Oleh Set Wahedi
Ngopi mungkin bukan sekadar ngumpul atau ngobrol
bareng sambil minum kopi. Ngopi juga berkaitan dengan seni memilih tempat dan menemukan
kenyamanan. Di kalangan orang-orang dahulu, ngopi menjadi suguhan
pembuka pada satu per-tamu-an. Bahkan, penyuguhan kopi
memiliki tata cara sendiri. Orang-orang Madura dalam penyuguhan kopi akan
memerhatikan tiga hal: pembuatan kopi, tata cara penyuguhan, dan penyuguh kopi. Kopi
harus dimasak dengan air yang benar-benar matang. Kalau tidak, kopi dengan air
hangat-hangat kuku dianggap kurang sopan. Sedangkan gagang cangkir tidak boleh
diletakkan pada sisi kiri tamu. Jika pakem ini dilanggar, sampai kapan pun kopi
itu tidak akan disentuh. Dan yang perlu diperhatikan betul, penyuguh kopi
hendaknya tidak bergetar atau stabil kekuatan kaki dan tangannya dalam
meletakkan kopi di depan tamu.
Untuk menemukan
tempat dan suasana yang sesuai selera, ngopi memang
perlu diperjuangkan. Demi ngopi yang pas, kita perlu menandai kopi yang kentel,
waktu yang kondusif atau orang-orang yang enak untuk menjadi teman menikmati
kopi. Dengan begitu, kita bisa mencicipi, merenungkan kopi
dan segala peristiwa yang berputar di sekitar cangkir, meja dan para pengopi.
Karena itu, saat kita ngopi bareng teman-teman, selalu ada satu alasan
dan alasan lainnya yang mesti disepakati. Ngopi bareng menjadi
semacam upaya menemukan dan meyakini arti penting kebersamaan
dalam satu cita rasa.
Satu malam saya
mendapat tawaran menarik dari Dedek: rumah kopi dengan penjaga ‘samawa’. Entah apa
yang dimaksud dengan penjaga ‘samawa’. Tapi gerak-gerik Dedek, Gus Ibad, Gus
Abud, Mustakim dan Udin mengindikasikan ‘samawa’ itu adalah
satu
alasan yang kuat untuk ngopi. Ternyata rumah kopi
dengan penjaga ‘samawa’ itu adalah warung
Kanca
Kona Kopi.
Warung Kanca Kona Kopi sudah lama saya dengar. Beberapa kesempatan melintas
di
jalan lingkar barat Kota Sumenep, saya sempat memerhatikannya:
sepertinya menarik? Posisi Kanca Kona Kopi di tepi jalan, memungkinkan semua orang
dengan mudah atau dengan tidak sengaja bisa menemukannya. Singkatnya,
Kanca Kona Kopi bukan rumah kopi asing bagi saya. Tapi baru malam itu saya bisa
bertandang ke Kanca Kona Kopi.
Penjaga ‘samawa’ yang
dibicarakan teman-teman ternyata berdiri di pintu masuk. Posisinya pas depan pintu sebelah kiri, di sebelahnya seorang penjaga
lainnya berdiri sejajar. Keduanya tersenyum ramah menyambut para
pengunjung. Keduanya mengingatkan saya pada penerima tamu kondangan. Pada
Dedek dan teman-teman dia mempertahankan senyumnya untuk tetap mengembang.
Saya menikmatinya sebatas bunga mekar di pagi hari. Tapi
bagi
teman-teman saya, senyum itu bisa saja bermakna dentang
lonceng rumah perjamuan di musim semi.
Mulanya saya
merasakan hal yang biasa-biasa saja. Tak ada yang istimewa di sini,
pikir saya sambil mengamati tata kursi dan meja. Hanya desain interiornya
sedikit membuat saya mematung, mengingat-ingat warung kopi kesukaan saya di Jogja.
Tapi ketika menunggu di depan kasir, pas di sebelah kanan saya, satu tulisan
menarik terpampang keren: "Drink Good Coffee Read Good Books".
Tulisan itu mungkin semacam motivasi atau saran. Lalu apa hubungan kopi dan
buku yang baik?
Beberapa hari
sebelumnya, saya nonton film "Filosofi Kopi 2: Ben dan Jody". Dalam
film garapan Angga Dwimas Sasongko, kopi memiliki banyak makna hidup. Kopi,
seperti halnya merawat anak, butuh ketelatenan dan sentuhan rasa. Tapi lain
lubuk lain ikan. Lain tempat, lain makna. Apalagi lain film dan kenyataan. Saya
pun mencari-cari kaitan buku dan kopi yang baik itu.
Kopi baik dapat
saja diukur berdasarkan jenis, kualitas dan rasanya. Dalam
hal ini, ngopi menjadi satu cara seseorang menunjukkan cita rasanya. Pilihan kopi
menjadi citra lain kepribadian seorang pengopi. Kamu adalah kopi yang kamu
minum. Karena
itu, minum kopi yang baik dapat menyebabkan citra dan pikiran kita menjadi baik.
Tapi bisa saja, kopi yang baik dapat diterjemahkan sebagai kopi yang bisa
menyatukan perbedaan. Atau dalam ungkapan yang lebih hiperbola, pada
hitam kopi kita bisa merefleksikan segala dosa-dosa kita. Pada
manis kopi kita belajar keikhlasan untuk bermanfaat pada orang lain tanpa
warna.
Lalu apa
hubungannya dengan buku yang baik? Indonesia pernah dilanda masa kelam
perbukuan. Semasa Orde Baru, beberapa buku dilarang beredar. Atas
nama stabilitas keamanan negara, banyak buku Pramoedya Ananta Toer dibumi-hanguskan.
Karena itu, selama Orde Baru buku-buku Pramoedya menjjadi
buku yang mengundang perhatian. Konon, dengan gaya realisme sosialisnya,
suara Pramoedya terlalu bising bagi gaya feodal Pak Harto waktu itu.
Pada
Pada
kenyataan semacam ini, buku baik itu bergantung pada cara pandang
kita. Bergantung
pada tafsir dan kuasa. Para penguasa akan menerjemahkan buku baik sebagai
serangkaian kisah puja-puji pada keberhasilannya. Para aktivis
akan menganggap buku baik itu sebagai kitab pengobar nalar dan semangat
pergerakan,
sedangkan para pendidik dapat memandang buku baik sebagai risalah
panduan di dalam kelas.
Kalau
tidak demikian, kita dapat menyatakan buku -meminjam ungkapan Sartre- adalah
ruang, di mana manusia mengenyahkan kekosongan dan kehampaan hati. Atau kita
bisa meniru Kafka yang
menjadikan buku
sebagai kapak es.
Sayangnya,
malam
itu, saya belum sempat mendiskusikan dan menemukan hubungan
antara
kopi dan buku. Saya dan teman-teman larut pada perbincangan nostalgia: Jogja,
masa-masa di pondok dan beberapa kejadian lucu. Kopi susu yang disuguhkan
penjaga ‘samawa’ itu, pun saya biarkan
termangu, sambil sesekali meneguknya. Dan ketika waktu menunjukkan perkopian
berakhir, saya seperti tidak ingin langsung beranjak. Dalam beberapa
detik, saya seperti perlu mengeja beberapa judul buku di rak
samping kasir. Dan ingatan saya berusaha menyimpan sepenggal
keterangan di rak buku itu: buku u/ dibaca di kanca kona.
“Oke,” sambil
melewati penjaga dan gerbang, hati saya bergumam, "Saya akan kembali.
Suatu waktu nanti. Entah kapan itu?"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar