Salam dari Tanah Pemberontakan - santriwarrior

Breaking

Header Ads

SANTRIWARRIOR 728X90

Kamis, 25 Januari 2018

Salam dari Tanah Pemberontakan

Harus bagaimana aku mengambarkan sosokmu? Jelas, aku akan bertanya-tanya tentang ini. Kau menarik, oh tidak. Aku sedikit membencimu. Kau ingin aku berkata jujur? Aku membencimu, saat mulai pertama kita bertemu. Kau membuat suasana ruang pertemuan tegang, tak seperti biasanya. Haha.

Tapi tenang saja, itu penilaianku saat jam-jam pertama kau hadir. Awalnya aku sedikit bingung mengapa harus menulis tentangmu? Hmm, aku akan menikmati tarian jemariku. Ya aku ingat saat pertama kali aku mengenalmu lebih: teman. Kau mengajakku berteman, aku ragu saat kali pertama kau menawariku secangkir kopi pertemanan. Haha, apa hebatku bisa menjadi temanmu? Sedangkan kau adalah orang hebat di mataku meskipun kau selau menyangkalnya tapi tolong, aku menyukai itu.

Apa kau ingat? Kau mengirimiku pesan singkat mengenai salah satu puisiku yang membuatmu penasaran. Penasaran atau apa ya, jika seperti itu? Haha, tak tahulah. Kau menyuguhkan kopi yang selalu manis jika ku rasai. Eh bukan, bukan manis sih. Jika aku sruput lagi bukan manis yang aku rasa, namun segar penuh tantangan.  Kau ingat kenangan kita di kota dingin itu?

Sudah, sudah. Aku ingin ke sana lagi. Kau kenalkan aku pada malam-malam jahat yang membuatku tak ingin bersamamu, namun telah terbersit kata dari mulutku bahwa kita akan menjadi teman. Aku temanmu.

Meski kau kadang tak percaya aku, namun percayalah aku percaya bahwa kau adalah temanku. Aku menyukai pertemuan di kota dingin itu. Aku juga membencinya. Bagaimana ini? Aku bingung. Hehe.

Dulu aku kebingungan, bagaimana bisa aku akan berteman denganmu? Bagaimana bisa aku akan dekat denganmu? Kau penerangku dalam gelap. Yaa, kau penerangku, dan terimakasih. Aku menyukai itu. Kau banyak bercerita. Ah, bukan sebanyak itu mungkin? Hanya seperempat kau bercerita padaku. Kau banyak menyimpan cerita padaku padahal kau yang membuat janji pertemanan. Aku meyakini itu lhoo.

“es-we” inisial itu yang mewakili panggilanku padamu. Aku suka “es-we”. Kau simple meski banyak yang berpendapat kau kemproh, dan suka tidak nyambung. Aku yakin itu gayamu yang akan membawa kebahagiaan pada dirimu sendiri.

Kau, percayalah, jangan terlalu mempermasalahkan orang yang  terlalu banyak menuntut tentang penampilanmu yang macam-macam itu. Kau pasti akan bahagia dengan anak dan isterimu kelak. Kau tahu, terkadang aku juga terbesit pertanyaan. Mengapa kau yang berpenampilan nyentrik sangat halus hatinya? Haha. Apa itu hanya tipu muslihatmu saja? Agar menguatkan dirimu sendiri atau entah bagaimana? Aku akhiri pertanyaanku.

“es-we” aku ingin berpesan padamu, aku akan menjadi temanmu. Entah itu kau anggap atau tidak lagi, karena pertemanan tak akan pernah putus begitu saja. Aku percaya pada kekuatan teman. Kau tetaplah dengan gaya mu yang nyentrik itu, karena pasti kau akan bahagia seperti yang aku tanyakan itu. Carilah pasangan yang menerima gayamu itu, semoga isterimu kelak adalah perempuan yang seperti Aisyah putri Abu Bakar, yang kemerah-merahan dan banyak menyimpan pertanyaa-pertanyaan yang indah yang akan terus memukaumu hingga kau tak pernah lekang oleh kata “bosan”. Kau jaga selalu kehormataan perempuan-perempuan yang ada di sekitarmu. Aku yakin kau akan menjadi laki-laki padang pasir.

Aku tak ingin banyak berkata. Aku hanya ingin melihatmu menjadi dirimu sendiri dengan segala keunikanmu yang tidak dimiliki oleh orang lain. Oke?

Ingat aku tak ingin ada salam perpisahan, karena teman tak akan berpisah. Terimakasih karena telah bersama kami. Aku berdoa semoga kita akan tetap dipertemukan, entah itu dalam ruang ngopi atau di alam-cakrawala yang indah. Kau tetaplah mencintai keluargamu, tetaplah mencintai para gurumu, tetaplah cinta pada semua temanmu. Termasuk aku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar