Enggan Ditilang, SIM ditahan - santriwarrior

Breaking

Header Ads

SANTRIWARRIOR 728X90

Kamis, 14 Februari 2013

Enggan Ditilang, SIM ditahan


Kaconkset.Sumenep. Slogan polisi  sebagai pengayom masyarakat masih seperti panggang jauh dari api. Polisi masih terlihat tegap dan sedikit arogan. Sehingga persoalan penegakan hukum di tangan korps cokelat ini hadir sebagai cerita penuh ancaman. Masyarakat seolah tidak merasa aman berhadapan dengan pemilik surat tilangan ini. Sehingga tidak jarang, polisi mendapat perlawanan dari masyarakat. penegakan hukum pada akhirnya menimbulkan kegaduhan.
Peristiwa Kamis malam (31/01/2013) paling tidak menjadi bukti penegakan hukum oleh aparat polisi, belum sepenuhnya memberi rasa aman terhadap masayarakat.  Sekitar pukul 20.30, Salamet wahedi, warga masyarakat Desa Pinggir Papas melintas dari arah barat jalan pandian ke arah timur per-empatan. Mendekati perempatan, lampu merah menyala. Salamet Wahedi belok kiri dan jalan terus. Sekitar lima puluh meter ke arah utara jalan Halim Perdana kusumah, seorang polisi dengan pakaian dinas yang terlihat tegar dan kekar menghadangnya. Seorang polisi lainnya, dengan baju dinas dan jaket luar mendekati Salamet Wahedi dan meminta STNK dan SIM. Setelah berbasa-basi sedikit, Salamet Wahedi dipersilahkan untuk menunggu, sementara polisi berjaket yang memegang STNK dan SIM bersiap-siap untuk menuliskan surat tilangan. Sontak Salamet wahedi melakukan klarifikasi.
Klarifikasi Salamet Wahedi untuk memastikan jenis pelanggarannya berbuntut panjang. Seorang polisi yang pakai kaos cokelat memegang erat tangannya, dan meminta Salamet Wahedi untuk berlaku sopan. Salamet Wahedi tetap ngotot untuk meminta klarifikasi pelanggaran yang dilakukannya dan meminta STNK dan SIM-nya dikembalikan lebih dulu. Dalihnya, Salamet Wahedi tidak akan melarikan diri. Tetapi polisi sedikit bersikukuh bahwa Salamet Wahedi telah melanggar lalu-lintas, yaitu menerobos lampu merah. Karena ngotot untuk mendapatkan STNK dan SIM-nya sebelum diputuskan penilangan, terjadi gontok-gontokan antara Salamet wahedi dan tiga polisi yang bertugas malam itu. Seorang polisi sempat mendorong-dorongkan tubuhnya ke tubuh Salamet Wahedi. Gontok-gontokan antara polisi dan Salamet wahedi ini sedikit tegang ketika Salamet Wahedi ngotot minta STNK dan SIM-nya pada polisi yang berada di atas sepedanya. Salamet Wahedi sempat diseruduk dengan sepeda motor. Tapi polisi itu akhirnya memberikan STNKnya dan tetap menahan SIM-nya.
Polisi menjelaskan bahwa kalau lampu merah menyala di perempatan, pengemudi harap berhenti. Tapi Salamet Wahedi juga bersikukuh bahwa dia sengaja jalan terus belok kiri. Alasannya (1) Salamet Wahedi tidak tahu bahwa di perempatan itu, belok kiri harus mengikuti isyarat lampu. Karena menurutnya, Salamet wahedi tidak melihat rambu itu. Untuk alasan ini, polisi sedikit berang. Menurutnya, di perempatan itu  sudah terpasang rambu yang menunjukkan belok kiri ikuti isyarat lampu. Tapi Salamet Wahedi bersikukuh bahwa dia dari arah barat tidak melihat itu. Sehingga, dengan mengingat rambu lampu merah perempatan di jalan Dr. Cipto, yang berbunyi belok kiri jalan terus, Salamet Wahedi memutuskan untuk jalan terus dengan belok kiri. Polisi dan Salamet Wahedi pun bersitegang. Keduanya pun meluncur ke lampu merah di jalan Pandian. Ternyata plang rambu “Belok Kiri Mengikuti Isyarat Lampu” itu memang ada, tapi pemasangannya tidak sebagaimana mestinya. Plang itu terletak di atas lampu merah-hijau-kuning dan menghadap ke arah selatan, sehingga kalau dari arah barat tidak terlihat.
Di pos Polisi Halim Perdana Kusumah, Salamet Wahedi menjelaskan bahwa dia benar-benar tidak melihat plang rambu itu, dan mengambil keputusan untuk jalan terus dengan belok kiri seperti yang biasa ia lakukan di lampu perempatan jalan Dr. Cipto, karena di perempatan Dr. Cipto terpasang rambu “Belok Kiri Jalan Terus”. Salamet wahedi menjelaskan bahwa dirinya benar-benar tidak tahu karena sudah lama ia tidak pulang kampung. Sehingga ia tidak mengetahui kebijakan rambu-rambu lalu-lintas di Sumenep, apalagi plang rambu di perempatan Jalan Pandian itu terpasang salah. Penjelasan Salamet Wahedi, ternyata tak membuat polisi untuk mengendurkan presurenya. Polisi tetap bersikukuh untuk menilang Salamet Wahedi, dan Salamet Wahedi tetap bersikukuh tidak mau ditilang karena keputusannya semata-mata tidak disengaja dan juga karena salahnya pemasangan plang rambu itu.
Setelah berdialog cukup alot, polisi mengajukan pertanyaan, “Anda mau ditilang, nggak?” “Saya tidak mau ditilang.” “Kalau begitu, SIM Anda saya tahan.” “Lho, memang ada aturan SIM dicabut kalau tidak mau ditilang? Apa ada dasarnya?” “Anda mau ditilang, nggak?” “Nggak.” “Ya, sudah SIM Anda saya tahan. Temui saya di Polres besok. Cari saya. Nama saya Mahrus.” “Ya, sudah saya mau pulang.” (SW)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar