Menuju Gus Dur, Menembus Hujan II - santriwarrior

Breaking

Header Ads

SANTRIWARRIOR 728X90

Minggu, 04 Februari 2018

Menuju Gus Dur, Menembus Hujan II

Mas Hafidz-Mbak Nafis sedang menjemput anaknya ketika kami sampai. Aku diselimuti gugup dan was-was. Jangan-jangan kami salah rumah? Adik Mas Hafidz (entah bagaimana buruknya cuaca, saya tidak sempat menanyakan namanya). Kami disuguhi kopi. Teman-temanku menarik nafas panjang, berusaha mencari sisa-sisa kehangatan pada celah meja dan kursi yang tertata rapi.

“Sudah lama, Met?” Setelah kurang lebih 15 menit Mbak Nafis memecahkan kekikukan dan was-was yang memenuhi udara. Mas Nafis menanyakan kabar. “Kita terakhir bertemu di alun-alun itu ya?”
“Tidak, Mas. Saya terakhir bertemu Mas Nafis pas acara halal-bi-halal di rumah, Kang Suheng.”

Mas Hafidz segera meralat ingatan. Tangan kanannya menepuk dahinya, seperti berusaha menyingkirkan kealpaan yang menggayut. Sambil menggendong anak nomor tiganya, Mbak Nafis menanyakan perihal pernikahanku. Ketika saya menyatakan belum menikah, Mbak Nafis tertawa renyah. Dia mengingatkan usiaku yang semakin beranjak. Kugosokkan tanganku untuk mengusir dingin yang menggumpal di ketiak dan bagian perut.

“Dulu kau kan sudah tunangan, Met?”
“Sudah bubaran ketika ke jogja, Mbak?”
“Lho?”
“Orang tuanya tidak setuju saya kuliah lagi.”

Mbak Nafis mengernyitkan dahi: masak sih? Saya menjelaskan cerita pertunangan dan berakhirnya cita-cita suci itu di tahun 2011-2012. Saya juga ceritakan upaya-upaya lain untuk mencari pasangan hidup.
“Kau sepertinya tidak mau berjuang, Met,” celetuk Mbak Nafis. Teman-teman menyumirkan bibirnya. Mereka menahan tawanya untuk tidak meledak.

Topik aku belum menikah sedikit menekan dadaku. Aku seperti ingin lari, tapi tidak bisa. Pernikahan dan segala upaya yang tak kunjung berbuah membawaku pada pengembaraan lorong hitam. “Tapi mungkin belum waktunya, Met” Mas Hafidz dengan suara pelan mencoba menggiring udara segar. Dua anak Mbak Nafis berlarian. Hujan di luar semakin menipis. Tempias lampu semakin terang, dan deru kendaraan besar menderum-derum. Sebelum kami beranjak, Mbak Nafis sedikit mengeluh perihal ‘gosiplama’ di group Alumni. Hee, sejenak saya sunggingkan bibir. Saya memberikan pendapat, gosip lama itu tidak dewasa. Nostalgia boleh-boleh saja. “Tapi kalau terus-terusan itu menunjukkan rasa sakit yang tidak tuntas,” saya pun melepas kalimat saya dengan tawa lepas. Teman-temanku tetap tidak mau berbaur dengan suasana ruang tamu yang simpel. Mereka hanya menyumirkan bibirnya.

Pukul 20.05 kami pun meneruskan perjalanan ke makam Gus Dur. Kami menempuhnya kurang lebih tiga puluh menit. Langit kelam, jalan basah dan udara berat membuat laju motor kami pelan-pelan. Kantuk dan lelah menggerogoti tubuh. Mata Abu kuyu menyimpan dingin. Kepala Budi terantuk-antuk. Suasana jalan di samping Pondok Pesantren Tebu Ireng menyedia lengang tak tuntas. Toko-toko pakaian pada tutup. Para penjual pentoal memperdengarkan dialog lirih. Selain mengeluarkan kata-kata dengan terbata-bata, mulut mereka berusaha menahan dingin.

Kami parkir pas di depan gerbang makam Gus Dur. Abu sedikit mengeluhkan basah. Anam tanggap untuk membersihkan diri. Abu dan Anam berebut sabun. Budi melepas tas dan meregangkan otot-otot tubuhnya. Kran kamar mandi tidak begitu deras. Meski begitu, saat mengucurkan air ke tubuh, saya seperti ingin membasuh dingin, debu dan letih yang melumuri sekujur tubuh.

Ketika kami menatap gerbang makam Gus Dur, segerombol rombangan peziarah keluar. Pakaian putih-putih mereka menyeretku pada genangan kenangan eksotis. Entah di mana? Aku terpukau. Seorang lelaki putih merasuk dalam dzikir. Langkahnya pelan, bibirnya mengucap satu lafadz, dan tasbih di tanganya berputar satu-satu.

Beberapa toko ‘pesantren’ menyisakan penjaganya. Para santri Tebu Ireng tampak ndlosor di lantai. Dengan mulut berkatup pelan, mereka menyandarkan diri ke dinding.
“Ke, kita tidak bisa ke makam Gus Dur?” Abu melihat pada sekumpulan peziarah di belakang pintu-pembatas antara makam Gus Dur dan ruang pertokoan. Saya menyarankan Abu mencari informasi ke para santri. Abu cekatan. Dalam hitungan detik dia mendapatkan kepastian: ini anomali. Biasanya pintu ke makam Gus Dur ditutup pukul 23.00. “Entah ada apa ini, Ke, pukul 21.30 sudah ditutup,” Abu berusaha menirukan cara bicara santri yang memberinya info.

“Mungkin kita disuruh kembali di lain hari oleh Gus Dur,” dengan nada berseloroh aku berusaha menenangkan Abu yang meletup. Budi dan Anam mengambil posisi menghadap makam Gus Dur. Di atas makam Gus Dur tataan bunga merah-putih membentuk guratan bendera kebangsaan. Selesai kirim fatihah dan surat yaa-sin, saya membiarkan diri saya memasuki makam Gus Dur. Diri saya melihat jejak-jejak Gus Dur mencintai manusia terus berdetakan. Ungkapan-ungkapan konyolnya membela kaum yang tersakiti bergema memenuhi langit dan ingatanku. Dan tentunya, joke-joke geerrrr-nya dalam memecahkan kebuntuan, tak mampu digerus hujan dan badai. Dan paling saya ingat, satu ungkapan nyentriknya: gedung DPR tak jauh beda dengan gedung Taman Kanak-kanak (TK).

***

“Gus Dur adalah maulana kemanusiaan masa kini,” celetukku pada diri sendiri menyusuri jalanan subuh Jombang-Mojokerto menuju Surabaya.     
    
Jombang-Surabaya, Januari 2018 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar