Aku dan Mall di Tahun Baru - santriwarrior

Breaking

Header Ads

SANTRIWARRIOR 728X90

Rabu, 07 Februari 2018

Aku dan Mall di Tahun Baru

Oleh Set Wahedi 

Di penghujung bulan Desember 2017 –dalam rangka menyambut tahun baru 2018- mall menawarkan diskon besar-besaran. Berbagai produk ditempeli label diskon yang begitu wow: 20-70%. Potongan harga yang bisa meminimalisir pengeluaran isi kantong dibanding hari biasanya. Tak pelak, imajinasi belanja menyembul di setiap kepala teman-teman saya. Mereka pun membuat rencana: berbondong-bondong ke mall. Imajinasi belanja dengan diskon besar-besan tidak hanya menjangkiti teman-teman saya. Semua kepala seperti merasa perlu memanfaatkan kesempatan emas ini. Jadilah mall sesak dengan tumpah-ruah manusia seperti sungai runyam dengan sampah di musim hujan.

Sayangnya, mall yang dipenuhi manusia selalu membuat kepala saya terbelah. Saya membencinya sekaligus membutuhkannya. Mall adalah raksasa dengan segala hasrat dan kecerobohan. Di dalamnya aneka kebutuhan dipajang dan dipamerkan. Saya tinggal memilih barang-barang kebutuhan sesuai selera. Saya tinggal menyerahkan diri untuk menjadi bagian masyarakat berkemajuan. Di kafe-kafe atau di toko-toko pakaian, saya bisa menjadi bagian komunitas modern: rasional, higienis, stylist, glamor, maju, dan lain-lain. Padahal, saya hanya orang desa yang pergi ke kota, dengan seabrek cita-cita dadakan. Karena itu, saya sering ceroboh dalam berhitung. Saya sering membeli barang konsumsi, hanya karena merk-luar-negeri atau trend masa kini. Tanpa banyak bertanya kebutuhan pokok hasrat saya sebenarnya.

Selain menawarkan ruang hasrat dan mimpi menggebu, mall menciptakan labirin remang ruang-waktu. Dalam mata saya, ruang-ruang di mall hanya menampakkan satu rupa: arena konsumsi (:belanja). Hidup itu konsumsi. Peradaban itu ditandai kecermatan memilih bahan konsumsi. Kesejahteraan itu terjadi ketika diskon 70% pada barang konsumsi. Kemajuan itu mengonsumsi sebanyak-sebanyaknya. Semakin saya rajin mengonsumsi, semakin negara kita maju. Dan pemerintah, melalui pidato presiden, menteri atau para gubernur dan pelaku usaha akan mengatakan, gerak perekonomian "kita" menggeliat dengan menggembirakan.

Saya pernah tersesat, dan hampir tidak bisa keluar dari mall. Beruntung, pihak mall mengantisipasinya sejak dini: menaruh satpam di titik-titik strategis. Tidak hanya tersesat. Saya pernah masuk ke sebuah mall pukul 16.00. Saya masuk dengan niat melihat-lihat model sepatu baru plus diskonnya. Ada satu model yang menarik saya: sepatu kasual, mirip sepatu futsal dengan brand dan warna merah Ferrari. Hanya satu warna adanya. Saya tidak menyukai merah. Tapi model, bahan dan harganya cukup fantastis masuk dalam kepala saya. Saya tertarik dan memikirkannya. Saya pun membayangkan diri saya menjadi anak-jaman-now dengan sepatu itu. Sayangnya, untuk urusan harga, kantong dan kepala saya tergolong payah. Kantong saya tidak punya nafas cukup mengiyakan 1.400.000 untuk sebuah sepatu. Sedangkan kepala saya dipenuhi banyak kebutuhan yang berada dalam waiting-list: baju, celana, sweater, tas, buku, topi, kaca mata, jaket, beras, dan tentunya buku.

Gagal mendapatkan sepatu, saya berkelana ke toko-toko barang kebutuhan yang lain. Berulang saya menemukan harga-harga yang bak monster: mengerikan dan menakutkan. Karena berulang gagal, saya pun pasrah. Tubuh saya sedikit lelah. Untuk menghibur kekecewaan dalam dada, saya pergi ke toko buku. Saya dapat satu buku.

Seingat saya, piknik di mall sore itu bergerak antara mencari sepatu, baju dan sweater serta membeli buku. Dalam kalkulasi spekulatif, waktu yang dihabiskan sekitar 45-60 menit. Tapi, dalam mall saya tidak bisa berspekulasi. Keluar dari mall, saya baru paham kenapa tubuh saya begitu capek: tiga jam lebih kaki saya berjalan tanpa sejenak untuk beristirahat.

***

Peralihan zaman kuno ke zaman modern diisukan dengan lebih beradabnya saya. Pada zaman kuno, saya bisa saja menjelma makhluk kanibal, tidak tahu malu, suka teriak-teriak, meyakini hukum yang kuat yang menang, percaya takhayul. Pokoknya, di zaman kuno saya orang terbelakang, menjemukan dan berbahaya. Saat zaman modern didengungkan, saya terkaget-kaget. Saya butuh penjelasan dan propaganda untuk paham. Orang-orang beradab garda depan pun mengerti akan hal itu. Mereka pun berkomplot: membangun sekolah, kampus, membuka jurusan komunikasi, jurusan public relation, manajemen, menyebarkan ide-ide demokrasi, tata kota dan tidak lupa memproduksi alat-alat teknologi yang bisa membantu saya untuk memenuhi kebutuhan secara instan. Dan mall merangkum segalanya dalam etalase-etalasenya.

Mall adalah produk modern. Karenanya, mall menjadi ikon peradaban satu kota. Mall adalah titik kemajuan itu dibayangkan. Karenanya, mall tidak pernah sepi. Orang-orang selalu membludak, memenuhi mall. Meski begitu, mall juga menyisakan masalah: rumah-rumah digusur, jalan dilebarkan, dan lahan parkir menjadi lahan baru ekonomi sampingan. Betapa pun menjemukannya, mall tetap menyimpan magnet luar biasa.

Saya boleh mengumpat atau misuh-misuh bahwa gegara mall pasar tradisional terancam. Pedagang tradisional tutup lapak. Saya pun bisa menyimpulkan satu narasi gagah: mall adalah ikon peradaban sekaligus sumber persoalan. Sayangnya, teriakan-teriakan yang menggerung dalam diri saya begitu nyaring dalam sepi. Orang-orang di sekitar saya sudah pada sibuk ke mall. Teriakan saya hanya suara sumbang ketakberdayaan.

Pada titik yang lebih menggusarkan, mall bukan lagi urusan usaha semata. Mall kini bersangkut paut dengan kepentingan politik. Pembangunan mall kadang diterjemahkan sebagai ‘tangan terbuka’ pengambil kebijakan pada investor, atau sebaliknya: penolakan terhadap mall seolah kebijakan yang tepat melindungi pasar tradisional. Dalam hal ini, urusan menerima dan menolak mall saya kira memang rumit. Saya tidak akan hanya perlu meneriaki teman-teman saya tentang bahaya mall. Tapi saya juga mesti menyiapkan tenaga untuk meyakinkan penguasa: mall itu perlu ditata. Mall itu jangan sampai mengancam tata sosial masyarakat.

Tidak hanya itu. Tidak cukup berteriak pada teman-teman dan penguasa tentang mall. Saya harus lebih waspada. Mall kini berevolusi. Dia tidak hanya menjelma raksasa di tengah kota. Melalui jaringan on-line, mall kini memasuki denyut nadi keseharian saya. Dan yang paling parah, diam-diam saya ingin menjadi bagian mall.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar