Maukah Kau Meminjamkan Bukumu Padaku, Cantik? (II) - santriwarrior

Breaking

Header Ads

SANTRIWARRIOR 728X90

Senin, 26 Oktober 2015

Maukah Kau Meminjamkan Bukumu Padaku, Cantik? (II)

Oleh Set Wahedi

Upaya lain yang saya lakukan untuk memudahkan belajar bersama teman-teman baru saya di ruang A 105, saya berlatih menulis. Upaya ini saya tempuh berdasarkan saran sebuah tips, “Jika Anda kurang begitu memahami berbagai persoalan dalam berdebat, cobalah tulis persoalan-persoalan itu”. Belajar tentang bahasa, tanah kelahiran, dan kultur yang sama, kita ternyata membutuhkan ruang-jeda untuk bernafas. Bahasa Madura yang kita kunyah sejak kecil, falsafah Madura yang kita hayati sejak akil-balig, dan semangat ‘abantal ombak asapo’ angin’ telah mengaliri tulang-sumsum-darah kita sejak tangis kita pecah, perlu kita pahami dari sisi yang berjarak. Karena itu, belajar bersama tentang itu semua, butuh kearifan, dan menulis –menurut saya- jalan arif untuk mengunyah semuanya dengan pelan-pelan dan tanpa emosi.

Saya bersama teman-teman di ruang A 105, saban minggu menulis cacatatan harian. Teman-teman baru saya ternyata cukup antusias. Itu tidak terlepas dari kebiasaan mereka di bangku SMA dulu.  Di masa SMA, mereka sudah terbiasa menulis catatan harian. Bedanya, kalau di bangku SMA mereka menuliskan catatan hariannya seputar tema “cinta monyet”, di ruang A 105 ini mereka menulis catatan harian dengan topik yang saya persiapkan, semisal “Hari Pertama”, “Orang Madura yang Saya Kenal”, “Keluargaku”, “Aku dan Buku”, “Permainan Tradisionalku”, “Nyanyian Tradisionalku”, “Cerita Ghaib di Kampungku”, dan cerita lainnya. Kalau di SMA mereka menulis catatan hariannya dengan menggunakan gaya sesuka hati, di ruang A 105 mereka menulis dengan gaya yang mirip-mirip esai. Mulanya saya takut untuk mengajak mereka menulis saban minggu. Saya teringat dengan ruang kita dulu, E 307. Di ruang E 307, kita sedikit enggan untuk bersusah payah. “Banyak tugas, Saudara,” kalian selalu melontarkan kata-kata itu. Saya pun jadi mafhum kalau kalian termasuk orang-orang sibuk. Apalagi waktu itu, kalian sudah menginjak semester empat. Tugas kalian tentunya menumpuk, bukan? Tapi setelah dua bulan berlangsung, ketakutan atau kekhawatiran saya pelan-pelan sirna. Teman-teman saya di ruang A 105, dengan riangnya bersemangat menuliskan catatan harian mereka. Saya tahu itu dari lembaran-lembaran catatan-harian yang mereka kumpulkan saban minggu. Mula-mula mereka mengumpulkan catatan harian hanya satu lembar, lalu meningkat dua lembar pertemuan berikutnya, dan sekarang mereka sudah berani menuliskan catatan hariannya sebanyak tiga sampai empat lembar.

Dengan teman-teman baruku, saya juga menemukan semangat baru menulis di tengah jadwal belajar. Saya mampu menyelesaikan beberapa cerita pendek dan catatan harian. Dua cerita pendek saya, “Potre Koneng” dan “Potre Ngandung Egagghari Bintang” mendapatkan tempat istimewa. Cerpen “Potre Koneng” masuk nominasi 12 besar penulisan cerita rakyat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Saya diundang ke kantor Kemendikbud, Jakarta, untuk melakukan wawancara dan verivikasi karya bersama para dewan juri. Sedangkan cerpen (: atau carpan {careta pandek}) “Potre Ngandung Egagghari Bintang” yang saya tulis dalam bahasa Madura dimuat di Radar Madura.

Di luar upaya-upaya untuk membangun kesepahaman dan menemukan bentuk metode menjelaskan yang mudah dipahami, saya berharap, ketakpahamanmu pada penjelasan saya itu disebabkan bacaan kita berbeda atau saya memang gagal-fokus terhadap referensi yang saya baca, sehingga saya menjelaskan materi belajar kita terkesan simpel, tidak menggunakan kata-kata populer dan tidak memiliki daya-jelajah dialektika layaknya dunia mahasiswa. Saya juga berharap, ketakpahamanmu pada cara dan proses belajar kita bersama beberapa bulan lalu, bukan karena kau tak sempat membaca buku. Tanpa buku, kita akan sulit untuk berkembang, bernalar, berdialektika dan ber-lainnya. Singkatnya, kalau kau tak paham pada penjelasanku karena tidak membaca buku, saya pastikan, meski saya mengulang penjelasan saya seribu kali, kau akan tetap seperti kerbau yang hanya bisa melenguh dan menggerundel, lalu menyebarkan kabar-kabar sesat.

Saya juga berharap, ketakpahamanmu bukan pula karena rasa sakit hati. Karena saya yakin, kalau kau tidak sepakat atau tidak paham dengan cara belajar kita karena sakit hati, sampai kapan pun itu akan mengganggumu. Sakit hati itu, Cantik, dan kebencian yang mengiringinya, seperti lolongan serigala yang tak ada habisnya. Meski fajar mengganti senja dalam rentang abad, lolongan itu akan menyisakan perih di hati kita.

Karena itu, saya selalu berdoa, bahwa ketakpahamanmu atau ketaksukaanmu pada cara belajar kita, semata-mata karena cinta yang tak terpahami. Saya berharap begitu, Cantik.

ilustrasi diambil dari: www.desainrumah99.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar