Duwe’
seket,
ayo’ ket,
kettang lagi,
ayo gi,
gigi empat
ayo pat,
palang merah,
ayo rah,
raas pote,
ayo te,
tembok esseng,
ayo seng,
sengko’ andi’,
ayo di’
didik botak,
ayo tak
botak bellu,
ayo lu’,
lu-ghulu’an
Lagu
itu, Aufa, lagu yang selalu kudendangkan dengan mata berbinar. Lagu yang
mengiringi masa kanak-kanakku beranjak menatap matahari. Dengan lagu itu, aku
dan teman-temanku seperti memintal kebersamaan, keakraban, dan persaudaraan
dalam kelindan irama dan tawa. Dengan lagu itu pula, kami merancang permainan ḍuwâ’
sèket.
Ḍuwâ’
sèket, sejenis permainan yang biasa kami mainkan di teras rumah atau langgar.
Kami memainkannya dengan beberapa batu kecil dan satu batu besar. Kami terbiasa
main berempat atau berlima (tapi jika kelak kau berhasrat ingin memainkannya,
kau boleh mengajak teman-temanmu sebanyak-banyaknya). Setiap pemain
masing-masing memegang batu kecil. Sedangkan batu yang besar dipegang secara
bergiliran sambil mendendangkan lagu “ḍuwâ’ sèket”.
Seiring
lagu dan batu besar yang terus berpindah tangan, kepala kami menggeleng-geleng.
Tubuh kamu berdenyut selaras irama lagu, dan sesekali tangan kami berkedut
menerima dan memindahtangankan batu besar. Dada kami pun sedikit berdetak lebih
keras, “jangan-jangan batu besar itu akan berhenti di tanganku?”
Saat
lagu itu habis, pemain terakhir yang memegang batu besar dikenai “sanksi”. Si
pemegang terakhir batu besar itu “disanksi” untuk mencari batu kecil yang kami
sembunyikan di celah-celah di sekitar tempat kami bermain. Si pemegang batu
besar akan mencari batu kecil kami sampai ditemukan.
Aufa,
permainan ḍuwâ’ sèket ini dibanding permainan era sekarang jauh “tertinggal”.
Permainan itu begitu mudah dan sederhana. Lagu, batu besar dan batu-batu kecil,
sekilas membosankan. Tapi kami begitu riang memainkannya. Kami selalu seperti
menemukan dunia yang ditumbuhi bunga-bunga saban kali menyanyikan lagu itu. Kami
seperti berlatih menghadapi marabahaya dalam keriangan saban kali batu besar
menghampiri kami. Lagu yang kami nyanyikan tidak harus membuat kami terlena. Kalau
lagu itu habis, kami akan berhadapan dengan batu besar yang memaksa kami untuk
memerankan sebagai tokoh pencari batu kecil di tempat yang kami rahasiakan. Dan
dengan batu-batu kecil, kami belajar menyembunyikan rahasia kami.
Permainan
ḍuwâ’ sèket ini juga mengajari kami untuk berkata jujur. Pernah satu kali, Si
Mujani, teman kami tidak mengakui tentang batu kecil yang disembunyikannya.
Kala itu si pemegang batu besar Aris. Hampir sepuluh menit Aris menggeledah
celah-celah kecil teras rumah Anis. Mula-mula Aris menemukan batu kecil Arya,
kemudian batuku. Batu Anis ditemukannya di bawah meja. Pencarian yang cukup
memakan waktu, adalah pencarian terhadap batu kecil Mujani. Aris menemukan batu
kecil di bawah asbak. Aris menarik nafas lega.
“Ini
batumu kan Ni?” Aris mengambil batu kecil dari bawah asbak, lalu menunjukkan ke
Mujani. Mujani menggeleng dengan bibir dicibirkan, dan matanya seolah ingin
berkata, “Itu bukan batuku. Hayo cari lagi Aris.”
Melihat
ekspresi Mujani yang menunjukkan kegagalannya, Aris hampir putus asa. Tapi kami
tahu, kalau kami langsung menyerah, itu berarti kami tidak serius bermain. Kami
dianggap tidak bisa menghormati dan menghargai teman sepermainan kami. Aris pun
kembali bergegas menyusuri celah-celah teras rumah Anis yang berukuran 2 x 4
meter. Selang beberapa detik, Aris kembali memasang raut riak gembira. Tangan
mungilnya mengambil batu kecil dari balik kaki kursi di dekat pojok dinding.
Tapi lagi-lagi keceriaan Aris pupus oleh bukan tangan Mujani yang didadakan.
Di
penghujung permainan, saat Aris benar-benar kehilangan semangat, Mujani
mengakui siasat liciknya. Berulang dia tidak mengakui batunya dengan maksud
memperdaya Aris. Dia juga ingin dikatakan “hebat”. Tapi caranya itu licik,
Aufa. Kami tidak suka itu. Untuk beberapa waktu, kami pun enggan bermain dengan
Mujani. Kami membiarkan Mujani bermain sendiri.
Aufa,
duapuluh lima tahun lalu, lagu itu selalu menggema, mengisi detik-detik kami
sehabis ngaji atau sekolah. Tapi hingga kini, saban kali kami bertemu, lagu itu
seperti tak mau beranjak dari ingatan kami. Lagu itu seperti menyimpan
tangga-nada yang selalu menyeret kami pada senja yang penuh kebersamaan. Pada
malam yang penuh keriangan. Dengan lagu itu, kami tertawa mengingat raut
‘culun’ Aris yang dikerjai Mujani. Kami pun –dua puluh lima tahun kemudian-
seperti punya alasan yang pas untuk menganggap perbuatan Mujani sebagai
lelucon. Sebagai tontonan yang tak perlu ditiru.
Lagu
itu, Aufa, dan batu-batu kecil serta batu besar yang berjalan di antara
tangan-tangan kami, mengajari kami untuk menjalani hidup sebagai arena
menemukan nilai-nilai kemanusiaan dalam kebersamaan, keriangan dan semangat
untuk meraih keberhasilan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar