Catatan Lamongan-Tuban I: Kopi Selir Nindy - santriwarrior

Breaking

Header Ads

SANTRIWARRIOR 728X90

Kamis, 11 Januari 2018

Catatan Lamongan-Tuban I: Kopi Selir Nindy

Oleh Set Wahedi

Candaan itu kadang doa. Doa yang mantap dan tak pernah disadari. Kita melontarkan candaan mungkin sekadar menyegarkan suasana yang krik-krik atau menghidupkan alur percakapan. "Oke, saya akan ke Lamongan, buat mencicipi kopi selir," canda saya menanggapi 'godaan' Nindy. Saya anggap itu bercanda: menempuh Surabaya-Lamongan 62 km 1,5 jam demi secangkir kopi? Meski ditawari kopi gratisan, perjalanan ngopi Surabaya-Lamongan tetap satu kegilaan.

Yang namanya candaan, jarang kita perhatikan. Sebab candaan seperti angin lalu. Sebab candaan tetaplah sebatas kelucuan. Selesai tertawa, kita kembali pada keseriusan, dan kembali membuat candaan baru. Satu candaan ditindih satu candaan berikutnya. Kalau keseriusan demi keriusan bisa melahirkan kematangan, candaan demi candaan hanya menyisakan perasaan lepas dan plong. Itu saja. Tapi candaan kadang menjerumuskan kita pada keseriusan. Seperti candaan Abu tentang rajungan Tuban pas main kartu di Minggu siang minggu pertama Januari, "Alangkah enaknya kalau main kartu sambil makan rajungan Tuban." Budi langsung menyahut, "Ayo kalau mau ke Tuban."

"Ayo," saya, Abu, Anam dan Budi pun sepakat untuk menjelajah ke Tuban. Kami pun membuat rencana dan menentukan rute perjalanan. Nindy, ya, teman kami yang di Lamongan. Kami akan singgah ke Lamongan dulu: ke rumah Nindy, ke makam Sunan Drajat, dan ke makam Syech Maulana Ishaq. Dengan gerak cepat Budi menghubungi Nindy dan teman-teman di Tuban. Selasa, ini kata kedua yang kami sepakati berkait penjelahan ke Tuban.

***
Secara perencanaan di atas kertas, kami tak akan menemui banyak kendala: saya boncengan sama Anam, dan Abu boncengan sama Budi. Tapi kenyataan bukanlah di atas kertas. Motor Anam sedikit mengkhawatirkan. Motor Anam tidak bisa melaju dalam kecepatan di atas 60 km/jam dengan stabil. Jika dipaksakan, motornya bisa mogok. Itu sungguh riskan. Jalanan Kalianak-Gresik dipenuhi truk-truk besar. Kami tidak mau ambil resiko. Kami memutar otak. Budi, yang ditunjuk jadi pimpinan rombongan, menghubungi beberapa teman untuk tukar motor. Jawabannya cukup menjengkelkan: teman-temannya enggan bertukar motor. Ada keperluan mendadak, motornya belum diservis dan jawaban iya atau tidaknya satu jam kemudian. Kami hampir tidak jadi. Tapi di awal tahun 2018, tidak baik kiranya langsung menyerah. Kami berhitung. Kami memutuskan.

Dibayangi mendung dengan kemungkinan hujan 75%, kami ‘mbonek’ berangkat dengan motor Anam yang mengkhawatirkan. Saya dan Anam banyak berdoa. Bonek kadang mendatangkan keuntungan tersendiri: kami jadi lebih wasapada dan hati-hati. Saya seperti merasakan hentakan dan tarikan nafas motor Anam di setiap tikungan, tanjakan, turunan, lampu merah atau saat berhadapan dengan deretam bus atau truk besar.

Berangkat pukul 19.00 kurang tiga menit, kami sampai di desa Sukodadi, Kecamatan Sukodadi pukul 21.05. Kami sempat tersesat. Itu kami ketahui ketika ngasoh di depan SDN Banarejo. Insting jelajah kami tidak begitu akurat: 6,4 km lagi ke titik rumah Nindy.

Di rumah Nindy kami disambut senyum hangat, “Kok bisa tersesat sih?” Kami tertawa. Abu mulai ‘menyudutkan’ Anam: google mapnya membingungkan. Anam tidak tahu kanan atau kiri. Di rumah Nindy ada acara nikahan. Tetangga pas samping rumahnya akan menikah. Kami diajak Nindy ke warung kopinya. Warung Nindy cukup ramai. Kami memilih area ngopi di depan warung di bawah kersen. Kapan kau nyusul (nikah), Nin? Pertanyaan itu hampir saya ucapkan, tapi Ibu Nindy datang memotong, "Teman-teman Nindy ya?" Kami bergegas mencium tangannya. Nindy dan Ibunya masuk ke warung.

Abu kembali ‘menyudutkan’ Anam dengan kabar Mega, pacar Anam. Sumonoi, ungkapan khas Anam untuk menangkis sudutan Abu. "Ini Kak kopi selir yang ingin kau cicipi," dengan hati-hati Nindy membawa dua cangkir kopi. Saya terkesiap. Bukankah kopi selir ini yang kami candakan beberapa waktu lalu? Saya mengernyitkan dahi. "Kopinya seperti di ghabai," Anam mencoba membandingkan kopi selir dan kopi di rumah (desa Pinggirpapas).

"Aku teh saja, Nin," sergahku. "Tanpa gula."
"Lho, katanya mau ngopi di sini?" Nindy kembali mengingatkan. Aku sedikit terbata: saya teringat detail candaan kami. Saya pernah melontarkan candaan untuk ngopi di warung Nindy. Sekarang, saya kira saya tidak bisa lagi menyeragamkan istilah. Nongkrong itu belum tentu ngopi, atau ngopi itu jangan dipakai untuk istilah nongkrong. Ngopi mungkin lebih pasti: nongkrong plus kopi. Tapi kalau nongkrong bisa saja minumannya susu atau teh hangat. Untuk menghilangkan keterbataan, saya tertawa menanggapi tawaran kopi selir Nindy yang dilontarkan sambil bercanda malam itu. Kopi selir itu kopi yang disangra sendiri. Cara penyuguhannya cukup sederhana. Ampas kopi akan tersisa di bibir gelas. Saat minum pun ampas ini membuat bibir sedikit meranggas. Satu cicipan kopi selir cukup menyegarkan. Yang selir mungkin lebih enak dan menyegarkan dibanding yang sachetan, simpulku dalam hati. Atau jangan-jangan kopi selir terinspirasi dari cerita para selir raja? Para selir akan berusaha sekuat tenaga dan dengan berbagai cara menjadikan dirinya enak. Kalau tidak, mereka tentunya siap didepak?

Selain kopi selir, kami juga disuguhi gorengan tempe dan bakso khas warung "Pas Mantap" Nindy. Sekali lagi, di tengah menyantap ‘makan-malam’ gratisan, kami bercanda kemungkinan bakso dan tempe earung Nindy buka cabang di Surabaya. Persoalan rasa,  bakso Nindy memang mak-nyus. Sungguh benar-benar mak-nyus. Saya yakin, teman-teman pasti berdoa dan berharap bisa kembali ke warung Nindy ini. Meski itu sedikit gila: menempuh 62 km sekadar demi kopi selir, tempe gurih dan bakso warung Pas Mantap Nindy. Malam itu, kami menuju titik istirahat dengan perbincangan musik dan politik. Pukul 01.30 kelelahan mulai bergetar dalam kata-kata kami. Sebelum benar-benar merebahkan diri, saya belajar gitaran dengan lagu “Tinggal Kenangan” Gaby.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar