Keberuntungan yang Turun - santriwarrior

Breaking

Header Ads

SANTRIWARRIOR 728X90

Kamis, 10 Oktober 2019

Keberuntungan yang Turun

Anda sopan, saya curiga. Pasti Anda caleg. Pernah mendapatkan kiriman meme satire politik seperti itu? Saya yakin, Anda tidak sekadar mendapatkan kiriman dan memasangnya di akun medsos Anda. Tapi Anda mungkin juga membuat beberapa kalimat meme satire politik lainnya: "Kalau tidak di musim kampanye, para caleg tidak datang berkunjung,” "Hati-hati dengan caleg, dia datang untuk membeli suaramu”, "Ambil uangnya, jangan coblos orangnya”, dan kalimat-kalimat satire lainnya. Kenapa harus satire? Mungkin politik sudah kadung kita telan mentah-mentah sebagai dunia penuh intrik, sikut-sikutan, korupsi, dan catatan buruk nan busuk lainnya. Meski gegara “telan mentah-mentah” itu, kita kadang lupa untuk mengingat kembali anjuran Nabi Muhammad SAW, “Jika ada tiga orang bepergian, hendaknya mereka mengangkat salah seorang di antara mereka menjadi pemimpinnya" (HR. Abu Dawud), atau firman Allah SWT, "Hai orang-orang beriman, taatilah Allah dan taati Rasul-Nya, dan Ulil Amri di antara kamu, kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir, yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya (QS. An-Nisa’:59), atau ungkapan penyair Jerman Bertolt Brech, "Buta yang terburuk adalah buta politik." Dia tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu, bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan; semua bergantung pada keputusan politik; atau mungkin, kita kadung mengagungkan segala asumsi atau praduga-praduga atas makna kata yang terdistorsi.

Tapi tak apalah. Di era demokrasi, toh setiap kepala boleh mengemukakan kelebat-kelebatnya. Setiap orang berhak menyatakan pendapatnya. Tapi ada satu hal yang ingin saya garis bawahi: silaturrahim adalah kata kunci memahami politik. Ada apa dengan silaturrahim? Secara naluriah, kita akan berkunjung, bertandang atau bertegur-sapa dengan sesama atas satu kebutuhan: ingin berbagi cerita, ingin melepas kangen, ingin dianggap ramah-sopan-santun, dan ingin lainnya. Pun para caleg, akan turun menyapa masyarakat yang dibayangkan akan diwakilinya, dengan keinginan untuk memperkenalkan diri, mendapatkan kepercayaan, lalu tentunya di hari pencoblosan mendapatkan suara yang melimpah. Dengan kalimat yang lebih simpel, modal utama yang sederhana dalam politik adalah silaturrahim. Dengan silaturrahim para caleg tidak hanya memperkenalkan diri dan meyakinkan orang lain untuk memilihnya. Silaturrahim menjadi cara para caleg untuk mendapatkan bahan atau materi dalam menyampaikan gagasan atau cita-cita bersama.

Silaturrahim di arena politik ternyata memberikan ruang-ruang tak terduga. Kita bisa bertemu dengan sekian banyak orang, menyalami ratusan tangan tanpa harus berhitung siapa dia dan di mana dia tinggal. Caleg itu tidak boleh salah. Dia harus luwes dan menunjukkan dirinya sebagai pribadi yang enak untuk menjadi teman ngobrol. Untuk menjadi pendengar yang setia. Ruang tak terduga itu kadang mengejutkan kita. Kadang membuat kita terbelalak. Kenapa? Kadang orang yang kita temui adalah saudara kita di satu kecamatan, dan kita baru tahu itu di tanah rantau.

Ruang tak terduga itu terjadi di rumah #merahputih Santri Warrior pada Jumat malam (29/03/2019). Saya menemukan ruang itu pada sepasang sorot bening di balik kacamata. Dia berkunjung ke rumah #merahputih Santri Warrior sekadar ikut temannya, seperti saya berkunjung ke rumah #merahputih Santri Warrior untuk menyapa teman-teman yang hendak lulus kuliah. Rautnya simpel. Tidak terlalu berbelit untuk sekadar berbagi "halo” dan nama. Saatnya dia menyebutkan nama desa kelahirannya, saya sedikit terperanjat: Desa Essang.

“Hah? Desa itu kan di sebelah timur desa Cabbiya, tempat masa kecil saya tumbuh?" longo saya dalam hati. Ketika saya utarakan, bahwa tangis masa kecil saya tumpah-ruah di desa Cabbiya –Desa Cabbiya dan Desa Essang berada dalam satu kecamatan Talango- dia sedikit terkejut. Hal yang tak terduga berikutnya, kami tiba-tiba seperti ingin menggunting keasingan yang menganga di antara malam dan lampu neon. Kami pun bertukar sedikit cerita tentang masa SMP dan SMA. Dia lulusan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo, saya lulusan Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar Sumenep. Kalau dia sedang menyelesaikan kuliah di sebuah Universitas Negeri di Madura, saya lagi mencari peruntungan mendapatkan jalan untuk kuliah.

Pada tangga percakapan berikutnya, kami ternyata sama-sama menyukai organisasi ekstra kampus dan dunia seni. Dia sedikit memastikan profesi saya. Saya memastikan, kalau saya masih seperti dirinya: orang Ndeso. Dia memuji saya, saya pun mengingatkan, jangan banyak memuji jika tidak ingin abadi dalam catatan harian saya. Dia tertawa mendengar saya akan mengabadikannya dalam catatan. Saat saya tanya namanya, dia meminta “Panggil Zila saja.” “Nama panjangmu?” “Keberuntungan yang Turun,” dia mengangkat alisnya agar tampak ceria. Keberuntungan yang turun? Entah apa maksudnya. Mungkin dia ingin mengingatkan, pertemuan tak terduga kami, mungkin tanda keberuntungan bagi kami. Beruntung karena bisa bertemu dan bersilaturrahim pada sesama anak Talango.

Kembali pada Anda yang suka membuat dan mengirimkan meme satire politik, mungkin Anda juga mengalami kejadian seperti yang saya alami. Jika Anda bukan caleg, mungkin Anda akan menggunakan keinginan-keinginan standar untuk bisa memperpanjang alur percakapan: bisakah saya mendapatkan nomornya? Adakah kemungkinan saya mengajaknya ngopi? Apakah dia berkenan jika saya bermain ke rumahnya? Tapi jika Anda seorang caleg, selain keinginan standar, Anda harus memastikan, teman baru Anda bisa mengenali diri Anda; bisa memahami kemampuan Anda, dan tentunya dia yakin dengan diri Anda, bahwa Anda seorang caleg yang bisa dipercaya.

Tapi terlepas dari keinginan untuk memperpanjang percakapan, silaturrahim tetaplah jalan panjang merawat kemanusiaan. Silaturrrahim mungkin semacam jalan tanpa batas untuk mendapatkan keberuntungan di ruang tak terduga. Karena itu, saban bertemu saudara-saudara saya, saya berdoa mendapatkan keberuntungan. Nah, jika Anda mengirimi saya meme satire politik, mungkin saya hanya bisa mengingatkan, apa pun modus dan cara para caleg datang pada Anda, terimalah mereka di ruang silaturrahim. Di ruang silaturrahim inilah, adat ketimuran harus dimainkan dalam arena politik. Anda harus mendidik para caleg, bahwa kita tidak butuh uang mereka. Kita butuh komitmen mereka untuk memperjuangkan nasib kita melalui pembuatan undang-undang, penyusunan anggaran dan pengawasan kinerja ekskutif yang maksimal. Dan biarkan para caleg menunjukkan pada Anda, bahwa mereka bisa mendidik konstituennya agar paham hak dan kewajibannya sebagai warga Negara. Di tangan konstituen yang baik dan cerdaslah, akan lahir para politisi yang baik dan cerdas. Pun sebaliknya.

Jika Anda masih bersikukuh dengan dunia politik yang satire, sekali lagi saya hanya bisa mengingatkan: jagalah silaturrahim, agar kita mendapatkan keberuntungan. Toh, di dalam bilik suara, Anda punya kedaulatan penuh untuk menentukan pilihan. Tabik!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar