Anak Bulan - santriwarrior

Breaking

Header Ads

SANTRIWARRIOR 728X90

Selasa, 05 Maret 2013

Anak Bulan


Ibu, cerita kelahiranku masih mengawang. Seperti rohku bergentayang. Mimpimu kejatuhan bulan, yang menitiskanku dalam rahimmu, masih membuatku gamang. Mungkinkah aku dilahirkan dengan ayah bulan yang jatuh ke mimpimu? Dan kasak-kusuk yang lain: kau mengasingkan diri sewaktu mengandungku, aku disusui kerbau, hingga riwayat pertempuran lainku, benar-benar mengikat rohku. Rohku mengawang antara bumi dan langit. Ia penasaran, Ibu. Ia masih sangsi benarkah bulan ayahku? Bulan yang bertahan di langit dengan senyum rancu. Hingga ia perlu kembali menitis pada jiwa bocah bermata bening, berkulit putih tulang. Bocah itu dilahirkan tepat pertengahan bulan di tepian sebuah desa. Bocah itu dipanggil semisal namaku Ibu,‘Joko Tole’.

***

Matahari beranjak gagu. Awan mengiringinya dengan senyum kelu. Dan pagi, berjalan bak orang kekurangan darah. Lusuh dan berdebu. Sedang burung-burung tak mampu lagi memperdengarkan kicaunya. Gemuruh truk-truk besar proyek lebih berkuasa. Panorama Desa Pinggir Papas telah beranjak jauh. selama sepuluh tahun, pasca terbentangnya Jembatan Suramadu, ia telah menjelma negeri dongeng. Negeri yang dipenuhi dengan istana pakaian dan makanan. Mall dan pusat pertokoan lainnya, yang besar dan gagah mengancam langit, tak meninggalkan kesan, bahwa sepuluh tahun lalu, desa itu hanya sepetak tanah kumuh, becek dan berbau menyengat.

Di tepi jalan yang beraspal hitam mengilat, Joko Tole dan teman-temannya berparade sepeda dengan perasaan was-was. Mereka pada mau berangkat ke sekolah. Sekolah yang letaknya diungsikan ke pinggiran desa.

“Aduh, sekolah kok jauh dari rumah ya? Sedang mall dan restoran, hanya berjarak lima meter,” seloroh Joko Tole membuat teman-temannya tertawa.
Mall dan restoran kan kebutuhan sehari-hari, Jok.” Jawab Andi, teman satu kelasnya sekenanya.

Joko Tole, di sekolahnya dikenal cerdas, ulet dan kritis. Sejak kelas satu, ia langganan bintang kelas. Kini ia duduk di kelas lima. Menurut guru wali kelasnya, Pak Sunan, Joko Tole memang pantas menyandang nama “Joko Tole”.

“Meski tidak sama, kau memiliki talenta dan bakat yang dimiliki ‘Joko Tole’. Tokoh muda yang mengharumkan  nama kerajaan Sumenep. Dengan kesaktian dan tingkah lakunya yang andhap asor, Tanah Jawa ditaklukannya.”

Begitulah, suatu hari Pak Sunan bercerita tentang ‘Joko Tole’, anak Potre Koneng. Potre Koneng hamil disebabkan mimpi kejatuhan bulan. Setelah hamil, Potre Koneng mengasingkan diri ke Goa Pajuddhan. Sembilan bulan lamanya, ia menyepi. Mendekatkan pada Yang Kuasa. Dan ketika lahir, atas beberapa pertimbangan dan masukan dari pini sepuh kerajaan, ‘Joko Tole’ juga diasingkan ke hutan. ‘Joko Tole’ disusui kerbau Mpu Kelleng. Hingga Mpu kelleng memungutnya dan mengasuhnya hingga besar.
“Apa ia dilahirkan tanpa ayah, Pak Sunan?” Joko Tole mengacungkan tangan setinggi-tingginya. Suaranya gemetar menahan ketakpuasan.

Melihat gelagat muridnya yang tak terima dengan ceritanya, Pak Sunan melempar senyum. Dari bangkunya, ia beranjak berdiri sambil melempar pandang penuh perhatian pada Joko Tole. “Begitulah kehidupan orang-orang kerajaan. Orang-orang yang dekat dengan Yang Maha Kuasa”

***

Ibu, begitukah cerita kita? Benarkan aku dilahirkan tanpa ayah? Aku masih sangsi. Seperti ‘Joko Tole’ yang bertanya tentang cerita kita, aku pun selalu bertanya-tanya: mungkinkah selain Nabi Adam dan Isa, ada makhluk lain yang lahir tanpa ayah? Ataukah ada anak manusia terbuat dari sel telur dan mimpi bulan? Tapi Guru biologi ‘Joko Tole’ menjelaskan anak manusia lahir dari rahim seorang ibu yang dimulai bertemunya sperma dan sel telur, Ibu.

Aku masih sangsi, Ibu. Siapakah sebenarnya ayahku? Benarkan mimpi kejatuhan bulanmu yang menyemai benihku? Ataukah ada skandal kerajaan hingga cerita aku anak kejatuhan bulan menyebar dan bertahan hingga sekarang?

***

Sejak mendengar cerita ‘Joko Tole’, Joko Tole seolah dibayang-bayangi penembak misterius. Ia pun mulai sangsi dan bertanya-tanya tentang keluarganya. Ia tak hanya bertanya siapa ayahnya sebenarnya. Tapi ia juga ragu dan sangsi akan sosok ibunya. Joko Tole hanya ingat betul dengan bau ketiak Bi Inung. Perempuan separuh baya yang memandikan dan menyiapkan peralatan sekolahnya.

“Ke mana ayah Bu Inung?” setaip mau berangkat sekolah, Joko Tole melemparkan pertanyaan itu pada Bi Inung. Sudah sepuluh tahun Bi Inung mengabdi pada kelurga Raden Bantrang, ayah Joko Tole.. Hingga tak kaku lagi Joko Tole memanggilnya ‘Bu’.
“Pak Bantrang sudah pergi sejak tadi pagi, Mas Tole. Habis subuh. Ada meeting yang mesti dihadiri pukul tujuh  pagi ini. Beliau takut terjebak macet.” Bi Inung, selalu punya cerita dan alasan tentang raibnya Raden Bantrang, ayah Joko Tole. Raden Bantrang pengusaha yang mulai naik daun lima tahun belakangan ini. Jaringan usahanya tersebar di mana-mana. Apalagi sebagai direktur utama, Raden Bantrang benar-benar menjadi tokoh paling sibuk dalam keluarga.

Kesibukan Raden Bantrang yang menyita sepertiga waktunya saban hari, di mata Joko Tole memaksanya hidup sebagai petualang. Joko Tole seperti dipaksa memasuki dan menyusuri jalan setapak di tengah hutan untuk tahu siapa ayahnya sebenarnya. Raden Bantrang sesungguhnya. Menelusuri jejak ayahnya, Joko Tole selalu teringat ‘Joko Tole’ tokoh utama cerita Pak Sunan. Joko Tole merasakan nasibnya mirip dengan tokoh utama cerita Pak Sunan. Joko Tole seperti terlempar pada masa yang amat lampau. Joko Tole seakan-akan mesti menaklukkan ganasnya semak-belukar-aspal, liarnya hutan-hutan beton, untuk bisa tahu pasti ayahnya.. Joko Tole, seperti tokoh cerita Pak Sunan yang namanya sama dengan dirinya, seolah merasakan dipaksa menyebrangi laut, ikut sayembara membangun gerbang Kerajaan Majapahit, sampai ia mesti rela mengawini putri raja yang buta. Sampai perjalanannya kembali ke tanah kelahirannya, dengan meninggalkan berbagai situs perjalanan. Baru kemudian, dengan ritual panjang inilah, ia mungkin bisa mengerti siapa Raden Bantrang?

Memandangi foto keluarga yang dipajang di dinding, Joko Tole diliputi kabut sangsi. Bulat wajah ayahnya, kadang-kadang hampir mirip dengan bos ibunya yang selalu mengantarkannya pulang dengan Nisan X-Trail sehabis isya. Bos ibunya selalu membawakannya oleh-oleh cokelat. Mengusap kepalanya dengan desir lembut. Seperti seorang ayah, bos ibunya memanggilnya penuh perhatian.

“Tole harus rajin belajar. Kalau besar, kerja.” Setiap memberi perhatian padanya, bos ibunya juga tidak lupa untuk melirik ibunya. Bos ibunya seperti meminta kepastian. Ibunya hanya melempar senyum simpul.

Sedang kumis ayahnya, seperti kumis teman akrab ibunya. Papa Abdeng, begitulah Joko Tole diminta memanggil teman ibunya. Menurut ibunya, Papa Abdeng sudah dianggap saudara sendiri.

“Ia sudah seperti adik ayah.” Kata ibunya sewaktu Joko Tole bertanya kenapa mesti memanggil ‘Papa’ ke Om Abdeng.

Yang paling membuat Joko Tole sangsi antara kumis Papa Abdeng dan Raden Bantrang, keakraban ibunya dengan Papa Abdeng. Setiap weekend, Papa Abdeng selalu berkunjung ke rumahnya. Papa Abdeng juga sering memberinya cokelat. Papa Abdeng juga memberinya uang, dan menyuruhnya membelikan alat cukur atau rokok di toko ujung gang rumahnya. Sehabis dari toko ujung gang, Joko Tole mendapati ibunya berduaan dengan Papa Abdeng di dalam kamar tidurnya.

“Tole, Papa Abdeng lagi membetulkan baut-mur ranjang. Taruh di situ dulu alat cukurnya.” jawab ibunya saat Joko Tole mempertanyakan Papa Abdeng dan ibunya berduaan dalam kamar.
“Tole, kabel lampu kamar ibu putus.” Jelas ibunya di lain kesempatan.
“Tole, ada langit-langit kamar ibu yang mau terlepas.” Ibunya seperti sudah punya jadwal dan alasan untuk berduaan dengan Papa Abdeng.

Keakraban inilah yang membuat Joko Tole sangsi: manakah foto ayahnya? Foto yang berkumis tebal, yang menggendongnya dalam kamar tidurnya? Atau foto dengan kumis melintang tipis gagah yang memegang bahunya di ruang tamu?

***

Ibu, seperti kesangsian ‘Joko Tole’ menentukan foto ayahnya: antara foto Pak Amir dan foto Papa Abdeng, atau antara foto Pak Amir dan foto bos ibunya, aku lamat-lamat memahami dan menerima sassus yang membumbui cerita kita. Aku mulai mengira-ngira antara bulan yang jatuh dalam mimpimu, atau Adi Podai yang ramai disebut orang setelah berhasilanku mendirikan gerbang Majapahit, sebagai ayahku?

Aku mulai mencari kepastian: benarkah keajaiban bulan yang membuatmu jadi ibuku, atau ‘keakraban’ yang tak terestui yang menyebabkanmu membuangku?

***

Bel masuk berlalu 20 menit. Pak Sunan membuka pelajaran hari ini dengan wajah sumringah. Seperti matahari yang sudah seperempat memanjat punggung langit, Pak Sunan menyapa muridnya. Satu-satu.

“Sebelum Pak Sunan membahas materi hari ini, adakah yang ingin ditanyakan tentang materi kemarin?” Pak Sunan berdiri. Berjalan, keluar dari belakang meja. Berjalan ke belakang ruang kelas.

Joko Tole dengan sigap mengacungkan tangan. “Pak, benarkah Potre Koneng hamil karena mimpi kejatuhan bulan? Kalau begitu kenapa ia mesti menyingkir ke Goa Pajuddhan? Kenapa ‘Joko Tole’ dibuang?” sebelum meneruskan pertanyaannya, Joko Tole menoleh ke belakang, memastikan Pak Sunan yang berdiri di pojok kanan kelas mendengarkannya. “Saya dengar ayah Joko Tole, Adi Podai? Atau jangan-jangan telah terjadi ‘keakraban’ antara Potre Koneng dan Adi Podai?”

Setelah Joko Tole mengakhiri pertanyaannya, Pak Sunan bergerak ke depan. Ia mengambil posisi di tengah kelas. “Pertanyaan yang bagus. Tepuk tangan untuk Joko Tole dan kita semua.”

Kelas bergemuruh. Tapi gemuruh tepuk tangan tak ubahnya gemuntur megatruh di hati Joko Tole yang sangsi dan kelu.

“Menurut sumber cerita memang begitulah. Potre Koneng bermimpi kejatuhan bulan, lalu hamil. Dan lahirlah Joko Tole.” Pak Sunan kembali mengulang penjelasannya yang sudah-sudah. Pak Sunan masih bersikukuh dengan sumber asal ceritanya. Pak Sunan tidak mau memasukkan kata ‘keakraban’. “Kalau memang terjadi hubungan antara Potre Koneng dan Adi Podai, itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kesaktian mandraguna.”

Joko Tole hanya bisa menelan ludah. Memendam uneg-unegnya. Joko Tole masih yakin, bahwa telah terjadi ‘keakraban’ terlarang antara Potre Koneng dan Adi Podai. Joko Tole juga yakin, Potre Koneng tidak menyepi, tapi diungsikan oleh pihak kerajaan. Pihak kerajaan tidak mau menanggung beban aib. Mereka pun tak mau ‘Joko Tole’ dibawa pulang ke kerajaan.

“Kasihan ‘Joko Tole’. sepanjang hidupnya dihabiskan mencari sosok ayah.” Joko Tole berseru pelan. Seperti desahan untuk meratapi nasibnya. Joko Tole juga membayangkan, bahwa tokoh utama muda Pak Sunan itu juga dilanda kesangsian seperti dirinya. ‘Joko tole’ pasti mencari-cari siapa ayahnya, batinnya. Seperti aku yang selalu sangsi seperti apa wajah ayahku sebenarnya.

***

Ibu, benarkah aku anak  bulan?


Jhilatemor, Juni 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar