Oleh Set Wahedi
Kamis pukul 06.45 para mahasiswa mulai memasuki ruang kelas 02.04 Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, FBS, Unesa. Satu persatu mereka menempati bangku masing-masing. Kepala mereka khusuk melayapi kertas diktat. Tangan mereka sibuk membuat catatan dan pertanyaan. Menginjak pukul tujuh, suasana ruangan mulai hening. Lamat-lamat ketegangan mengiringi seorang lelaki tua renta masuk dengan langkah terbata-bata. Sesekali ia membetulkan letak kacamatanya. Duduk di belakang meja di tengah ruangan, lelaki itu mulai memeriksa daftar hadir dan materi mata kuliah. Setelah memastikan semuanya siap, dimulailah mata kuliah dengan nadanya bergetar.
Kamis pukul 06.45 para mahasiswa mulai memasuki ruang kelas 02.04 Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, FBS, Unesa. Satu persatu mereka menempati bangku masing-masing. Kepala mereka khusuk melayapi kertas diktat. Tangan mereka sibuk membuat catatan dan pertanyaan. Menginjak pukul tujuh, suasana ruangan mulai hening. Lamat-lamat ketegangan mengiringi seorang lelaki tua renta masuk dengan langkah terbata-bata. Sesekali ia membetulkan letak kacamatanya. Duduk di belakang meja di tengah ruangan, lelaki itu mulai memeriksa daftar hadir dan materi mata kuliah. Setelah memastikan semuanya siap, dimulailah mata kuliah dengan nadanya bergetar.
Itulah sekilas gambaran ruang kelas mata kuliah sintaksis yang diampu oleh (alm.) Gatot Susilo Sumowijoyo. Saya menempuh kelas yang menegangkan itu pada semester tiga tahun kedua kuliah (2006). Saya memasuki ruang kuliah sintaksis dengan catatan daftar yang kritis: 4 alfa. Kali pertama masuk kelas saya disergap kaku. Setiap kepala seolah hanya mengimajinasikan untuk menyelamatkan dirinya sendiri dari mara bahaya yang mengancam. Apalagi ketika Pak Gatot mulai membacakan diktat sintaksis, semua kepala seperti kehilangan detik untuk berkedip atau mengeluarkan sedesis suara. Semua kepala, demi keselamatannya, menaruh perhatian besar terhadap penjelasan Pak Gatot.
Dalam cerita orang-orang terdahulu dan sekitarnya, Pak Gatot merupakan sosok dosen yang menaruh perhatian cukup besar terhadap cara berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Perhatian Pak Gatot pada kebaik-benaran berbahasa tidak hanya dalam tulisan. Beliau juga dengan seksama memerhatikan tata bahasa lisan lawan bicaranya. Dalam kelas sintaksis, Pak Gatot tidak sungkan untuk menegur, bahkan memotong pembicaraan mahasiswanya yang banyak menggunakan kata kan atau menggunakan kalimat bertele-tele. Sepak terjang untuk menjaga bahasa Indonesia yang baik dan benar tidak hanya di dalam kelas sintaksisnya. Di kalangan para koleganya (:dosen) Pak Gatot menjelma polisi berdarah dingin. Dia tak ragu untuk menegur para pelanggar tata bahasa.
Keteguhan Pak Gatot memegang prinsip kebaik-benaran berbahasa Indonesia dalam berbagai situasi dan kondisi telah menjadi potret eksistensialisme. Bahasa dalam diri Pak Gatot menjadi medium komunikasi sekaligus cara menemukan diri. Dengan bahasa, Pak Gatot menemukan eksistensinya pada Subjek sebagai pelaku dan Predikat yang menyiratkan tindakan.
Sikap dan idealisme Pak Gatot tidak terlepas dari eksistensinya sebagai seorang pendidik. Menurutnya, seorang pendidik (dan civitas akademik lainnya) memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga dan melestarikan berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Karena itu, sosok Pak Gatot pun tidak bisa dilepaskan dari lembaga/institusi yang menaunginya. Pun sebaliknya, tindak-tanduk Pak Gatot dapat diterjemahkan sebagai bagian karakter, fungsi dan peran lembaga tempatnya bernaung di tengah masyarakatnya. Seperti ungkapan Jacques Lacan (Sarup, 2011:2) manusia dapat memiliki sifat sosial melalui bahasa; dan bahasalah yang membentuk manusia menjadi subjek. Maka, bahasa yang dijaga Pak Gatot berimplikasi pada ditemukannya ruang sosial yang tertata, harmoni dan dapat diterima oleh semua golongan. Selanjutnya, ruang sosial tersebut menjadi medan Pak Gatot makna keindividuanya sebagai bagian dari masyarakatnya.
Dengan demikian, peran dan fungsi Pak Gatot menjaga tata bahasa di kalangan mahasiswa dan koleganya dapat dilihat sebagai miniatur kecil Unesa, sebagai lembaga pendidikan menghasilkan individu-individu yang peka, kritis, harmoni, dan menghargai perbedaan serta dapat menjunjung nilai-nilai persatuan dan kesatuan. Kalau selama ini Pak Gatot membekali dan membiasakan para mahasiswa dan koleganya berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, secara tidak langsung Unesa pun dikenal sebagai lembaga yang memiliki peran dan fungsi menanamkan spirit Subjek bangsa dalam diri generasi muda. Kalau selama ini Pak Gatot mampu menciptakan atmosfir berbahasa taat asas, Unesa pun akan dikenal masyarakat sebagai lembaga yang konsisten mengawal identitas kebangsaan. Maka, membaca peran dan fungsi Pak Gatot dalam menjaga bahasa Indonesia, tak ubahnya membaca peran dan fungsi Unesa bagi bangsa dan Negara.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar