Ketika malam bertandang, gelap matamu serupa
sejarah: anak-anak berjalan di sudut gang. Mulut mereka menderu penuh
pertanyaan. Tentang cerita di sore hari, yang menetes seperti embun, yang lesap
semisal ciuman, antara khayal dan kenyataan.
Kala malam bertandang, dan matamu mengambang
halaman-halaman sejarah, ada baiknya kita duduk berpunggungan. Tapi jangan
seperti anak-anak di mulut gang. Juga tak perlu kita persoalkan arti cinta. Cukup
kita berbagi cerita yang tersisa. Sambil mendekap gelap dan menyeduh udara
luluh. Sesekali kita bisa menghitung bintang-bintang. Saat berulang kita jatuh
pada angka yang sama, mungkin itulah saat yang tepat untuk merapat,
“ada cerita yang selalu menjebak kita untuk bersama.”
Te lang, 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar