Tubuh dan Rasa Sakit - santriwarrior

Breaking

Header Ads

SANTRIWARRIOR 728X90

Kamis, 17 September 2015

Tubuh dan Rasa Sakit

Oleh Set Wahedi

Set tak punya masalah serius dengan tubuhnya. Kalau pun ada, dia tak pernah menganggapnya serius. Pada masa kecilnya, kata ibunya, tubuhnya pernah melepuh. Entah sakit apa. Tapi, kata ibunya lagi, kulitnya melepuh begitu saja. Kalau disentuh, dia akan meringis kesakitan. Pakaian yang dikenakannya begitu lengket. Karenanya, ketika kulitnya melepuh –waktu itu usinya sekitar empat tahun- sepanjang siang-malam, tubuhnya dibiarkan tergolek tanpa pakaian. Tubuhnya –karena orang tuanya tidak tega untuk menyentuh kulitnya- dibiarkan tergeletak begitu saja di atas daun pisang, yang dalam sekejap juga ikut melepuh.

“Itu pun bukan persoalan serius,” tuturnya di sebuah pagi di warung kopi Mahasiswa di dalam kampus U. Teman-temannya hanya manggut-manggut. Manggut-manggut mereka, seperti tanda untuk memberinya ruang bercerita lebih banyak tentang tubuhnya. “Dan saya tidak akan pernah menganggapnya serius. Maski saya juga pernah diserang penyakit yang aneh. Kalau di pagi hari, sampai pukul duabelas siang, tubuh tak mengalami secuil kejanggalan. Tubuh saya seperti tubuh orang-orang yang melintas dengan rutinitas yang membosankan. Tapi kalau sudah malam menginjakkan kaki, tubuh saya menjelma medan magnet. Tubuh saya menggigil. Keringat dingin menyembul dari pori-pori. Tubuh saya seperti kanal air dingin.”

Meski tidak menganggap serius dengan persoalan tubuhnya, dia selalu menceritakan tubuhnya dengan sedikit berlebihan. Suatu waktu dia menganggap tubuhnya seperti kakus. Pada waktu yang lain, dia membayangkan tubuhnya seperti kaleng minuman yang dibuang begitu saja. Sedangkan pada waktu-waktu yang dianggapnya suci –semisal ketika adzan berkumandang, saat matahari baru terbit dan ketika akan terbenam, saat menengadahkan kedua tangannya berdoa- dia merasakan tubuhnya semisal ruang raung agung bergema.

“Saya tidak akan pernah menganggap persoalan tubuh itu serius,” katanya setelah meneguk kopinya beberapa mili. Pukul menunjukkan angka sembilan lebih beberapa menit.

Chuek, temannya yang sedang menyelesaikan tugas akhir di jurusan sosiologi, yang duduk tepat di depannya menimpali, “Saya masih belum bisa membedakan tubuh yang serius atau pun tidak.”

Karena kata-kata temannya ini, ingatan seperti beranjak pada satu malam yang jengah. Malam, saat ia dipaksa menyaksikan satu pertunjukan yang disebut dengan pementasan absurd. Satu pertunjukan –kata sutradara sekaligus merangkap aktor- mengandung kekerasan-kekerasan simbolik. “Dalam pertunjukan itu,” sambil mengingat malam yang jengah itu, dia mencoba mengumpulkan kata-katanya secepat dan serapi mungkin. “Seorang lelaki dari belahan dunia, memanggil dirinya dengan sebutan Tuan Fernando. Dari arah sisi penonton, lelaki itu berteriak, Siapa pembunuh munir? Lelaki itu seperti prajurit yang siap berjuang dengan segenap jiwa raganya demi keadilan dan kemanusiaan. Itu saya tangkap dari cara dia berteriak dan mengucapkan kalimatnya. Di ujung pertunjukan, seorang penonton bertanya, kenapa Anda harus menyebut diri Anda Tuan Fernando, kalau Anda ingin berbicara tentang Munir? Bukankah Munir itu persoalan kita semua. Dengan raut sedikit angkuh, dan nada yang ditekan, sutradara sekaligus merangkap aktor itu menanggapinya dengan enteng, Fernando itu tokoh fiksi. Kalau Saudara tidak tahu silahkan tanya.”

Sejak saat itu, dia menganggap tubuh itu persoalan serius. “Tapi saya tidak benar-benar menganggapnya serius. Bukan persoalan serius seperti ketika saya mesti menentukan pilihan pasangan,” kelitnya ketika diperingatkan Chuek, kalau dia selama ini tidak pernah, dan tidak akan pernah menganggap persoalan tubuh itu serius.

“Tapi ingatanmu itu cukup menggelikan tentang pertunjukan itu,” sanggah Sabai, temannya yang sedang menempuh semester tujuh di jurusan psikologi, tentang alur hubungan tubuh dan tokoh fiksi.

“Nah,” dia pun mengambil nafas untuk mengatur cara tutur yang asyik. “Mula-mula begini. Pertunjukan itu pada dasarnya dimulai dari pemahaman dasar kita tentang seni. Seni,” dia mengutip pendapat tokoh-tokoh seni yang diingatnya. Beberapa pendapat itu antara lain, (1) seni itu lahir dari realitas masyarakatnya. Seni bukan sekadar imajinasi kosong tentang satu peristiwa atau adegan beberapa tokoh. Peristiwa dalam seni merupakan cermin dari kasak-kusuk masyarakatnya: gelisah, galau, sakit, tertekan, dan amburadul, (2)  pengarang seni merupakan orang yang sakit. Gao Xi Jian, novelis China, mengungkapkan bahwa dirinya menuliskan karya sebatas upaya untuk menghibur dirinya sendiri. Rasa sakit dalam tubuhnya.

“Di sini, pengarang merupakan sosok yang  akan selalu merasakan sakit. Karena sakitnya, dia akan selalu bangkit untuk berkarya,” tuturnya dengan raut muka dipenuhi garis-garis serius.

“Kenapa raut mukamu begitu serius?” Kembali Chuek mengingatkan tentang dirinya akan kalimat awalnya tentang tubuhnya.

“Begini maksud saya,” dia menjelaskan yang dimaksud dengan mengarang itu sebagai upaya melepaskan diri dari sakit; sebagai upaya untuk merasakan kebahagiaan. “Hal yang perlu diperhatikan,” sejenak dia seperti menemukan sulur keseriusan, ”Penyair, pelukis, pemusik, penyanyi dan aktor saya pastikan mengalami satu proses yang hampir sama. Hanya bahannya yang membedakan berbagai profesi itu.”

Dia melihat tubuh-tubuh itu –penyair, pelukis, pemusik, penyanyi, dan aktor- merasakan denyut yang sama; rasa sakit yang sama. Tapi dalam menghibur rasa sakit itu, mereka punya cara dan bahan sendiri. Penyair menghibur dirinya dengan sajak dan cerita. Pelukis dengan tumpahan cat. Pemusik dengan alunana nada, dan aktor dengan pertunjukan.

“Mula-mula mereka melihat, mencerap peristiwa. Peristiwa menjadi gumpalan dalam diri mereka. Membayang-bayangi mereka. Menghantui, menggedor, menghentak alam bawah sadar mereka. Singkatnya, mereka mengalami rasa sakit akan peristiwa yang tak didamaikannya, semisal penculikan, harga-harga barang yang tak terjangkau, kelaparan, kemiskinan, dan persoalan-persoalan rumit lainnya. Puncaknya, mereka akan berusaha menghancurkannya, kemudian mengutuhkannya kembali menjadi realitas baru. Tapi tidak benar-benar baru.”

Sejenak dia mengambil nafas, “Dan pertunjukan adalah rasa sakit yang kompleks,” dia bertutur dengan nada lepas. Udara yang beranjak tegang di pukul titik 11.00 mulai mendesak. Orang-orang mulai bergegas dengan wajah gerah berkeringart. Mereka seperti mengingat dan melupakan kenangan seperti melepas asap rokok. “Karenanya, cara menyembuhkannya pun cukup pelik.”

Kemudian dia menuturkan tentang jalan panjang pertunjukan. “Seorang aktor,” dia menjelaskan dengan mimic dibekap udara kedap, “mula-mula akan berhadapan dengan dunia teks. Kata-kata merupakan rimba yang mesti ditaklukkannya. Kata-kata itu mesti dilahap dan dikunyah hingga ia benar-benar menyatu dalam dirinya.”

“Bagaimana sikap tubuh kita dalam mengunyah kata itu?” Chuek menyela kalimat panjangnya. Setelah menarik mulut, menyedot rokok dan menyesap kopinya, dia menjelaskan, “Aktor itu harus hafal naskahnya. Itu mula-mula. Setelah itu, aktor harus mampu menguasai teks. Teks harus benar-benar sudah menjadi bagian dirinya. Dalam segala hal, aktor adalah tokoh dalam naskah yang dihadapinya.”

“Dengan begitu, aktor terkekang oleh naskah doung?” Kali ini Sabai yang menyela. Dia menutup mulutnya. Di sela jarinya, mulutnya menyesap udara pelan-pelan.

“Itu masih tahap menguasai teks,” kepalanya manggut-manggut, tangannya melepaskan punting rokok ke asbak, lalu menelentang. “Ini sudah mendekati titik duabelas. Saya harus segera beranjak. Tapi intinya begini, aktor itu mula-mula berhadapan dengan teks, membedahnya, mengenalinya, menguasainya dan melepaskannya. Setelah usai dengan urusan teks, seorang aktor akan berhadap dengan panggung. Seperti halnya dengan teks, panggung merupakan area yang penuh aturan layaknya teks penuh kalimat-kalimat berintonasi. Di sini, tubuh kita, mula-mula akan kaku. Kita seolah perlu menyesuaikan diri dengan jarring-jaring ghaib yang tersebar di atas panggung. Setelah memahami sulur jarring-jaring ghaib panggung, kita akan mengusai panggung, untuk selanjutnya, panggung itu bukan lagi ruangh pertunjukan. Tapi ruang aktor hidup dalam pembayangan dirinya yang utuh.”

Setelah kalimat panjang ini, dia menghela dadanya yang seperti membutuhkan oksigen lebih banyak dari kebiasaannya. “Saya beranjak dulu.”

“Nanti saja Set,” Chuek berusaha menahannya. Tapi siang sudah benar-benar menginjak titik 12.00. Dia harus benar-benar bergegas ke dalam kelas.

Bangkalan, 18 September 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar