Upaya
lain yang saya lakukan untuk memudahkan belajar bersama teman-teman baru saya
di ruang A 105, saya berlatih menulis. Upaya ini saya tempuh berdasarkan saran
sebuah tips, “Jika Anda kurang begitu memahami berbagai persoalan dalam
berdebat, cobalah tulis persoalan-persoalan itu”. Belajar tentang bahasa, tanah
kelahiran, dan kultur yang sama, kita ternyata membutuhkan ruang-jeda untuk
bernafas. Bahasa Madura yang kita kunyah sejak kecil, falsafah Madura yang kita
hayati sejak akil-balig, dan semangat ‘abantal ombak asapo’ angin’ telah
mengaliri tulang-sumsum-darah kita sejak tangis kita pecah, perlu kita pahami
dari sisi yang berjarak. Karena itu, belajar bersama tentang itu semua, butuh
kearifan, dan menulis –menurut saya- jalan arif untuk mengunyah semuanya dengan
pelan-pelan dan tanpa emosi.
Saya
bersama teman-teman di ruang A 105, saban minggu menulis cacatatan harian. Teman-teman
baru saya ternyata cukup antusias. Itu tidak terlepas dari kebiasaan mereka di
bangku SMA dulu. Di masa SMA, mereka sudah
terbiasa menulis catatan harian. Bedanya, kalau di bangku SMA mereka menuliskan
catatan hariannya seputar tema “cinta monyet”, di ruang A 105 ini mereka
menulis catatan harian dengan topik yang saya persiapkan, semisal “Hari
Pertama”, “Orang Madura yang Saya Kenal”, “Keluargaku”, “Aku dan Buku”,
“Permainan Tradisionalku”, “Nyanyian Tradisionalku”, “Cerita Ghaib di
Kampungku”, dan cerita lainnya. Kalau di SMA mereka menulis catatan hariannya
dengan menggunakan gaya sesuka hati, di ruang A 105 mereka menulis dengan gaya
yang mirip-mirip esai. Mulanya saya takut untuk mengajak mereka menulis saban
minggu. Saya teringat dengan ruang kita dulu, E 307. Di ruang E 307, kita
sedikit enggan untuk bersusah payah. “Banyak tugas, Saudara,” kalian selalu
melontarkan kata-kata itu. Saya pun jadi mafhum kalau kalian termasuk
orang-orang sibuk. Apalagi waktu itu, kalian sudah menginjak semester empat.
Tugas kalian tentunya menumpuk, bukan? Tapi setelah dua bulan berlangsung,
ketakutan atau kekhawatiran saya pelan-pelan sirna. Teman-teman saya di ruang A
105, dengan riangnya bersemangat menuliskan catatan harian mereka. Saya tahu
itu dari lembaran-lembaran catatan-harian yang mereka kumpulkan saban minggu. Mula-mula
mereka mengumpulkan catatan harian hanya satu lembar, lalu meningkat dua lembar
pertemuan berikutnya, dan sekarang mereka sudah berani menuliskan catatan
hariannya sebanyak tiga sampai empat lembar.
Dengan
teman-teman baruku, saya juga menemukan semangat baru menulis di tengah jadwal
belajar. Saya mampu menyelesaikan beberapa cerita pendek dan catatan harian.
Dua cerita pendek saya, “Potre Koneng” dan “Potre Ngandung Egagghari Bintang”
mendapatkan tempat istimewa. Cerpen “Potre Koneng” masuk nominasi 12 besar
penulisan cerita rakyat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).
Saya diundang ke kantor Kemendikbud, Jakarta, untuk melakukan wawancara dan
verivikasi karya bersama para dewan juri. Sedangkan cerpen (: atau carpan
{careta pandek}) “Potre Ngandung Egagghari Bintang” yang saya tulis dalam
bahasa Madura dimuat di Radar Madura.
Di
luar upaya-upaya untuk membangun kesepahaman dan menemukan bentuk metode
menjelaskan yang mudah dipahami, saya berharap, ketakpahamanmu pada penjelasan
saya itu disebabkan bacaan kita berbeda atau saya memang gagal-fokus terhadap
referensi yang saya baca, sehingga saya menjelaskan materi belajar kita terkesan
simpel, tidak menggunakan kata-kata populer dan tidak memiliki daya-jelajah
dialektika layaknya dunia mahasiswa. Saya juga berharap, ketakpahamanmu pada
cara dan proses belajar kita bersama beberapa bulan lalu, bukan karena kau tak
sempat membaca buku. Tanpa buku, kita akan sulit untuk berkembang, bernalar,
berdialektika dan ber-lainnya. Singkatnya, kalau kau tak paham pada
penjelasanku karena tidak membaca buku, saya pastikan, meski saya mengulang
penjelasan saya seribu kali, kau akan tetap seperti kerbau yang hanya bisa
melenguh dan menggerundel, lalu menyebarkan kabar-kabar sesat.
Saya
juga berharap, ketakpahamanmu bukan pula karena rasa sakit hati. Karena saya
yakin, kalau kau tidak sepakat atau tidak paham dengan cara belajar kita karena
sakit hati, sampai kapan pun itu akan mengganggumu. Sakit hati itu, Cantik, dan
kebencian yang mengiringinya, seperti lolongan serigala yang tak ada habisnya.
Meski fajar mengganti senja dalam rentang abad, lolongan itu akan menyisakan
perih di hati kita.
Karena
itu, saya selalu berdoa, bahwa ketakpahamanmu atau ketaksukaanmu pada cara
belajar kita, semata-mata karena cinta yang tak terpahami. Saya berharap begitu,
Cantik.
ilustrasi diambil dari: www.desainrumah99.com
ilustrasi diambil dari: www.desainrumah99.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar