Anda
sopan, saya curiga. Pasti Anda caleg. Pernah mendapatkan kiriman meme satire
politik seperti itu? Saya yakin, Anda tidak sekadar mendapatkan kiriman dan
memasangnya di akun medsos Anda. Tapi Anda mungkin juga membuat beberapa kalimat
meme satire politik lainnya: "Kalau tidak di musim kampanye, para caleg tidak
datang berkunjung,” "Hati-hati dengan caleg, dia datang untuk membeli suaramu”, "Ambil uangnya, jangan coblos orangnya”, dan kalimat-kalimat satire lainnya.
Kenapa harus satire? Mungkin politik sudah kadung kita telan mentah-mentah
sebagai dunia penuh intrik, sikut-sikutan, korupsi, dan catatan buruk nan busuk
lainnya. Meski gegara “telan mentah-mentah” itu, kita kadang lupa untuk
mengingat kembali anjuran Nabi Muhammad SAW, “Jika ada tiga orang bepergian,
hendaknya mereka mengangkat salah seorang di antara mereka menjadi pemimpinnya" (HR. Abu Dawud), atau firman Allah SWT, "Hai orang-orang beriman, taatilah
Allah dan taati Rasul-Nya, dan Ulil Amri di antara kamu, kemudian jika kamu
berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Allah
(Al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah
dan hari akhir, yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya
(QS. An-Nisa:59), atau ungkapan penyair Jerman Bertolt Brech, "Buta yang
terburuk adalah buta politik." Dia tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak
berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu, bahwa biaya hidup,
harga kacang, harga ikan; semua bergantung pada keputusan politik; atau
mungkin, kita kadung mengagungkan segala asumsi atau praduga-praduga atas makna
kata yang terdistorsi.
Tapi
tak apalah. Di era demokrasi, toh setiap kepala boleh mengemukakan kelebat-kelebatnya.
Setiap orang berhak menyatakan pendapatnya. Tapi ada satu hal yang ingin saya
garis bawahi: silaturrahim adalah kata kunci memahami politik. Ada apa dengan
silaturrahim? Secara naluriah, kita akan berkunjung, bertandang atau
bertegur-sapa dengan sesama atas satu kebutuhan: ingin berbagi cerita, ingin
melepas kangen, ingin dianggap ramah-sopan-santun, dan ingin lainnya. Pun para
caleg, akan turun menyapa masyarakat yang dibayangkan akan diwakilinya, dengan
keinginan untuk memperkenalkan diri, mendapatkan kepercayaan, lalu tentunya di
hari pencoblosan mendapatkan suara yang melimpah. Dengan kalimat yang lebih
simpel, modal utama yang sederhana dalam politik adalah silaturrahim. Dengan
silaturrahim para caleg tidak hanya memperkenalkan diri dan meyakinkan orang
lain untuk memilihnya. Silaturrahim menjadi cara para caleg untuk mendapatkan
bahan atau materi dalam menyampaikan gagasan atau cita-cita bersama.
Silaturrahim
di arena politik ternyata memberikan ruang-ruang tak terduga. Kita bisa bertemu
dengan sekian banyak orang, menyalami ratusan tangan tanpa harus berhitung
siapa dia dan di mana dia tinggal. Caleg itu tidak boleh salah. Dia harus luwes
dan menunjukkan dirinya sebagai pribadi yang enak untuk menjadi teman ngobrol.
Untuk menjadi pendengar yang setia. Ruang tak terduga itu kadang mengejutkan
kita. Kadang membuat kita terbelalak. Kenapa? Kadang orang yang kita temui
adalah saudara kita di satu kecamatan, dan kita baru tahu itu di tanah rantau.
Ruang
tak terduga itu terjadi di rumah #merahputih Santri Warrior pada Jumat malam
(29/03/2019). Saya menemukan ruang itu pada sepasang sorot bening di balik
kacamata. Dia berkunjung ke rumah #merahputih Santri Warrior sekadar ikut
temannya, seperti saya berkunjung ke rumah #merahputih Santri Warrior untuk
menyapa teman-teman yang hendak lulus kuliah. Rautnya simpel. Tidak terlalu
berbelit untuk sekadar berbagi "halo” dan nama. Saatnya dia menyebutkan nama
desa kelahirannya, saya sedikit terperanjat: Desa Essang.
“Hah?
Desa itu kan di sebelah timur desa Cabbiya, tempat masa kecil saya tumbuh?" longo saya dalam hati. Ketika saya utarakan, bahwa tangis masa kecil saya
tumpah-ruah di desa Cabbiya Desa Cabbiya dan Desa Essang berada dalam satu kecamatan
Talango- dia sedikit terkejut. Hal yang tak terduga berikutnya, kami tiba-tiba
seperti ingin menggunting keasingan yang menganga di antara malam dan lampu
neon. Kami pun bertukar sedikit cerita tentang masa SMP dan SMA. Dia lulusan
Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Situbondo, saya lulusan Pondok Pesantren
Mathaliul Anwar Sumenep. Kalau dia sedang menyelesaikan kuliah di sebuah
Universitas Negeri di Madura, saya lagi mencari peruntungan mendapatkan jalan
untuk kuliah.
Pada
tangga percakapan berikutnya, kami ternyata sama-sama menyukai organisasi
ekstra kampus dan dunia seni. Dia sedikit memastikan profesi saya. Saya
memastikan, kalau saya masih seperti dirinya: orang Ndeso. Dia memuji saya,
saya pun mengingatkan, jangan banyak memuji jika tidak ingin abadi dalam
catatan harian saya. Dia tertawa mendengar saya akan mengabadikannya dalam
catatan. Saat saya tanya namanya, dia meminta Panggil Zila saja. Nama
panjangmu? Keberuntungan yang Turun, dia mengangkat alisnya agar tampak
ceria. Keberuntungan yang turun? Entah apa maksudnya. Mungkin dia ingin
mengingatkan, pertemuan tak terduga kami, mungkin tanda keberuntungan bagi
kami. Beruntung karena bisa bertemu dan bersilaturrahim pada sesama anak
Talango.
Kembali
pada Anda yang suka membuat dan mengirimkan meme satire politik, mungkin Anda
juga mengalami kejadian seperti yang saya alami. Jika Anda bukan caleg, mungkin
Anda akan menggunakan keinginan-keinginan standar untuk bisa memperpanjang alur
percakapan: bisakah saya mendapatkan nomornya? Adakah kemungkinan saya
mengajaknya ngopi? Apakah dia berkenan jika saya bermain ke rumahnya? Tapi jika
Anda seorang caleg, selain keinginan standar, Anda harus memastikan, teman baru
Anda bisa mengenali diri Anda; bisa memahami kemampuan Anda, dan tentunya dia
yakin dengan diri Anda, bahwa Anda seorang caleg yang bisa dipercaya.
Tapi
terlepas dari keinginan untuk memperpanjang percakapan, silaturrahim tetaplah
jalan panjang merawat kemanusiaan. Silaturrrahim mungkin semacam jalan tanpa
batas untuk mendapatkan keberuntungan di ruang tak terduga. Karena itu, saban
bertemu saudara-saudara saya, saya berdoa mendapatkan keberuntungan. Nah, jika
Anda mengirimi saya meme satire politik, mungkin saya hanya bisa mengingatkan,
apa pun modus dan cara para caleg datang pada Anda, terimalah mereka di ruang
silaturrahim. Di ruang silaturrahim inilah, adat ketimuran harus dimainkan
dalam arena politik. Anda harus mendidik para caleg, bahwa kita tidak butuh
uang mereka. Kita butuh komitmen mereka untuk memperjuangkan nasib kita melalui
pembuatan undang-undang, penyusunan anggaran dan pengawasan kinerja ekskutif
yang maksimal. Dan biarkan para caleg menunjukkan pada Anda, bahwa mereka bisa
mendidik konstituennya agar paham hak dan kewajibannya sebagai warga Negara. Di
tangan konstituen yang baik dan cerdaslah, akan lahir para politisi yang baik
dan cerdas. Pun sebaliknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar