Oleh Set Wahedi
Alasan pulang kampung kadang absurd: rindu keluarga, rindu pohon depan rumah, rindu teman-teman lama, dan rindu kabar tetangga. Alasan rindu semakin absurd, ketika kerinduan itu timbul di sela-sela gemuruh tetasan kaki hujan. Apalagi tetasan kaki hujan itu tampak menggerutu di kaca bus. Ah, mungkin memang tak ada alasan yang tepat untuk sebuah kepulangan kecuali dengan kata singkat dan sederhana: rindu.
Alasan pulang kampung kadang absurd: rindu keluarga, rindu pohon depan rumah, rindu teman-teman lama, dan rindu kabar tetangga. Alasan rindu semakin absurd, ketika kerinduan itu timbul di sela-sela gemuruh tetasan kaki hujan. Apalagi tetasan kaki hujan itu tampak menggerutu di kaca bus. Ah, mungkin memang tak ada alasan yang tepat untuk sebuah kepulangan kecuali dengan kata singkat dan sederhana: rindu.
Padahal, di tengah membanjirnya
“alat-elektronik-pintar”, rindu semisal embun di pagi hari. Bening dan indah
membuka pagi, lalu sirna dalam helaan siang. Kalau kita rindu pada keluarga,
kita bisa telpon, kirim gambar, video call dan lainnya. Kalau rindu pada
teman-teman lama, kita bisa haha-hihi di group wa. Bahkan di group wa itulah,
kita bisa mengalami satu peristiwa dalam satu garis waktu di lain ruang. Tapi
rindu memang tak terjemah dan absurd. Karena itu, entah seperti apa wujudnya,
rindu menjadi satu-satunya kata yang mesti diucapkan dengan indah dan sepenuh
jiwa.
Pada pulang-kampungku kali ini, saya
disergap rindu yang sentimental. Rindu yang dirutuk dan dikutuk hujan. Seolah
alam tak ingin memberi ruang bernafas kecuali dengan degup penuh rindu dan dingin.
Kepalaku bergidik membayangkan raut masa kecil berkelebat di kaca bus. Raut
yang gagah menantang hujan. Raut yang masa bodoh dengan angin. Raut yang
bersemangat-lari di jalanan atau belajar renang di tambak-tambak, semisal di Se
Enyu, Se Karim, Se Polang, dan lainnya dan lainnya. Dalam kelebat raut yang
gagah itu, diam-diam terselip kelucuan: di kala hujan, kami sering menghambur
dengan tubuh bugil.
Untuk menghapus sentimental rinduku,
saya memilih jalur Terminal-Marengan-KarangAnyar- Pinggir. Pilihan ini di luar
kebiasaan jalur saya: Nambakor-KarangAnyar-PinggirPapas. Jalur itu sedikit
lebih jauh, sedikit bisa mengulur waktu untuk mengurai rindu. Selepas Marengan,
saya menghadapi peminian dan waduk Brenteng PT Garam. Di kanan-kiri petak-petak
pegaraman menuntun mata saya pada keluasan dan ketabahan cakrawala. Langit
memang tampak tersaput mendung, sisa hujan membeceki jalan, tapi di ruas-ruas
petak garam burung tellen (:puyuh) berlarian. Dan gudng-gudang garam tanpak
begitu menua. Tumpukan garam di dalamnya seperti setumpukan kenangan keringat
buruh: pabujaan, antek, pekerja, tokang pekol. Anehnya, pada tumpukan garam
itu, saya tidak menemukan raut lusuh mandor, manteri, dan pejabat PT Garam.
Benar-benar rindu yang sentimental.
Dan ketika melintasi tapal batas
KarangAnyar-PinggirPapas, saya minta tukang ojek mengurangi kecepatannya.
Deretan rumah makin rapat saja. Lubang dan kubangan air hujan sudah jarang di
jalanan. Mungkin kebijakan dana desa benar-benar membantu, batinku menikmati
jalan desa yang semakin baik.
“Banyak sampah begini, Mas” komentar
tukang ojek memasuki gang kecil rumahku yang melintas di atas drainase PT
Garam. Saya terkeseiap. Sejak masa kecil saya -mungkin juga sebelum saya lahir-
drainase itu digunakan PT Garam untuk mengalirkan air laut ke peminian.
Drainase itu dulu dalam, semacam sungai kecil. Saya dan teman-teman biasa
berenang dan main pan-sampanan ketika hujan. Orang-orang di dekat drainase itu
juga memasang parayeng. Singkatnya, di masa kecil saya drainase itu penuh
kenangan dan penuh sumber penghasilan.
Saya benar-benar terkesiap. Rindu
sentimental saya menguap begitu saja. Drainase itu kini mengalami pendangkalan.
Ketika hujan tiba, genangan airnya meluap. Rumah-rumah di dekat drainase
terancam. Drainase PT Garam itu kini mengancam. Tiba-tiba saya disergap gusar
yang becek. Kepala saya dipenuhi sampah. Drainase PT Garam itu membuat saluran
dalam kepala saya mampat. Saya ingin merutuk. Saya ingin mengutuk PT Garam.
Kenapa kalian hanya berpikir keuntungan? Kenapa drainase yang kaliam gunakan
tidak kalian rawat? Mungkin masih banyak lagi rutuk dan kutuk yang bisa saya
hamburkan. Tapi jawabannya bisa saya pastikan: tidak. Bukan seperti itu.
Mengaca pada Kota Jakarta, sampah dan
banjir bukan perkara sepele. Peran-aktif masyarakat sangat dibutuhkan.
Masyarakat harus punya kesadaran, kumuh bukanlah pemandangan yang enak. Kumuh
tanda kemproh, penuh penyakit dan bukan sebagian dari iman. Selain masyarakat,
pemerintah desa dan PT Garam punya tanggungjawab tak kalah krusialnya.
Pemerintah desa harus punya solusi dalam membangun kesadaran masyarakat untuk
membangun desa yang lebih baik. Sedangkan PT Garam perlu berpikir cermat, jika
kekumuhan ini berlanjut, itu bisa jadi pertanda sikap abai terhadap tanggung
jawab sosial. Dan saya pun bisa berandai, beberapa kasus yang terjadi di PT
Garam dimulai dari sikap abai terhadap tanggung jawab sosial ini.
Oh iya, hampir lupa, kekumuhan di musim
hujan di desa Pinggirpapas, menghapus banyak kenangan masa kecil saya. Mungkin
Anda pembaca bisa merasakan betapa sentimentalnya rindu saya gegara hilangnya
kenangan itu?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar