Oleh Set Wahedi
Suatu
sore, Aufa, aku kembali membuat sebuah kecerobohan. Rasa sukaku padamu telah
membuat kepalaku dipenuhi berbagai rencana. Aku berulang melempar umpan-umpan
manis untuk kau santap. Dan kau, seperti ikan di pagi hari benar-benar menyantapnya.
Rencana-rencanaku pun tumbuh menjadi siasat.
Setelah
kau menerima bukuku, aku selalu bertanya tentang komentarmu. Sengaja, aku
selalu bertanya komentarmu. Dan kau –seperti ikan di pagi hari- selalu menjawab
pertanyaan-pertanyaan pancinganku itu. Mula-mula kau tegaskan, kalau dirimu
tidak punya kapasitas untuk memberikan penilaian pada cerita-ceritaku
berdasarkan koridor ilmu sastra. “Tapi cerita-cerita di buku ini cukup bagus kok. Saya menikmatinya,” komentarmu via
bbm. Aku pun semakin bersemangat. “Bolehkah saya mengajakmu ngopi?” “Jika ada waktu.” Lalu kita
larut dalam percakapan-percakapan yang semakin beranjak. Kita tidak lagi
berbicara buku. Percakapan kita sudah beralih pada persoalan politik, perempuan
dan kemungkinan-kemungkinan lain dalam hidup. Yang paling membuatku bergairah,
percakapan-percakapan itu seperti memberiku celah untuk terus menikmati
kecerobohanku. Kunikmati kecerobohanku, Aufa.
Sampai
sore itu, saat kita sepakat untuk bertemu di ruang kerjamu, lalu kita akan ngopi, siasatku semakin runcing. Aku semakin
lama mengamati bentuk bibirmu. Aku semakin larut dalam binar matamu. Meski semua
itu, mulanya pada fotomu. Dan ketika sore itu, aku menginjak halaman kampusmu, dan
angin sore menepuk tengkukku, mengirimkan desir yang surup, tubuhku berdegup.
Para mahasiswa yang main basket, hanya menyisakan cuitan di udara gerah. Sambil menikmati cuitan itu, kepalaku ditumbuhi jamur dan ganggang.
“Sendiri
Mas?” di celah daun pintu yang setengah terbuka, bibirmu membentang tabun
tangkis. Tabun tangkis yang memanjang dengan jalan gundukan-gundukan kecil, dan
rumputan meranggas setinggi tumit. Bibirmu serupa tabun tangkis, Aufa. Sore itu
aku membayangkan diriku menjadi penjala. Kulemparkan jalaku, kupanjatkan
doa-doa: masuklah ikan-ikan ke dalam jalaku. Dan di atas tabun tangkismu, akan kupilah-pilah
ikan itu, Aufa. Ketika kita berjalan beriring ke ruang kerjamu, aku seperti
menemukan lekuk-legam tubuh penjalaku. Tubuh masa silamku.
“Mas,
sudah makan?” Aku mengangguk. “Mas Minum apa? Kopi? Atau teh?” Sambil meminta
ijin untuk makan, kau mengeluarkan kotak makananmu. Aku memilih minum teh. Lalu
kau meminta teman kantormu untuk membuatkan segelas teh. Sambil makan, kau
melemparkan pertanyaan-pertanyaan kecil. Pertanyaan tentang kesibukanku,
keinginan membangun rumah baca di desa, dan narasi-narasi besar ceritaku.
“Aku
hanya menuliskan apa yang membuatku sakit,” aku hanya bisa mengingat novelis China, Gao Xi
Jian, untuk menjelaskan proses kreatifku. Aku seperti kehilangan banyak pilihan
kalimat untuk menjelaskan perjalananku terjerembab dalam kubang penulisan. Aku
masih ragu, apakah kau sungguh-sungguh tertarik untuk mengetahui perjalanan
penulisanku? Atau sekadar sambil lalu untuk mengisi ruang kosong? Atau jangan-jangan,
kau juga mulai bersiasat?
Sore
itu, aku melihat kau sebagai perempuan dengan kesadaran waktu yang meruang. Cara makanmu cukup pelan. Untuk memilah
gumpalan nasi dalam sergapan sendok, tanganmu butuh sekitar 20-30 detik. Dan
ketika sendok itu mengayun, bibirmu menyergapnya dengan pelan, tapi sigap.
Untuk beberapa detik, bibirmu yang tak bergincu menahannya, lalu melepaskannya
dengan mengatup pelan, lalu kau mengunyah nasimu seperti mempertimbangkan
kalimat-kalimat yang hendak diucapkan di depan pejabat. Pelahan, dan seolah
bertangganada. Dari cara makanmu, kau sepertinya mengatur jarak dan waktu untuk
bertahan dalam titi nada lambat.
“Bibir
yang selalu rekah,” seruku dalam hati. Tapi sore itu, bukan hanya bibirmu yang
merengkuh kepalaku, hingga kaku. Bidang dadamu, di balik baju putihmu yang
ranum, kubayangkan latar bukit dan ngarai dengan kelokan-kelokan landai. Bukit
yang menonjol dengan dua gugus, tempat para pendoa berziarah, dan ngarai yang
menghampar, menyajikan sabana-sabana hijau, tempat para gembala menyanyikan
lagu dan menikmati lenguh kerbau. Selain penjala, sore itu, aku ingin sekali
menjadi gembala, Aufa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar