Muasal Revolusi Mental
Daftar Bacaan
Sarup, Madan. 2011. Panduan Pengantar untuk Memahami Postrukturalisme dan Posmodernisme. Yogyakarta: Jalasutra
Sumowijoyo, Gatot Susilo. 2006. Pos Jaga Bahasa Indonesia. Surabaya: Unesa University Press.
Kompas, Minggu 23 Nopember 2014.
Memasuki tahun 2014, kita diguncang frasa Revolusi Mental”. Setiap individu seolah merasa perlu memikirkan dan merumuskan revolusi mental. Revolusi mental yang dilontarkan Predsiden Joko Widodo begitu menghentak. Seperti terbangun dari tidur panjang, kita seolah baru menyadari kegagapan (mental) kita dalam mengelola diri sebagai sebuah bangsa dan menghadapi tantangan global. Tetapi sampai hari ini, kita hanya mampu menerjemahkan revolusi mental dalam kerangka kerja, belum menyentuh pada perbaikan sumber karakter dan perangai. Revolusi mental pun dipahami sekadar jargon untuk memperbaiki tata kerja kita.
Sudayanto, Doktor Linguistik dari Universitas Gadjah Mada dalam wawancara dengan harian Kompas (Minggu, 23 Nopember 2014) menuturkan bahwa fungsi esensial bahasa ada dua. Pertama, untuk mengembangkan akal budi dan kedua, untuk memelihara kerja sama. Akal budi berkaitan dengan kesadaran untuk peka dalam berkomunikasi. Dalam mengembangkan akal budi, setiap orang membutuhkan bahasa verbal. Sedangkan pemeliharaan kerja sama menekankan pentingnya bahasa sebagai sarana untuk tetap melakukan dialog dan interakasi sesuai dengan kultur sosial.
Dua fungsi esensial bahasa tersebut dapat membentuk setiap individu untuk lebih kreatif. Perkembangan akal budi lewat bahasa akan menumbuhkan kecerdasan individu dalam berinteraksi. Bahasa, pada akhirnya tidak sekadar tutur-sapa. Akan tetapi bahasa menjadi refleksi setiap individu dalam memahami dan membangun kesepahaman antarmanusia berdasarkan kultur masing-masing. Berbahasa yang mengedepankan tata nilai sosial budaya masyarakatnya dapat digunakan sebagai strategi untuk menyelesaikan berbagai persoalan dan ketegangan.
Dalam konteks ini, gagasan dan kegigihan Pak Gatot untuk berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik lisan maupun tulisan, merupakan usaha membentuk konkret untuk membentuk pribadi yang disiplin, berkarakter dan mampu merefleksikan nilai-nilai budaya dalam berinteraksi.
Mental Bangsa Indonesia setelah hampir tiga abad lebih terjajah- mengalami kemerosotoan dan keterbelakangan yang akut. Bangsa Indonesia pun selalu diidentikkan sebagai komunitas individu yang pemalas, feodalistik, penakut, dan banyak bicara serta suka menyalahkan orang lain. Semua karakter buruk tersebut tidak dapat dilepaskan dari tradisi dan warisan kebijakan kolonial. Seperti kita tahu, selama masa penjajahan, Bangsa Indonesia dibentuk dan diberlakukan bak orang-orang dalam rumah kaca: sekolah hanya untuk orang kaya, pemberangusan daya kiritis, ketundukan absolut kepada penguasa, hingga pembonsaian cara berpikir.
Untuk mengatasi keterbelakangan mental ini, gerakan berbahasa Indonesia dengan baik dan benar Pak Gatot pada akhirnya menjadi terapi jitu. Dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar, setiap individu dituntut untuk menyadari eksistensinya, menghargai lawan bicaranya, dan memberlakukan lingkungannya dengan bahasa universal.
Dalam perspektif ini, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) tempat Pak Gatot mengabdikan diri, akhirnya dapat dipersepsikan sebagai kawah candradimuka revolusi mental. Persepsi itu berangkat dari nilai-nilai dan tradisi berbahasa Indonesia yang baik dan benar yang diwariskan Pak Gatot kepada setiap mahasiswa penempuh mata kuliah sintaksis.
Daftar Bacaan
Sarup, Madan. 2011. Panduan Pengantar untuk Memahami Postrukturalisme dan Posmodernisme. Yogyakarta: Jalasutra
Sumowijoyo, Gatot Susilo. 2006. Pos Jaga Bahasa Indonesia. Surabaya: Unesa University Press.
Kompas, Minggu 23 Nopember 2014.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar