Hujan, Sampah, dan Masa Kecil - santriwarrior

Breaking

Header Ads

SANTRIWARRIOR 728X90

Senin, 11 Desember 2017

Hujan, Sampah, dan Masa Kecil

Oleh Set Wahedi

Alasan pulang kampung kadang absurd: rindu keluarga, rindu pohon depan rumah, rindu teman-teman lama, dan rindu kabar tetangga. Alasan rindu semakin absurd, ketika kerinduan itu timbul di sela-sela gemuruh tetasan kaki hujan. Apalagi tetasan kaki hujan itu tampak menggerutu di kaca bus. Ah, mungkin memang tak ada alasan yang tepat untuk sebuah kepulangan kecuali dengan kata singkat dan sederhana: rindu.
Padahal, di tengah membanjirnya “alat-elektronik-pintar”, rindu semisal embun di pagi hari. Bening dan indah membuka pagi, lalu sirna dalam helaan siang. Kalau kita rindu pada keluarga, kita bisa telpon, kirim gambar, video call dan lainnya. Kalau rindu pada teman-teman lama, kita bisa haha-hihi di group wa. Bahkan di group wa itulah, kita bisa mengalami satu peristiwa dalam satu garis waktu di lain ruang. Tapi rindu memang tak terjemah dan absurd. Karena itu, entah seperti apa wujudnya, rindu menjadi satu-satunya kata yang mesti diucapkan dengan indah dan sepenuh jiwa.
Pada pulang-kampungku kali ini, saya disergap rindu yang sentimental. Rindu yang dirutuk dan dikutuk hujan. Seolah alam tak ingin memberi ruang bernafas kecuali dengan degup penuh rindu dan dingin. Kepalaku bergidik membayangkan raut masa kecil berkelebat di kaca bus. Raut yang gagah menantang hujan. Raut yang masa bodoh dengan angin. Raut yang bersemangat-lari di jalanan atau belajar renang di tambak-tambak, semisal di Se Enyu, Se Karim, Se Polang, dan lainnya dan lainnya. Dalam kelebat raut yang gagah itu, diam-diam terselip kelucuan: di kala hujan, kami sering menghambur dengan tubuh bugil.
Untuk menghapus sentimental rinduku, saya memilih jalur Terminal-Marengan-KarangAnyar- Pinggir. Pilihan ini di luar kebiasaan jalur saya: Nambakor-KarangAnyar-PinggirPapas. Jalur itu sedikit lebih jauh, sedikit bisa mengulur waktu untuk mengurai rindu. Selepas Marengan, saya menghadapi peminian dan waduk Brenteng PT Garam. Di kanan-kiri petak-petak pegaraman menuntun mata saya pada keluasan dan ketabahan cakrawala. Langit memang tampak tersaput mendung, sisa hujan membeceki jalan, tapi di ruas-ruas petak garam burung tellen (:puyuh) berlarian. Dan gudng-gudang garam tanpak begitu menua. Tumpukan garam di dalamnya seperti setumpukan kenangan keringat buruh: pabujaan, antek, pekerja, tokang pekol. Anehnya, pada tumpukan garam itu, saya tidak menemukan raut lusuh mandor, manteri, dan pejabat PT Garam. Benar-benar rindu yang sentimental.
Dan ketika melintasi tapal batas KarangAnyar-PinggirPapas, saya minta tukang ojek mengurangi kecepatannya. Deretan rumah makin rapat saja. Lubang dan kubangan air hujan sudah jarang di jalanan. Mungkin kebijakan dana desa benar-benar membantu, batinku menikmati jalan desa yang semakin baik.
“Banyak sampah begini, Mas” komentar tukang ojek memasuki gang kecil rumahku yang melintas di atas drainase PT Garam. Saya terkeseiap. Sejak masa kecil saya -mungkin juga sebelum saya lahir- drainase itu digunakan PT Garam untuk mengalirkan air laut ke peminian. Drainase itu dulu dalam, semacam sungai kecil. Saya dan teman-teman biasa berenang dan main pan-sampanan ketika hujan. Orang-orang di dekat drainase itu juga memasang parayeng. Singkatnya, di masa kecil saya drainase itu penuh kenangan dan penuh sumber penghasilan.
Saya benar-benar terkesiap. Rindu sentimental saya menguap begitu saja. Drainase itu kini mengalami pendangkalan. Ketika hujan tiba, genangan airnya meluap. Rumah-rumah di dekat drainase terancam. Drainase PT Garam itu kini mengancam. Tiba-tiba saya disergap gusar yang becek. Kepala saya dipenuhi sampah. Drainase PT Garam itu membuat saluran dalam kepala saya mampat. Saya ingin merutuk. Saya ingin mengutuk PT Garam. Kenapa kalian hanya berpikir keuntungan? Kenapa drainase yang kaliam gunakan tidak kalian rawat? Mungkin masih banyak lagi rutuk dan kutuk yang bisa saya hamburkan. Tapi jawabannya bisa saya pastikan: tidak. Bukan seperti itu.
Mengaca pada Kota Jakarta, sampah dan banjir bukan perkara sepele. Peran-aktif masyarakat sangat dibutuhkan. Masyarakat harus punya kesadaran, kumuh bukanlah pemandangan yang enak. Kumuh tanda kemproh, penuh penyakit dan bukan sebagian dari iman. Selain masyarakat, pemerintah desa dan PT Garam punya tanggungjawab tak kalah krusialnya. Pemerintah desa harus punya solusi dalam membangun kesadaran masyarakat untuk membangun desa yang lebih baik. Sedangkan PT Garam perlu berpikir cermat, jika kekumuhan ini berlanjut, itu bisa jadi pertanda sikap abai terhadap tanggung jawab sosial. Dan saya pun bisa berandai, beberapa kasus yang terjadi di PT Garam dimulai dari sikap abai terhadap tanggung jawab sosial ini.
Oh iya, hampir lupa, kekumuhan di musim hujan di desa Pinggirpapas, menghapus banyak kenangan masa kecil saya. Mungkin Anda pembaca bisa merasakan betapa sentimentalnya rindu saya gegara hilangnya kenangan itu?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar