oleh Set Wahedi
Dunia
wartawan bukan sekadar dunia berita. Berita yang ditulisnya bukan sekadar laporan
atau lintasan peristiwa. Dunia wartawan membutuhkan keberanian dan kesungguhan
untuk bersuara. Berita membutuhkan “suara” untuk berkata-kata, agar dirinya
didengar, diperhatikan dan diyakini. Berita –begitu Gary Webb menyebutnya-
merupakan pekerjaan untuk menyampaikan kebenaran fakta. Setelah artikelnya
tentang gembong narkoba yang menolak rumah, mobil dan barang lainnya disita
sebelum adanya keputusan hukum incraht,
Webb dihubungi Coral Baca, seorang perempuan yang kekasihnya, Raffie, terjerat
kasus narkoba. Si perempuan ini memberinya dokumen berupa transkripsi dewan
juri pengadilan. Dari dokumen inilah, Gary Webb berpetualang menguak nama-nama “yang
terlalu nyata untuk diceritakan”: Danilo Blandon, seorang penjual narkoba sekaligus
informan untuk pemerintah AS, Ricky Ross, seorang pengedar narkoba kelas
kurcaci, Norwin Meneses, seorang koneksi Blandong di Nikaragua, Freid Weil, pemimpian
Investigasi John Kerry pada sub komite senat, bekerja di Dewan Keamanan
Nasional, serta orang kepercayaan Presiden dan kabinetnya, dan nama-nama
lainnya. Dengan nama-nama itu, Gary Webb berpetualang, meyakinkan editornya dan
jajaran direksi koran tempatnya bekerja untuk mengangkat cerita skandal CIA
dalam perdagangan narkoba dan pemembiayaan kelompok Contra dalam perang di Amerika
Tengah.
Resiko
yang dihadapi Gary Webb sungguh mendebarkan. Karena kegigihannya untuk
membongkar skandal CIA dalam perdagangan narkoba ini, Gary Webb mendapatkan
ancaman, teror, dan serangan balik berupa serangkaian cerita masa lalunya yang
menyudutkannya. Gary ditampilkan sebagai sosok yang mengalami skizofrenia,
pembohong, homo, pernah menghajar anjingnya, pedofilia, gila dan sederet fitnah
lainnya. Puncaknya, saat anaknya sendiri merasa terpukul ketika mengetahui
cerita “skandal” masa lalunya dengan seorang perempuan.
Tapi
Gary Webb bergeming. Seperti jurnalis yang berpegang teguh pada “prinsip”
jurnalistiknya, Gary Webb terus berjuang untuk menyampaikan kebenaran fakta
kemanusiaan. Meski pada akhirnya, serangkaian cerita mendebarkan antara seorang
jurnalis koran kecil dan agen raksasa CIA dalam polemik narkoba dan perang itu
ditutup dengan pengunduran diri Gary Webb sebagai jurnalis koran San Jose
Mercury-News. Gary lebih memilih menjadi jurnalis independen.
Beberapa
tahun kemudian, Gary Webb ditemukan tewas di apartemennya dengan dua lubang
peluru bersarang di tubuhnya. Anehnya, kematian Gary Webb dengan dua lubang di
kepalanya diberitakan sebagai kematian bunuh diri.
Tapi
kata tetaplah kata, Aufa. Saat ia diucapkan atau ditulis, maka dia akan
mendengung sepanjang waktu. Reportase skandal CIA dalam perdagangan narkoba
yang ditulis Gary Webb ini memaksa Direktur CIA, John Deutch mengundurkan diri.
Dan pada tahun 1998, CIA merilis 400 halaman laporan pengakuan keterlibatan
agensi dengan anggota gerilyawan Contra dalam perdagangan narkoba.
Aufa
dari serangkaian cerita dan tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya, mesti saya
akui, saya kagum dan harus belajar banyak pada Webb dalam memperjuangkan
cita-cita. Webb mengajarkan cara berintegritas, berdedikasi dan berani dalam menyuarakan
kebenaran tentang kemanusiaan. Tapi Aufa, yang menggetarkan denyut nadi saya
bukan itu semua. Saya lebih tertarik dan perhatian pada sikap dan cinta kasih
istri sang wartawan, Sue Webb (Rosemarie Dewitt).
Sue
Webb merupakan sosok istri pada umunya. Dia tak memiliki imajinasi atau
keinginan yang spektakuler. Kehidupannya berjalan seiring hukum alam: menjadi
istri dan ibu yang baik. Dia juga bukan seorang aktivis sepertimu, Aufa.
Kegiatan sehari-harinya hanya berkisar pada urusan rumah tangga. Pada hal
semacam ini, saya menduga minimnya porsi Sue Webb dalam film ini, membuat saya
kesulitan mendapatkan informasi yang lengkap tentangnya.
Tapi
di tengah minimnya informasi itu, saya masih mencatat beberapa moment yang
ingin saya bagi denganmu, Aufa. Pertama,
Sue Webb sosok Ibu yang memiliki perhatian pada anaknya. Karakter semisal ini
sudah umum dimiliki seorang Ibu. Seperti kau tahu, setiap ibu pasti memerhatikan keberadaan anaknya.
Setiap hal, peristiwa atau barang yang berkaitan dengan anaknya merasa perlu
dipertanyakan. Saat Gary Webb memberi hadiah motor pada anaknya, Sue
melontarkan rasa khawatirnya, “Aku tidak mau terjadi sesuatu padanya saat ia
berkendara”. Momen ini saya kira perlu dibicarakan untuk sekadar mengingatkan,
kelak jika Tuhan mengizinkan kita bersatu, saya ingin bersepakat denganmu bahwa
anak harus benar-benar jadi buah hati
kita. Buah hati yang harus jadi prioritas dari sekian jadwal dan tuntutan
kerja.
Kedua,
Sue Webb perempuan pencemburu. Saya suka sekali dengan “karakter tokoh” semisal
ini, Aufa. Saya membayangkan, kalau diri saya adalah Gary Webb alangkah
bahagianya. Saya suka sekali dengan perempuan pencemburu, Aufa. Saya yakin,
perempuan pencemburu akan memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan pasangannya
secara detail. Kecemburuan Sue Webb yang saya suka dalam film ini tidak
berujung pada pertengkaran. Sue Webb cemburu untuk memastikan bahwa suaminya
benar-benar menjadi bagian hidupnya. Momen cemburu Sue Webb terlihat pada saat Gary
Webb mendapatkan kiriman berkas dari Coral Baca. Saat Gary menjelaskan sosok Coral
Baca sebagai nara sumber, Sue langsung merepon dengan diksi yang cukup
menyengat, “Ya? Untuk artikel tentang penari telanjang”. Sue juga menambahkan
kata-kata –yang aku takutkan juga keluar dari mulutmu, Aufa- “Serius, aku
sungguh membencimu. Aku membencimu. Kadang-kadang aku berharap bisa memanjat ke
dalam kepalamu dan melihat semua kotoran di dalamnya.” Andai –sekali lagi- aku
jadi Gary Webb, aku merasakan kebahagiaan. Sikap berang Sue ternyata dilandasai
satu pengalaman masa lalu, “Ada apa antara kau dan dia?”, “Maksudku, aku tidak
ingin kejadian lagi. ini sebabnya kita meninggalkan keluargaku, teman-temanku,
meninggalkan Cleveland. Pindah ke California.” Cemburu Sue juga karena kekhawatiran
akan keselamatan suaminya, “Ada terlalu banyak orang jahat dan hantu dan monster menakutkan berlarian. Hanya
saja ini membuatku takut. Hati-hati”. Saya benar-benar bahagia membayangkan
diri jadi Gary Webb dank au adalah Sue. Mungkin adegan-adegan semacam inilah
yang membuat karya seni dapat menimbulkan katarsis dalam diri penikmatnya.
Ketiga,
Sue Webb seorang “supporter-fanatik”. Istilah ini sedikit sembrono untuk
digunakan dalam hubungan suami istri. Tapi kira-kira begini Aufa: kau tahu supporter
sepakbola? Mereka akan mendukung dan memuja tim/pemain pujaannya sepenuh hati.
Mereka akan rela melakukan apa saja demi mendukung tim/pemain kesayangannya.
Dan Sue Webb kurang lebih begitu. Ia begitu mengapresiasi hasil kerja suaminya.
Dia begitu antusias dan berbunga-bunga ketika suaminya berhasil menyelesaikan tulisan
tentang skandal narkoba CIA. Apalagi tulisannya menjadi perbincangan di
khalayak ramai. Sue Webb tidak “sungkan” untuk
memberikan ucapan, “Kau berhasil.” Sue Webb juga merayakan keberhasilan
suaminya dengan mengajak suaminya melepas penat sejenak, jalan-jalan ke hutan
dan berujar dengan riang, “Hidup yang indah.” Dalam hal seorang supporter, Sue tidak
hanya memberi dukungan saat tim/pemain idolanya memenangkan satu pertandingan.
Saat Gary mulai dilanda kekalahan, Sue tetap bersemangat meneriakkan yel-yel
dukungannya. Dalam hal ini, –lagi-lagi peran dan kekuatan seorang Sue Webb
sebagai patner hidup membuat saya tergugah- ketika Gary mulai mendapat serangan
balik dari CIA, Sue begitu tegar untuk menjadi sandaran terakhir suaminya.
Tidak sedikit pun Sue menjadi goyah untuk menjadi partner hidup Gary meski di
bawah ancaman kematian. Bahkan ketika Gary memutuskan untuk “keluar” dari
kantornya, Sue memberikan penghargaan yang tinggi, “Kau mengundurkan diri? Itu
bagus. Maksudku, kau tahu pergi menjauh awal yang baru. “Memberikan ruang untuk
sesuatu yang baru.”
Keempat,
Sue seorang “lawan-tanding” yang handal. Aufa, dalam bayanganku, hubungan dalam
keluarga tidak hanya menyangkut hubungan seksual, hubungan saling mendukung,
hubungan saling melengkapi. Akan tetapi suami istri itu harus jadi ‘lawan’
dalam menafsirkan hidup. Dengan begitu, hidup bukan sekadar harmoni yang
dibangun di atas keindahan pagi yang akan segera sirna ketika siang beranjak.
Harmoni ditentukan saat kita punya “lawan-tanding” yang handal. Sue menunjukkan
kehandalannya saat ia menyodorkan pertanyaan, “Lalu apa yang terjadi?” ketika
Gary tetap bersikukuh dengan prinsipnya. Pertanyaan ini diajukan untuk mengajak
Gary untuk kembali melihat bahwa setiap sikap dan tindakan yang diambilnya
tidak hanya berdampak langsung pada dirinya, akan tetapi juga pada anak dan
istrinya, “Tidak bisakah kau meliaht akibatnya pada kita semua?”, “Lihat, kau
selalu menjadi dirimu sendiri, Gary.”
Aufa,
menikmati film garapan sutradara Michael Cuesta ini, dengan bertumpu pada sosok
Sue Webb, saya membayangkan, bahwa kita bisa bersepakat. Kita bisa saling bertanya
dan menjawab. Kita bisa saling mendukung. Kita bisa saling mengisi dan
melengkapi. Tapi tentunya, itu semua bisa kita lakukan kalau kita bisa
menurunkan tensi ego kita masing-masing, Aufa.
Di
penghujung catatan film “Kill the Messenger” aku hanya bisa mengucapkan kalimat
yakin dengan lirih, aku bisa bersepakat denganmu, Aufa. Tapi entahlah, apakah
kau bisa bersepakat denganku? Semoga kehebatanmu tidak membuat egomu mengeras
bak batu dan keangkuhanmu membaja. Sekian.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar