Oleh Set Wahedi
Di penghujung
bulan Desember 2017 –dalam rangka menyambut tahun baru 2018-
mall menawarkan diskon besar-besaran. Berbagai produk ditempeli label diskon yang begitu wow: 20-70%. Potongan
harga yang bisa meminimalisir pengeluaran isi kantong dibanding hari biasanya.
Tak pelak, imajinasi belanja menyembul di setiap kepala teman-teman saya.
Mereka pun membuat rencana: berbondong-bondong ke mall. Imajinasi belanja dengan diskon besar-besan tidak hanya menjangkiti
teman-teman saya. Semua kepala seperti merasa perlu memanfaatkan kesempatan
emas ini. Jadilah mall sesak dengan tumpah-ruah manusia seperti sungai runyam dengan sampah di musim hujan.
Sayangnya, mall
yang dipenuhi manusia selalu membuat kepala saya terbelah. Saya membencinya sekaligus
membutuhkannya. Mall adalah raksasa dengan segala hasrat dan kecerobohan. Di
dalamnya aneka kebutuhan dipajang dan dipamerkan. Saya tinggal memilih
barang-barang kebutuhan sesuai selera. Saya tinggal menyerahkan diri untuk
menjadi bagian masyarakat berkemajuan. Di kafe-kafe atau di toko-toko pakaian,
saya bisa menjadi bagian komunitas modern: rasional, higienis, stylist, glamor, maju, dan lain-lain.
Padahal, saya hanya orang desa yang pergi ke kota, dengan seabrek cita-cita
dadakan. Karena itu, saya sering ceroboh dalam berhitung. Saya sering membeli
barang konsumsi, hanya karena merk-luar-negeri atau trend masa
kini. Tanpa banyak bertanya kebutuhan pokok hasrat saya
sebenarnya.
Selain menawarkan
ruang hasrat dan mimpi menggebu, mall menciptakan labirin remang ruang-waktu. Dalam mata
saya, ruang-ruang di mall hanya menampakkan satu rupa: arena konsumsi
(:belanja). Hidup itu konsumsi. Peradaban itu ditandai kecermatan memilih bahan
konsumsi. Kesejahteraan itu terjadi ketika diskon 70% pada barang konsumsi.
Kemajuan itu mengonsumsi sebanyak-sebanyaknya. Semakin saya rajin mengonsumsi, semakin negara kita maju. Dan pemerintah,
melalui pidato presiden, menteri atau para gubernur dan pelaku usaha akan
mengatakan, gerak perekonomian "kita" menggeliat dengan
menggembirakan.
Saya pernah
tersesat, dan hampir tidak bisa keluar dari mall. Beruntung, pihak mall mengantisipasinya
sejak dini: menaruh satpam di titik-titik strategis. Tidak
hanya tersesat. Saya pernah masuk ke sebuah mall pukul 16.00. Saya masuk dengan
niat melihat-lihat model sepatu baru plus diskonnya. Ada satu model yang
menarik saya: sepatu kasual, mirip sepatu futsal dengan brand dan warna merah Ferrari.
Hanya satu warna adanya. Saya tidak menyukai merah. Tapi model, bahan dan
harganya cukup fantastis masuk dalam kepala saya. Saya tertarik dan
memikirkannya. Saya pun membayangkan diri saya menjadi anak-jaman-now dengan sepatu itu. Sayangnya, untuk
urusan harga, kantong dan kepala saya tergolong payah. Kantong saya tidak punya
nafas cukup mengiyakan 1.400.000 untuk sebuah sepatu. Sedangkan kepala saya
dipenuhi banyak kebutuhan yang berada dalam waiting-list:
baju, celana, sweater, tas, buku, topi, kaca mata, jaket, beras, dan tentunya
buku.
Gagal mendapatkan
sepatu, saya berkelana ke toko-toko barang kebutuhan yang lain. Berulang saya
menemukan harga-harga yang bak monster: mengerikan dan menakutkan. Karena
berulang gagal, saya pun pasrah. Tubuh saya sedikit lelah. Untuk menghibur
kekecewaan dalam dada, saya pergi ke toko buku. Saya dapat satu buku.
Seingat saya,
piknik di mall sore itu bergerak antara mencari sepatu, baju dan sweater serta
membeli buku. Dalam kalkulasi spekulatif, waktu
yang dihabiskan sekitar 45-60 menit. Tapi, dalam
mall saya tidak bisa berspekulasi. Keluar dari mall, saya baru paham kenapa
tubuh saya begitu capek: tiga jam lebih kaki saya berjalan tanpa sejenak untuk
beristirahat.
***
Peralihan zaman
kuno ke zaman modern diisukan dengan lebih beradabnya saya. Pada zaman kuno, saya
bisa saja menjelma makhluk kanibal, tidak tahu malu, suka teriak-teriak,
meyakini hukum “yang kuat yang menang”,
percaya takhayul. Pokoknya, di zaman kuno saya
orang terbelakang, menjemukan dan berbahaya. Saat zaman modern didengungkan, saya terkaget-kaget. Saya butuh penjelasan dan propaganda
untuk paham. Orang-orang beradab garda depan pun
mengerti akan hal itu. Mereka pun berkomplot: membangun sekolah, kampus,
membuka jurusan komunikasi, jurusan public relation,
manajemen, menyebarkan ide-ide demokrasi, tata kota dan tidak lupa memproduksi
alat-alat teknologi yang bisa membantu saya
untuk memenuhi kebutuhan secara instan. Dan mall merangkum
segalanya dalam etalase-etalasenya.
Mall adalah produk
modern. Karenanya, mall menjadi ikon peradaban satu kota. Mall adalah titik
kemajuan itu dibayangkan. Karenanya, mall tidak pernah sepi. Orang-orang selalu
membludak, memenuhi mall. Meski begitu, mall juga
menyisakan masalah: rumah-rumah digusur, jalan dilebarkan, dan lahan parkir
menjadi lahan baru ekonomi sampingan. Betapa pun
menjemukannya, mall tetap menyimpan magnet luar biasa.
Saya boleh
mengumpat atau misuh-misuh bahwa gegara mall pasar tradisional terancam.
Pedagang tradisional tutup lapak. Saya pun bisa menyimpulkan satu narasi gagah:
mall adalah ikon peradaban sekaligus sumber persoalan. Sayangnya, teriakan-teriakan
yang menggerung dalam diri saya begitu nyaring dalam sepi. Orang-orang
di sekitar saya sudah pada sibuk ke mall. Teriakan saya hanya suara sumbang ketakberdayaan.
Pada titik yang
lebih menggusarkan, mall bukan lagi urusan usaha semata. Mall
kini bersangkut paut dengan kepentingan politik. Pembangunan
mall kadang diterjemahkan sebagai ‘tangan terbuka’ pengambil kebijakan pada
investor, atau sebaliknya: penolakan terhadap mall seolah kebijakan yang tepat
melindungi pasar tradisional. Dalam hal ini, urusan menerima dan
menolak mall saya kira memang rumit. Saya tidak
akan hanya perlu meneriaki teman-teman saya tentang bahaya mall. Tapi
saya juga mesti menyiapkan tenaga untuk meyakinkan penguasa: mall itu perlu
ditata. Mall itu jangan sampai mengancam tata sosial masyarakat.
Tidak hanya itu. Tidak cukup berteriak pada
teman-teman dan penguasa tentang mall. Saya harus lebih waspada. Mall kini berevolusi. Dia tidak hanya menjelma
raksasa di tengah kota. Melalui jaringan on-line, mall kini memasuki denyut nadi keseharian saya.
Dan yang paling parah, diam-diam saya
ingin menjadi bagian mall.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar