Terimakasih Saudaraku! - santriwarrior

Breaking

Header Ads

SANTRIWARRIOR 728X90

Jumat, 30 Agustus 2019

Terimakasih Saudaraku!


Plong. Dadanya seperti bebas dari tindihan batu gunung. Jiwanya mengalami katarsis seusai membaca puluhan puisi. Bukan jumlah yang-tak-disangkanya yang membuat dirinya sumringah. Tapi kata, puisi yang diyakininya ternyata benar-benar mampu menggerakkan orang-orang untuk tidak patah arang dalam berharap; tidak hilang imaji dalam merangkai cita-cita.

Kali pertama, ketika seorang petinggi partai memintanya untuk nyaleg, dia merasa dirinya seperti dilahirkan kembali. Dia perlu meraba-raba dirinya: tubuhnya, tempat kelahirannya, silsilah keluarganya, letak dan desain rumahnya dan segala hal-ihwal yang berkaitan dengan dirinya. Semuanya bernilai nol, ternyata. Dia bukan siapa-siapa. Keluarganya bukan siapa-siapa. Dia juga tidak punya apa-apa. Satu-satunya yang dia punya untuk berbicara politik hanya kata. Hanya puisi. Hanya prosa. Hanya mimpi-mimpi dalam bahasa.

Politik bukan perbincangan baru dalam kamusnya, tapi nyaleg? Ini bukan saja tantangan. Nyaleg benar-benar letusan gunung merapi yang membuat seluruh denyut nadinya siaga. Meski begitu -entah karena tak berdaya- tawaran itu pun diterimanya. "Ah, nyaleg," batinnya sambil mengembangkan bibir dengan senyum cuka. Mulanya, dia sempat ragu, dan nyaris membatalkan persetujuan untuk menjadi caleg. Sekali lagi, dia seperti tidak punya banyak pilihan. "Mungkin sudah takdir," kata sakti yang diucapkannya di kemudian hari untuk tidak meratapi perjalanannya sebagai politisi dadakan. Politisi yang terjun di arena politik di siang bolong. Saat politisi lain bersiap-sedia jauh hari, dia mengiyakan kesediaan nyaleg itu dua hari sebelum pendaftaran berakhir.

Terjun ke dunia politik -di kalangan teman-temannya: Para seniman- adalah pilihan jalan hidup yang ceroboh. Di sebagian besar kepala mereka, politik sudah kadung diterjemahkan dan diterima sebagai arena penuh intrik. Di arena intrik ini kita pun mengenal kosa kata yang tidak mengenakkan: licik, kepentingan pribadi, korupsi, ingkar janji, dan kata miring lainnya.

Setelah hampir 10 tahun menjadi suara lain bagi politik, gelombang pertama yang harus dihadapinya sebagai seorang caleg adalah menemukan api puisi. Saya harus menemukan keindahan, kemanusiaan dan ke-katarsisan dalam proses politik,” pekiknya pada diri sendiri. Menemukan api puisi sebagai suluh perjuangan politik bukan hal yang mustahil. Pada prosesnya, caleg itu harus bertemu banyak orang. Dia harus menyampaikan gagasan, cita-cita dan harapan politiknya di masa yang akan datang.

Pertemuan dengan orang-orang dari berbagai latar belakang, membutuhkan kepekaan hening. Seperti kepekaan menangkap ilham puitik, lalu menuangkannya dalam narasi-narasi yang bisa menyentuh ruang-ruang kesadaran. Keluh-kesah dan mimpi-mimpi orang-orang yang akan diwakilinya, memberi banyak ide; memberinya banyak cara memperjuangkan kemanusiaan.

Pada konteks semacam itu, dia teringat dengan seruan, sikap, kecerdasan dan keteguhan para seniman terdahulu dalam politik. Pramoedya Ananta Toer demi keyakinan politiknya harus rela mendekam di balik jeruji penjara nyaris separuh hidupnya. Pramoedya tidak gentar untuk menyuarakan penolakannya terhadap feodalisme dan kesewenang-wenangan kekuasaan. Octavia Paz, penyair besar dari Veezuela, rela meninggalkan jabatannya sebagai seorang diplomat gegara berbeda sikap politik dengan pemerintahannya. Gao Xin Jian, novelis renyah dari China, harus rela jadi eksil gegara sikap kerasnya terhadap rezim China. Pada para seniman terdahulu, dia menemukan Perpaduan puisi dan politik ternayata mampu melahirkan narasi dan sikap keras dalam memperjuangkan kemanusiaan.

Dengan api puisi itu, politik menjadi ruang berbagi dan mengabdi; politik menjadi ruang untuk berdialog tentang nasib kemanusiaan. Politik menjadi ruang kontemplasi untuk mendengarkan, menghayati dan menemukan ritme suara lirih dari orang-orang yang meratap di bawah garis kemiskinan; di tepi derap kekuasaan. Dan dari ruang kontemplasi ini, nilai-nilai kemanusiaan harus lebih dicernakan dan disemai dalam setiap denyut kebangsaan. Tak heran, Gus Dur -politisi sekaligus seniman- menegaskan pentingnya menempatkan kemanusiaan di atas hingar-bingar dan ambisi politik. Kalau kita bernegara dan berbangsa untuk membangun satu peradaban kemanusiaan, maka api puisi harus dinyalakan di setiap hati para politisi. Pada kesadaran politik dengan api puisi ini, dia menjalani proses nyaleg sebagai jalan untuk melakukan pendidikan politik. Jalan untuk menjalin silaturrahim kebangsaaan. “Masyarakatnya harus dididik dengan organisasi,” serunya mengutip kata-kata Pramoedya untuk menyemangati dirinya sendiri.

***

Selama masa kampanye, dia bertemu banyak orang. Dia mendengarkan banyak cerita. Teman-teman SMA-nya dulu menuturkan kisah amplop dan oleh-oleh tangan yang berseliweran di hari pencoblosan yang sudah lalu; para ustadnya mengingatkan akan beratnya memikul amanah masyarakatnya; saudara-saudaranya memastikan kesiapan dan keseriusannya; orang-orang yang ditemuinya mengabarkan kisah-kisah pilu nan nestapa; dan teman-teman senimannya mengingatkannya, politik itu keras. Politik itu penuh intrik.

Hampir 6 bulan dia mendengarkan cerita-cerita itu. Seperti halnya dalam menemukan dan menyampaikan ilham puitik, dia belajar untuk menggunakan segenap inderanya untuk sebaik-baik mendengar dan menyerap. Dia berusaha seindah-indahnya untuk menyampaikan siapa dirinya: Caleg muda, bermodal gagasan dan semangat bekerja-berkarya, tidak menggunakan money politik, tidak suka merekayasa isu, dan tidak gemar menebar fitnah sana-sini. Dia juga sampaikan komitmennya untuk melaksanakan tugas legislatif sebaik-baiknya bertugas. Dia mengajak anak-anak muda kotanya untuk mandiri, bekerja keras dan berkarya untuk diri sendiri dan sesama. Yakinlah, perubahan itu bisa kita lakukan. Bisa kita mulai dari diri sendiri," ucapnya di setiap ujung pertemuan dengan masyarakatnya. Dia juga mengingatkan mereka, para anggota legislatif yang terpilih adalah potret kecil masyarakatnya. Teorinya: Masyarakatlah yang melahirkan anggota legislatif. Bukan anggota legislatif yang melahirkan masyarakat.

Pada hari pencoblosan dia sedikit dredeg. Dia membayangkan api puisinya menjalar-jalar di kepala, di dada orang-orang itu. Dia yakin itu. Dia menerawang jauh: orang-orang itu akan memberikan suara untuknya. Entah berapa jumlahnya. Selesai rekapitulasi, barulah dirinya mengembangkan bibirnya seperti seusai membaca puisi: Kerja politik yang dilakukannya menghasilkan 1. 285 suara.

Jumlah yang sangat jauh untuk terpilih jadi anggota legislatif. Tapi dia tidak kehilangan senyum dan keyakinan. Seperti puisi, 1.285 suara adalah baris-baris yang akan menggema dalam dirinya. Akan terus menggema sepanjang jalan hidupnya. Dia berucap syukur dan terima kasih. Ya, dia ingin mengucapkan rasa terima kasih pada mereka yang mau mendengarka narasi politik-puisinya. Ternyata, tidak semua orang berpartisipasi di politik itu karena uang. Masih ada 1.285  orang atau mungkin lebih yang memberikan suaranya karena cita-cita dan harapan yang lebih baik di masa yang akan datang," serunya dengan dada plong.

Terima kasih 1.285 suara. Semoga di tahun-tahun yang akan datang, jumlahmu terus bertambah. Semoga ketulusanmu untuk berjuang demi cita-cita dan harapan yang lebih baik di masa akan datang melahirkan politisi yang baik. Politisi yang berpijak pada kemanusiaan dan keadilan sosial dalam perjuangannya. Sekali lagi, terima kasih 1. 285 suara," dia bersandar di kursi bacanya sambil memandangi buku-buku puisi dan karya sastra koleksinya.       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar