Duwâ’ Sèket - santriwarrior

Breaking

Header Ads

SANTRIWARRIOR 728X90

Rabu, 26 Agustus 2015

Duwâ’ Sèket

Oleh Set Wahedi

Duwe’ seket, 
ayo’ ket, kettang lagi,
ayo gi, gigi empat
ayo pat, palang merah,
ayo rah, raas pote,
ayo te, tembok esseng,
ayo seng, sengko’ andi’,
ayo di’ didik botak,
ayo tak botak bellu,
ayo lu’, lu-ghulu’an

Lagu itu, Aufa, lagu yang selalu kudendangkan dengan mata berbinar. Lagu yang mengiringi masa kanak-kanakku beranjak menatap matahari. Dengan lagu itu, aku dan teman-temanku seperti memintal kebersamaan, keakraban, dan persaudaraan dalam kelindan irama dan tawa. Dengan lagu itu pula, kami merancang permainan ḍuwâ’ sèket.

Ḍuwâ’ sèket, sejenis permainan yang biasa kami mainkan di teras rumah atau langgar. Kami memainkannya dengan beberapa batu kecil dan satu batu besar. Kami terbiasa main berempat atau berlima (tapi jika kelak kau berhasrat ingin memainkannya, kau boleh mengajak teman-temanmu sebanyak-banyaknya). Setiap pemain masing-masing memegang batu kecil. Sedangkan batu yang besar dipegang secara bergiliran sambil mendendangkan lagu “ḍuwâ’ sèket”.

Seiring lagu dan batu besar yang terus berpindah tangan, kepala kami menggeleng-geleng. Tubuh kamu berdenyut selaras irama lagu, dan sesekali tangan kami berkedut menerima dan memindahtangankan batu besar. Dada kami pun sedikit berdetak lebih keras, “jangan-jangan batu besar itu akan berhenti di tanganku?”

Saat lagu itu habis, pemain terakhir yang memegang batu besar dikenai “sanksi”. Si pemegang terakhir batu besar itu “disanksi” untuk mencari batu kecil yang kami sembunyikan di celah-celah di sekitar tempat kami bermain. Si pemegang batu besar akan mencari batu kecil kami sampai ditemukan.

Aufa, permainan ḍuwâ’ sèket ini dibanding permainan era sekarang jauh “tertinggal”. Permainan itu begitu mudah dan sederhana. Lagu, batu besar dan batu-batu kecil, sekilas membosankan. Tapi kami begitu riang memainkannya. Kami selalu seperti menemukan dunia yang ditumbuhi bunga-bunga saban kali menyanyikan lagu itu. Kami seperti berlatih menghadapi marabahaya dalam keriangan saban kali batu besar menghampiri kami. Lagu yang kami nyanyikan tidak harus membuat kami terlena. Kalau lagu itu habis, kami akan berhadapan dengan batu besar yang memaksa kami untuk memerankan sebagai tokoh pencari batu kecil di tempat yang kami rahasiakan. Dan dengan batu-batu kecil, kami belajar menyembunyikan rahasia kami.

Permainan ḍuwâ’ sèket ini juga mengajari kami untuk berkata jujur. Pernah satu kali, Si Mujani, teman kami tidak mengakui tentang batu kecil yang disembunyikannya. Kala itu si pemegang batu besar Aris. Hampir sepuluh menit Aris menggeledah celah-celah kecil teras rumah Anis. Mula-mula Aris menemukan batu kecil Arya, kemudian batuku. Batu Anis ditemukannya di bawah meja. Pencarian yang cukup memakan waktu, adalah pencarian terhadap batu kecil Mujani. Aris menemukan batu kecil di bawah asbak. Aris menarik nafas lega.

“Ini batumu kan Ni?” Aris mengambil batu kecil dari bawah asbak, lalu menunjukkan ke Mujani. Mujani menggeleng dengan bibir dicibirkan, dan matanya seolah ingin berkata, “Itu bukan batuku. Hayo cari lagi Aris.”

Melihat ekspresi Mujani yang menunjukkan kegagalannya, Aris hampir putus asa. Tapi kami tahu, kalau kami langsung menyerah, itu berarti kami tidak serius bermain. Kami dianggap tidak bisa menghormati dan menghargai teman sepermainan kami. Aris pun kembali bergegas menyusuri celah-celah teras rumah Anis yang berukuran 2 x 4 meter. Selang beberapa detik, Aris kembali memasang raut riak gembira. Tangan mungilnya mengambil batu kecil dari balik kaki kursi di dekat pojok dinding. Tapi lagi-lagi keceriaan Aris pupus oleh bukan tangan Mujani yang didadakan.

Di penghujung permainan, saat Aris benar-benar kehilangan semangat, Mujani mengakui siasat liciknya. Berulang dia tidak mengakui batunya dengan maksud memperdaya Aris. Dia juga ingin dikatakan “hebat”. Tapi caranya itu licik, Aufa. Kami tidak suka itu. Untuk beberapa waktu, kami pun enggan bermain dengan Mujani. Kami membiarkan Mujani bermain sendiri.

Aufa, duapuluh lima tahun lalu, lagu itu selalu menggema, mengisi detik-detik kami sehabis ngaji atau sekolah. Tapi hingga kini, saban kali kami bertemu, lagu itu seperti tak mau beranjak dari ingatan kami. Lagu itu seperti menyimpan tangga-nada yang selalu menyeret kami pada senja yang penuh kebersamaan. Pada malam yang penuh keriangan. Dengan lagu itu, kami tertawa mengingat raut ‘culun’ Aris yang dikerjai Mujani. Kami pun –dua puluh lima tahun kemudian- seperti punya alasan yang pas untuk menganggap perbuatan Mujani sebagai lelucon. Sebagai tontonan yang tak perlu ditiru.

Lagu itu, Aufa, dan batu-batu kecil serta batu besar yang berjalan di antara tangan-tangan kami, mengajari kami untuk menjalani hidup sebagai arena menemukan nilai-nilai kemanusiaan dalam kebersamaan, keriangan dan semangat untuk meraih keberhasilan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar