Oleh Set Wahedi*
Apa
yang Anda lakukan ketika diminta melakukan sesuatu yang bukan keahlian Anda?
Bingung? Sama. Saya juga bingung ketika diminta menjadi pemandu meditasi
teman-teman teater Kaki Langit pada Latihan Alam (Latam), Jumat, 26 Desember 2017. Permintaan itu, mulanya
saya kira hanya semacam pancingan biar saya datang. Saya yakin, mereka sudah
menyiapkan orang yang lebih mahir. Lebih paham bagaimana mengolah rasa,
mengatur nafas dan memainkan imajinasi. Seperti jamak diketahui, kemampuan
olah-rasa, olah-imajinasi seorang aktor cukup penting. Seorang aktor yang
begitu kuat, lentur dalam kemampuan olah-tubuh, begitu lantang dan merdu dalam
kemampuan olah-vokal, tetap akan mentah kalau kepekaan rasanya tidak memberikan
sentuhan yang energik. Karena itu, meditasi sebagai sarana latihan olah-rasa
menjadi metode penting seorang aktor memasuki dan mengahayati sosok yang
diperankannya.
Imajinasi,
menyitir Stanislavski, memegang peran penting menghidupkan tokoh. Dengan
imajinasi, aktor membayangkan, mencipta sekaligus menghayati tokoh yang
diperankannya. Persoalan sepenting itu, saya kira tidak mungkin dipercayakan
pada saya. Saya tidak ahli dalam bidang meditasi. Sewaktu kuliah dulu, saya
pernah ikut latihan yoga. Itu pun tidak tuntas. Saya memang pernah membaca buku
tentang pola pernafasan: tarikhidung-keluarhidung, tarikhidung-keluarmulut,
tarikmulut-keluarmulut, dan tarikmulut-keluarhidung. Tapi saya sudah lupa
tentang kegunaan pola-pola itu. Di Jogja saya juga pernah mengikuti meditasi di
vihara. Itu pun hanya dua atau tiga pertemuan saja. Singkatnya, saya tidak
punya pengalaman yang mumpuni dalam meditasi.
Saya
sampai di Bukit Mahanaim, Pasuruan, tempat Latam itu digelar, ketika senja
direnggut malam dengan tergesa. Mendung, rimbun pohon dan kabut seperti
bersekongkol untuk menyembunyikan senja dari atas ketinggian Bukit Mahanaim. Di
Bukit Mahanaim saya disambut seraut wajah asing, tapi cukup manis. Dia
menyalamiku. Sayangnya, raut manis itu datang begitu singkat. Tidak sempat
mengahalau galau yang menggayuti kepala saya. Seusai melempar senyum mungilnya,
dia berlalu. Saya tidak sempat menanyakan namanya. Tapi senyumnya telah mengukir
namanya sendiri dalam ingatan saya. Lalu datanglah beberapa raut wajah yang
cukup familiar dalam ingatan saya: Yusril, Hembing, Mbah dan lainnya. Kami pun
berbincang-bincang sebentar. Dalam perbincangan itu, saya ingin mengumpat:
mereka ternyata serius meminta saya untuk menjadi pemandu meditasi. Saya pun
berusaha menjelaskan, saya tidak memiliki pengalaman yang mumpuni dalam
meditasi. Saya katakan pada mereka, meditasi itu berkaitan dengan olah rasa.
Alangkah baiknya, kalau yang memandu meditasi adalah orang-orang yang memilki
pengalaman dan kemampuan yang mumpuni.
Mereka
bersikukuh. Hujan datang. Saya kalang kabut. Dingin Bukit Mahanaim meruncing.
Sumsum dan denyut nadi saya diobok-obok tanpa ampun. Dalam tenda-kecil yang
disediakan panitia, saya ingin meringkuk. Hujan begitu deras. Alas tenda
mengembun, dan basah. Saya gagal untuk meringkuk. Untuk melepaskan diri dari
cengkeraman dingin, saya mensugesti diri. Rasa itu kadang persoalan sugesti.
Kita sedih karena kita menganggap persoalan yang kita hadapi perlu diratapi.
Kita bahagia karena segala peristiwa yang menimpa kita diterima dengan lapang
dada dan senyum terbuka.
Saya
tidak boleh mengingat dingin. Saya harus membiarkan dingin tingal di pakaian,
di tenda, di pohon, dan mengawang bersama udara. Dingin boleh mengobok-obok
kulit saya. Tapi dingin tidak boleh bersarang dalam kepala saya. Saya harus
membuang kata dingin. Untuk menghilangkan dingin, saya harus mempercakapkan
yang bukan dingin. Mempercakapkan persoalan yang lebih dari dingin. Di tenda
Mas Gani –kakak kelas sewaktu kuliah- saya menemukan percakapan hangat. Mas
Gani menanyakan status saya. Saya katakan, saya masih pemain tunggal. Lalu, Mas
Gani mengorek masa lalu saya: mantan saya. Saya ingin tertawa. Saya tertawa.
Saya bercerita tentang potongan kenangan-kenangan manis saya bersama mantan.
Saya gagal move-on. Saat dingin tidak tidak lagi menggayuti kepala saya,
ingatan saya terbentur pada raut manis yang beberapa menit lalu menyambut saya
dengan senyum manisnya. Saya ingin menariknya dalam cerita saya. Buru-buru
hujan semakin lebat. Raut manis itu dipaksa harus berkemas. Dia diminta untuk
menyelamatkan barang-barang.
Hujan
benar-benar tidak memberi ruang bagiku untuk lebih lama melupakan dingin. Saya
tidak bisa lagi menanggalkan dingin di luar kepala saya. Satu-satunya jalan
yang pas saya harus menyatu dengan dingin. Saya memutuskan untuk hujan-hujanan.
Saya main hujan-hujanan. Dan dingin, benar-benar menguji sugestiku untuk
melupakannya.
*
Saya
kalah. Saya tidak hanya payah dalam pengalaman meditasi. Belajar memusatkan
pikiran mengusir dingin saja gagal. Para peserta Latam dipindah ke aula
pertemuan bukit Mahanaim. Hujan mulai reda. Udara semakin berat. Selesai makan
malam, saya benar-benar dihadapkan pada pekerajaan yang bukan keahlian saya. Anda
tahu apa yang saya putuskan dan lakukan?
Tidak
ada pilihan lain. Saya tidak membawa buku. Saya tidak bisa mencari di google.
Saya harus menghadapi arena latihan meditasi dengan pengalaman ala kadarnya.
Saya harus bekerja keras mengingat hal-hal yang pernah saya lakukan dan saya
baca tentang meditasi, imajinasi dan pernafasan.
Di
jogja, sewaktu mengikuti meditasi di vihara, saya dan peserta meditasi lainnya,
diminta untuk duduk dengan jarak yang pas. Antara satu orang dan orang yang
lainnya diminta untuk tidak saling berdempet atau bersentuhan. Saya pun meminta
pada para peserta medita Kaki Langit untuk mengambil posisi yang ideal. Saya
menjelaskan pada mereka, meditasi membutuhkan ketengan dan konsentrasi penuh.
“Kalau tubuh kita bersentuhan,” jelas saya dengan suara menahan gigil, “dengan
orang lain, ditakutkan konsentrasi kita tidak utuh. Konsentrasi kita akan
ditentukan orang lain itu.” Lalu, bagaimana mengatasi suara angin, tetas hujan,
atau percakapan panitia yang tidak ikut meditasi? Saya teringat dengan film
“August Rush”. Saya ceritakan keunikan film ini, terutama tokoh utamanya.
“Tokoh
utama film ini seorang anak kecil yang memiliki kepekaan musik. Dia menganggap
segala suara di sekitarnya sebagai musik. Suara angin, gemerisik daun-daun,
lengking kendaraan, pekikan mulut atau hentak palu menghantambesi sebagai
musik. Kita harus mampu menjadikan suara di sekitar kita sebagai musik. Dengan
demikian, kita bisa memusatkan konsentrasi kita.”
Meditasi
belum mulai. Saya meminta mereka untuk ‘duduk’ dengan posisi yang membuat tubuh
mereka rileks: berlonjor, bersimpuh, bersila dan sebagainya. “Tolong
bernafaslah dengan wajar.” Saya memberi contoh bernafas dengan wajar: menarik
nafas, perut mengembang. Udara dilepas, perut mengempis. “Teruslah bernafas dengan
wajar dan tenang. Temukan irama. Tegakkan dada kalian dengan rileks. Lepaskan
semua beban. Kita adalah makhluk bebas. Carilah satu titik fokus di depan Anda.
Saat sudah ditemukan, pejamkan mata pelahan.”
Saya
benar-benar payah dalam berkonsentrasi. Berulang saya hampir kehilangan kontrol
terhadap kata-kata saya. Kata-kata berjejer sembarangan. Nada kehilangan ritme.
Dan dingin, lagi-lagi dingin, seperti bahaya laten, mengobok-obok kakiku,
tanganku, tengkku. Saya hampir goyah. Saya biarkan diri dalam dingin. Hening.
Tidak benar-benar hening. Sebuah derai mencuat dari jarak lima meter di
depanku. "Wuih," saya menemukan tambatan: raut manis. Saya menemukan
titik tumpu imajinasi. Saya membiarkan para peserta meditasi menikmati irama
nafasnya. Merasakan denyut nadinya. Merasakan musik yang dimainkan alam.
Pikiranku terus bertumpu pada sesungging senyum.
Sungging
yang saya petik beberapa menit sebelum memasuki ruang meditasi. Sungging yang
sempat terlepas di tenda Mas Gani. Hampir satu jam imajinasi larut. Kata-kataku
meluncur tanpa emosi. Nafasku datar. Dingin menyatu dalam degupan nafasku.
"Bernafaslah dengan tenang," raut manis di depanku seperti mengerti
sebagai titik tumpu imajinasiku.Hampir satu jam lebih saya larut dalam meditasi
raut manis. Panitia memberi isyarat untuk menyudahi meditasi. Saya menarik
nafas panjang. Para peserta meditasi membuka mata. Pelan-pelan.
*Esais dan Pejalan Sepi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar