Kaconkset.Sumenep.
Slogan polisi sebagai pengayom
masyarakat masih seperti panggang jauh dari api. Polisi masih terlihat tegap
dan sedikit arogan. Sehingga persoalan penegakan hukum di tangan korps cokelat
ini hadir sebagai cerita penuh ancaman. Masyarakat seolah tidak merasa aman
berhadapan dengan pemilik surat tilangan ini. Sehingga tidak jarang, polisi
mendapat perlawanan dari masyarakat. penegakan hukum pada akhirnya menimbulkan
kegaduhan.
Peristiwa Kamis malam
(31/01/2013) paling tidak menjadi bukti penegakan hukum oleh aparat polisi,
belum sepenuhnya memberi rasa aman terhadap masayarakat. Sekitar pukul 20.30, Salamet wahedi, warga
masyarakat Desa Pinggir Papas melintas dari arah barat jalan pandian ke arah
timur per-empatan. Mendekati perempatan, lampu merah menyala. Salamet Wahedi
belok kiri dan jalan terus. Sekitar lima puluh meter ke arah utara jalan Halim
Perdana kusumah, seorang polisi dengan pakaian dinas yang terlihat tegar dan
kekar menghadangnya. Seorang polisi lainnya, dengan baju dinas dan jaket luar
mendekati Salamet Wahedi dan meminta STNK dan SIM. Setelah berbasa-basi
sedikit, Salamet Wahedi dipersilahkan untuk menunggu, sementara polisi berjaket
yang memegang STNK dan SIM bersiap-siap untuk menuliskan surat tilangan. Sontak
Salamet wahedi melakukan klarifikasi.
Klarifikasi Salamet
Wahedi untuk memastikan jenis pelanggarannya berbuntut panjang. Seorang polisi
yang pakai kaos cokelat memegang erat tangannya, dan meminta Salamet Wahedi
untuk berlaku sopan. Salamet Wahedi tetap ngotot untuk meminta klarifikasi
pelanggaran yang dilakukannya dan meminta STNK dan SIM-nya dikembalikan lebih
dulu. Dalihnya, Salamet Wahedi tidak akan melarikan diri. Tetapi polisi sedikit
bersikukuh bahwa Salamet Wahedi telah melanggar lalu-lintas, yaitu menerobos
lampu merah. Karena ngotot untuk mendapatkan STNK dan SIM-nya sebelum
diputuskan penilangan, terjadi gontok-gontokan antara Salamet wahedi dan tiga
polisi yang bertugas malam itu. Seorang polisi sempat mendorong-dorongkan
tubuhnya ke tubuh Salamet Wahedi. Gontok-gontokan antara polisi dan Salamet
wahedi ini sedikit tegang ketika Salamet Wahedi ngotot minta STNK dan SIM-nya
pada polisi yang berada di atas sepedanya. Salamet Wahedi sempat diseruduk
dengan sepeda motor. Tapi polisi itu akhirnya memberikan STNKnya dan tetap
menahan SIM-nya.
Polisi menjelaskan
bahwa kalau lampu merah menyala di perempatan, pengemudi harap berhenti. Tapi
Salamet Wahedi juga bersikukuh bahwa dia sengaja jalan terus belok kiri.
Alasannya (1) Salamet Wahedi tidak tahu bahwa di perempatan itu, belok kiri harus
mengikuti isyarat lampu. Karena menurutnya, Salamet wahedi tidak melihat rambu
itu. Untuk alasan ini, polisi sedikit berang. Menurutnya, di perempatan
itu sudah terpasang rambu yang menunjukkan
belok kiri ikuti isyarat lampu. Tapi Salamet Wahedi bersikukuh bahwa dia dari
arah barat tidak melihat itu. Sehingga, dengan mengingat rambu lampu merah
perempatan di jalan Dr. Cipto, yang berbunyi belok kiri jalan terus, Salamet
Wahedi memutuskan untuk jalan terus dengan belok kiri. Polisi dan Salamet
Wahedi pun bersitegang. Keduanya pun meluncur ke lampu merah di jalan Pandian.
Ternyata plang rambu “Belok Kiri Mengikuti Isyarat Lampu” itu memang ada, tapi
pemasangannya tidak sebagaimana mestinya. Plang itu terletak di atas lampu
merah-hijau-kuning dan menghadap ke arah selatan, sehingga kalau dari arah
barat tidak terlihat.
Di pos Polisi Halim
Perdana Kusumah, Salamet Wahedi menjelaskan bahwa dia benar-benar tidak melihat
plang rambu itu, dan mengambil keputusan untuk jalan terus dengan belok kiri
seperti yang biasa ia lakukan di lampu perempatan jalan Dr. Cipto, karena di
perempatan Dr. Cipto terpasang rambu “Belok Kiri Jalan Terus”. Salamet wahedi
menjelaskan bahwa dirinya benar-benar tidak tahu karena sudah lama ia tidak
pulang kampung. Sehingga ia tidak mengetahui kebijakan rambu-rambu lalu-lintas
di Sumenep, apalagi plang rambu di perempatan Jalan Pandian itu terpasang
salah. Penjelasan Salamet Wahedi, ternyata tak membuat polisi untuk mengendurkan
presurenya. Polisi tetap bersikukuh untuk menilang Salamet Wahedi, dan Salamet
Wahedi tetap bersikukuh tidak mau ditilang karena keputusannya semata-mata
tidak disengaja dan juga karena salahnya pemasangan plang rambu itu.
Setelah berdialog cukup alot, polisi mengajukan
pertanyaan, “Anda mau ditilang, nggak?” “Saya tidak mau ditilang.” “Kalau
begitu, SIM Anda saya tahan.” “Lho, memang ada aturan SIM dicabut kalau tidak
mau ditilang? Apa ada dasarnya?” “Anda mau ditilang, nggak?” “Nggak.” “Ya,
sudah SIM Anda saya tahan. Temui saya di Polres besok. Cari saya. Nama saya
Mahrus.” “Ya, sudah saya mau pulang.” (SW)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar