Oleh Set Wahedi
Andai
kenangan itu bisa dibunuh, Aufa, aku ingin membunuhnya. Atau andai memori
kepalaku bisa diganti, aku ingin menggantinya. Tapi kenangan itu seperti
bayangan tubuh kita, Aufa. Ke mana pun kita melangkah, bayangan itu akan selalu
menjejak dan menghantui kita. Meski sampai hari ini, aku mungkin masih kuat
menahan gejolak rindu di tanah seberang, bayangan itu terus memburuku. Dia
terus memburuku, Aufa. Dia seperti seorang jaksa yang menuntutku, memaksaku
untuk mengakui segala kecerobohan-kecerobohanku padamu.
Karenanya,
untuk mengurangi beban jejak dan kelebat bayangan itu, kutulis pengakuan ini.
Kutulis pengakuan ini dengan membayangkan senyummu yang gagah, sewotmu yang penuh
gairah, serta kata-kata manjamu di penghujung ciuman panjang kita, “Sakit lho.
Pelan-pelan.”
Aufa,
mari kumulai pengakuan ini dari mula kecerobohan. Kecerobohan yang bermula dari
setumpuk buku untuk anak-anak. Ya, karena setumpuk buku anak-anak yang ingin
kau sumbangkan ke rumah baca yang akan kubangun di desa itulah, akhirnya kita
bertemu. Kali pertama kita bertemu, dadaku berdegup. Sapamu yang renyah dan
lintang alismu yang tajam tanpa goresan pena, mengingatkanku pada sajak indah
seorang penyair, dan kubayangkan
sosokmu// Yang Ramping, rautmu yang runcing, dengan alis Aljazairmu// Yang
menikam seorang seorang penyair*. Siang itu, Aufa, aku merasa menjadi
penyair yang tertikam itu. Tapi buru-buru ayahku berkelebat. Senyumnya yang
sungai mericikkan kembali kata-kata kunonya, ingatlah, Nak, saat kau berhadapan dengan perempuan cantik,
hati-hatilah. Perempuan cantik itu menyisakan dua kemungkinan. Pertama dia kekasih orang lain, atau dia
seorang pemilih. Mengingat kata-kata ayahku, aku tak ingin tertikam, Aufa.
Aku ingin mengamini kata-kata ayah dengan iman seorang anak yang didoakan
ibunya untuk tidak senasib dengannya. Tapi di depanmu, aku seperti harus
menerima kutukan menjadi seorang penyair, Aufa. Dan kata-kata ayahku lesap
dalam kecerobohanku.
Sejak
itu, aku mulai merangkai kecerobohanku. Aku mulai mengikuti “status-statusmu”.
Aku mulai menyimpan gambar-gambarmu yang benar-benar menikam seorang penyair.
Pada kesempatan tertentu, aku mengomentari statusmu. Ketika kau hanya me-read pesan bbm-ku, aku sedikit masygul.
Dan ketika kau membalasnya –meski ala kadarnya: terimakasih- sekuntum bunga
merekah di dadaku.
Seingatku,
kita berbalas pesan 127 kali dalam rentang satu bulan. Dengan rincian, sehari
kita bisa berbalas pesan 5-9 kali (dan sesekali kita juga bisa begitu panjang
berbalas pesan, hingga jauh malam), dengan rentang dua atau tiga hari sekali.
Setelah kuyakin, pesan kita memiliki warna nafas yang sama, aku mulai merangkai
kecerobohan yang lain. Aku mulai mengatur siasat untuk bisa bertemu denganmu.
Mula-mula aku pasang cover buku kumpulan cerpenku, “Kepala Yang Hilang”. Aku
berharap kau tertarik.
Dan
benarlah dugaku. Kau benar-benar tertarik, “Boleh Mas, bukunya untuk saya
satu?” Saya pun menyanggupi. Kau pun meminta untuk dikirimkan ke alamat kampusmu.
Tapi aku telah merangkai siasatku, Aufa. “Nanti saya antarkan saja. Sekalian
aku ingin melepas rasa rinduku pada kotamu.” Dan kau pun setuju. Bunga-bunga di
dadaku seperti menemukan musim semi.
Di
pelataran kampusmu, kau tampak lucu: pakaianmu hitam-putih. Sembari menyerahkan
buku “Kepala Yang Hilang”, aku hendak bertanya. Tapi masih ragu. Tapi buru-buru,
seperti bisa membaca riak mataku, kau menguraikan kelucuanmu. “Lagi mendampingi
mahasiswa Ospek. Mas, tidak masuk dulu? Sekarang ada pembekalan tentang bahaya
narkoba dari petugas BNN.”
Aku
mohon maaf. Aku tidak bisa memenuhi ajakanmu. Kau melempar pujian, “Bukunya
bagus lho, Mas. Sederhana, tapi menggigit.” Menggigit? Ah, diksimu waktu itu
seperti membukan selembar kelopak bunga dadaku. “Yang bagus sampulnya kan?”
“Sampul itu menunjukkan isi lho.” Siang itu, meski hanya beberapa potong kalimat
kita bersahutan, tapi aku benar-benar terjerembab dalam kecerobohanku yang
paling dalam: aku mulai menyukaimu, Aufa.
*kutipan
baris sajak Acep Zamzam Noor, “Buat Malika Hamoudi”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar