Mas
Hafidz-Mbak Nafis sedang menjemput anaknya ketika kami sampai. Aku diselimuti
gugup dan was-was. Jangan-jangan kami salah rumah? Adik Mas Hafidz (entah
bagaimana buruknya cuaca, saya tidak sempat menanyakan namanya). Kami disuguhi
kopi. Teman-temanku menarik nafas panjang, berusaha mencari sisa-sisa
kehangatan pada celah meja dan kursi yang tertata rapi.
“Sudah
lama, Met?” Setelah kurang lebih 15 menit Mbak Nafis memecahkan kekikukan dan
was-was yang memenuhi udara. Mas Nafis menanyakan kabar. “Kita terakhir bertemu
di alun-alun itu ya?”
“Tidak,
Mas. Saya terakhir bertemu Mas Nafis pas acara halal-bi-halal di rumah, Kang
Suheng.”
Mas
Hafidz segera meralat ingatan. Tangan kanannya menepuk dahinya, seperti
berusaha menyingkirkan kealpaan yang menggayut. Sambil menggendong anak nomor
tiganya, Mbak Nafis menanyakan perihal pernikahanku. Ketika saya menyatakan
belum menikah, Mbak Nafis tertawa renyah. Dia mengingatkan usiaku yang semakin
beranjak. Kugosokkan tanganku untuk mengusir dingin yang menggumpal di ketiak
dan bagian perut.
“Dulu
kau kan sudah tunangan, Met?”
“Sudah
bubaran ketika ke jogja, Mbak?”
“Lho?”
“Orang
tuanya tidak setuju saya kuliah lagi.”
Mbak
Nafis mengernyitkan dahi: masak sih? Saya menjelaskan cerita pertunangan dan
berakhirnya cita-cita suci itu di tahun 2011-2012. Saya juga ceritakan
upaya-upaya lain untuk mencari pasangan hidup.
“Kau
sepertinya tidak mau berjuang, Met,” celetuk Mbak Nafis. Teman-teman
menyumirkan bibirnya. Mereka menahan tawanya untuk tidak meledak.
Topik
aku belum menikah sedikit menekan dadaku. Aku seperti ingin lari, tapi tidak
bisa. Pernikahan dan segala upaya yang tak kunjung berbuah membawaku pada
pengembaraan lorong hitam. “Tapi mungkin belum waktunya, Met” Mas Hafidz dengan
suara pelan mencoba menggiring udara segar. Dua anak Mbak Nafis berlarian.
Hujan di luar semakin menipis. Tempias lampu semakin terang, dan deru kendaraan
besar menderum-derum. Sebelum kami beranjak, Mbak Nafis sedikit mengeluh
perihal ‘gosiplama’ di group Alumni. Hee, sejenak saya sunggingkan bibir. Saya
memberikan pendapat, gosip lama itu tidak dewasa. Nostalgia boleh-boleh saja.
“Tapi kalau terus-terusan itu menunjukkan rasa sakit yang tidak tuntas,” saya
pun melepas kalimat saya dengan tawa lepas. Teman-temanku tetap tidak mau
berbaur dengan suasana ruang tamu yang simpel. Mereka hanya menyumirkan
bibirnya.
Pukul
20.05 kami pun meneruskan perjalanan ke makam Gus Dur. Kami menempuhnya kurang
lebih tiga puluh menit. Langit kelam, jalan basah dan udara berat membuat laju
motor kami pelan-pelan. Kantuk dan lelah menggerogoti tubuh. Mata Abu kuyu
menyimpan dingin. Kepala Budi terantuk-antuk. Suasana jalan di samping Pondok
Pesantren Tebu Ireng menyedia lengang tak tuntas. Toko-toko pakaian pada tutup.
Para penjual pentoal memperdengarkan dialog lirih. Selain mengeluarkan kata-kata
dengan terbata-bata, mulut mereka berusaha menahan dingin.
Kami
parkir pas di depan gerbang makam Gus Dur. Abu sedikit mengeluhkan basah. Anam
tanggap untuk membersihkan diri. Abu dan Anam berebut sabun. Budi melepas tas
dan meregangkan otot-otot tubuhnya. Kran kamar mandi tidak begitu deras. Meski
begitu, saat mengucurkan air ke tubuh, saya seperti ingin membasuh dingin, debu
dan letih yang melumuri sekujur tubuh.
Ketika
kami menatap gerbang makam Gus Dur, segerombol rombangan peziarah keluar. Pakaian
putih-putih mereka menyeretku pada genangan kenangan eksotis. Entah di mana?
Aku terpukau. Seorang lelaki putih merasuk dalam dzikir. Langkahnya pelan, bibirnya
mengucap satu lafadz, dan tasbih di tanganya berputar satu-satu.
Beberapa
toko ‘pesantren’ menyisakan penjaganya. Para santri Tebu Ireng tampak ndlosor
di lantai. Dengan mulut berkatup pelan, mereka menyandarkan diri ke dinding.
“Ke,
kita tidak bisa ke makam Gus Dur?” Abu melihat pada sekumpulan peziarah di
belakang pintu-pembatas antara makam Gus Dur dan ruang pertokoan. Saya
menyarankan Abu mencari informasi ke para santri. Abu cekatan. Dalam hitungan
detik dia mendapatkan kepastian: ini anomali. Biasanya pintu ke makam Gus Dur
ditutup pukul 23.00. “Entah ada apa ini, Ke, pukul 21.30 sudah ditutup,” Abu
berusaha menirukan cara bicara santri yang memberinya info.
“Mungkin
kita disuruh kembali di lain hari oleh Gus Dur,” dengan nada berseloroh aku
berusaha menenangkan Abu yang meletup. Budi dan Anam mengambil posisi menghadap
makam Gus Dur. Di atas makam Gus Dur tataan bunga merah-putih membentuk guratan
bendera kebangsaan. Selesai kirim fatihah dan surat yaa-sin, saya membiarkan
diri saya memasuki makam Gus Dur. Diri saya melihat jejak-jejak Gus Dur
mencintai manusia terus berdetakan. Ungkapan-ungkapan konyolnya membela kaum
yang tersakiti bergema memenuhi langit dan ingatanku. Dan tentunya, joke-joke
geerrrr-nya dalam memecahkan kebuntuan, tak mampu digerus hujan dan badai. Dan
paling saya ingat, satu ungkapan nyentriknya: gedung DPR tak jauh beda dengan
gedung Taman Kanak-kanak (TK).
***
“Gus
Dur adalah maulana kemanusiaan masa kini,” celetukku pada diri sendiri menyusuri
jalanan subuh Jombang-Mojokerto menuju Surabaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar