Pengakuan Buat Aufa (II) - santriwarrior

Breaking

Header Ads

SANTRIWARRIOR 728X90

Senin, 02 November 2015

Pengakuan Buat Aufa (II)

Oleh Set Wahedi

Suatu sore, Aufa, aku kembali membuat sebuah kecerobohan. Rasa sukaku padamu telah membuat kepalaku dipenuhi berbagai rencana. Aku berulang melempar umpan-umpan manis untuk kau santap. Dan kau, seperti ikan di pagi hari benar-benar menyantapnya. Rencana-rencanaku pun tumbuh menjadi siasat.

Setelah kau menerima bukuku, aku selalu bertanya tentang komentarmu. Sengaja, aku selalu bertanya komentarmu. Dan kau –seperti ikan di pagi hari- selalu menjawab pertanyaan-pertanyaan pancinganku itu. Mula-mula kau tegaskan, kalau dirimu tidak punya kapasitas untuk memberikan penilaian pada cerita-ceritaku berdasarkan koridor ilmu sastra. “Tapi cerita-cerita di buku ini cukup bagus kok. Saya menikmatinya,” komentarmu via bbm. Aku pun semakin bersemangat. “Bolehkah saya mengajakmu ngopi?” “Jika ada waktu.” Lalu kita larut dalam percakapan-percakapan yang semakin beranjak. Kita tidak lagi berbicara buku. Percakapan kita sudah beralih pada persoalan politik, perempuan dan kemungkinan-kemungkinan lain dalam hidup. Yang paling membuatku bergairah, percakapan-percakapan itu seperti memberiku celah untuk terus menikmati kecerobohanku. Kunikmati kecerobohanku, Aufa.

Sampai sore itu, saat kita sepakat untuk bertemu di ruang kerjamu, lalu kita akan ngopi, siasatku semakin runcing. Aku semakin lama mengamati bentuk bibirmu. Aku semakin larut dalam binar matamu. Meski semua itu, mulanya pada fotomu. Dan ketika sore itu, aku menginjak halaman kampusmu, dan angin sore menepuk tengkukku, mengirimkan desir yang surup, tubuhku berdegup. Para mahasiswa yang main basket, hanya menyisakan cuitan di udara gerah. Sambil menikmati cuitan itu, kepalaku ditumbuhi jamur dan ganggang.

“Sendiri Mas?” di celah daun pintu yang setengah terbuka, bibirmu membentang tabun tangkis. Tabun tangkis yang memanjang dengan jalan gundukan-gundukan kecil, dan rumputan meranggas setinggi tumit. Bibirmu serupa tabun tangkis, Aufa. Sore itu aku membayangkan diriku menjadi penjala. Kulemparkan jalaku, kupanjatkan doa-doa: masuklah ikan-ikan ke dalam jalaku. Dan di atas tabun tangkismu, akan kupilah-pilah ikan itu, Aufa. Ketika kita berjalan beriring ke ruang kerjamu, aku seperti menemukan lekuk-legam tubuh penjalaku. Tubuh masa silamku.

“Mas, sudah makan?” Aku mengangguk. “Mas Minum apa? Kopi? Atau teh?” Sambil meminta ijin untuk makan, kau mengeluarkan kotak makananmu. Aku memilih minum teh. Lalu kau meminta teman kantormu untuk membuatkan segelas teh. Sambil makan, kau melemparkan pertanyaan-pertanyaan kecil. Pertanyaan tentang kesibukanku, keinginan membangun rumah baca di desa, dan narasi-narasi besar ceritaku.

“Aku hanya menuliskan apa yang membuatku sakit,” aku hanya bisa mengingat novelis China, Gao Xi Jian, untuk menjelaskan proses kreatifku. Aku seperti kehilangan banyak pilihan kalimat untuk menjelaskan perjalananku terjerembab dalam kubang penulisan. Aku masih ragu, apakah kau sungguh-sungguh tertarik untuk mengetahui perjalanan penulisanku? Atau sekadar sambil lalu untuk mengisi ruang kosong? Atau jangan-jangan, kau juga mulai bersiasat?

Sore itu, aku melihat kau sebagai perempuan dengan kesadaran waktu yang meruang.  Cara makanmu cukup pelan. Untuk memilah gumpalan nasi dalam sergapan sendok, tanganmu butuh sekitar 20-30 detik. Dan ketika sendok itu mengayun, bibirmu menyergapnya dengan pelan, tapi sigap. Untuk beberapa detik, bibirmu yang tak bergincu menahannya, lalu melepaskannya dengan mengatup pelan, lalu kau mengunyah nasimu seperti mempertimbangkan kalimat-kalimat yang hendak diucapkan di depan pejabat. Pelahan, dan seolah bertangganada. Dari cara makanmu, kau sepertinya mengatur jarak dan waktu untuk bertahan dalam titi nada lambat.

“Bibir yang selalu rekah,” seruku dalam hati. Tapi sore itu, bukan hanya bibirmu yang merengkuh kepalaku, hingga kaku. Bidang dadamu, di balik baju putihmu yang ranum, kubayangkan latar bukit dan ngarai dengan kelokan-kelokan landai. Bukit yang menonjol dengan dua gugus, tempat para pendoa berziarah, dan ngarai yang menghampar, menyajikan sabana-sabana hijau, tempat para gembala menyanyikan lagu dan menikmati lenguh kerbau. Selain penjala, sore itu, aku ingin sekali menjadi gembala, Aufa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar