Oleh: Salamet Wahedi
Dengan menyadari bulan puasa sebagai bulan ampunan, maka kita pun mengharapkan bahwa mereka: para hakim yang menerima suap, politisi yang mencla-mencle, aparat polisi yang pandang bulu, dan pemain sandiwara di Istana Negara, dapat segara tobat nasional.
Puasa di bulan Agustus, merupakan anugerah yang memiliki dua makna falsafah penting dalam kebangsaan. Pertama, nilai-nilai agama ternyata sangat erat dengan kondisi perjalanan bangsa. Kedua, nilai-nilai kebangsaan hendaknya tidak terlepaskan dengan ajaran luhur agama. Dengan demikian, walau negara kita bukan negara agama. Pun bukan negara sekalar, tapi kesadaran kebangsaannya tidak terlepas dari nilai luhur kemanusiaan: menjalin hubungan dengan sesamanya, dan menjadi hamba pada Yang Kuasa.
Dengan menyadari bulan puasa sebagai bulan ampunan, maka kita pun mengharapkan bahwa mereka: para hakim yang menerima suap, politisi yang mencla-mencle, aparat polisi yang pandang bulu, dan pemain sandiwara di Istana Negara, dapat segara tobat nasional.
Puasa di bulan Agustus, merupakan anugerah yang memiliki dua makna falsafah penting dalam kebangsaan. Pertama, nilai-nilai agama ternyata sangat erat dengan kondisi perjalanan bangsa. Kedua, nilai-nilai kebangsaan hendaknya tidak terlepaskan dengan ajaran luhur agama. Dengan demikian, walau negara kita bukan negara agama. Pun bukan negara sekalar, tapi kesadaran kebangsaannya tidak terlepas dari nilai luhur kemanusiaan: menjalin hubungan dengan sesamanya, dan menjadi hamba pada Yang Kuasa.
Kesadaran religius-nasional ini, di tengah kondisi pemerintahan yang tak menemukan bentuk dan tujuan bernegara, sangat urgen untuk direfleksikan kembali. Artinya, bahwa kedaualatan bangsa ini, yang dinyatakan pada 67 tahun lalu, sangat erat dengan kebesaran dan keutuhan jiwa founding father untuk mengakui kekuatan Yang Maha Kuasa. Hal ini dapat dilihat pada pembukaan UUD 1945 alinea ketiga.
Tak hanya itu, datangnya puasa di tengah carut-marutnya pemerintahan dengan berbagai kasus: skandal Century yang tak kunjung usai, Gayus yang didakwa 'pelanggaran' ringan, suap wisma atlet, sampai riuhnya negeri dengan dongengan dan kelakar para pembohong, serasa menjadi isyarat: bahwa penyelasaian itu semua membutuhkan kearifan kita semua sebagai makhluk beragama.
Isyarat 'agama' ini, diharapkan dapat ditangkap oleh para elite politik. Sehingga, kejujuran, keiklasan, dan kesabaran yang terkandung dalam ajaran puasa, dapat menciptakan suasana perpolitikan yang santun dan beradab.
Santun bukan karena bahasanya adem ayem, pandai berkelit, dan meluapkan emosi di luar dinas kenegaraan. Tapi santun yang memberikan rasa aman, nyaman, dan tenteram akan hakikat berbangsa dan bernegara. Sedang keadaban yang diharapkan timbul, bahwa dengan puasa, para elite politik sadar akan amanah, harapan dan tanggung jawab di pundaknya.
Praktisnya, puasa juga mengajarkan bagaimana kita bisa menahan diri untuk tidak mengumpat, mengejek, memfitnah, melakukan hal-hal munkar: semisal mencuri, berzinah, korupsi, berbohong, dan lainnya. yang nilai-nilai itu dapat menghadirkan kesadaran kita semua memaknai kemerdekaan dan kedaulatan yang kita rebut atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa.
Lebih jauh, puasa dengan berbagai keutamaannya: bulan yang penuh rahmat, bulan terkabulnya doa di sepertiga malamnya, malam seribu bulan, berlipat gandanya pahala kebaikan, tameng api neraka, dan janji manis Tuhan lainnya, paling tidak menjadi penyemangat bagi kita semua: bahwa harapan itu masih ada. Harapan untuk menatap Indonesia lebih baik.
Dengan menyadari bulan puasa sebagai bulan ampunan, maka kita pun mengharapkan bahwa mereka: para hakim yang menerima suap, politisi yang mencla-mencle, aparat polisi yang pandang bulu, dan pemain sandiwara di Istana Negara, dapat segera tobat nasional. Artinya, kalau mereka merasa beragama dan bertuhan, maka nilai-nilai agama itu hendaknya dapat diimplementasikan dalam berbangsa dan bernegara.
Maka tak ayal, bahwa ketakwaan yang diharapkan dari puasa, bukanlah sekadar melakukan hal-hal yang diperintah Tuhan dan menjauhi yang dilarangnya. Tapi ketakwaan dalam berbangsa dan bernegara, adalah mampu memahami dirinya sebagai pemimpin, warga-negara, dan sadar akan tanggung jawab dan tugasnya. Sehingga, pemimpin yang bertakwa bukanlah pemimpin yang sibuk mengurusi partainya; bukanlah pemimpin yang mudah tersinggung karena ruang pribadinya disentil; bukanlah pemimpin yang murah senyum karena iklan; bukanlah pemimpin yang suka menyalahkan orang lain. Tapi pemimpin yang bertakwa adalah mereka yang bisa berkata jujur, tegas, dan berani mengambil resiko demi kepentingan rakyat.
Sedang peringatan hari kemerdekaan di bulan puasa, akan menitikkan kembali nilai-nilai juang dan tujuan bernegara, yang mulai diabaikan para pemimpin negeri ini: Bahwa kedaulatan dan kemerdekaan adalah hak semua bangsa, merupakan anugerah Tuhan yang patut kita syukuri. Pun, mensyukuri makna kemerdekaan bukanlah sekadar mementaskan drama kepahlawanan; bukanlah sekadar bagi-bagi hadiah; bukanlah sekadar pidato tentang kondisi negera yang dilihat dari kacamata penghuni Istana Negara; tapi kemerdekaan itu hendaknya dapat diisi dengan menahan birahi untuk mempertontonkan pertikaian; menahan diri untuk hura-hura; menahan diri untuk tidak hanya menyanyi; menahan diri untuk tidak berkonspirasi. Sehingga, makna kemerdekaan mampu menciptakan individu masyarakat yang bangga dengan tanah-airnya; tidak ego karena dia ketua partai; tidak saling tuding atas kasus yang diperbuatnya. Dan yang lebih diharapkan, para elite politik dan penyelenggara Negara lainnya berani dan tegas demi kepentingan Negara dan bangsa.
Maka, melaksanakan puasa dengan kesungguhan, tak ubahnya menghayati kemerdekaan individu yang utuh sebagai suatu bangsa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar