Hujan Tak Datang dalam Kereta - santriwarrior

Breaking

Header Ads

SANTRIWARRIOR 728X90

Selasa, 08 September 2015

Hujan Tak Datang dalam Kereta


Oleh Set Wahedi

Hujan tidak datang hari ini. Tapi matanya berdenyar kelabu. Awan menggantung pekat di tepi senyumnya. Angin mengendap di sela pohon dan klakson macet, menaburkan debu pada pletaran peron. Ketika loudspeaker stasiun merajam, tubuhnya melonjak. Dalam satu hentakan, sendi-sendi tubuhnya berkertakan.

“Kereta api malam tujuan surabaya dari arah barat masuk di jalur tiga. Kereta akan berangkat pukul 14. 15 dan akan sampai pada pukul 23. 05.”

Selepas kereta mendehem-dehem, bergoyang sebentar, lalu sejenak mendengus, orang-orang pada meraih barang bawaan. Dia tampak cekatan, seperti anakku bergelayut erat di tangan kiriku. “Ibu, keretanya sudah datang.” Sejak lima belas menit lalu, lusuh rautnya menarik ujung mataku. Kuraih tangan mungil anakku, sambil mataku tidak mau melepaskan punggungnya ditelan mulut persegipanjang gerbong. “Ibu,,,” suaranya renyah anakku mengambang tiga puluh detik. Ting-tung-ting-tung. Loudspeaker kembali menyaruk. Tatapan anakku sedikit berair. Sisa es krim membasahi sudut bibirnya. “Bibir yang mungil,” kudekap anakku. Dari kepalanya berdesir angin sore yang berat, bercampur debu dan sesal yang membetot.

Sudah 10 menit kereta teronggok sepi. Pukul 14.09. silang-sengkarut arus kepala mereda. Seorang satpam mendekat, menanyai gerbong di karcis. “Gerbong nomor dua dari belakang, Mbak.” Satpam itu melempar bibir renyahnya. “Gerbong Mbak, gerbong nomor tujuh dua dari belakang.” Suara satpam berjuang untuk menjangkauku.

Menjejak bibir dalam gerbong kereta, lelaki itu menyelinap dari balik punggung. Dia tersesat ke gerbong lima. Raut cekung merayap dengan keringat baru lesap. Sesekali ransel yang mengembang, membetot alur kakinya. Arus kepala sudah menemukan irama pada formasi 2-2 di sebelah kiri, 3-3 di sebelah kanan. Tapi dia seperti tak ingin membiarkan anggota tubuhnya beranjak sendiri. Seluruh bagian tubuhnya dipangkunya dengan dengus memburu. “Lintasan gerbong lima ke gerbong tujuh, cukup memberinya pelajaran,” aku ingin bertanya. Tapi aku belum menemukan waktu tepat. Lelaki itu mulanya menarik ujung mataku di peron tadi. Mungkin hanya kebetulan yang menyudutkanku dalam satu bangku, aku masih belum kesempatan untuk mengeluarkan cairan lengket di kepalaku.

Ting-tung-ting-tung. Kereta malam jurusan surabaya akan segera diberangkatkan. Para penumpang diharapkan masuk. Ting-tung-tung-tung. Gerbong mendehem, mengejut. Kaki-kakinya mengirim geretan, gigiku disergap greges. Setelah bersendawa beberapa kali, kereta meluncur. Pelan-pelan. Masinis seperti mengukur saban jengkal rel lempuyangan.

“Ibu turun mana?” setelah membetulkan alur nafas, dia membuka percakapan. Ternyata kami satu arah. Kami sama menuju kota Surabaya. Kereta sedikit lengang. Di kursi lima deretan 3-3 hanya aku, anakku dan lelaki -yang kelak minta dipanggil Ari. “Kereta sepi ya,” nada suaraku hampir kujukan pada diriku sendiri. “Mungkin di Solo nanti akan penumpang lain.” Mungkin, itu mungkin kata yang tepat untuk melanjutkan percakapan yang mulanya sangsi. Laju kereta semakin menderas. Anakku merajuk, meringkuk di sudut kursi dengan bonekanya. Kepalanya menindih paha sambil mencari kehangatan pada kerut perut. “Ibu,” anakku mengerut. Ketakutan tampak mengguris di tapuk matanya.
“Adik,” suara Ari bergetar gagu, “Adik mau permen?” permen di tangan kanannya bergoyang. Anakku mendongak. Gerbong kereta berkeriuk-keriuk menubuh malam. “Adik,” kepalaku memberi isyarat untuk menyambut tangan Ari. Mata anakku tercenung. Pupilnya meminta kepastian. “Itu Om Ari punya permen untuk Alia.” Kusisihkan helai rambutnya ketika tangannya mencekam rokku. Ari semakin mendekatkan permen ke tangan anakku. Sambil menunggu Alia menyambut permennya, Ari melepas denyar matanya. Mata yang masih menyimpan denyar kelabu. Sejam lalu, awan bergayut tebal. Mata itu mengalirkan udara kedap.

“karcis disiapkan,” petugas keamanan kereta menyisir ruang tengah. Pakaian dongkernya menampakkan otot dan sedikit kesinisan.

Selepas petugas kereta melubangi, Ari menanyakan usia anakku. “Sepertinya, dia anak yang cerdas,” matanya Ari dipenuhi ricik.

Gerbong terus bergoyang. Sesekali berdecit. Di luar jendela, malam tampak nyalang. Lampu-lampu rumah dan jalanan timbul tenggelam di antara pohonan. Ari bertahan memerhatikan Alia yang membenamkan kepalanya ke pangkal paha. Punggungnya yang sedikit berisi bersandar ke kursi dengan kemiringan 45 derajat ke sebelah kanan.

“Bapak sudah punya anak juga?”

Ari tersenyum. Bibirnya menyesap dingin. Lama dia mencari kata-kata yang tepat pada ruat Alia yang mendongak sambil mengacungkan permen bertangkai. Pipinya menyembulkan aura hening. Kemudian mimpi perlahan merambati tapuk matanya. Degup nafasnya pelan dan tenang.

“Dia anak yang bahagia,” Ari mengucapkan kalimatnya seperti orang merapal mantra. Meski cara membetulkan jaketnya, dia seperti ingin menusukkan sebaris sinis. Aku merasakan tusukan itu dari nada dalamnya.

“Sejak kecil anak saya bahagia,” entah kenapa suaraku hendak melengking. Tapi saya menahannya dengan perasaan malu. Keretan kereta menangkupinya dengan goyangan dan  malam pekat.


“Suami ibu mungkin orang baik,” untuk kali ini Ari benar-benar lancang. Tapi saya tidak boleh menuruti segala siasatnya. Mungkin-nya telah menyulut sumbu luka yang lama saya padamkan. Dada saya pun terhenyak. “Maksud Bapak?” suaraku tidak bisa kutahan. Lengkingan mulutku menindih goyangan gerbong. Gerbong seolah berhenti. Aku mengambil nafas panjang. Kursi bergidik. Kepala-kepal yang terlelap, melonjak. Dalam hening dingin, puluhan pasang mata bertaut di udara, mencari sebutir kepastian... (bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar