Oleh Set Wahedi
Set
tak punya masalah serius dengan tubuhnya. Kalau pun ada, dia tak pernah
menganggapnya serius. Pada masa kecilnya, kata ibunya, tubuhnya pernah melepuh.
Entah sakit apa. Tapi, kata ibunya lagi, kulitnya melepuh begitu saja. Kalau
disentuh, dia akan meringis kesakitan. Pakaian yang dikenakannya begitu
lengket. Karenanya, ketika kulitnya melepuh –waktu itu usinya sekitar empat
tahun- sepanjang siang-malam, tubuhnya dibiarkan tergolek tanpa pakaian.
Tubuhnya –karena orang tuanya tidak tega untuk menyentuh kulitnya- dibiarkan
tergeletak begitu saja di atas daun pisang, yang dalam sekejap juga ikut
melepuh.
“Itu
pun bukan persoalan serius,” tuturnya di sebuah pagi di warung kopi Mahasiswa
di dalam kampus U. Teman-temannya hanya manggut-manggut. Manggut-manggut mereka,
seperti tanda untuk memberinya ruang bercerita lebih banyak tentang tubuhnya.
“Dan saya tidak akan pernah menganggapnya serius. Maski saya juga pernah
diserang penyakit yang aneh. Kalau di pagi hari, sampai pukul duabelas siang,
tubuh tak mengalami secuil kejanggalan. Tubuh saya seperti tubuh orang-orang
yang melintas dengan rutinitas yang membosankan. Tapi kalau sudah malam
menginjakkan kaki, tubuh saya menjelma medan magnet. Tubuh saya menggigil.
Keringat dingin menyembul dari pori-pori. Tubuh saya seperti kanal air dingin.”
Meski
tidak menganggap serius dengan persoalan tubuhnya, dia selalu menceritakan
tubuhnya dengan sedikit berlebihan. Suatu waktu dia menganggap tubuhnya seperti
kakus. Pada waktu yang lain, dia membayangkan tubuhnya seperti kaleng minuman
yang dibuang begitu saja. Sedangkan pada waktu-waktu yang dianggapnya suci
–semisal ketika adzan berkumandang, saat matahari baru terbit dan ketika akan
terbenam, saat menengadahkan kedua tangannya berdoa- dia merasakan tubuhnya
semisal ruang raung agung bergema.
“Saya
tidak akan pernah menganggap persoalan tubuh itu serius,” katanya setelah
meneguk kopinya beberapa mili. Pukul menunjukkan angka sembilan lebih beberapa
menit.
Chuek,
temannya yang sedang menyelesaikan tugas akhir di jurusan sosiologi, yang duduk
tepat di depannya menimpali, “Saya masih belum bisa membedakan tubuh yang
serius atau pun tidak.”
Karena
kata-kata temannya ini, ingatan seperti beranjak pada satu malam yang jengah.
Malam, saat ia dipaksa menyaksikan satu pertunjukan yang disebut dengan pementasan
absurd. Satu pertunjukan –kata sutradara sekaligus merangkap aktor- mengandung
kekerasan-kekerasan simbolik. “Dalam pertunjukan itu,” sambil mengingat malam
yang jengah itu, dia mencoba mengumpulkan kata-katanya secepat dan serapi
mungkin. “Seorang lelaki dari belahan dunia, memanggil dirinya dengan sebutan Tuan
Fernando. Dari arah sisi penonton, lelaki itu berteriak, Siapa pembunuh munir? Lelaki itu seperti prajurit yang siap
berjuang dengan segenap jiwa raganya demi keadilan dan kemanusiaan. Itu saya
tangkap dari cara dia berteriak dan mengucapkan kalimatnya. Di ujung
pertunjukan, seorang penonton bertanya, kenapa Anda harus menyebut diri Anda
Tuan Fernando, kalau Anda ingin berbicara tentang Munir? Bukankah Munir itu
persoalan kita semua. Dengan raut sedikit angkuh, dan nada yang ditekan,
sutradara sekaligus merangkap aktor itu menanggapinya dengan enteng, Fernando
itu tokoh fiksi. Kalau Saudara tidak tahu silahkan tanya.”
Sejak
saat itu, dia menganggap tubuh itu persoalan serius. “Tapi saya tidak
benar-benar menganggapnya serius. Bukan persoalan serius seperti ketika saya
mesti menentukan pilihan pasangan,” kelitnya ketika diperingatkan Chuek, kalau
dia selama ini tidak pernah, dan tidak akan pernah menganggap persoalan tubuh
itu serius.
“Tapi
ingatanmu itu cukup menggelikan tentang pertunjukan itu,” sanggah Sabai, temannya
yang sedang menempuh semester tujuh di jurusan psikologi, tentang alur hubungan
tubuh dan tokoh fiksi.
“Nah,”
dia pun mengambil nafas untuk mengatur cara tutur yang asyik. “Mula-mula
begini. Pertunjukan itu pada dasarnya dimulai dari pemahaman dasar kita tentang
seni. Seni,” dia mengutip pendapat tokoh-tokoh seni yang diingatnya. Beberapa pendapat
itu antara lain, (1) seni itu lahir dari realitas masyarakatnya. Seni bukan
sekadar imajinasi kosong tentang satu peristiwa atau adegan beberapa tokoh.
Peristiwa dalam seni merupakan cermin dari kasak-kusuk masyarakatnya: gelisah,
galau, sakit, tertekan, dan amburadul, (2)
pengarang seni merupakan orang yang sakit. Gao Xi Jian, novelis China,
mengungkapkan bahwa dirinya menuliskan karya sebatas upaya untuk menghibur
dirinya sendiri. Rasa sakit dalam tubuhnya.
“Di
sini, pengarang merupakan sosok yang akan
selalu merasakan sakit. Karena sakitnya, dia akan selalu bangkit untuk
berkarya,” tuturnya dengan raut muka dipenuhi garis-garis serius.
“Kenapa
raut mukamu begitu serius?” Kembali Chuek mengingatkan tentang dirinya akan kalimat
awalnya tentang tubuhnya.
“Begini
maksud saya,” dia menjelaskan yang dimaksud dengan mengarang itu sebagai upaya
melepaskan diri dari sakit; sebagai upaya untuk merasakan kebahagiaan. “Hal
yang perlu diperhatikan,” sejenak dia seperti menemukan sulur keseriusan,
”Penyair, pelukis, pemusik, penyanyi dan aktor saya pastikan mengalami satu
proses yang hampir sama. Hanya bahannya yang membedakan berbagai profesi itu.”
Dia
melihat tubuh-tubuh itu –penyair, pelukis, pemusik, penyanyi, dan aktor-
merasakan denyut yang sama; rasa sakit yang sama. Tapi dalam menghibur rasa
sakit itu, mereka punya cara dan bahan sendiri. Penyair menghibur dirinya
dengan sajak dan cerita. Pelukis dengan tumpahan cat. Pemusik dengan alunana
nada, dan aktor dengan pertunjukan.
“Mula-mula
mereka melihat, mencerap peristiwa. Peristiwa menjadi gumpalan dalam diri
mereka. Membayang-bayangi mereka. Menghantui, menggedor, menghentak alam bawah
sadar mereka. Singkatnya, mereka mengalami rasa sakit akan peristiwa yang tak
didamaikannya, semisal penculikan, harga-harga barang yang tak terjangkau,
kelaparan, kemiskinan, dan persoalan-persoalan rumit lainnya. Puncaknya, mereka
akan berusaha menghancurkannya, kemudian mengutuhkannya kembali menjadi
realitas baru. Tapi tidak benar-benar baru.”
Sejenak
dia mengambil nafas, “Dan pertunjukan adalah rasa sakit yang kompleks,” dia
bertutur dengan nada lepas. Udara yang beranjak tegang di pukul titik 11.00 mulai
mendesak. Orang-orang mulai bergegas dengan wajah gerah berkeringart. Mereka
seperti mengingat dan melupakan kenangan seperti melepas asap rokok.
“Karenanya, cara menyembuhkannya pun cukup pelik.”
Kemudian
dia menuturkan tentang jalan panjang pertunjukan. “Seorang aktor,” dia
menjelaskan dengan mimic dibekap udara kedap, “mula-mula akan berhadapan dengan
dunia teks. Kata-kata merupakan rimba yang mesti ditaklukkannya. Kata-kata itu
mesti dilahap dan dikunyah hingga ia benar-benar menyatu dalam dirinya.”
“Bagaimana
sikap tubuh kita dalam mengunyah kata itu?” Chuek menyela kalimat panjangnya.
Setelah menarik mulut, menyedot rokok dan menyesap kopinya, dia menjelaskan,
“Aktor itu harus hafal naskahnya. Itu mula-mula. Setelah itu, aktor harus mampu
menguasai teks. Teks harus benar-benar sudah menjadi bagian dirinya. Dalam
segala hal, aktor adalah tokoh dalam naskah yang dihadapinya.”
“Dengan
begitu, aktor terkekang oleh naskah doung?” Kali ini Sabai yang menyela. Dia
menutup mulutnya. Di sela jarinya, mulutnya menyesap udara pelan-pelan.
“Itu
masih tahap menguasai teks,” kepalanya manggut-manggut, tangannya melepaskan punting
rokok ke asbak, lalu menelentang. “Ini sudah mendekati titik duabelas. Saya harus
segera beranjak. Tapi intinya begini, aktor itu mula-mula berhadapan dengan
teks, membedahnya, mengenalinya, menguasainya dan melepaskannya. Setelah usai dengan
urusan teks, seorang aktor akan berhadap dengan panggung. Seperti halnya dengan
teks, panggung merupakan area yang penuh aturan layaknya teks penuh
kalimat-kalimat berintonasi. Di sini, tubuh kita, mula-mula akan kaku. Kita seolah
perlu menyesuaikan diri dengan jarring-jaring ghaib yang tersebar di atas
panggung. Setelah memahami sulur jarring-jaring ghaib panggung, kita akan
mengusai panggung, untuk selanjutnya, panggung itu bukan lagi ruangh
pertunjukan. Tapi ruang aktor hidup dalam pembayangan dirinya yang utuh.”
Setelah
kalimat panjang ini, dia menghela dadanya yang seperti membutuhkan oksigen
lebih banyak dari kebiasaannya. “Saya beranjak dulu.”
“Nanti
saja Set,” Chuek berusaha menahannya. Tapi siang sudah benar-benar menginjak
titik 12.00. Dia harus benar-benar bergegas ke dalam kelas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar