Kanca Kona: Kopi dan Buku - santriwarrior

Breaking

Header Ads

SANTRIWARRIOR 728X90

Jumat, 02 Februari 2018

Kanca Kona: Kopi dan Buku


Oleh Set Wahedi
Ngopi mungkin bukan sekadar ngumpul atau ngobrol bareng sambil minum kopi. Ngopi juga berkaitan dengan seni memilih tempat dan menemukan kenyamanan. Di kalangan orang-orang dahulu, ngopi menjadi suguhan pembuka pada satu per-tamu-an. Bahkan, penyuguhan kopi memiliki tata cara sendiri. Orang-orang Madura dalam penyuguhan kopi akan memerhatikan tiga hal: pembuatan kopi, tata cara penyuguhan, dan penyuguh kopi. Kopi harus dimasak dengan air yang benar-benar matang. Kalau tidak, kopi dengan air hangat-hangat kuku dianggap kurang sopan. Sedangkan gagang cangkir tidak boleh diletakkan pada sisi kiri tamu. Jika pakem ini dilanggar, sampai kapan pun kopi itu tidak akan disentuh. Dan yang perlu diperhatikan betul, penyuguh kopi hendaknya tidak bergetar atau stabil kekuatan kaki dan tangannya dalam meletakkan kopi di depan tamu.  
Untuk menemukan tempat dan suasana yang sesuai selera, ngopi memang perlu diperjuangkan. Demi ngopi yang pas, kita perlu menandai kopi yang kentel, waktu yang kondusif atau orang-orang yang enak untuk menjadi teman menikmati kopi. Dengan begitu, kita bisa mencicipi, merenungkan kopi dan segala peristiwa yang berputar di sekitar cangkir, meja dan para pengopi. Karena itu, saat kita ngopi bareng teman-teman, selalu ada satu alasan dan alasan lainnya yang mesti disepakati. Ngopi bareng menjadi semacam upaya menemukan dan meyakini arti penting kebersamaan dalam satu cita rasa.
Satu malam saya mendapat tawaran menarik dari Dedek: rumah kopi dengan penjaga ‘samawa’. Entah apa yang dimaksud dengan penjaga ‘samawa’. Tapi gerak-gerik Dedek, Gus Ibad, Gus Abud, Mustakim dan Udin mengindikasikan samawa itu adalah satu alasan yang kuat untuk ngopi. Ternyata rumah kopi dengan penjaga samawa itu adalah warung Kanca Kona Kopi.
            Warung Kanca Kona Kopi  sudah lama saya dengar. Beberapa kesempatan melintas di jalan lingkar barat Kota Sumenep, saya sempat memerhatikannya: sepertinya menarik? Posisi Kanca Kona Kopi di tepi jalan, memungkinkan semua orang dengan mudah atau dengan tidak sengaja bisa menemukannya. Singkatnya, Kanca Kona Kopi bukan rumah kopi asing bagi saya. Tapi baru malam itu saya bisa bertandang ke Kanca Kona Kopi.
Penjaga samawa yang dibicarakan teman-teman ternyata berdiri di pintu masuk. Posisinya pas depan pintu sebelah kiri, di sebelahnya seorang penjaga lainnya berdiri sejajar. Keduanya tersenyum ramah menyambut para pengunjung. Keduanya mengingatkan saya pada penerima tamu kondangan. Pada Dedek dan teman-teman dia mempertahankan senyumnya untuk tetap mengembang. Saya menikmatinya sebatas bunga mekar di pagi hari. Tapi bagi teman-teman saya, senyum itu bisa saja bermakna dentang lonceng rumah perjamuan di musim semi.
Mulanya saya merasakan hal yang biasa-biasa saja. Tak ada yang istimewa di sini, pikir saya sambil mengamati tata kursi dan meja. Hanya desain interiornya sedikit membuat saya mematung, mengingat-ingat warung kopi kesukaan saya di Jogja. Tapi ketika menunggu di depan kasir, pas di sebelah kanan saya, satu tulisan menarik terpampang keren: "Drink Good Coffee Read Good Books". Tulisan itu mungkin semacam motivasi atau saran. Lalu apa hubungan kopi dan buku yang baik?
Beberapa hari sebelumnya, saya nonton film "Filosofi Kopi 2: Ben dan Jody". Dalam film garapan Angga Dwimas Sasongko, kopi memiliki banyak makna hidup. Kopi, seperti halnya merawat anak, butuh ketelatenan dan sentuhan rasa. Tapi lain lubuk lain ikan. Lain tempat, lain makna. Apalagi lain film dan kenyataan. Saya pun mencari-cari kaitan buku dan kopi yang baik itu.
Kopi baik dapat saja diukur berdasarkan jenis, kualitas dan rasanya. Dalam hal ini, ngopi menjadi satu cara seseorang menunjukkan cita rasanya. Pilihan kopi menjadi citra lain kepribadian seorang pengopi. Kamu adalah kopi yang kamu minum. Karena itu, minum kopi yang baik dapat menyebabkan citra dan pikiran kita menjadi baik. Tapi bisa saja, kopi yang baik dapat diterjemahkan sebagai kopi yang bisa menyatukan perbedaan. Atau dalam ungkapan yang lebih hiperbola, pada hitam kopi kita bisa merefleksikan segala dosa-dosa kita. Pada manis kopi kita belajar keikhlasan untuk bermanfaat pada orang lain tanpa warna.
Lalu apa hubungannya dengan buku yang baik? Indonesia pernah dilanda masa kelam perbukuan. Semasa Orde Baru, beberapa buku dilarang beredar. Atas nama stabilitas keamanan negara, banyak buku Pramoedya Ananta Toer dibumi-hanguskan. Karena itu, selama Orde Baru buku-buku Pramoedya menjjadi buku yang mengundang perhatian. Konon, dengan gaya realisme sosialisnya, suara Pramoedya terlalu bising bagi gaya feodal Pak Harto waktu itu.
Pada Pada kenyataan semacam ini, buku baik itu bergantung pada cara pandang kita. Bergantung pada tafsir dan kuasa. Para penguasa akan menerjemahkan buku baik sebagai serangkaian kisah puja-puji pada keberhasilannya. Para aktivis akan menganggap buku baik itu sebagai kitab pengobar nalar dan semangat pergerakan, sedangkan para pendidik dapat memandang buku baik sebagai risalah panduan di dalam kelas.
Kalau tidak demikian, kita dapat menyatakan buku -meminjam ungkapan Sartre- adalah ruang, di mana manusia mengenyahkan kekosongan dan kehampaan hati. Atau kita bisa meniru Kafka yang menjadikan buku sebagai kapak es.
Sayangnya, malam itu, saya belum sempat mendiskusikan dan menemukan hubungan antara kopi dan buku. Saya dan teman-teman larut pada perbincangan nostalgia: Jogja, masa-masa di pondok dan beberapa kejadian lucu. Kopi susu yang disuguhkan penjaga samawa’ itu, pun saya biarkan termangu, sambil sesekali meneguknya. Dan ketika waktu menunjukkan perkopian berakhir, saya seperti tidak ingin langsung beranjak. Dalam beberapa detik, saya seperti perlu mengeja beberapa judul buku di rak samping kasir. Dan ingatan saya berusaha menyimpan sepenggal keterangan di rak buku itu: buku u/ dibaca di kanca kona. “Oke,” sambil melewati penjaga dan gerbang, hati saya bergumam, "Saya akan kembali. Suatu waktu nanti. Entah kapan itu?"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar