Pengakuan Buat Aufa (bagian I) - santriwarrior

Breaking

Header Ads

SANTRIWARRIOR 728X90

Senin, 19 Oktober 2015

Pengakuan Buat Aufa (bagian I)

Oleh Set Wahedi

Andai kenangan itu bisa dibunuh, Aufa, aku ingin membunuhnya. Atau andai memori kepalaku bisa diganti, aku ingin menggantinya. Tapi kenangan itu seperti bayangan tubuh kita, Aufa. Ke mana pun kita melangkah, bayangan itu akan selalu menjejak dan menghantui kita. Meski sampai hari ini, aku mungkin masih kuat menahan gejolak rindu di tanah seberang, bayangan itu terus memburuku. Dia terus memburuku, Aufa. Dia seperti seorang jaksa yang menuntutku, memaksaku untuk mengakui segala kecerobohan-kecerobohanku padamu.

Karenanya, untuk mengurangi beban jejak dan kelebat bayangan itu, kutulis pengakuan ini. Kutulis pengakuan ini dengan membayangkan senyummu yang gagah, sewotmu yang penuh gairah, serta kata-kata manjamu di penghujung ciuman panjang kita, “Sakit lho. Pelan-pelan.”

Aufa, mari kumulai pengakuan ini dari mula kecerobohan. Kecerobohan yang bermula dari setumpuk buku untuk anak-anak. Ya, karena setumpuk buku anak-anak yang ingin kau sumbangkan ke rumah baca yang akan kubangun di desa itulah, akhirnya kita bertemu. Kali pertama kita bertemu, dadaku berdegup. Sapamu yang renyah dan lintang alismu yang tajam tanpa goresan pena, mengingatkanku pada sajak indah seorang penyair, dan kubayangkan sosokmu// Yang Ramping, rautmu yang runcing, dengan alis Aljazairmu// Yang menikam seorang seorang penyair*. Siang itu, Aufa, aku merasa menjadi penyair yang tertikam itu. Tapi buru-buru ayahku berkelebat. Senyumnya yang sungai mericikkan kembali kata-kata kunonya, ingatlah, Nak, saat kau berhadapan dengan perempuan cantik, hati-hatilah. Perempuan cantik itu menyisakan dua kemungkinan. Pertama dia kekasih orang lain, atau dia seorang pemilih. Mengingat kata-kata ayahku, aku tak ingin tertikam, Aufa. Aku ingin mengamini kata-kata ayah dengan iman seorang anak yang didoakan ibunya untuk tidak senasib dengannya. Tapi di depanmu, aku seperti harus menerima kutukan menjadi seorang penyair, Aufa. Dan kata-kata ayahku lesap dalam kecerobohanku.

Sejak itu, aku mulai merangkai kecerobohanku. Aku mulai mengikuti “status-statusmu”. Aku mulai menyimpan gambar-gambarmu yang benar-benar menikam seorang penyair. Pada kesempatan tertentu, aku mengomentari statusmu. Ketika kau hanya me-read pesan bbm-ku, aku sedikit masygul. Dan ketika kau membalasnya –meski ala kadarnya: terimakasih- sekuntum bunga merekah di dadaku.

Seingatku, kita berbalas pesan 127 kali dalam rentang satu bulan. Dengan rincian, sehari kita bisa berbalas pesan 5-9 kali (dan sesekali kita juga bisa begitu panjang berbalas pesan, hingga jauh malam), dengan rentang dua atau tiga hari sekali. Setelah kuyakin, pesan kita memiliki warna nafas yang sama, aku mulai merangkai kecerobohan yang lain. Aku mulai mengatur siasat untuk bisa bertemu denganmu. Mula-mula aku pasang cover buku kumpulan cerpenku, “Kepala Yang Hilang”. Aku berharap kau tertarik.

Dan benarlah dugaku. Kau benar-benar tertarik, “Boleh Mas, bukunya untuk saya satu?” Saya pun menyanggupi. Kau pun meminta untuk dikirimkan ke alamat kampusmu. Tapi aku telah merangkai siasatku, Aufa. “Nanti saya antarkan saja. Sekalian aku ingin melepas rasa rinduku pada kotamu.” Dan kau pun setuju. Bunga-bunga di dadaku seperti menemukan musim semi.

Di pelataran kampusmu, kau tampak lucu: pakaianmu hitam-putih. Sembari menyerahkan buku “Kepala Yang Hilang”, aku hendak bertanya. Tapi masih ragu. Tapi buru-buru, seperti bisa membaca riak mataku, kau menguraikan kelucuanmu. “Lagi mendampingi mahasiswa Ospek. Mas, tidak masuk dulu? Sekarang ada pembekalan tentang bahaya narkoba dari petugas BNN.”

Aku mohon maaf. Aku tidak bisa memenuhi ajakanmu. Kau melempar pujian, “Bukunya bagus lho, Mas. Sederhana, tapi menggigit.” Menggigit? Ah, diksimu waktu itu seperti membukan selembar kelopak bunga dadaku. “Yang bagus sampulnya kan?” “Sampul itu menunjukkan isi lho.” Siang itu, meski hanya beberapa potong kalimat kita bersahutan, tapi aku benar-benar terjerembab dalam kecerobohanku yang paling dalam: aku mulai menyukaimu, Aufa. 

*kutipan baris sajak Acep Zamzam Noor, “Buat Malika Hamoudi”

Ilustrasi diambil dari: www.approachupdate.tk

Tidak ada komentar:

Posting Komentar