Plong. Dadanya seperti
bebas dari tindihan batu gunung. Jiwanya mengalami katarsis seusai membaca puluhan
puisi. Bukan jumlah yang-tak-disangkanya yang membuat dirinya sumringah. Tapi kata,
puisi yang diyakininya ternyata benar-benar mampu menggerakkan orang-orang untuk
tidak patah arang dalam berharap; tidak hilang imaji dalam merangkai cita-cita.
Kali
pertama, ketika seorang petinggi partai memintanya
untuk
nyaleg, dia merasa dirinya seperti dilahirkan kembali. Dia
perlu
meraba-raba dirinya:
tubuhnya,
tempat kelahirannya,
silsilah keluarganya, letak dan desain rumahnya
dan segala
hal-ihwal yang berkaitan dengan dirinya. Semuanya bernilai nol, ternyata.
Dia bukan siapa-siapa. Keluarganya bukan
siapa-siapa. Dia juga tidak punya apa-apa. Satu-satunya yang
dia punya untuk berbicara politik hanya kata. Hanya puisi.
Hanya prosa. Hanya mimpi-mimpi dalam bahasa.
Politik bukan perbincangan
baru dalam kamusnya, tapi nyaleg? Ini bukan saja tantangan. Nyaleg benar-benar
letusan gunung merapi yang membuat seluruh denyut nadinya
siaga. Meski
begitu -entah karena tak berdaya- tawaran itu pun diterimanya.
"Ah, nyaleg," batinnya sambil mengembangkan
bibir dengan senyum cuka. Mulanya, dia sempat ragu, dan nyaris
membatalkan persetujuan untuk menjadi caleg. Sekali lagi, dia
seperti
tidak punya banyak pilihan. "Mungkin sudah takdir," kata sakti yang diucapkannya
di kemudian
hari untuk tidak meratapi perjalanannya sebagai politisi dadakan.
Politisi yang terjun di arena politik di siang
bolong. Saat politisi lain bersiap-sedia jauh hari, dia mengiyakan kesediaan
nyaleg itu dua hari sebelum pendaftaran berakhir.
Terjun ke dunia politik
-di kalangan teman-temannya: Para
seniman- adalah pilihan jalan hidup yang ceroboh. Di sebagian besar kepala mereka,
politik sudah kadung diterjemahkan dan diterima sebagai arena penuh intrik. Di arena
intrik ini kita pun mengenal kosa kata yang tidak mengenakkan: licik, kepentingan
pribadi, korupsi, ingkar janji, dan kata miring lainnya.
Setelah
hampir 10 tahun menjadi suara lain bagi politik, gelombang
pertama yang harus dihadapinya
sebagai
seorang caleg adalah menemukan api puisi. “Saya
harus menemukan keindahan, kemanusiaan dan ke-katarsisan dalam proses politik, pekiknya pada diri sendiri. Menemukan api puisi sebagai suluh perjuangan
politik bukan hal yang mustahil. Pada prosesnya, caleg itu harus bertemu banyak
orang. Dia harus menyampaikan gagasan, cita-cita dan harapan politiknya di masa yang akan datang.
Pertemuan dengan orang-orang
dari berbagai latar belakang, membutuhkan kepekaan hening. Seperti kepekaan menangkap ilham puitik, lalu menuangkannya
dalam narasi-narasi yang bisa menyentuh ruang-ruang kesadaran. Keluh-kesah dan mimpi-mimpi
orang-orang yang akan diwakilinya,
memberi banyak ide; memberinya banyak cara memperjuangkan
kemanusiaan.
Pada konteks semacam
itu,
dia teringat dengan seruan, sikap, kecerdasan dan
keteguhan para seniman terdahulu dalam politik. Pramoedya Ananta Toer demi keyakinan politiknya harus rela
mendekam di balik jeruji penjara nyaris separuh hidupnya. Pramoedya tidak gentar
untuk menyuarakan penolakannya terhadap feodalisme dan kesewenang-wenangan kekuasaan.
Octavia Paz, penyair besar dari Veezuela, rela meninggalkan jabatannya sebagai seorang
diplomat gegara berbeda sikap politik dengan pemerintahannya. Gao Xin Jian, novelis renyah dari China, harus rela jadi eksil gegara sikap kerasnya
terhadap rezim China. Pada para seniman terdahulu, dia menemukan
Perpaduan
puisi dan politik ternayata mampu melahirkan narasi dan sikap keras dalam memperjuangkan kemanusiaan.
Dengan api puisi itu,
politik menjadi ruang berbagi dan mengabdi; politik menjadi ruang untuk berdialog tentang nasib kemanusiaan. Politik menjadi
ruang
kontemplasi untuk mendengarkan, menghayati dan menemukan ritme suara lirih dari orang-orang yang meratap di bawah garis kemiskinan; di tepi
derap kekuasaan. Dan
dari ruang kontemplasi ini, nilai-nilai kemanusiaan harus lebih dicernakan dan disemai
dalam setiap denyut kebangsaan. Tak heran, Gus Dur -politisi sekaligus seniman-
menegaskan pentingnya menempatkan kemanusiaan di atas hingar-bingar dan ambisi politik.
Kalau kita bernegara dan berbangsa untuk membangun satu peradaban kemanusiaan, maka
api puisi harus dinyalakan di setiap hati para politisi. Pada kesadaran politik
dengan api puisi ini, dia menjalani proses nyaleg
sebagai jalan untuk melakukan pendidikan politik. Jalan
untuk menjalin silaturrahim kebangsaaan. Masyarakatnya harus dididik dengan organisasi,
serunya mengutip kata-kata Pramoedya untuk menyemangati dirinya sendiri.
***
Selama masa kampanye, dia bertemu banyak orang. Dia mendengarkan banyak cerita.
Teman-teman SMA-nya dulu menuturkan kisah amplop dan oleh-oleh tangan yang berseliweran
di hari pencoblosan yang sudah lalu; para ustadnya mengingatkan akan beratnya memikul
amanah masyarakatnya; saudara-saudaranya memastikan kesiapan dan keseriusannya;
orang-orang yang ditemuinya mengabarkan kisah-kisah pilu nan nestapa; dan teman-teman
senimannya mengingatkannya, politik itu keras. Politik itu penuh intrik.
Hampir 6 bulan dia mendengarkan cerita-cerita itu. Seperti halnya dalam menemukan
dan menyampaikan ilham puitik, dia belajar untuk menggunakan segenap inderanya untuk
sebaik-baik mendengar dan menyerap. Dia berusaha seindah-indahnya untuk menyampaikan
siapa dirinya: Caleg muda, bermodal gagasan dan semangat bekerja-berkarya, tidak
menggunakan money politik, tidak suka merekayasa isu, dan tidak gemar menebar fitnah
sana-sini. Dia juga sampaikan komitmennya untuk melaksanakan tugas legislatif sebaik-baiknya
bertugas. Dia mengajak anak-anak muda kotanya untuk mandiri, bekerja keras dan berkarya
untuk diri sendiri dan sesama. Yakinlah, perubahan itu bisa kita lakukan. Bisa
kita mulai dari diri sendiri," ucapnya di setiap ujung pertemuan dengan masyarakatnya.
Dia juga mengingatkan mereka, para anggota legislatif yang terpilih adalah potret
kecil masyarakatnya. Teorinya: Masyarakatlah yang melahirkan anggota legislatif.
Bukan anggota legislatif yang melahirkan masyarakat.
Pada hari pencoblosan dia sedikit dredeg.
Dia membayangkan api puisinya menjalar-jalar di kepala, di dada orang-orang itu.
Dia yakin itu. Dia menerawang jauh: orang-orang itu akan memberikan suara untuknya.
Entah berapa jumlahnya. Selesai rekapitulasi, barulah dirinya mengembangkan bibirnya
seperti seusai membaca puisi: Kerja politik yang dilakukannya
menghasilkan 1. 285 suara.
Jumlah yang sangat jauh untuk terpilih jadi anggota legislatif. Tapi dia tidak
kehilangan senyum dan keyakinan. Seperti puisi, 1.285 suara adalah baris-baris yang
akan menggema dalam dirinya. Akan terus menggema sepanjang jalan hidupnya. Dia berucap syukur dan terima
kasih. Ya, dia ingin mengucapkan rasa terima kasih pada mereka yang mau mendengarka
narasi politik-puisinya. Ternyata, tidak semua orang berpartisipasi di politik
itu karena uang. Masih ada 1.285 orang atau
mungkin lebih yang memberikan suaranya karena cita-cita dan harapan yang lebih baik
di masa yang akan datang," serunya dengan dada plong.
Terima kasih 1.285 suara. Semoga di tahun-tahun yang akan datang, jumlahmu
terus bertambah. Semoga ketulusanmu untuk berjuang demi cita-cita dan harapan yang
lebih baik di masa akan datang melahirkan politisi yang baik. Politisi yang berpijak
pada kemanusiaan dan keadilan sosial dalam perjuangannya. Sekali lagi, terima kasih
1. 285 suara," dia bersandar di kursi bacanya
sambil memandangi buku-buku puisi dan karya sastra koleksinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar