Jelang senja berganti malam seorang
teman menggerutu membaca komentar kepala Disparbudpora Sumenep: “Ada Mafia
di Karapan Sapi”, yang terpampang gagah di halaman depan koran ini (Radar Madura, Senin, 16/09/2019). Katanya, “Jadi kepala dinas enak ya. Acara visitnya
amburadul, tinggal komentar ada mafia. Tanpa punya beban membuktikan dan
mengusutnya sampai tuntas. Lama-lama visit ini kehilangan visi. Jadi kunci T.”
Lalu gerutuan teman saya semakin memanjang. Konon, dia menemukan pamflet iseng: festival garam.
Pamflet ini menyuguhkan gambar eksotis kampungnya: kincir angin, petambak garam yang lagi mengangkuti garam,
dan lain-lain. Selain gambar eksotis, pamflet itu ‘hanya’ memuat beberapa nama
tempat: Kalianget, Karang Anyar, Pinggir Papas, dan Kebun Dadap. Tanggal pelaksanaan cukup dua hari: 16–17 Agustus 2019. Selebihnya
belum jelas ke arah mana pamflet itu ingin bicara.
Sekali
lagi pamflet iseng. Bukan
keisengan si Chairil Anwar, "kalau 'ku mati,
dia mati iseng sendiri" dalam sajak “Cintaku Jauh
di Pulau.”
Keisengan yang sia-sia. Keisengan pamflet
festival garam ternyata penuh harapan dan tanggapan. Para netizen memberikan apresiasi yang cukup serius dan meriah. Namun,
netizen lupa, konsep festival belum jelas. Apa bentuk perayaannya. Kebun Dadap?
Ah, meski di desa ini ada lahan tambak garam, keberadaan tidak begitu
signifikan. Teman saya mulai menerka, “Jangan-jangan Nyadhar, upacara selamatan garam masyarakat Pinggir Papas yang
dilaksanakan di Desa Kebun Dadap, akan diklaim sebagai
bagian festival?”
Teman saya pun
berinisiatif menjadi wartawan dadakan. Dia menelusuri jejak rekam
pamflet tersebut. Akhirnya ketemu. Pamflet festival garam itu bukan
iseng. Festival garam itu memang lagi dipersiapkan untuk diupacarakan. "Benar dugaan saya. Panitia festival ingin mengklaim Nyadhar
yang juga akan dilaksanakan pada 16–17 Agustus 2019 sebagai
bagian festival.” Di sinilah teman saya menggerutu
dengan nada meninggi. Dia cukup
jengkel. Dia ingin tahu siapa
biang keledai di balik pamflet itu. Dia pun mengangkat isu festival garam ini
ke media online.
Tak
urung, sehari setelah keberatannya atas Nyadhar sebagai bagian festival beredar, seorang teman lama dia menghubunginya.
Eh, ternyata teman lamanya –seorang magister seni– adalah biang
keledai pamflet festival garam itu. Teman saya yang awalnya hendak mendamprat biang keledai itu, mengurungkan niatnya.
"Biasalah. Saya bisa mengerti. Jika orang itu sudah terbiasa mencari hidup dari festival, dia hanya tahu jalan hidup dari festival. Entah festival itu mengeksploitasi
adat satu masyarakat.”
Meski
tidak jadi mendamprat si magister seni, kejengkelan teman saya tidak
serta-merta hilang. Pasalnya, si
magister seni ngotot memasukkan Nyadhar sebagai bagian dari festival garam. Untuk mematahkan keberatan teman saya, si magister festival –begitu kami memanggilnya kemudian– akan melakukan audiensi ke aparat Desa Pinggir Papas. Alhamdulillah,
hasil audiensi menegaskan keberatan teman saya untuk tidak memasukkan Nyadhar sebagai bagian dari festival garam.
Setelah keputusan
audiensi di Balai Desa Pinggir Papas menguatkan keberatannya, teman saya memberikan beberapa simpulan. Pertama, dalam dunia proyek hati-hati dengan teman sendiri. Bisa jadilah dia
‘pemain’ paling ngelunjak. Dialah
‘pemain’ yang bisa menghalalkan segala cara. Kedua, mafia
proyek atau program asal kelakon
tidak hanya terjadi di dunia politik. Dalam dunia seni, persekongkolan busuk antara eksekutif dan pekerja seni bisa terjadi.
Kalau di era 60-an, dunia seni kita disuguhi polemik sengit antara kaum Manikebu yang mengusung ‘seni untuk seni’ dan kaum Lekra yang mengusung ‘seni untuk politik’.
Kini dunia seni kita dirunyamkan seni untuk
perut. Akibatnya, sebagian karya seni kita lahir dan tumbuh di luar habitatnya: kegelisahan atas nilai-nilai
kemanusiaan.
Ketiga,
visit yang kehilangan visi. Setelah ramai di dunia netizen, si magister festival menceritakan ‘kepulan dapurnya’. Festival garam merupakan bagian kecil dari agenda besar “Visit Sumenep.” Secara sederhana, Visit Sumenep dapat diterjemahkan sebagai upaya
Pemkab Sumenep untuk mempromosikan
destinasi-destinasi wisata Sumenep dan menarik kunjungan wisatawan
sebanyak-banyaknya. Tujuan akhirnya,
masyarakat Sumenep dapat menikmati pundi-pundi ekonomi atas potensi wisata daerahnya.
Sayangnya,
festival garam itu dirumuskan tanpa
melibatkan petambak garam. Di sini kita tidak hanya menemukan distorsi makna
festival sebagai satu perayaan. Akan tetapi, kita juga bisa melihat, political will Pemkab Sumenep dalam mengelola potensi seni dan pariwisata
masih dengan cara pandang ‘centris.’ Segala sesuatu ditentukan oleh cita rasa pemegang tampuk kekuasaan.
Sialnya, cita rasa Pemkab Sumenep lebih doyan menyerahkan penyelesaian agenda
kesenian dan kepariwisataan pada event
organizer (EO).
Di
sisi lain, festival garam digelar pada saat harga garam anjlok. Festival garam
yang diniatkan untuk mengembalikan kejayaan industri garam malah menjadi pergelaran hilangnya empati Pemkab
Sumenep akan ratapan para petambak garam. Tak heran, festival garam tak ubahnya
tarian di atas isak dan sembab air mata petambak garam.
Dengan demikian, agenda seni dan pariwisata menjelma pergelaran nisbi.
Masyarakat sebagai pemilik sah seni dan pariwisata kehilangan senyum harapan.
Lebih jauh, kebijakan menyerahkan kegiatan seni dan pariwisata pada EO bertolak
belakang dengan tren kota/kabupaten dengan brand wisata. Kota/kabupaten dengan brand
wisata, sebut saja kota/kabupaten di Bali, Kabupaten Malang, Kabupaten Banyuwangi, Kota Batu, dan lainnya, dalam agenda
kesenian dan pariwisataannya
berupaya mendorong peran aktif masyarakat
melalui kelompok sadar wisata (pokdarwis).
Peran
aktif masyarakat –melaui pokdarwis– dalam mengelola dan mempromosikan potensi seni dan
wisata desa selaras dengan narasi ‘post-modern’
dana desa. Dana desa mengandaikan, desa mampu melakukan
tafsir progresif atas pertumbuhan dan
kemajuan dirinya. Desa bukan lagi bagian kecil Indonesia. Indonesia tidak lagi semata-mata ditentukan gemerlapnya Kota Jakarta, Surabaya, dan kota lainnya. Indonesia harus dibangun berdasarkan dialektika
antara kota dan desa.
Pada
cara pandang ‘post-modern’ kota-desa ini, Pemkab Sumenep harus
mendorong dan memberdayakan masyarakat desa untuk berperan aktif dalam mengelola potensi desanya. Dengan begitu, Pulau Gili Iyang dengan oksigen terbaiknya, Pulau
Gili Labak dengan panorama Hawai-nya, Desa Legung dengan Pantai Lombang
dan kasur pasirnya, Desa
Kalianget dengan situs ‘Kota Tua Garam’, Aeng Totong dengan luk kerisnya, dan desa lainnya,
dapat menjadi gugus-gugus baru ekonomi di bidang seni
dan pariwisata.
Akan tetapi, jika Pemkab Sumenep tetap menggunakan cara pandang ‘centris,’ kerja seni-pariwisata Visit Sumenep tak ubahnya proyek
manekin. Narasi, pamflet, etalase
seni, dan pariwisata hanya dibuat untuk pajangan. Jika sudah demikian, tak heran kalau destinasi-destinasi
wisata yang terangkum dalam pamflet Visit Sumenep semakin hari semakin kehilangan penikmatnya. Sebab, seperti gerutuan teman saya, “Kalau sudah kehilangan visi, agenda visit ini
benar-benar akan menjadi kunci T. Agenda-agenda visit hanya untuk menghabiskan uang rakyat atas
nama keindahan.” Sebelum
menutup percakapan jelang malam itu, teman saya mengingatkan, “Jangan suka
mempermainkan budaya atau tradisi orang lain. Kata pinisepuh, Eapora keng tak Salamet.” Seperti kepala
dinas, saya berharap ke depan, Sumenep berubah ke arah yang lebih baik. Tabik!
Sumenep–Surabaya, 29 Agustus 2019
Tidak ada komentar:
Posting Komentar