Cinta dan Penjara - santriwarrior

Breaking

Header Ads

SANTRIWARRIOR 728X90

Minggu, 17 Januari 2016

Cinta dan Penjara

Oleh Set Wahedi

Pengarang dan penjara, dua kata yang tak memiliki kaitan. Kalau penjahat dan penjara barang kali mempunyai hubungan yang erat. Meski begitu, pengarang dan penjara kadang cukup akrab. Banyak pengarang yang besar dan lahir dalam ruang penjara. Baik penjara sebagai kurungan maupun ‘penjara’ dalam arti kekuasaan yang menyebabkan pengarang menjadi kaum eksil. Sebut saja, Pramoedya Ananta Toer, Moechtar Lubis, Gao Xijian, Salman Rushdie, O. Henry dan pengarang eksil lainnya.

Mereka akrab dan tumbuh sebagai pengarang dalam penjara. Bagi mereka, penjara adalah ruang kontemplasi yang purna sekaligus elegan buat menghadirkan ide bernas. Sehingga, karya-karya mereka memiliki kadar dan bobot yang monumental.

Buku “Cinta Yang Hilang” karya O. Henry, salah satu karya yang menjadi master piece cerita pendek dunia. Seperti kita tahu, O. Henry, lahir dan besar sebagai pengarang cerita pendek setelah mengenyam kelam kamar penjara. Bahkan, kelihaian bercerita cerpenis terkemuka Amerika ini tak hanya sekadar bergumul dengan realitas yang menyerbunya. Tapi, O. Henry benar-benar menyuguhkan kata-katanya sebagai  pisau bedah atas warna satire, tragis, lucu, dan kadang ironi nasib manusia. Pun, tak jarang dalam menafsir realitas itu, O. Henry memberikan ruang lain yang terbuka bagi pembacanya. Hal ini tak terlepas dari kemampuan O. Henry menyuguhkan cerita yang penuh kejutan.  

Cerpen “Hadiah Kejutan” dalam buku ini merupakan puncak O. Henry mengolah realitas hidup yang penuh teka-teki dan kejutan. Adalah Della, seorang istri yang demi memberikan hadiah yang terbaik (:rantai platina jam tangan) bagi suaminya, rela memotong dan menjual rambut indahnya. Sayangnya, keputusannya ini ternyata jauh dari dugaannya. Jim, si suami justru telah menjual jam tangannya. Itu pun dilakukannya demi memberikan hadiah terbaik untuk istrinya, yaitu jepit rambut.

Adegan haru dan penuh kejutan ini, memberikan satu pemahaman: bahwa hidup memang penuh kejutan. Apalagi hidup dengan bumbu cinta, ambisi, dan gelora kepuasan lainnya. Perjalanan hidup tak hanya sekadar pencarian jati diri dan kebenaran. Tapi hidup lebih membutuhkan kepekaan. Dalam cerita “Cinta Yang Hilang”, dan “Semata-mata Bisnis”, kita pun mendapati panorama hidup yang tragis. Cinta di tengah kasak-kusuk kebutuhan manusia menjadi nisbi. Pencarian seorang lelaki untuk menemukan kekasihnya (:perempuan dengan tahi lalat dekat alisnya), ternyata berujung di ruang putus asa (:bunuh diri). Fatalnya, keputus-asaan ini tersebab ketakjujuran seorang majikan penginapan yang lebih mengutamakan bisnis daripada berkata jujur: bahwa di penginapannya itulah, seorang perempuan cantik dengan tahi lalat di dekat alisnya, mati bunuh diri (“Cinta Yang Hilang”, hlm. 19-20).

Lebih jauh, cinta menjadi sesuatu yang tawar, manakala ia dipentaskan dalam panggung ‘penghasilan’. Bahasa cinta menjadi tak berarti di tengah dialog dollar, bank, dan daftar kebutuhan masa depan lainnya. Inilah yang dialami oleh Bob Hart dan Cherry. Sepasang aktor-aktris ini, telah memainkan peran yang cukup banal. Meski keduanya telah menikah selama dua tahun, tapi di atas pentas menjelma pekerja yang ambisius. Arti cinta pun tersamarkan. (“Semata-mata Bisnis”, hlm, 71).

Cara menghadirkan cerita penuh kejutan, bagi O. Henry bukan semata-mata upaya menghentak alam bawah sadar. Terlebih menekankan kenyataan hidup yang tak bisa dihitung atau direncanakan secara matematik. Kenyataan ini dapat dilihat pada cerpen “Bukti Cerita”, “Perempuan dan Suap Menyuap”, dan “Demi Cinta”. Dalam ketiga cerpen tersebut, hidup dengan bumbu cinta hadir dan mengalir penuh dialektika. Percobaan sepasang suami untuk menguji reaksi orang yang dicintainya, dengan skenario ‘pilu’ sedemikian rupa, ternyata membuahkan kenyataan yang cukup mengenaskan: sepasang istri mereka ternyata meninggalkan mereka. Benar-benar pergi, bukan sekadar skenario seperti yang mereka rencanakan untuk melihat reaksi istri mereka. Dari sini, dapat ditangkap: kenyataan ternyata lebih neraka dari skenario sadis manusia: “katakan shack, bukankah ini pesan dari neraka? Seru tokoh Westbrook meratapi kepergian istrinya dengan meninggalkan secarik kertas penuh pesan (“Bukti Cerita”, hlm. 51).

Tidak berhenti di sini. Dialektika cinta yang ditawarkan O. Henry, adalah kekuatan rasa yang menghentak di bawar kontrol kesadaran (“Perempuan dan Suap Menyuap”); atau cinta itu sumbu api semangat untuk menghadirkan kebahagiaan untuk orang yang kita cintai, walau jalan yang kita tempuh kadang cukup satire: berbohong ( “Demi Cinta”).

Menikmati tujuh cerita O. Henry dalam buku “Cinta Yang Hilang”, bak mengunyah kata-kata gurih dari balik jeruji besi: imaji yang liar. Narasi yang menggantang. Sambil sesekali menikmati dialektika hidup dengan cinta dan perhitungan yang tak pasti.

Sedangkan yang pasti, O. Henry mengajarkan pada kita, penjara bukan sekadar kerangkeng hukuman bagi yang bersalah. Tapi penjara merupakan ruang kontemplasi untuk mengolah narasi hidup lebih gurih dan bermakna.

Judul Buku                  : Cinta Yang Hilang
Penulis                         : O. Henry
Penerbit                       : PT Serambi Ilmu Semeseta
Tahun Terbit                : 2011
Tebal                           : 120 Halaman



Tidak ada komentar:

Posting Komentar