Nah... (atau Larut) - santriwarrior

Breaking

Header Ads

SANTRIWARRIOR 728X90

Jumat, 05 Januari 2018

Nah... (atau Larut)

Oleh Set Wahedi* 

Apa yang Anda lakukan ketika diminta melakukan sesuatu yang bukan keahlian Anda? Bingung? Sama. Saya juga bingung ketika diminta menjadi pemandu meditasi teman-teman teater Kaki Langit pada Latihan Alam (Latam),  Jumat, 26 Desember 2017. Permintaan itu, mulanya saya kira hanya semacam pancingan biar saya datang. Saya yakin, mereka sudah menyiapkan orang yang lebih mahir. Lebih paham bagaimana mengolah rasa, mengatur nafas dan memainkan imajinasi. Seperti jamak diketahui, kemampuan olah-rasa, olah-imajinasi seorang aktor cukup penting. Seorang aktor yang begitu kuat, lentur dalam kemampuan olah-tubuh, begitu lantang dan merdu dalam kemampuan olah-vokal, tetap akan mentah kalau kepekaan rasanya tidak memberikan sentuhan yang energik. Karena itu, meditasi sebagai sarana latihan olah-rasa menjadi metode penting seorang aktor memasuki dan mengahayati sosok yang diperankannya.

Imajinasi, menyitir Stanislavski, memegang peran penting menghidupkan tokoh. Dengan imajinasi, aktor membayangkan, mencipta sekaligus menghayati tokoh yang diperankannya. Persoalan sepenting itu, saya kira tidak mungkin dipercayakan pada saya. Saya tidak ahli dalam bidang meditasi. Sewaktu kuliah dulu, saya pernah ikut latihan yoga. Itu pun tidak tuntas. Saya memang pernah membaca buku tentang pola pernafasan: tarikhidung-keluarhidung, tarikhidung-keluarmulut, tarikmulut-keluarmulut, dan tarikmulut-keluarhidung. Tapi saya sudah lupa tentang kegunaan pola-pola itu. Di Jogja saya juga pernah mengikuti meditasi di vihara. Itu pun hanya dua atau tiga pertemuan saja. Singkatnya, saya tidak punya pengalaman yang mumpuni dalam meditasi.

Saya sampai di Bukit Mahanaim, Pasuruan, tempat Latam itu digelar, ketika senja direnggut malam dengan tergesa. Mendung, rimbun pohon dan kabut seperti bersekongkol untuk menyembunyikan senja dari atas ketinggian Bukit Mahanaim. Di Bukit Mahanaim saya disambut seraut wajah asing, tapi cukup manis. Dia menyalamiku. Sayangnya, raut manis itu datang begitu singkat. Tidak sempat mengahalau galau yang menggayuti kepala saya. Seusai melempar senyum mungilnya, dia berlalu. Saya tidak sempat menanyakan namanya. Tapi senyumnya telah mengukir namanya sendiri dalam ingatan saya. Lalu datanglah beberapa raut wajah yang cukup familiar dalam ingatan saya: Yusril, Hembing, Mbah dan lainnya. Kami pun berbincang-bincang sebentar. Dalam perbincangan itu, saya ingin mengumpat: mereka ternyata serius meminta saya untuk menjadi pemandu meditasi. Saya pun berusaha menjelaskan, saya tidak memiliki pengalaman yang mumpuni dalam meditasi. Saya katakan pada mereka, meditasi itu berkaitan dengan olah rasa. Alangkah baiknya, kalau yang memandu meditasi adalah orang-orang yang memilki pengalaman dan kemampuan yang mumpuni.

Mereka bersikukuh. Hujan datang. Saya kalang kabut. Dingin Bukit Mahanaim meruncing. Sumsum dan denyut nadi saya diobok-obok tanpa ampun. Dalam tenda-kecil yang disediakan panitia, saya ingin meringkuk. Hujan begitu deras. Alas tenda mengembun, dan basah. Saya gagal untuk meringkuk. Untuk melepaskan diri dari cengkeraman dingin, saya mensugesti diri. Rasa itu kadang persoalan sugesti. Kita sedih karena kita menganggap persoalan yang kita hadapi perlu diratapi. Kita bahagia karena segala peristiwa yang menimpa kita diterima dengan lapang dada dan senyum terbuka.

Saya tidak boleh mengingat dingin. Saya harus membiarkan dingin tingal di pakaian, di tenda, di pohon, dan mengawang bersama udara. Dingin boleh mengobok-obok kulit saya. Tapi dingin tidak boleh bersarang dalam kepala saya. Saya harus membuang kata dingin. Untuk menghilangkan dingin, saya harus mempercakapkan yang bukan dingin. Mempercakapkan persoalan yang lebih dari dingin. Di tenda Mas Gani –kakak kelas sewaktu kuliah- saya menemukan percakapan hangat. Mas Gani menanyakan status saya. Saya katakan, saya masih pemain tunggal. Lalu, Mas Gani mengorek masa lalu saya: mantan saya. Saya ingin tertawa. Saya tertawa. Saya bercerita tentang potongan kenangan-kenangan manis saya bersama mantan. Saya gagal move-on. Saat dingin tidak tidak lagi menggayuti kepala saya, ingatan saya terbentur pada raut manis yang beberapa menit lalu menyambut saya dengan senyum manisnya. Saya ingin menariknya dalam cerita saya. Buru-buru hujan semakin lebat. Raut manis itu dipaksa harus berkemas. Dia diminta untuk menyelamatkan barang-barang.

Hujan benar-benar tidak memberi ruang bagiku untuk lebih lama melupakan dingin. Saya tidak bisa lagi menanggalkan dingin di luar kepala saya. Satu-satunya jalan yang pas saya harus menyatu dengan dingin. Saya memutuskan untuk hujan-hujanan. Saya main hujan-hujanan. Dan dingin, benar-benar menguji sugestiku untuk melupakannya.

*

Saya kalah. Saya tidak hanya payah dalam pengalaman meditasi. Belajar memusatkan pikiran mengusir dingin saja gagal. Para peserta Latam dipindah ke aula pertemuan bukit Mahanaim. Hujan mulai reda. Udara semakin berat. Selesai makan malam, saya benar-benar dihadapkan pada pekerajaan yang bukan keahlian saya. Anda tahu apa yang saya putuskan dan lakukan?

Tidak ada pilihan lain. Saya tidak membawa buku. Saya tidak bisa mencari di google. Saya harus menghadapi arena latihan meditasi dengan pengalaman ala kadarnya. Saya harus bekerja keras mengingat hal-hal yang pernah saya lakukan dan saya baca tentang meditasi, imajinasi dan pernafasan.

Di jogja, sewaktu mengikuti meditasi di vihara, saya dan peserta meditasi lainnya, diminta untuk duduk dengan jarak yang pas. Antara satu orang dan orang yang lainnya diminta untuk tidak saling berdempet atau bersentuhan. Saya pun meminta pada para peserta medita Kaki Langit untuk mengambil posisi yang ideal. Saya menjelaskan pada mereka, meditasi membutuhkan ketengan dan konsentrasi penuh. “Kalau tubuh kita bersentuhan,” jelas saya dengan suara menahan gigil, “dengan orang lain, ditakutkan konsentrasi kita tidak utuh. Konsentrasi kita akan ditentukan orang lain itu.” Lalu, bagaimana mengatasi suara angin, tetas hujan, atau percakapan panitia yang tidak ikut meditasi? Saya teringat dengan film “August Rush”. Saya ceritakan keunikan film ini, terutama tokoh utamanya.

“Tokoh utama film ini seorang anak kecil yang memiliki kepekaan musik. Dia menganggap segala suara di sekitarnya sebagai musik. Suara angin, gemerisik daun-daun, lengking kendaraan, pekikan mulut atau hentak palu menghantambesi sebagai musik. Kita harus mampu menjadikan suara di sekitar kita sebagai musik. Dengan demikian, kita bisa memusatkan konsentrasi kita.”

Meditasi belum mulai. Saya meminta mereka untuk ‘duduk’ dengan posisi yang membuat tubuh mereka rileks: berlonjor, bersimpuh, bersila dan sebagainya. “Tolong bernafaslah dengan wajar.” Saya memberi contoh bernafas dengan wajar: menarik nafas, perut mengembang. Udara dilepas, perut mengempis. “Teruslah bernafas dengan wajar dan tenang. Temukan irama. Tegakkan dada kalian dengan rileks. Lepaskan semua beban. Kita adalah makhluk bebas. Carilah satu titik fokus di depan Anda. Saat sudah ditemukan, pejamkan mata pelahan.”

Saya benar-benar payah dalam berkonsentrasi. Berulang saya hampir kehilangan kontrol terhadap kata-kata saya. Kata-kata berjejer sembarangan. Nada kehilangan ritme. Dan dingin, lagi-lagi dingin, seperti bahaya laten, mengobok-obok kakiku, tanganku, tengkku. Saya hampir goyah. Saya biarkan diri dalam dingin. Hening. Tidak benar-benar hening. Sebuah derai mencuat dari jarak lima meter di depanku. "Wuih," saya menemukan tambatan: raut manis. Saya menemukan titik tumpu imajinasi. Saya membiarkan para peserta meditasi menikmati irama nafasnya. Merasakan denyut nadinya. Merasakan musik yang dimainkan alam. Pikiranku terus bertumpu pada sesungging senyum.

Sungging yang saya petik beberapa menit sebelum memasuki ruang meditasi. Sungging yang sempat terlepas di tenda Mas Gani. Hampir satu jam imajinasi larut. Kata-kataku meluncur tanpa emosi. Nafasku datar. Dingin menyatu dalam degupan nafasku. "Bernafaslah dengan tenang," raut manis di depanku seperti mengerti sebagai titik tumpu imajinasiku.Hampir satu jam lebih saya larut dalam meditasi raut manis. Panitia memberi isyarat untuk menyudahi meditasi. Saya menarik nafas panjang. Para peserta meditasi membuka mata. Pelan-pelan.

Pelan-pelan saya mengatupkan mata, merasakan nafas dan ritme derai Si Raut Manis.

*Esais dan Pejalan Sepi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar