Hujan
tidak datang hari ini. Tapi matanya berdenyar kelabu. Awan menggantung pekat di
tepi senyumnya. Angin mengendap di sela pohon dan klakson macet, menaburkan
debu pada pletaran peron. Ketika loudspeaker stasiun merajam, tubuhnya
melonjak. Dalam satu hentakan, sendi-sendi tubuhnya berkertakan.
“Kereta
api malam tujuan surabaya dari arah barat masuk di jalur tiga. Kereta akan
berangkat pukul 14. 15 dan akan sampai pada pukul 23. 05.”
Selepas
kereta mendehem-dehem, bergoyang sebentar, lalu sejenak mendengus, orang-orang
pada meraih barang bawaan. Dia tampak cekatan, seperti anakku bergelayut erat
di tangan kiriku. “Ibu, keretanya sudah datang.” Sejak lima belas menit lalu,
lusuh rautnya menarik ujung mataku. Kuraih tangan mungil anakku, sambil mataku
tidak mau melepaskan punggungnya ditelan mulut persegipanjang gerbong. “Ibu,,,”
suaranya renyah anakku mengambang tiga puluh detik. Ting-tung-ting-tung.
Loudspeaker kembali menyaruk. Tatapan anakku sedikit berair. Sisa es krim
membasahi sudut bibirnya. “Bibir yang mungil,” kudekap anakku. Dari kepalanya
berdesir angin sore yang berat, bercampur debu dan sesal yang membetot.
Sudah
10 menit kereta teronggok sepi. Pukul 14.09. silang-sengkarut arus kepala
mereda. Seorang satpam mendekat, menanyai gerbong di karcis. “Gerbong nomor dua
dari belakang, Mbak.” Satpam itu melempar bibir renyahnya. “Gerbong Mbak,
gerbong nomor tujuh dua dari belakang.” Suara satpam berjuang untuk
menjangkauku.
Menjejak
bibir dalam gerbong kereta, lelaki itu menyelinap dari balik punggung. Dia
tersesat ke gerbong lima. Raut cekung merayap dengan keringat baru lesap.
Sesekali ransel yang mengembang, membetot alur kakinya. Arus kepala sudah
menemukan irama pada formasi 2-2 di sebelah kiri, 3-3 di sebelah kanan. Tapi
dia seperti tak ingin membiarkan anggota tubuhnya beranjak sendiri. Seluruh
bagian tubuhnya dipangkunya dengan dengus memburu. “Lintasan gerbong lima ke
gerbong tujuh, cukup memberinya pelajaran,” aku ingin bertanya. Tapi aku belum
menemukan waktu tepat. Lelaki itu mulanya menarik ujung mataku di peron tadi. Mungkin
hanya kebetulan yang menyudutkanku dalam satu bangku, aku masih belum
kesempatan untuk mengeluarkan cairan lengket di kepalaku.
Ting-tung-ting-tung.
Kereta malam jurusan surabaya akan segera diberangkatkan. Para penumpang
diharapkan masuk. Ting-tung-tung-tung. Gerbong mendehem, mengejut. Kaki-kakinya
mengirim geretan, gigiku disergap greges. Setelah bersendawa beberapa kali,
kereta meluncur. Pelan-pelan. Masinis seperti mengukur saban jengkal rel
lempuyangan.
“Ibu
turun mana?” setelah membetulkan alur nafas, dia membuka percakapan. Ternyata
kami satu arah. Kami sama menuju kota Surabaya. Kereta sedikit lengang. Di
kursi lima deretan 3-3 hanya aku, anakku dan lelaki -yang kelak minta dipanggil
Ari. “Kereta sepi ya,” nada suaraku hampir kujukan pada diriku sendiri.
“Mungkin di Solo nanti akan penumpang lain.” Mungkin, itu mungkin kata yang tepat
untuk melanjutkan percakapan yang mulanya sangsi. Laju kereta semakin menderas.
Anakku merajuk, meringkuk di sudut kursi dengan bonekanya. Kepalanya menindih
paha sambil mencari kehangatan pada kerut perut. “Ibu,” anakku mengerut.
Ketakutan tampak mengguris di tapuk matanya.
“Adik,”
suara Ari bergetar gagu, “Adik mau permen?” permen di tangan kanannya
bergoyang. Anakku mendongak. Gerbong kereta berkeriuk-keriuk menubuh malam.
“Adik,” kepalaku memberi isyarat untuk menyambut tangan Ari. Mata anakku
tercenung. Pupilnya meminta kepastian. “Itu Om Ari punya permen untuk Alia.”
Kusisihkan helai rambutnya ketika tangannya mencekam rokku. Ari semakin
mendekatkan permen ke tangan anakku. Sambil menunggu Alia menyambut permennya,
Ari melepas denyar matanya. Mata yang masih menyimpan denyar kelabu. Sejam
lalu, awan bergayut tebal. Mata itu mengalirkan udara kedap.
“karcis
disiapkan,” petugas keamanan kereta menyisir ruang tengah. Pakaian dongkernya
menampakkan otot dan sedikit kesinisan.
Selepas
petugas kereta melubangi, Ari menanyakan usia anakku. “Sepertinya, dia anak
yang cerdas,” matanya Ari dipenuhi ricik.
Gerbong
terus bergoyang. Sesekali berdecit. Di luar jendela, malam tampak nyalang.
Lampu-lampu rumah dan jalanan timbul tenggelam di antara pohonan. Ari bertahan
memerhatikan Alia yang membenamkan kepalanya ke pangkal paha. Punggungnya yang
sedikit berisi bersandar ke kursi dengan kemiringan 45 derajat ke sebelah
kanan.
“Bapak
sudah punya anak juga?”
Ari
tersenyum. Bibirnya menyesap dingin. Lama dia mencari kata-kata yang tepat pada
ruat Alia yang mendongak sambil mengacungkan permen bertangkai. Pipinya
menyembulkan aura hening. Kemudian mimpi perlahan merambati tapuk matanya.
Degup nafasnya pelan dan tenang.
“Dia
anak yang bahagia,” Ari mengucapkan kalimatnya seperti orang merapal mantra.
Meski cara membetulkan jaketnya, dia seperti ingin menusukkan sebaris sinis.
Aku merasakan tusukan itu dari nada dalamnya.
“Sejak
kecil anak saya bahagia,” entah kenapa suaraku hendak melengking. Tapi saya
menahannya dengan perasaan malu. Keretan kereta menangkupinya dengan goyangan
dan malam pekat.
“Suami
ibu mungkin orang baik,” untuk kali ini Ari benar-benar lancang. Tapi saya
tidak boleh menuruti segala siasatnya. Mungkin-nya telah menyulut sumbu luka
yang lama saya padamkan. Dada saya pun terhenyak. “Maksud Bapak?” suaraku tidak
bisa kutahan. Lengkingan mulutku menindih goyangan gerbong. Gerbong seolah
berhenti. Aku mengambil nafas panjang. Kursi bergidik. Kepala-kepal yang
terlelap, melonjak. Dalam hening dingin, puluhan pasang mata bertaut di udara,
mencari sebutir kepastian... (bersambung)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar