Opera Jalan Raya - santriwarrior

Breaking

Header Ads

SANTRIWARRIOR 728X90

Rabu, 14 Juni 2017

Opera Jalan Raya

Operasi (:tilang) mungkin drama penggugah keabaian kita. Di jalan umum, ke-“pribadi”-an kita diuji dan dibatasi. Ada ruang, ada batas. Ada kesadaran untuk membaca keduanya. SIM dan surat kendaraan adalah benda-benda pribadi dalam dompet. Tapi di jalanan, benda-benda itu menunjukkan betapa rentannya pribadi di depan umum. Para polisi dapat kita lihat sebagai aktor protagonis sekaligus antagonis. Ia menggeledah surat-surat “pribadi” kita demi menyadarkan kita akan ruang dan batasan.

Sebagai penggugah, operasi (:tilang) adalah sebuah cerita sekaligus sumber cerita. Seorang teman mengeluhkan arogansi polisi dalam operasi. Senin siang di sisi Surabaya Jembatan Suramadu, ia berurusan dengan polisi. Dalam satu adegan singkat, ia menyerah pada nasib tilang. Lidah ‘pers-nya tiba-tiba kelu untuk bernegosiasi dengan ‘keangkuhan’. Tapi ia tidak menyerah. Ketika polisi memintanya tandatangan, ia men-delay. Ia meminta aktor penjaga jalanan untuk menunjukkan surat tugas tilang. Ini bentuk partisipasi masyarakat, kilahnya tentang keputusannya meminta surat tugas.

Sayangnya kekuasaan –dalam bentuk apapun- tetap berpretensi mendominasi. Menguasai. Ia tidak menginginkan suara lain. Apalagi suara sumbang dari si pelanggar. Polisi kadang abai pada alur dan peran. Pada satu detik, ia bisa menganggap telah terjadi pemberontakan kecil: tidak mau tandatangan. Tapi drama harus berlanjut. Si pelanggar berang. Ia merasa di-katebelece dengan keputusan sepihak aktor protagonis-antagonis jalanan ini. “Saya bukannya tidak mau tandatangan. Saya ingin melihat surat tugas tilang Anda dulu,” berangnya pada polisi yang “menyerangnya.”

Mungkin drama memang butuh tensi. Butuh irama. Dan para aktor harus memainkannya tanpa menghitung tensinya. Para aktor harus menciptakan dan menikmati iramanya.

Dalam dunia film kita, polisi bukan aktor yang diperhitungkan. Ia selalu datang terlambat di penghujung cerita. Meski menjadikan “pahlawan-kesiangan” dunia film kita, begitu santun pada polisi. Kalau film-film luar-negeri begitu garang menyuguhkan persoalan “pelik-rekening-gendut”, film kita masih bertutur tentang polisi yang tegas, tegap dengan kata-kata tanpa kompromi. Dunia film kita santun sekaligus sarkas pada polisi.

Satu waktu, Gus Dur melempar joke polisi yang baik. Pertama, polisi tidur. Kedua, patung polisi, dan ketiga polisi Hoegeng (mantan kapolri). Saat ditanya tentang polisi yang lain, Gus Dur hanya tersenyum. Joke mungkin hanya kelakar, guyonan untuk menghibur atau menertawakan diri-sendiri. Sebagai hiburan, joke tidak perlu dimaknai lebih jauh. Sebagai tertawaan diri sendiri, joke semacam alarm yang tidak bising pada kealpaan. Meski begitu, joke tidak sepenuhnya hanya guyonan. Joke bisa dikatakan joke karena mengandung kelucuan yang diterima oleh ingatan bersama. Lucu, bisa saja karena ada ketidaklaziman; bisa saja karena persoalan remeh-temeh menjadi begitu nyaring, atau persoalan maha-penting tampak menjadi begitu saja kok repot. Sementara ingatan bersama, menentukan seberapa jauh daya ledak joke itu terhadap kejumudan. Artinya, topik joke merupakan daya ledak pada ingatan semua orang untuk tertawa.

Joke polisi baik Gus Dur semacam drama dalam skala kecil memiliki dua skenario. Pertama, alangkah baik dan teguhnya Pak Hoegeng. Sampai-sampai kebaikan dan keteguhannya dalam menjalankan tugas dan amanah negara dapat disejajarkan dengan keteguhan patung polisi dan kebaikan polisi tidur. Patung polisi, sebagaimana kita lihat, akan tegap-berdiri melaksanakan tugasnya di tepi jalan. Dalam kondisi dan cuaca pancaroba pun, patung polisi akan tetap berdiri memberi rambu-rambu bagi kita: alangkah bebalnya kita sehingga membutuhkan patung untuk sekadar taat pada peraturan demi kepentingan bersama.

Kedua, alangkah sulitnya mencari sosok polisi seperti Pak Hoegeng, sampai-sampai sosok yang bisa menyamai kebaikannya hanya patung polisi dan polisi tidur. Kalau patung polisi mengingatkan kewaspadaan kita, polisi tidur dengan tabah menegur keberingasan kita. Kalau kita beringas di jalanan, polisi tidur tidak sungkan untuk menghentak kepongahan kita.

Alangkah lucunya kita kalau abai pada polisi baik di luar joke Gus Dur. Beberapa waktu lalu disiarkan, seorang polisi nyambi tambal ban. Nyambi bukanlah sekadar pilihan hidup, saya kira. Polisi yang nyambi” di luar profesinya dapat diterjemahkan sebagai satu sikap teguh. Artinya, polisi yang memilih nyambi tambal ban merupakan sosok yang enggan untuk berurusan dengan rekening gendut. Selain polisi nyambi tambal ban, saya kira masih banyak polisi penyambi yang baik dan teguh pada ikrar profesinya yang tidak terdeteksi oleh media.

Kalau operasi membutuhkan panggung drama, dan para aktor sesekali abai pada alur untuk menaikkan tensi dan irama, saya kira catatan ini pun sekadar upaya menertawakan seorang teman. Atau sekadar ucapan selamat, atas pemberontakannya dengan kalimat lirih, “Mana surat tugas tilang Anda, Pak?” Bisa juga catatan ini Anda baca sebagai operasi lain pada kesadaran kita: abainya para aktor pada alur akan menyebabkannya begitu arogan dan pongah dan kekuasaan –meski dengan label penegakan hukum- memang menjemukan.   


Tidak ada komentar:

Posting Komentar