Fragmen Tuban: Abu, Koperasi On-Line dan Ngompol - santriwarrior

Breaking

Header Ads

SANTRIWARRIOR 728X90

Kamis, 25 Januari 2018

Fragmen Tuban: Abu, Koperasi On-Line dan Ngompol

Oleh Set Wahedi

Abu Muring-Muring

Rencana bermalam di makam Ronggolawe gagal karena dua hal. Pertama, Abu muring-muring. Bagian itu cukup menguras emosi dan tenaga. Saya harus memainkan strategi: mengulur waktu dan mencairkan suasana. Meski keinginan makan rajungan Tuban hanya candaan, pada akhirnya menjadi keseriusan akut. Keseriusan yang membuat Abu muring-muring. Keakutan itu bermula ketika Luni mengonfirmasi, rajungan tidak selamanya tumpah ruah di warung-warung makan sekitar Universitas Ronggolawe (Unirow).

Luni menjelaskan, kalau para nelayan enggan melaut, hanya beberapa warung yang menyediakan rajungan. Kalau sepi seperti ini, harganya sedikit melambung, Mas," Luni seperti minta pengertian. Saya pun paham harga melambung bagi mahasiswa dapat diartikan cukup untuk menguras habis isi kantong ke titik nol. “Kira-kira 75 seporsi, Mas.” Luni menyebutkan harga untuk menanggapi keingin-tahuanku. Kalau nelayan begitu antusias melaut, harga rajungan cukup terjangkau oleh isi kantong mahasiswa. Sebaliknya, jika laut mengganas dan cuaca sedikit mengancam, dan para nelayan enggan mengadu nasib, harga rajungan akan benar-benar menakutkan. Hukum ekonomi, mungkin semacam hukum hasrat.

Abu muring-muring memang sedikit menjengkelkan. Tapi kalau tidak menjengkelkan, mungkin bagian ini tidak akan jadi cerita. Cerita hidup mungkin memang bergerak antara ceria, bahagia, sedih, menjengkelkan dan lain sebagainya. Nah, di sini pertemanan menemukan makna lika-likunya: berteman itu bukan sekadar bersama. Teman itu bukan sekadar teman bercakap atau bermain. Teman adalah dia yang mampu menerima, memahami dan mengingatkan kita tentang pentingnya bersama. Abu memang menjengkelkan. Budi sedikit naik tensinya. Saya paham itu. Saat seperti ini, saya dihadapkan pada dua pilihan, menghadapi Abu head-to-head atau mengurai sikap muring-muringnya. Dua-duanya bisa dimainkan oleh seorang teman. Saya memilih untuk mengurai muring-muring Abu. Lama-lama Abu menerima penguraian saya. Dia akhirnya menyerah. Tuntutannya untuk balik malam itu, dibatalkannya. Dia memilih tidur lebih awal.

Alasan kedua, hujan dan pertimbangan teknis perizinan. Seseorang yang ingin bermalam di sana harus izin dulu ke ketua RT. Hujan, mungkin alasan klasik. Meski begitu, hujan tetap begitu mengancam: malam semakin mencekam dan dingin akan mengobok-obok daya tahan tubuh.

***

Rahmat: Koperasi On-Line

Abu tidur. Aku, Budi dan Anam bertahan di kantin Kampus Unirow. Luni, Annisa seusai menyuguhkan makan malam, berganti menjamu kami dengan legen. Keduanya menjadi teman baru yang langsung on-fire dalam percakapan seputar kopma dan lainnya. Rahmat sesekali menyela. Kata Annisa, Rahmat memiliki kemampuan di atas rata-rata. Dia pernah kuliah di ITS, tapi tidak selesai.

Percakapan dengan Rahmat dipicu jejeran buku tua di salah satu rak lemari kopma. Kata rahmat, buku-buku itu peninggalan pengurus kopma sebelum dirinya. Meski sambil lalu, percakapan dengan Rahmat menyisakan topik yang menggantung: jaringan usaha antar-kopma via on-line. Misalnya, kalau kopma Unirow punya produk vandel, kopma-kopma di Surabaya yang butuh vandel hendaknya bekerjasama dengan kopma Unirow. Jaringan usaha semacam ini perlu direalisasikan. Apalagi sekarang dunia digital, yang memungkinkan kita bisa hidup dalam satu-waktu-ruang-berbeda”. Artinya, koperasi harus memanfaatkan jejaring-sosial-online sebaik-baiknya. Smartphone jangan hanya digunakan untuk hallo atau bagaimana kabar koperasimu?”. Media jejaring-sosial-online harus dimanfaatkan untuk bertukar barang-usaha. Selain memanfaatkan teknologi sebagai media membangun jaringan usaha antar-koperasi, perlu kiranya juga dibangun koneksi jaringan alummi kopma dalam rangka menciptakan masyarakat koperasi. Kalau selama ini, alumni kopma setelah lulus melangkah tanpa arah, alangkah baiknya mereka tetap tercatat sebagai anggota kopma. Hal ini tentunya butuh aturan-aturan khusus. Ke depannya, alumni yang tersebar di berbagai daerah dapat membentuk koperasi tersendiri, meski koperasi itu dalam bentuk on-line. Seperti apa koperasi on-line itu? Saya kira tidak berbeda dengan koperasi pada umumnya. Bedanya terletak pada cara bertransaksinya: peristiwanya lebih banyak terjadi di group wa, web dan jejaring sosial lainnya. 

Percakapan dengan Rahmat malam itu hanya sebatas tentang konsep membangun jaringan usaha dan koperasi berbasis IT. Itu pun masih berbentuk bayangan. Tidak konkret. Konkretnya, saya kira perlu dimusyawarahkan oleh para anggota, pengurus, pengawas, pemerhati, pelaku dan pengambil kebijakan koperasi. Sehingga koperasi benar-benar dipahami, diterima, dan dipraktikkan sebagai soko guru ekonomi Indonesia.

***

Ngompol

Jangan tertawa membaca bagian ini. Aku ngompol. Abu tidur lebih awal. Aku, Budi, Anam, Annisa, dan Luni terlibat percakapan ringan sampai melewati titik 00.00. "Tidakkah kalian ingin istirahat? " Luni mengingatkan kami pada agenda perjalanan besok. Karena kadung melakukan perjalanan jauh, teman-teman memutuskan untuk membuat rute baru: ziarah ke makam Gus Dur. "Besok kalian akan menempuh perjalanan kurang lebih dua jam." Kami pun berhitung kondisi tubuh, macet jalanan dan cuaca yang di luar kuasa kami.

Kami beranjak dari kantin ke ruang Ilima. Abu menggeletak dengan raut pulas. Kaosnya terpangkas. Pusarnya menyembul. Dingin tidak membuatnya mengerut. "Orang gemuk sedikit tahan dengan dingin," aku teringat penjelasan tentang kandungan lemak berlapis orang gemuk. Dengan mengambil posisi yang enak-nyaman, kami pun berlayar ke pulau kapuk.

Aku bertemu paman dan bibiku. Keduanya sudah berpulang ke rahmatullah. Tapi malam itu, keduanya tampak nyata menyapaku. Seperti ada kerinduan yang tiba-tiba menyembul dan minta segera ditunaikan. Keduanya bercakap-cakap menyambutku. Entah, apa yang mereka percakapkan aku tidak bisa menangkap. Gestur tubuh mereka, ya gestur tubuh mereka menyiratkan kebahagiaan. Kami dipisahkan jarak sekitar sepuluh meter. Meski begitu, langkahku tidak sampai-sampai, sampai sembeng menyembul di bawah pusarku. Sembeng menjalar pelan-pelan, memberati bagian bawah pusarku, perutku dibetot, dan aku segera lari ke kamar mandi. Air mengucur deras dari bawah pusarku. Lama, lama sekali. Aku menghitungnya tiga ronde lebih kalau pakai ukuran buang air kecil normalku. Buang air kecil begitu lama membuatku jengkel. Aku muntap. Tidurku pecah. Di perutku dingin semakin menikam. Ah, basah, tanganku meraba perut dan area bawah pusar. Entah kenapa, meski teman-teman pada tidur, aku disergap rasa malu yang bergelombang. Aku beranjak ke kamar mandi dengan perasaan was-was, jangan-jangan ada yang tahu? Aduh, bagaimana kalau mereka tahu aku ngompol? Aku bergegas ke kamar mandi mengendap-endap. Bangku-bangku dan dinding serasa mengawasiku. Degup nafas teman-temanku seirama dengan langkah kakiku.


Di kamar mandi, dadaku plong. Kucuran air membasuh pesing dan was-was. Tubuhku segar. Celana jeans, celana dalam, sarung dan kaosku yang pesing aku masukkan ke dalam plastik. Sambil menahan gigil, aku kembali ke ruang I5. Pukul 03.00. Dua jam lagi subuh, pikirku seraya berusaha memejamkan mata: semoga aku tidak ngompol lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar