Oleh Set Wahedi*
Keinginan itu timbul sambil lalu. Saya tidak pernah memperkirakannya. Meski jauh hari saya punya 'cita-cita' naik gunung, keinginan di penghujung Desember itu seperti ilham yang turun dari langit. Begitu saja. Tanpa basa-basi. Teman-teman saya: Anam, Abu, Budi dan Kak Ahmad ingin menghabiskan penghujung 2017 dan mengawali 2018 dengan kamping di bukit Dlundung, Trawas, Mojokerto. Keinginan kamping mereka sampai padaku H-2 tanggal keberangkatan. Rencananya, kami akan berangkat pada Sabtu sore, 30 Desember 2017 dan pulang Senin siang, 1 Januari 2018.
Keinginan itu timbul sambil lalu. Saya tidak pernah memperkirakannya. Meski jauh hari saya punya 'cita-cita' naik gunung, keinginan di penghujung Desember itu seperti ilham yang turun dari langit. Begitu saja. Tanpa basa-basi. Teman-teman saya: Anam, Abu, Budi dan Kak Ahmad ingin menghabiskan penghujung 2017 dan mengawali 2018 dengan kamping di bukit Dlundung, Trawas, Mojokerto. Keinginan kamping mereka sampai padaku H-2 tanggal keberangkatan. Rencananya, kami akan berangkat pada Sabtu sore, 30 Desember 2017 dan pulang Senin siang, 1 Januari 2018.
Seperti
halnya menyambut ilham untuk sebuah puisi,
aku tidak menyia-nyiakan ajakan itu. “Oke,” aku merespon tawaran
teman-temanku dengan nada antusias.
Saya tiba-tiba mendapatkan keyakinan
baru, acara tanpa rencana yang matang memang sedikit menyulitkan. Tapi
kepercayaan dalam kebersamaan akan banyak memberi kejutan dan kebermaknaan.
Dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, saya
dan teman-teman menyiapkan peralatan kamping: tenda, kompor, matras, hammock, sleeping bag, jas, dan lainnya dan lainnya.
Sabtu
sore aku dan Anam berangkat terlebih dahulu. Aku menempuh “jalur-dalam” Sidoarjo-Mojosari-Trawas. Anam sempat protes tentang “jalur-dalam”. "Kalau jaraknya tidak begitu berbeda,” jelasku dengan
suara tertekan masker, “jalur-dalam lebih sepi. Saya lebih nyaman dengan jalur sepi."
Anam pasrah, menerima penjelasanku tanpa banyak protes lagi. Andai mau protes, dia bisa
saja mengajukan beberapa keberatan: bukankah
zona paling berbahaya adalah area yang paling nyaman bagi kita? Atau,
kalau lewat di jalur-dalam
yang sepi, saat ban bocor atau kehabisan bensin, kita akan kesulitan mencari solusinya? Atau hal yang paling tidak diinginkan,
di jalur sepi begal bisa lebih leluasa melahap mangsanya?
Kami
menempuh Surabaya-Dlundung sekitar dua jam lebih sedikit. Ketika menapak jalan
menanjak, saya tersadar: hampir delapan
tahun lalu, saya pernah
menapak jalan ini. Delapan tahun
lalu, saya ikut kelas penulisan
kreatif cerpenis Wawan Setiawan.
Pada delapan tahun lalu itu, saya melatih kepekaan menangkap anasir-anasir alam dengan jalan kaki: menapak jalan menanjak, menyurur jalan menurun, dan
menyisir kali atau jalan setapak di tengah persawahan. Gemericik kalidan hamparan hijau sawah membuat mata-rasa saya
terbuka. Menyatu dengan alam, kata Pak Wawan Setiawan, dapat
melatih kepekaan rasa dan panca indera lebih sensitif terhadap rangsang. Kepekaan
rasa ini, Pak
Wawan Setiawan melanjutkan penjelasannya, sangat
penting bagi seorang penulis dalam menangkap dan menumbuhkan daya kreativitas. Kini, saat mendaki jalan menanjak tajam bukit Dlundung,
saya mengalami de
javu.
Tepat
adzan isya' berkumandang sayup-sayup di antara gemerisik daun-daun, anggota rombongan kamping pada merapat.
Udara dingin memberat di lubang hidung. Kak Ahmad memandu kami mendirikan
tenda. Pengalamannya naik gunung cukup terlihat pada kecekatannya mendirikan tenda.
Tendaku dan tendanya Kak Ahmad berhadap-hadapan. Budi dan Cicik serta dua
adiknya di belakang kami. Di samping kami, tenda-tenda sudah pada berjejer.
Tenda-tenda itu kami tangkap dari siluetnya atau lampu-lampu kecil yang menyala
di dalamnya. Tenda kami berada pada undakan kedua dari jalan raya. Kamar mandi
berada di selatan kami. Sewaktu di kamar
mandi, saya pun merasakan balasan yang setimpal
atas pembayaran uang masuk 37.000 untuk satu sepeda dua orang selama tiga hari.
Malam
pertama kamping di bukit Dlundung, saya habiskan
dengan rutinitas seperti halnya di kos: masak nasi dan mie, makan, ngopi di warung langgnan Kak Ahmad, lalu
berlayar di pulau kapuk. Sewaktu merebahkan tubuh, dingin menjalar dari bawah alas tenda. Gesekan daun mengabarkan kesiur
angin sedikit menderas. Selesai membaca doa tidur, saya tidak lupa memanjatkan permohonan
lain: semoga hujan tidak datang malam ini. Ah, permohonan yang cukup
sentimentil. Kenapa harus takut dengan hujan? Bukankah keputusan kamping itu
diambil dengan segala kemungkinan yang tidak mengenakkan? Dan sepanjang malam, tidurku
benar-benar tidak mengenakkan. Berulang mimpiku retak karena gigitan
dingin. Meski begitu, dalam beberapa moment tidurku menemukan kepulasannya.
***
Keesokannya, di penghujung desember 2017, saya menyaksikan jejeran tetenda tumpang-tindih memenuhi lereng bukit Dlundung. Para penghuni tenda pun cukup beragam: usia sekolah dasar sampai usia di titik dasar. Satu tenda menarik perhatian kami: sepasang pasutri tua di sebelah atas kami. Si istri tampak telaten melayani suaminya. Usia mereka 60-an lebih. Si istri begitu energik: pagi-pagi mandi dan menyiapkan makan. Si suami membiarkan dingin malam bersarang di keriput kulitnya hingga menjelang siang. Si suami tampak lambat dalam merespon si istri.
Mereka
berdua tampak bahagia ya?" Saya menarik perhatian Budi. Budi mendongak,
lalu berbisik, "Mungkin itu alumni himapala. Mereka mengenang masa mudanya
dulu." Kami pun mengamati tingkah laku pasutri tua yang mengingatkan kami
pada narasi keagungan cinta Marques dalam novelnya “Love
in the Time of Cholera”. Ini mungkin yang dikatakan
cinta sampai mati, simpul Kak Ahmad. Cinta itu tidak menenal usia, Kak, Abu
juga memberi simpulan. Yang pasti bahagia itu tidak perlu mahal, selorohku.
Kami pun tergelak dengan pura-pura tidak memperhatikan mereka. Semoga aku dan
istriku seperti mereka, untuk kali kesekian Budi memerhatikan pasutri tua yang memanaskan
air. Cicik sedikit malu-malu. Mungkin dia membayangkan hubungannya berlanjut hingga hari tua.
Sepanjang
hari itu, saya menyaksikan orang-orang seperti mencipta perkampungan baru. Menjelang
siang, tenda-tenda semakin berdempetan.
Tetangga-tetangga baru terus berdatangan. Seorang perempuan muda, dengan kaos
putih ketat, celana pendek, berdiri dengan riang
pada dua undakan di bawah kami memamerkan anjingnya.
Berulang bibirnya menyentuh
ubun-ubun anjing kesayangannya. "Via valen, Ke" Abu memberi kode
ketertarikan. Via valen? Pertanyaan itu menyembul dalam kepala. Tapi ‘Via Valen’ tidak gemuk? Aku paham, pakaian perempuan itu membuat pagi seolah
tambah segar dan bergairah: paha putih dan dua gundukan dada besar. Tapi saya salah duga. Saya gagal fokus. ‘Via Valen’ yang dimaksud Abu ada di undakan keempat, dan sedikit jauh ke
bawah. ‘Via Valen’ itu ternyata memakai pakaian hitam. Rambutnya
pirang sebahu. Mereka seperti menggelar pesta tahun baru kecil-kecilan. Pesta tahun baru? Saya tiba-tiba
teringat dengan sajak “Saya Iba” Michael Augustine. Dalam puisi panjangnya, penyair
Jerman itu menaruh iba pada mereka yang memiliki hasrat-pandangan sublim. Pada
mereka yang mengira kebahagiaan itu harus dikejar sampai pada lereng bukit Dlundung
dalam tumpah ruahnya perayaan jelang tahun baru. Pada mereka yang merasa,
bahagia itu hanya bisa dirasakan
pada moment-moment tertentu. Padahal kebahagian itu dalam diri kita dalam setiap
denyut dan hembusan nafas kita.
Sebelum
matahari melewati pukul dua belas siang, kami bermain-main di air terjun. Hawa
dingin yang berat, memeluk erat tengkuk, sempat membuat nyaliku kecut untuk
mencicipi gemericik air. Kakiku seperti berkerut. Tapi mematung di tepi
"telaga" Dlundung ini akan membuatmu kaku. Saya terkesiap. Saya
kembali teringat pada nasihat Pak Wawan Setiawan delapan
tahun lalu, menyatu dengan alam membuat diri kita menjadi semesta.
Entah apa yang dimaksud menjadi semesta? Saya segera membuka kaos. Segenap
pikiran saya fokuskan pada titik menjadi semesta. Cipratan dingin-es butiran
air yang beterjunan dari atas bukit kubiarkan menikam-nikam kulit. Saya berusaha
jadi anak bandel yang tidak mengindahkan plang peringatan: dilarang mandi di
air terjun.
Saya
berteriak. Teman-teman saya sejenak terkesiap. Para tetangga baru juga terkesiap.
Dalam hitungan detik, mereka mengalami keterasingan dengan diri saya. Saya tak
acuh. Saya membiarkan mata-mata yang penuh tanda tanya dipenuhi letusan hunjaman
air di tubuhku. Saya berteriak untuk menahan dingin yang membekukan. Bercampur
dengan suara curah air terjun, suaraku merayapi batu-batu dan menjalari
pohon-pohon. Dalam beberapa titik nada-lengking, suaraku seperti membawa
hempasan gelombang tertekan dalam dada. Dadaku lamat-lamat plong. Tubuhku menggigil.
Denyut nadiku meracau. Bibirku bergetar, mengucapkan kata-kata seperti akan
mengalami kegagalan menjadi kalimat.
Di air terjun, saya
benar-benar mendapati diri menjadi semesta.
Entah apa itu?
***
Malam
tahun baru yang ditunggu tiba. Para tetangga bersiap-siap: lampu-lampu temaram,
makanan, lagu-lagu manis, gegap petasan di kejauhan dan
setumpuk kayu api unggun. Entah, kenapa malam itu tiba-tiba malas membetot
imajinasiku. Saya enggan
untuk beranjak dari tenda, sekadar menyaksikan perayaan api unggun atau
berpasang kekasih merekatkan tubuhnya meresapi dingin, hangat dan bahagia.
Bahkan aroma rawon Pak Iyat, pemilik warung makan di dekat pos masuk, yang
memenuhi pikiranku lesap dalam gelap malam. Tenda, meski dingin begitu runcing benar-benar menjadi tempat
paling nyaman. Benar-benar membuat saya ingin berkhalwat: merasakan kesendiran
dalam keramaian. Merasakan rasa suntuk yang saya bawa dari kota bersama
keramahan alam. Saya tertidur pulas.
Esoknya, saya mendapati teman-teman meringkuk dengan
kantuk yang legam. Mungkin semalam mereka menikmati pergantian tahun baru,
dugaku dengan perasaan lega. Pasutri tua di atasku kembali mamerkan
kemesraannya. Perempuan dengan anjing kulihat sibuk berkemas. Beberapa tenda bergegas
sebelum siang menyeruak. Dan di awal tahun 2018 itu, saya meninggalkan bukit
Dlundung dengan perasaan tak tentu: saya ingin menjadi semesta. Tapi tidak di
tahun baru.
*esais dan pejalan sepi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar