Kaconkset-Jogja. Hujan turun dengan derasnya. Seolah hendak menghentikan waktu dalam dingin. Tumpukan buku dan daftar hadir serta seorang perempuan berderet dingin di meja penerima tamu. Di sudut kanan ruangan, dua termos dan tumpukan suguhan ditunggui seorang lelaki dan perempuan. Seorang lelaki lainnya, berjaket abu-abu tampak ulang-alik antara meja penerima tamu dan panggung utama. Berulang ia memastikan waktu dimulainya acara. Berulang ia ngetes mic tanpa kabel dengan moncong merah. Orang-orang mulai berdatangan, meski jumlah mereka tidak lebih dari jumlah jemari dua-tangan dan kaki. Malam tampak lesuh. Seolah tak punya warna lain selain sepi. Tapi itu tak membuat surut suasana ‘Pembacaan dan Diskusi Puisi #8 PKKH UGM’ dengan tema ‘Kasidah Akar, Puisi-puisi Agus Manaji”, Jumat, 25 Januari 2013.
Menginjak pukul 19:05, pembawa acara mengambil alih-suasana. Berulang dia memberikan basa-basi dan minta aplaus. Seperti ingin mengisi 12 meja kosong di atas karpet merah lantai dasar Gedung Pusat Kebudayaan Koesnadi Harjasoemantri malam itu. Setelah semuanya terkendali, pembawa acara mempersilahkan Agus Manaji membacakan puisi-puisinya. Penyair sekaligus guru Fisika kelahiran 16 Maret 1979, ini membacakan lima puisi pilihannya: “Improvisasi Untuk Sisa Hujan”, “Kasidah Akar”, “September di Rahimmu Yang Rekah”, “Diwan Nafas”, dan “Diwan Batu-batu”. Dalam suasana yang sedikit lengang itu, Agus membacakan puisi-puisinya dengan nada dan penghayatan yang sederhana. Tidak meledak, juga tidak lembek. Dan aplaus yana mengiringinya pun sederhana.
Sehabis pembacaan puisi, acara dilanjutkan dengan diskusi. Dipandu oleh Fitri Merawati, diskusi sastra bulanan ini menghadirkan dua pembicara, yaitu Komang Ira Puspitaningsih dan Fathoni. Pembicara pertama merupakan penyair kelahiran Denpasar 31 Mei 1986. Buku kumpulan puisinya yang baru terbit berjudul ‘Kau Bukan Perawan Suci yang Tersedu’, sementara pembicara kedua merupakan esais kelahiran Banyuwangi. Pria muda ini merupakan mahasiswa Program Pascasarjana Ilmu Sastra Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Di mata kedua pembicara, puisi-puisi Agus Manaji adalah puisi-puisi dengan renungan dan nuansa alam yang kuat dan sederhana. Komang Ira dengan pembacaan genzheit, mengungkapkan bahwa untuk memahami puisi-puisi Agus Manaji diperlukan pembacaan yang berulang. Itu dilakukan untuk menemukan hal-hal baru di dalamnya. “Selalu ada hal-hal yang baru, setiap saya membaca puisi-puisi Mas Agus,” tandasnya. Bahkan Komang Ira menambahkan, “Kelihatannya agak sederhana, tapi setelah dibaca lagi dibaca lagi ternyata simbolnya banyak sekali.”
Hal yang cukup disukai Komang Ira dari puisi-puisi Agus Manaji adalah kuatnya citraan alam. Menurutnya, puisi-puisi agus manaji banyak melibatkan citraan alam. Banyak diksi alam dan hewan dalam puisi-puisinya. Terlebih, Agus Manaji begitu lihai dan kuat menguasai citraan alam yang ditampilkan. Mengenai citraan alam itu, Komang Ira mengesani, “Saya cukup menyukainya. Karena sebenarnya di balik semua itu banyak sekali filosofinya.”
Fathoni, tidak berbeda jauh dengan Komang Ira, juga melihat puisi-puisi Agus Manaji dipenuhi dengan diksi yang sangat universal. Entah itu berasal dari citraan alam maupun suasana batin. Dengan demikian, puisi-puisi Agus Manaji dicurigai berbackground sufistik. “Nah, kata-kata yang universal itu, di satu sisi pembaca akan terus mencari makna, dan di sisi lain penemuan makna itu tidak terlepas dari bangunan kata dengan realitas.”
Hal itu, menurut Fathoni tidak terlepas dari interaksi penyair dengan realitas sekitarnya. Sehingga kehadiran persona ‘aku’ dalam puisi-puisi Agus Manaji sangat menonjol sekali. Aku lirik berusahan untuk mengukuhkan dirinya. Tapi Fathoni juga mengingatkan bahwa penghadiran diksi yang umum, abstrak dan kadang terlihat klise itu, jangan sampai menjadi sampah.
Di ulasan penutup, Prof. Faruk dengan menyoroti puisi “Diwan Batu-batu” mengesani bahwa puisi Agus Manaji memiliki nuansa sufistik yang lebih menekankan proses imanensi dari yang abadi. (SW).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar