di depan kantor polsek tembelang. Sebelum sampai di rumah samping mushalla itu, kami dua kali berdamai dengan hujan hampir 30 menit lebih: pertama, di depan rumah sakit Al-Aziz. Budi diserang sembeng akut. Rautnya gelisah menahan beban air-seni. Mungkin perutnya sedikit nyut-nyutan. Aku merasakan nyut-nyutan bersekutu dengan hujan: lebih menyiksa. Abu lebih cair. Hujan yang diperkirakan akan berlangsung lama tidak menyurutkannya untuk bermain smart-phone. Abu menawarkan ide-ide persinggahan di teman-teman kopmanya. Shit, sayangnya teman-teman dikontak Abu tidak di tempat yang diinginkan: di luar rumah. Perhentian kedua terjadi dengan jas consinaku dipenuhi butiran hujan lebih banyak dibanding sebelumnya. Untuk menahan nyanyian perut, aku memutuskan membeli roti tawar dan susu.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar