Kill the Messenger: Pada Sebuah Hari Gelisah (Catatan buat Aufa II) - santriwarrior

Breaking

Header Ads

SANTRIWARRIOR 728X90

Kamis, 23 April 2015

Kill the Messenger: Pada Sebuah Hari Gelisah (Catatan buat Aufa II)

oleh Set Wahedi
Dunia wartawan bukan sekadar dunia berita. Berita yang ditulisnya bukan sekadar laporan atau lintasan peristiwa. Dunia wartawan membutuhkan keberanian dan kesungguhan untuk bersuara. Berita membutuhkan “suara” untuk berkata-kata, agar dirinya didengar, diperhatikan dan diyakini. Berita –begitu Gary Webb menyebutnya- merupakan pekerjaan untuk menyampaikan kebenaran fakta. Setelah artikelnya tentang gembong narkoba yang menolak rumah, mobil dan barang lainnya disita sebelum adanya keputusan hukum incraht, Webb dihubungi Coral Baca, seorang perempuan yang kekasihnya, Raffie, terjerat kasus narkoba. Si perempuan ini memberinya dokumen berupa transkripsi dewan juri pengadilan. Dari dokumen inilah, Gary Webb berpetualang menguak nama-nama “yang terlalu nyata untuk diceritakan”: Danilo Blandon, seorang penjual narkoba sekaligus informan untuk pemerintah AS, Ricky Ross, seorang pengedar narkoba kelas kurcaci, Norwin Meneses, seorang koneksi Blandong di Nikaragua, Freid Weil, pemimpian Investigasi John Kerry pada sub komite senat, bekerja di Dewan Keamanan Nasional, serta orang kepercayaan Presiden dan kabinetnya, dan nama-nama lainnya. Dengan nama-nama itu, Gary Webb berpetualang, meyakinkan editornya dan jajaran direksi koran tempatnya bekerja untuk mengangkat cerita skandal CIA dalam perdagangan narkoba dan pemembiayaan  kelompok Contra dalam perang di Amerika Tengah.

Resiko yang dihadapi Gary Webb sungguh mendebarkan. Karena kegigihannya untuk membongkar skandal CIA dalam perdagangan narkoba ini, Gary Webb mendapatkan ancaman, teror, dan serangan balik berupa serangkaian cerita masa lalunya yang menyudutkannya. Gary ditampilkan sebagai sosok yang mengalami skizofrenia, pembohong, homo, pernah menghajar anjingnya, pedofilia, gila dan sederet fitnah lainnya. Puncaknya, saat anaknya sendiri merasa terpukul ketika mengetahui cerita “skandal” masa lalunya dengan seorang perempuan.

Tapi Gary Webb bergeming. Seperti jurnalis yang berpegang teguh pada “prinsip” jurnalistiknya, Gary Webb terus berjuang untuk menyampaikan kebenaran fakta kemanusiaan. Meski pada akhirnya, serangkaian cerita mendebarkan antara seorang jurnalis koran kecil dan agen raksasa CIA dalam polemik narkoba dan perang itu ditutup dengan pengunduran diri Gary Webb sebagai jurnalis koran San Jose Mercury-News. Gary lebih memilih menjadi jurnalis independen.

Beberapa tahun kemudian, Gary Webb ditemukan tewas di apartemennya dengan dua lubang peluru bersarang di tubuhnya. Anehnya, kematian Gary Webb dengan dua lubang di kepalanya diberitakan sebagai kematian bunuh diri.

Tapi kata tetaplah kata, Aufa. Saat ia diucapkan atau ditulis, maka dia akan mendengung sepanjang waktu. Reportase skandal CIA dalam perdagangan narkoba yang ditulis Gary Webb ini memaksa Direktur CIA, John Deutch mengundurkan diri. Dan pada tahun 1998, CIA merilis 400 halaman laporan pengakuan keterlibatan agensi dengan anggota gerilyawan Contra dalam perdagangan narkoba.

Aufa dari serangkaian cerita dan tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya, mesti saya akui, saya kagum dan harus belajar banyak pada Webb dalam memperjuangkan cita-cita. Webb mengajarkan cara berintegritas, berdedikasi dan berani dalam menyuarakan kebenaran tentang kemanusiaan. Tapi Aufa, yang menggetarkan denyut nadi saya bukan itu semua. Saya lebih tertarik dan perhatian pada sikap dan cinta kasih istri sang wartawan, Sue Webb (Rosemarie Dewitt).

Sue Webb merupakan sosok istri pada umunya. Dia tak memiliki imajinasi atau keinginan yang spektakuler. Kehidupannya berjalan seiring hukum alam: menjadi istri dan ibu yang baik. Dia juga bukan seorang aktivis sepertimu, Aufa. Kegiatan sehari-harinya hanya berkisar pada urusan rumah tangga. Pada hal semacam ini, saya menduga minimnya porsi Sue Webb dalam film ini, membuat saya kesulitan mendapatkan informasi yang lengkap tentangnya.

Tapi di tengah minimnya informasi itu, saya masih mencatat beberapa moment yang ingin saya bagi denganmu, Aufa. Pertama, Sue Webb sosok Ibu yang memiliki perhatian pada anaknya. Karakter semisal ini sudah umum dimiliki seorang Ibu. Seperti kau tahu, setiap ibu pasti memerhatikan keberadaan anaknya. Setiap hal, peristiwa atau barang yang berkaitan dengan anaknya merasa perlu dipertanyakan. Saat Gary Webb memberi hadiah motor pada anaknya, Sue melontarkan rasa khawatirnya, “Aku tidak mau terjadi sesuatu padanya saat ia berkendara”. Momen ini saya kira perlu dibicarakan untuk sekadar mengingatkan, kelak jika Tuhan mengizinkan kita bersatu, saya ingin bersepakat denganmu bahwa anak harus benar-benar jadi buah hati kita. Buah hati yang harus jadi prioritas dari sekian jadwal dan tuntutan kerja.

Kedua, Sue Webb perempuan pencemburu. Saya suka sekali dengan “karakter tokoh” semisal ini, Aufa. Saya membayangkan, kalau diri saya adalah Gary Webb alangkah bahagianya. Saya suka sekali dengan perempuan pencemburu, Aufa. Saya yakin, perempuan pencemburu akan memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan pasangannya secara detail. Kecemburuan Sue Webb yang saya suka dalam film ini tidak berujung pada pertengkaran. Sue Webb cemburu untuk memastikan bahwa suaminya benar-benar menjadi bagian hidupnya. Momen cemburu Sue Webb terlihat pada saat Gary Webb mendapatkan kiriman berkas dari Coral Baca. Saat Gary menjelaskan sosok Coral Baca sebagai nara sumber, Sue langsung merepon dengan diksi yang cukup menyengat, “Ya? Untuk artikel tentang penari telanjang”. Sue juga menambahkan kata-kata –yang aku takutkan juga keluar dari mulutmu, Aufa- “Serius, aku sungguh membencimu. Aku membencimu. Kadang-kadang aku berharap bisa memanjat ke dalam kepalamu dan melihat semua kotoran di dalamnya.” Andai –sekali lagi- aku jadi Gary Webb, aku merasakan kebahagiaan. Sikap berang Sue ternyata dilandasai satu pengalaman masa lalu, “Ada apa antara kau dan dia?”, “Maksudku, aku tidak ingin kejadian lagi. ini sebabnya kita meninggalkan keluargaku, teman-temanku, meninggalkan Cleveland. Pindah ke California.” Cemburu Sue juga karena kekhawatiran akan keselamatan suaminya, “Ada terlalu banyak orang jahat  dan hantu dan monster menakutkan berlarian. Hanya saja ini membuatku takut. Hati-hati”. Saya benar-benar bahagia membayangkan diri jadi Gary Webb dank au adalah Sue. Mungkin adegan-adegan semacam inilah yang membuat karya seni dapat menimbulkan katarsis dalam diri penikmatnya.

Ketiga, Sue Webb seorang “supporter-fanatik”. Istilah ini sedikit sembrono untuk digunakan dalam hubungan suami istri. Tapi kira-kira begini Aufa: kau tahu supporter sepakbola? Mereka akan mendukung dan memuja tim/pemain pujaannya sepenuh hati. Mereka akan rela melakukan apa saja demi mendukung tim/pemain kesayangannya. Dan Sue Webb kurang lebih begitu. Ia begitu mengapresiasi hasil kerja suaminya. Dia begitu antusias dan berbunga-bunga ketika suaminya berhasil menyelesaikan tulisan tentang skandal narkoba CIA. Apalagi tulisannya menjadi perbincangan di khalayak ramai. Sue Webb tidak “sungkan” untuk  memberikan ucapan, “Kau berhasil.” Sue Webb juga merayakan keberhasilan suaminya dengan mengajak suaminya melepas penat sejenak, jalan-jalan ke hutan dan berujar dengan riang, “Hidup yang indah.” Dalam hal seorang supporter, Sue tidak hanya memberi dukungan saat tim/pemain idolanya memenangkan satu pertandingan. Saat Gary mulai dilanda kekalahan, Sue tetap bersemangat meneriakkan yel-yel dukungannya. Dalam hal ini, –lagi-lagi peran dan kekuatan seorang Sue Webb sebagai patner hidup membuat saya tergugah- ketika Gary mulai mendapat serangan balik dari CIA, Sue begitu tegar untuk menjadi sandaran terakhir suaminya. Tidak sedikit pun Sue menjadi goyah untuk menjadi partner hidup Gary meski di bawah ancaman kematian. Bahkan ketika Gary memutuskan untuk “keluar” dari kantornya, Sue memberikan penghargaan yang tinggi, “Kau mengundurkan diri? Itu bagus. Maksudku, kau tahu pergi menjauh awal yang baru. “Memberikan ruang untuk sesuatu yang baru.”

Keempat, Sue seorang “lawan-tanding” yang handal. Aufa, dalam bayanganku, hubungan dalam keluarga tidak hanya menyangkut hubungan seksual, hubungan saling mendukung, hubungan saling melengkapi. Akan tetapi suami istri itu harus jadi ‘lawan’ dalam menafsirkan hidup. Dengan begitu, hidup bukan sekadar harmoni yang dibangun di atas keindahan pagi yang akan segera sirna ketika siang beranjak. Harmoni ditentukan saat kita punya “lawan-tanding” yang handal. Sue menunjukkan kehandalannya saat ia menyodorkan pertanyaan, “Lalu apa yang terjadi?” ketika Gary tetap bersikukuh dengan prinsipnya. Pertanyaan ini diajukan untuk mengajak Gary untuk kembali melihat bahwa setiap sikap dan tindakan yang diambilnya tidak hanya berdampak langsung pada dirinya, akan tetapi juga pada anak dan istrinya, “Tidak bisakah kau meliaht akibatnya pada kita semua?”, “Lihat, kau selalu menjadi dirimu sendiri, Gary.”

Aufa, menikmati film garapan sutradara Michael Cuesta ini, dengan bertumpu pada sosok Sue Webb, saya membayangkan, bahwa kita bisa bersepakat. Kita bisa saling bertanya dan menjawab. Kita bisa saling mendukung. Kita bisa saling mengisi dan melengkapi. Tapi tentunya, itu semua bisa kita lakukan kalau kita bisa menurunkan tensi ego kita masing-masing, Aufa.

Di penghujung catatan film “Kill the Messenger” aku hanya bisa mengucapkan kalimat yakin dengan lirih, aku bisa bersepakat denganmu, Aufa. Tapi entahlah, apakah kau bisa bersepakat denganku? Semoga kehebatanmu tidak membuat egomu mengeras bak batu dan keangkuhanmu membaja. Sekian. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar