Pos Jaga Bahasa Indonesia
Salah satu butir sumpah pemuda adalah bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia. Bahasa persatuan bukan sekadar bahasa penghubung antar-suku di Indonesia. Bukan sekadar jembatan antar-generasi. Bukan sekadar pengantar pada acara-acara resmi kenegaraan. Lebih dari itu, bahasa persatuan dapat dimaknai sebagai komunikasi untuk saling mengerti, memahami, menghargai, memberi dan menerima antar sesame anak bangsa. Berbagai suku-bahasa di Indonesia seolah dipaksa untuk tidak mengedepankan ego. Suku-bahasa itu diminta untuk menempatkan bahasa-bersama di atas kepentingan bahasa-susku. Karena itu, menjaga tata berbahasa Indonesia yang baik dan benar, berarti menjaga nilai-nilai persatuan.
Buku “Pos Jaga Bahasa Indonesia (2006) merupakan satu dari sekian karya Gatot Susilo Sumowijoyo. Buku pegangan mahasiswa penempuh mata kuliah sintaksis ini membicarakan berbagai gejala salah -kaprah berbahasa. Dengan cermat dan teliti, Pak Gatot menganalisis dan menguraikan bentuk-bentuk kalimat secara struktur. Analisis Pak Gatot selain berkutat tentang subjek dan predikat, juga membongkar istilah salah-kaprah di kalangan para pengguna bahasa. Bahkan tidak jarang, ulasan-ulasan Pak Gatot menyadarkan dan mengundang rasa geli sense berbahasa kita. Kita lihat beberapa judul tulisan yang mengundang rasa geli itu, antara lain: “Pembunuh Berdarah Dingin”, “Mengindonesiakan Bahasa Indonesia”, Ketika Gerakan Itu Dicanangkan” dan lainnya.
Berbagai kalimat dan istilah yang salah-kaprah dan paradoks dibongkarnya dengan nalar-kritik yang tajam. Semisal frasa Liga Dunhill yang dipakai kompetisi sepakbola Indonesia tahun 1994-1996. Sekilas frasa Liga Dunhill tidak mengandung masalah serius. Akan tetapi, frasa Liga Dunhil ketika disejajarkan dengan frasa Liga Itali, Liga Inggris, Liga Jerman, Liga Perancis dan liga lainnya, baru menunjukkan kecerobohan bahasa yang cukup serius. Dunhill yang notabene perusahaan rokok, yang menjadi label kompetisi sepak bola Indonesia tahun 90-an itu dapat disejajarkan dengan Itali, Jerman, Perancis dan Negara lainnya. Implikasinya, dengan memakai Liga Dunhill” dalam kompetisi sepak bola, seolah-olah Negara Indonesia sudah dibeli oleh perusahaan rokok. Karena itu, Pak Gatot mengusulkan, penamaan Liga Dunhill diubah menjadi Liga Indonesia Dunhill.
Sekali lagi, dengan “Pos Jaga Bahasa Indonesia”, Pak Gatot menggugah kita untuk menjaga dan menghormati identitas kebangsaan. Bahasa bukan sekadar penyampai gagasan. Bukan sekadar tali interaksi antara satu manusia dan manusia lainnya. Bahasa dalam paradigma Pak Gatot, merupakan piranti-lunak untuk menumbuhkan spirit dan kesadaran eksistensi manusia. Bahkan rendah tingginya apresiasi masyarakat terhadap bahasa nasionalnya menunjukkan seberapa jauh kadar spirit kebangsaannya. Seperti kita tahu, teori sintaksis menekankan kehadiran subjek sebagai gagasan utama yang termanifestasi dalam tindakan (predikat). Kesadaran untuk menemukan dan menghadirkan subjek dalam berkomunikasi menjadi metode setiap individu untuk selalu menjaga eksistensinya, menghargai orang lain, dan berkomunikasi dengan bahasa universal. Hal ini sejalan dengan pendapat Jacques Lacan (Sarup, 2011:9) bahwa kemampuan berbicaralah yang membedakan subjek.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar