Oleh Set Wahedi
Abu Muring-Muring
Rencana bermalam di makam Ronggolawe gagal karena
dua hal. Pertama, Abu muring-muring. Bagian
itu cukup menguras emosi dan tenaga. Saya harus memainkan strategi:
mengulur waktu dan mencairkan suasana. Meski keinginan makan rajungan Tuban
hanya
candaan, pada akhirnya menjadi keseriusan akut. Keseriusan yang membuat Abu muring-muring. Keakutan
itu bermula ketika Luni mengonfirmasi, rajungan tidak selamanya
tumpah
ruah di warung-warung makan sekitar Universitas Ronggolawe (Unirow).
Luni menjelaskan, kalau para nelayan enggan melaut, hanya beberapa warung
yang menyediakan rajungan. “Kalau sepi seperti ini,
harganya sedikit melambung, Mas," Luni seperti minta
pengertian. Saya pun paham harga melambung bagi mahasiswa dapat diartikan cukup
untuk menguras habis isi kantong ke titik nol. “Kira-kira 75
seporsi, Mas.” Luni menyebutkan harga untuk menanggapi
keingin-tahuanku. Kalau nelayan begitu antusias melaut,
harga rajungan cukup terjangkau oleh isi kantong mahasiswa. Sebaliknya, jika
laut mengganas dan cuaca sedikit mengancam, dan para nelayan enggan mengadu
nasib, harga rajungan akan benar-benar menakutkan. Hukum ekonomi, mungkin semacam
hukum
hasrat.
Abu muring-muring memang sedikit
menjengkelkan. Tapi kalau tidak menjengkelkan, mungkin bagian ini tidak akan
jadi cerita. Cerita hidup mungkin memang bergerak antara ceria, bahagia, sedih,
menjengkelkan dan lain sebagainya. Nah, di sini pertemanan menemukan makna
lika-likunya: berteman itu bukan sekadar bersama. Teman itu bukan sekadar teman
bercakap
atau bermain. Teman adalah dia yang mampu menerima, memahami dan mengingatkan
kita tentang pentingnya bersama. Abu memang
menjengkelkan. Budi sedikit naik tensinya. Saya paham itu. Saat seperti
ini, saya
dihadapkan pada dua pilihan, menghadapi Abu head-to-head atau mengurai sikap
muring-muringnya. Dua-duanya bisa dimainkan oleh seorang teman. Saya memilih
untuk mengurai muring-muring Abu. Lama-lama Abu menerima penguraian saya. Dia
akhirnya menyerah. Tuntutannya untuk balik malam itu, dibatalkannya. Dia
memilih tidur
lebih awal.
Alasan kedua, hujan dan pertimbangan teknis perizinan.
Seseorang yang ingin bermalam di sana harus izin dulu ke ketua RT. Hujan,
mungkin alasan klasik. Meski begitu, hujan tetap begitu mengancam: malam
semakin mencekam dan dingin akan mengobok-obok daya tahan tubuh.
***
Rahmat: Koperasi On-Line
Abu tidur. Aku, Budi dan Anam bertahan di kantin
Kampus Unirow. Luni, Annisa seusai menyuguhkan makan malam, berganti menjamu
kami dengan legen. Keduanya menjadi teman baru yang langsung on-fire dalam percakapan seputar kopma
dan lainnya. Rahmat sesekali menyela. Kata Annisa, Rahmat memiliki kemampuan di
atas rata-rata. Dia pernah kuliah di ITS, tapi tidak selesai.
Percakapan dengan Rahmat dipicu jejeran buku tua
di salah satu rak lemari kopma. Kata rahmat, buku-buku itu peninggalan pengurus
kopma sebelum dirinya. Meski sambil lalu, percakapan dengan Rahmat menyisakan
topik yang menggantung: jaringan usaha antar-kopma via
on-line.
Misalnya, kalau kopma Unirow punya produk vandel, kopma-kopma di Surabaya yang
butuh vandel hendaknya bekerjasama dengan kopma Unirow. Jaringan usaha
semacam ini perlu direalisasikan. Apalagi sekarang dunia digital, yang
memungkinkan kita bisa hidup dalam “satu-waktu-ruang-berbeda”. Artinya,
koperasi harus memanfaatkan jejaring-sosial-online
sebaik-baiknya. Smartphone jangan hanya digunakan
untuk
“hallo” atau “bagaimana kabar
koperasimu?”. Media jejaring-sosial-online harus dimanfaatkan
untuk bertukar barang-usaha. Selain memanfaatkan teknologi sebagai media
membangun jaringan usaha antar-koperasi, perlu kiranya juga dibangun koneksi
jaringan alummi kopma dalam rangka menciptakan masyarakat koperasi. Kalau
selama ini, alumni kopma setelah lulus melangkah tanpa arah, alangkah baiknya
mereka tetap tercatat sebagai anggota kopma. Hal ini tentunya butuh aturan-aturan
khusus.
Ke depannya, alumni yang tersebar di berbagai daerah dapat membentuk koperasi
tersendiri, meski koperasi itu dalam bentuk on-line. Seperti
apa koperasi on-line itu? Saya kira tidak berbeda dengan koperasi pada umumnya.
Bedanya terletak pada
cara bertransaksinya: peristiwanya
lebih
banyak terjadi di group wa, web dan jejaring sosial lainnya.
Percakapan dengan Rahmat
malam itu
hanya sebatas tentang konsep membangun
jaringan usaha dan koperasi berbasis IT. Itu pun masih berbentuk
bayangan. Tidak konkret. Konkretnya, saya kira perlu dimusyawarahkan oleh para anggota,
pengurus, pengawas, pemerhati, pelaku dan pengambil kebijakan koperasi.
Sehingga koperasi benar-benar dipahami, diterima, dan dipraktikkan sebagai soko
guru ekonomi Indonesia.
***
Ngompol
Jangan tertawa membaca bagian ini. Aku ngompol.
Abu tidur lebih awal. Aku, Budi, Anam, Annisa, dan Luni terlibat percakapan
ringan sampai melewati titik 00.00. "Tidakkah kalian ingin istirahat? " Luni
mengingatkan kami pada agenda perjalanan besok. Karena kadung melakukan
perjalanan jauh, teman-teman memutuskan untuk membuat rute baru: ziarah ke
makam Gus Dur. "Besok kalian akan menempuh perjalanan kurang lebih dua
jam." Kami pun berhitung kondisi tubuh, macet jalanan dan cuaca yang di
luar kuasa kami.
Kami beranjak dari kantin ke ruang Ilima. Abu
menggeletak dengan raut pulas. Kaosnya terpangkas. Pusarnya menyembul. Dingin
tidak membuatnya mengerut. "Orang gemuk sedikit tahan dengan dingin,"
aku teringat penjelasan tentang kandungan lemak berlapis
orang gemuk. Dengan mengambil posisi yang enak-nyaman, kami pun
berlayar ke pulau kapuk.
Aku bertemu paman dan bibiku. Keduanya sudah berpulang ke
rahmatullah. Tapi malam itu, keduanya tampak nyata menyapaku. Seperti ada
kerinduan yang tiba-tiba menyembul dan minta segera ditunaikan. Keduanya
bercakap-cakap menyambutku. Entah, apa yang mereka percakapkan aku tidak bisa
menangkap. Gestur tubuh mereka, ya gestur tubuh mereka menyiratkan kebahagiaan.
Kami dipisahkan jarak sekitar sepuluh meter. Meski begitu, langkahku tidak
sampai-sampai, sampai sembeng menyembul
di bawah pusarku. Sembeng menjalar
pelan-pelan, memberati bagian bawah pusarku, perutku dibetot, dan aku segera
lari ke kamar mandi. Air mengucur deras dari bawah pusarku. Lama, lama sekali.
Aku menghitungnya tiga ronde lebih kalau pakai ukuran buang air kecil normalku.
Buang air kecil begitu lama membuatku jengkel. Aku muntap. Tidurku pecah. Di
perutku dingin semakin menikam. Ah, basah, tanganku meraba perut dan area bawah
pusar. Entah kenapa, meski teman-teman pada tidur, aku disergap rasa malu yang
bergelombang. Aku beranjak ke kamar mandi dengan perasaan was-was,
jangan-jangan ada yang tahu? Aduh, bagaimana kalau mereka tahu aku ngompol? Aku bergegas ke kamar mandi
mengendap-endap. Bangku-bangku dan dinding serasa mengawasiku. Degup nafas
teman-temanku seirama dengan langkah kakiku.
Di kamar mandi, dadaku plong. Kucuran air membasuh pesing
dan was-was. Tubuhku segar. Celana jeans, celana dalam, sarung dan kaosku yang
pesing aku masukkan ke dalam plastik. Sambil menahan gigil, aku kembali ke
ruang I5. Pukul 03.00. Dua jam lagi subuh, pikirku seraya berusaha memejamkan
mata: semoga aku tidak ngompol lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar