Harus
bagaimana aku mengambarkan sosokmu? Jelas, aku akan bertanya-tanya tentang ini.
Kau menarik, oh tidak. Aku sedikit membencimu. Kau ingin aku berkata jujur? Aku
membencimu, saat mulai pertama kita bertemu. Kau membuat suasana ruang
pertemuan tegang, tak seperti biasanya. Haha.
Tapi
tenang saja, itu penilaianku saat jam-jam pertama kau hadir. Awalnya aku sedikit
bingung mengapa harus menulis tentangmu? Hmm, aku akan menikmati tarian jemariku.
Ya aku ingat saat pertama kali aku mengenalmu lebih: teman. Kau mengajakku
berteman, aku ragu saat kali pertama kau menawariku secangkir kopi pertemanan.
Haha, apa hebatku bisa menjadi temanmu? Sedangkan kau adalah orang hebat di
mataku meskipun kau selau menyangkalnya tapi tolong, aku menyukai itu.
Apa
kau ingat? Kau mengirimiku pesan singkat mengenai salah satu puisiku yang
membuatmu penasaran. Penasaran atau apa ya, jika seperti itu? Haha, tak tahulah.
Kau menyuguhkan kopi yang selalu manis jika ku rasai. Eh bukan, bukan manis sih.
Jika aku sruput lagi bukan manis yang aku rasa, namun segar penuh
tantangan. Kau ingat kenangan kita di
kota dingin itu?
Sudah,
sudah. Aku ingin ke sana lagi. Kau kenalkan aku pada malam-malam jahat yang
membuatku tak ingin bersamamu, namun telah terbersit kata dari mulutku bahwa
kita akan menjadi teman. Aku temanmu.
Meski
kau kadang tak percaya aku, namun percayalah aku percaya bahwa kau adalah
temanku. Aku menyukai pertemuan di kota dingin itu. Aku juga membencinya. Bagaimana
ini? Aku bingung. Hehe.
Dulu
aku kebingungan, bagaimana bisa aku akan berteman denganmu? Bagaimana bisa aku
akan dekat denganmu? Kau penerangku dalam gelap. Yaa, kau penerangku, dan
terimakasih. Aku menyukai itu. Kau banyak bercerita. Ah, bukan sebanyak itu
mungkin? Hanya seperempat kau bercerita padaku. Kau banyak menyimpan cerita
padaku padahal kau yang membuat janji pertemanan. Aku meyakini itu lhoo.
“es-we”
inisial itu yang mewakili panggilanku padamu. Aku suka “es-we”. Kau simple meski
banyak yang berpendapat kau kemproh, dan suka tidak nyambung. Aku yakin itu
gayamu yang akan membawa kebahagiaan pada dirimu sendiri.
Kau,
percayalah, jangan terlalu mempermasalahkan orang yang terlalu banyak menuntut tentang penampilanmu
yang macam-macam itu. Kau pasti akan bahagia dengan anak dan isterimu kelak. Kau
tahu, terkadang aku juga terbesit pertanyaan. Mengapa kau yang berpenampilan
nyentrik sangat halus hatinya? Haha. Apa itu hanya tipu muslihatmu saja? Agar
menguatkan dirimu sendiri atau entah bagaimana? Aku akhiri pertanyaanku.
“es-we”
aku ingin berpesan padamu, aku akan menjadi temanmu. Entah itu kau anggap atau
tidak lagi, karena pertemanan tak akan pernah putus begitu saja. Aku percaya
pada kekuatan teman. Kau tetaplah dengan gaya mu yang nyentrik itu, karena
pasti kau akan bahagia seperti yang aku tanyakan itu. Carilah pasangan yang
menerima gayamu itu, semoga isterimu kelak adalah perempuan yang seperti Aisyah
putri Abu Bakar, yang kemerah-merahan dan banyak menyimpan pertanyaa-pertanyaan
yang indah yang akan terus memukaumu hingga kau tak pernah lekang oleh kata “bosan”.
Kau jaga selalu kehormataan perempuan-perempuan yang ada di sekitarmu. Aku
yakin kau akan menjadi laki-laki padang pasir.
Aku
tak ingin banyak berkata. Aku hanya ingin melihatmu menjadi dirimu sendiri
dengan segala keunikanmu yang tidak dimiliki oleh orang lain. Oke?
Ingat aku tak ingin ada salam
perpisahan, karena teman tak akan berpisah. Terimakasih karena telah bersama
kami. Aku berdoa semoga kita akan tetap dipertemukan, entah itu dalam ruang ngopi
atau di alam-cakrawala yang indah. Kau tetaplah mencintai keluargamu, tetaplah
mencintai para gurumu, tetaplah cinta pada semua temanmu. Termasuk aku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar