Oleh Set Wahedi
Pengarang dan penjara, dua kata yang tak memiliki
kaitan. Kalau penjahat dan penjara barang kali mempunyai hubungan yang erat.
Meski begitu, pengarang dan penjara kadang cukup akrab. Banyak pengarang yang
besar dan lahir dalam ruang penjara. Baik penjara sebagai kurungan maupun
‘penjara’ dalam arti kekuasaan yang menyebabkan pengarang menjadi kaum eksil.
Sebut saja, Pramoedya Ananta Toer, Moechtar Lubis, Gao Xijian, Salman Rushdie,
O. Henry dan pengarang eksil lainnya.
Mereka akrab dan tumbuh sebagai pengarang dalam
penjara. Bagi mereka, penjara adalah ruang kontemplasi yang purna sekaligus
elegan buat menghadirkan ide bernas. Sehingga, karya-karya mereka memiliki
kadar dan bobot yang monumental.
Buku “Cinta Yang Hilang” karya O. Henry, salah satu
karya yang menjadi master piece cerita pendek dunia. Seperti kita tahu,
O. Henry, lahir dan besar sebagai pengarang cerita pendek setelah mengenyam
kelam kamar penjara. Bahkan, kelihaian bercerita cerpenis terkemuka Amerika ini
tak hanya sekadar bergumul dengan realitas yang menyerbunya. Tapi, O. Henry
benar-benar menyuguhkan kata-katanya sebagai pisau bedah atas warna
satire, tragis, lucu, dan kadang ironi nasib manusia. Pun, tak jarang dalam
menafsir realitas itu, O. Henry memberikan ruang lain yang terbuka bagi
pembacanya. Hal ini tak terlepas dari kemampuan O. Henry menyuguhkan cerita
yang penuh kejutan.
Cerpen “Hadiah Kejutan” dalam buku ini merupakan
puncak O. Henry mengolah realitas hidup yang penuh teka-teki dan kejutan.
Adalah Della, seorang istri yang demi memberikan hadiah yang terbaik (:rantai
platina jam tangan) bagi suaminya, rela memotong dan menjual rambut indahnya.
Sayangnya, keputusannya ini ternyata jauh dari dugaannya. Jim, si suami justru
telah menjual jam tangannya. Itu pun dilakukannya demi memberikan hadiah
terbaik untuk istrinya, yaitu jepit rambut.
Adegan haru dan penuh kejutan ini, memberikan satu
pemahaman: bahwa hidup memang penuh kejutan. Apalagi hidup dengan bumbu cinta,
ambisi, dan gelora kepuasan lainnya. Perjalanan hidup tak hanya sekadar
pencarian jati diri dan kebenaran. Tapi hidup lebih membutuhkan kepekaan. Dalam
cerita “Cinta Yang Hilang”, dan “Semata-mata Bisnis”, kita pun mendapati
panorama hidup yang tragis. Cinta di tengah kasak-kusuk kebutuhan manusia
menjadi nisbi. Pencarian seorang lelaki untuk menemukan kekasihnya (:perempuan
dengan tahi lalat dekat alisnya), ternyata berujung di ruang putus asa (:bunuh
diri). Fatalnya, keputus-asaan ini tersebab ketakjujuran seorang majikan
penginapan yang lebih mengutamakan bisnis daripada berkata jujur: bahwa di
penginapannya itulah, seorang perempuan cantik dengan tahi lalat di dekat
alisnya, mati bunuh diri (“Cinta Yang Hilang”, hlm. 19-20).
Lebih jauh, cinta menjadi sesuatu yang tawar, manakala
ia dipentaskan dalam panggung ‘penghasilan’. Bahasa cinta menjadi tak berarti
di tengah dialog dollar, bank, dan daftar kebutuhan masa depan lainnya. Inilah
yang dialami oleh Bob Hart dan Cherry. Sepasang aktor-aktris ini, telah
memainkan peran yang cukup banal. Meski keduanya telah menikah selama dua
tahun, tapi di atas pentas menjelma pekerja yang ambisius. Arti cinta pun
tersamarkan. (“Semata-mata Bisnis”, hlm, 71).
Cara menghadirkan cerita penuh kejutan, bagi O. Henry
bukan semata-mata upaya menghentak alam bawah sadar. Terlebih menekankan
kenyataan hidup yang tak bisa dihitung atau direncanakan secara matematik.
Kenyataan ini dapat dilihat pada cerpen “Bukti Cerita”, “Perempuan dan Suap
Menyuap”, dan “Demi Cinta”. Dalam ketiga cerpen tersebut, hidup dengan bumbu
cinta hadir dan mengalir penuh dialektika. Percobaan sepasang suami untuk
menguji reaksi orang yang dicintainya, dengan skenario ‘pilu’ sedemikian rupa,
ternyata membuahkan kenyataan yang cukup mengenaskan: sepasang istri mereka
ternyata meninggalkan mereka. Benar-benar pergi, bukan sekadar skenario seperti
yang mereka rencanakan untuk melihat reaksi istri mereka. Dari sini, dapat
ditangkap: kenyataan ternyata lebih neraka dari skenario sadis manusia: “katakan
shack, bukankah ini pesan dari neraka? Seru tokoh Westbrook meratapi
kepergian istrinya dengan meninggalkan secarik kertas penuh pesan (“Bukti Cerita”,
hlm. 51).
Tidak berhenti di sini. Dialektika cinta yang ditawarkan
O. Henry, adalah kekuatan rasa yang menghentak di bawar kontrol kesadaran
(“Perempuan dan Suap Menyuap”); atau cinta itu sumbu api semangat untuk
menghadirkan kebahagiaan untuk orang yang kita cintai, walau jalan yang kita
tempuh kadang cukup satire: berbohong ( “Demi Cinta”).
Menikmati tujuh cerita O. Henry dalam buku “Cinta Yang
Hilang”, bak mengunyah kata-kata gurih dari balik jeruji besi: imaji yang liar.
Narasi yang menggantang. Sambil sesekali menikmati dialektika hidup dengan
cinta dan perhitungan yang tak pasti.
Sedangkan yang pasti, O. Henry mengajarkan pada kita,
penjara bukan sekadar kerangkeng hukuman bagi yang bersalah. Tapi penjara
merupakan ruang kontemplasi untuk mengolah narasi hidup lebih gurih dan
bermakna.
Judul
Buku
: Cinta Yang Hilang
Penulis
: O. Henry
Penerbit
: PT Serambi Ilmu Semeseta
Tahun
Terbit
: 2011
Tebal
: 120 Halaman
Tidak ada komentar:
Posting Komentar