Operasi (:tilang) mungkin
drama penggugah keabaian kita. Di jalan umum, ke-“pribadi”-an kita diuji
dan dibatasi. Ada ruang, ada batas. Ada kesadaran untuk membaca keduanya. SIM dan
surat kendaraan adalah benda-benda “pribadi” dalam dompet.
Tapi di jalanan, benda-benda itu menunjukkan betapa rentannya “pribadi” di depan umum.
Para polisi dapat kita lihat sebagai aktor protagonis sekaligus antagonis. Ia
menggeledah surat-surat “pribadi” kita demi menyadarkan
kita akan ruang dan batasan.
Sebagai penggugah, operasi
(:tilang)
adalah sebuah cerita sekaligus sumber cerita. Seorang teman mengeluhkan
arogansi polisi dalam operasi. Senin siang di sisi Surabaya Jembatan Suramadu,
ia berurusan dengan polisi. Dalam satu adegan singkat, ia menyerah pada nasib
tilang. Lidah ‘pers-nya tiba-tiba kelu untuk bernegosiasi dengan ‘keangkuhan’. Tapi
ia tidak menyerah. Ketika polisi memintanya tandatangan, ia men-delay. Ia meminta aktor penjaga jalanan
untuk menunjukkan surat tugas tilang. Ini bentuk partisipasi masyarakat,
kilahnya tentang keputusannya meminta surat tugas.
Sayangnya
kekuasaan –dalam bentuk apapun- tetap berpretensi mendominasi. Menguasai. Ia tidak
menginginkan suara lain. Apalagi suara sumbang dari si pelanggar. Polisi kadang
abai pada alur dan peran. Pada satu detik, ia bisa menganggap telah terjadi
pemberontakan kecil: tidak mau tandatangan. Tapi drama harus berlanjut. Si
pelanggar berang. Ia merasa di-katebelece
dengan keputusan sepihak aktor protagonis-antagonis jalanan ini. “Saya bukannya
tidak mau tandatangan. Saya ingin melihat surat tugas tilang Anda dulu,” berangnya
pada polisi yang “menyerangnya.”
Mungkin
drama memang butuh tensi. Butuh irama. Dan para aktor harus memainkannya tanpa
menghitung tensinya. Para aktor harus menciptakan dan menikmati iramanya.
Dalam
dunia film kita, polisi bukan aktor yang diperhitungkan. Ia selalu datang
terlambat di penghujung cerita. Meski menjadikan “pahlawan-kesiangan” dunia
film kita, begitu santun pada polisi. Kalau film-film luar-negeri begitu garang
menyuguhkan persoalan “pelik-rekening-gendut”, film kita masih bertutur tentang
polisi yang tegas, tegap dengan kata-kata tanpa kompromi. Dunia film kita santun
sekaligus sarkas pada polisi.
Satu waktu,
Gus Dur melempar joke polisi yang baik. Pertama, polisi tidur.
Kedua, patung polisi, dan ketiga polisi Hoegeng (mantan kapolri). Saat ditanya
tentang polisi yang lain, Gus Dur hanya tersenyum. Joke mungkin hanya kelakar,
guyonan untuk menghibur atau menertawakan diri-sendiri. Sebagai hiburan, joke
tidak perlu dimaknai lebih jauh. Sebagai tertawaan diri sendiri, joke semacam alarm yang tidak bising pada
kealpaan.
Meski begitu, joke tidak sepenuhnya hanya guyonan. Joke bisa dikatakan joke
karena mengandung kelucuan yang diterima oleh ingatan
bersama. Lucu, bisa saja karena ada ketidaklaziman; bisa saja karena persoalan
remeh-temeh menjadi begitu nyaring, atau persoalan maha-penting tampak
menjadi “begitu saja kok repot.” Sementara
ingatan bersama, menentukan seberapa jauh daya ledak joke itu terhadap kejumudan. Artinya, topik
joke merupakan daya ledak pada ingatan semua
orang untuk tertawa.
Joke
polisi baik Gus Dur semacam drama dalam skala kecil memiliki dua skenario. Pertama,
alangkah baik dan teguhnya Pak Hoegeng. Sampai-sampai kebaikan dan keteguhannya
dalam menjalankan tugas dan amanah negara dapat disejajarkan dengan keteguhan
patung polisi dan kebaikan polisi tidur. Patung polisi, sebagaimana kita lihat,
akan tegap-berdiri melaksanakan tugasnya di tepi jalan.
Dalam kondisi dan cuaca pancaroba pun, patung polisi akan tetap berdiri memberi
rambu-rambu bagi kita: alangkah bebalnya kita sehingga membutuhkan patung
untuk sekadar taat pada peraturan demi kepentingan bersama.
Kedua, alangkah sulitnya
mencari sosok polisi seperti Pak Hoegeng, sampai-sampai sosok yang bisa
menyamai kebaikannya hanya patung polisi dan polisi tidur. Kalau patung polisi
mengingatkan kewaspadaan kita, polisi tidur dengan tabah menegur keberingasan
kita. Kalau kita beringas di jalanan, polisi tidur
tidak
sungkan untuk menghentak kepongahan kita.
Alangkah lucunya kita
kalau abai pada polisi baik di luar joke Gus Dur. Beberapa waktu lalu
disiarkan, seorang polisi nyambi tambal ban. Nyambi bukanlah sekadar pilihan
hidup, saya kira. Polisi yang “nyambi” di
luar profesinya dapat diterjemahkan sebagai satu sikap
teguh. Artinya, polisi yang memilih nyambi tambal ban merupakan sosok yang
enggan untuk berurusan dengan rekening gendut. Selain polisi nyambi tambal ban, saya kira masih banyak
polisi penyambi yang baik dan teguh pada ikrar profesinya yang tidak terdeteksi
oleh media.
Kalau operasi membutuhkan
panggung drama, dan para aktor sesekali abai pada alur untuk menaikkan tensi
dan irama, saya kira catatan ini pun sekadar upaya menertawakan
seorang teman. Atau sekadar ucapan selamat, atas pemberontakannya dengan
kalimat lirih, “Mana surat tugas tilang Anda, Pak?” Bisa juga catatan ini Anda baca
sebagai operasi lain pada kesadaran kita: abainya para aktor pada alur akan
menyebabkannya begitu arogan dan pongah dan kekuasaan –meski dengan label penegakan
hukum- memang menjemukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar