Ibu, cerita
kelahiranku masih mengawang. Seperti rohku bergentayang. Mimpimu kejatuhan
bulan, yang menitiskanku dalam rahimmu, masih membuatku gamang. Mungkinkah aku
dilahirkan dengan ayah bulan yang jatuh ke mimpimu? Dan kasak-kusuk yang lain:
kau mengasingkan diri sewaktu mengandungku, aku disusui kerbau, hingga riwayat
pertempuran lainku, benar-benar mengikat rohku. Rohku mengawang antara bumi dan
langit. Ia penasaran, Ibu. Ia masih sangsi benarkah bulan ayahku? Bulan yang
bertahan di langit dengan senyum rancu. Hingga ia perlu kembali menitis pada
jiwa bocah bermata bening, berkulit putih tulang. Bocah itu dilahirkan tepat
pertengahan bulan di tepian sebuah desa. Bocah itu dipanggil semisal namaku
Ibu,‘Joko Tole’.
***
Matahari
beranjak gagu. Awan mengiringinya dengan senyum kelu. Dan pagi, berjalan bak
orang kekurangan darah. Lusuh dan berdebu. Sedang burung-burung tak mampu lagi
memperdengarkan kicaunya. Gemuruh truk-truk besar proyek lebih berkuasa.
Panorama Desa Pinggir Papas telah beranjak jauh. selama sepuluh tahun, pasca
terbentangnya Jembatan Suramadu, ia telah menjelma negeri dongeng. Negeri yang
dipenuhi dengan istana pakaian dan makanan. Mall dan pusat pertokoan
lainnya, yang besar dan gagah mengancam langit, tak meninggalkan kesan, bahwa
sepuluh tahun lalu, desa itu hanya sepetak tanah kumuh, becek dan berbau
menyengat.
Di tepi jalan
yang beraspal hitam mengilat, Joko Tole dan teman-temannya berparade sepeda
dengan perasaan was-was. Mereka pada mau berangkat ke sekolah. Sekolah yang
letaknya diungsikan ke pinggiran desa.
“Aduh, sekolah kok
jauh dari rumah ya? Sedang mall dan restoran, hanya berjarak lima meter,”
seloroh Joko Tole membuat teman-temannya tertawa.
“Mall dan
restoran kan kebutuhan sehari-hari, Jok.” Jawab Andi, teman satu
kelasnya sekenanya.
Joko Tole, di
sekolahnya dikenal cerdas, ulet dan kritis. Sejak kelas satu, ia langganan
bintang kelas. Kini ia duduk di kelas lima. Menurut guru wali kelasnya, Pak
Sunan, Joko Tole memang pantas menyandang nama “Joko Tole”.
“Meski tidak
sama, kau memiliki talenta dan bakat yang dimiliki ‘Joko Tole’. Tokoh muda yang
mengharumkan nama kerajaan Sumenep. Dengan
kesaktian dan tingkah lakunya yang andhap asor, Tanah Jawa
ditaklukannya.”
Begitulah, suatu
hari Pak Sunan bercerita tentang ‘Joko Tole’, anak Potre Koneng. Potre Koneng
hamil disebabkan mimpi kejatuhan bulan. Setelah hamil, Potre Koneng
mengasingkan diri ke Goa Pajuddhan. Sembilan bulan lamanya, ia menyepi.
Mendekatkan pada Yang Kuasa. Dan ketika lahir, atas beberapa pertimbangan dan
masukan dari pini sepuh kerajaan, ‘Joko Tole’ juga diasingkan ke hutan. ‘Joko
Tole’ disusui kerbau Mpu Kelleng. Hingga Mpu kelleng memungutnya dan
mengasuhnya hingga besar.
“Apa ia
dilahirkan tanpa ayah, Pak Sunan?” Joko Tole mengacungkan tangan
setinggi-tingginya. Suaranya gemetar menahan ketakpuasan.
Melihat gelagat
muridnya yang tak terima dengan ceritanya, Pak Sunan melempar senyum. Dari
bangkunya, ia beranjak berdiri sambil melempar pandang penuh perhatian pada
Joko Tole. “Begitulah kehidupan orang-orang kerajaan. Orang-orang yang dekat
dengan Yang Maha Kuasa”
***
Ibu,
begitukah cerita kita? Benarkan aku dilahirkan tanpa ayah? Aku masih sangsi.
Seperti ‘Joko Tole’ yang bertanya tentang cerita
kita, aku pun selalu bertanya-tanya: mungkinkah selain Nabi Adam dan Isa, ada
makhluk lain yang lahir tanpa ayah? Ataukah ada anak manusia terbuat dari sel
telur dan mimpi bulan? Tapi Guru biologi ‘Joko Tole’ menjelaskan anak
manusia lahir dari rahim seorang ibu yang dimulai bertemunya sperma dan sel
telur, Ibu.
Aku masih
sangsi, Ibu. Siapakah sebenarnya ayahku? Benarkan mimpi kejatuhan bulanmu yang
menyemai benihku? Ataukah ada skandal kerajaan hingga cerita aku anak kejatuhan
bulan menyebar dan bertahan hingga sekarang?
***
Sejak mendengar
cerita ‘Joko Tole’, Joko Tole seolah dibayang-bayangi penembak misterius. Ia
pun mulai sangsi dan bertanya-tanya tentang keluarganya. Ia tak hanya bertanya
siapa ayahnya sebenarnya. Tapi ia juga ragu dan sangsi akan sosok ibunya. Joko
Tole hanya ingat betul dengan bau ketiak Bi Inung. Perempuan separuh baya yang
memandikan dan menyiapkan peralatan sekolahnya.
“Ke mana ayah Bu
Inung?” setaip mau berangkat sekolah, Joko Tole melemparkan pertanyaan itu pada
Bi Inung. Sudah sepuluh tahun Bi Inung mengabdi pada kelurga Raden Bantrang,
ayah Joko Tole.. Hingga tak kaku lagi Joko Tole memanggilnya ‘Bu’.
“Pak Bantrang
sudah pergi sejak tadi pagi, Mas Tole. Habis subuh. Ada meeting yang
mesti dihadiri pukul tujuh pagi ini.
Beliau takut terjebak macet.” Bi Inung, selalu punya cerita dan alasan tentang
raibnya Raden Bantrang, ayah Joko Tole. Raden Bantrang pengusaha yang mulai
naik daun lima tahun belakangan ini. Jaringan usahanya tersebar di mana-mana.
Apalagi sebagai direktur utama, Raden Bantrang benar-benar menjadi tokoh paling
sibuk dalam keluarga.
Kesibukan Raden
Bantrang yang menyita sepertiga waktunya saban hari, di mata Joko Tole memaksanya
hidup sebagai petualang. Joko Tole seperti dipaksa memasuki dan menyusuri jalan
setapak di tengah hutan untuk tahu siapa ayahnya sebenarnya. Raden Bantrang
sesungguhnya. Menelusuri jejak ayahnya, Joko Tole selalu teringat ‘Joko Tole’
tokoh utama cerita Pak Sunan. Joko Tole merasakan nasibnya mirip dengan tokoh
utama cerita Pak Sunan. Joko Tole seperti terlempar pada masa yang amat lampau.
Joko Tole seakan-akan mesti menaklukkan ganasnya semak-belukar-aspal, liarnya
hutan-hutan beton, untuk bisa tahu pasti ayahnya.. Joko Tole, seperti tokoh
cerita Pak Sunan yang namanya sama dengan dirinya, seolah merasakan dipaksa
menyebrangi laut, ikut sayembara membangun gerbang Kerajaan Majapahit, sampai
ia mesti rela mengawini putri raja yang buta. Sampai perjalanannya kembali ke
tanah kelahirannya, dengan meninggalkan berbagai situs perjalanan. Baru kemudian,
dengan ritual panjang inilah, ia mungkin bisa mengerti siapa Raden Bantrang?
Memandangi foto
keluarga yang dipajang di dinding, Joko Tole diliputi kabut sangsi. Bulat wajah
ayahnya, kadang-kadang hampir mirip dengan bos ibunya yang selalu mengantarkannya
pulang dengan Nisan X-Trail sehabis isya. Bos ibunya selalu membawakannya
oleh-oleh cokelat. Mengusap kepalanya dengan desir lembut. Seperti seorang
ayah, bos ibunya memanggilnya penuh perhatian.
“Tole harus
rajin belajar. Kalau besar, kerja.” Setiap memberi perhatian padanya, bos
ibunya juga tidak lupa untuk melirik ibunya. Bos ibunya seperti meminta
kepastian. Ibunya hanya melempar senyum simpul.
Sedang kumis
ayahnya, seperti kumis teman akrab ibunya. Papa Abdeng, begitulah Joko Tole
diminta memanggil teman ibunya. Menurut ibunya, Papa Abdeng sudah dianggap
saudara sendiri.
“Ia sudah seperti
adik ayah.” Kata ibunya sewaktu Joko Tole bertanya kenapa mesti memanggil
‘Papa’ ke Om Abdeng.
Yang paling
membuat Joko Tole sangsi antara kumis Papa Abdeng dan Raden Bantrang, keakraban
ibunya dengan Papa Abdeng. Setiap weekend, Papa Abdeng selalu berkunjung
ke rumahnya. Papa Abdeng juga sering memberinya cokelat. Papa Abdeng juga
memberinya uang, dan menyuruhnya membelikan alat cukur atau rokok di toko ujung
gang rumahnya. Sehabis dari toko ujung gang, Joko Tole mendapati ibunya
berduaan dengan Papa Abdeng di dalam kamar tidurnya.
“Tole, Papa
Abdeng lagi membetulkan baut-mur ranjang. Taruh di situ dulu alat cukurnya.”
jawab ibunya saat Joko Tole mempertanyakan Papa Abdeng dan ibunya berduaan
dalam kamar.
“Tole, kabel
lampu kamar ibu putus.” Jelas ibunya di lain kesempatan.
“Tole, ada langit-langit
kamar ibu yang mau terlepas.” Ibunya seperti sudah punya jadwal dan alasan
untuk berduaan dengan Papa Abdeng.
Keakraban inilah
yang membuat Joko Tole sangsi: manakah foto ayahnya? Foto yang berkumis tebal,
yang menggendongnya dalam kamar tidurnya? Atau foto dengan kumis melintang
tipis gagah yang memegang bahunya di ruang tamu?
***
Ibu, seperti
kesangsian ‘Joko Tole’ menentukan foto ayahnya:
antara foto Pak Amir dan foto Papa Abdeng, atau antara foto Pak Amir dan foto
bos ibunya, aku lamat-lamat memahami dan menerima sassus yang membumbui cerita
kita. Aku mulai mengira-ngira antara bulan yang jatuh dalam mimpimu, atau Adi
Podai yang ramai disebut orang setelah berhasilanku mendirikan gerbang
Majapahit, sebagai ayahku?
Aku mulai
mencari kepastian: benarkah keajaiban bulan yang membuatmu jadi ibuku, atau
‘keakraban’ yang tak terestui yang menyebabkanmu membuangku?
***
Bel masuk
berlalu 20 menit. Pak Sunan membuka pelajaran hari ini dengan wajah sumringah.
Seperti matahari yang sudah seperempat memanjat punggung langit, Pak Sunan
menyapa muridnya. Satu-satu.
“Sebelum Pak
Sunan membahas materi hari ini, adakah yang ingin ditanyakan tentang materi
kemarin?” Pak Sunan berdiri. Berjalan, keluar dari belakang meja. Berjalan ke
belakang ruang kelas.
Joko Tole dengan
sigap mengacungkan tangan. “Pak, benarkah Potre Koneng hamil karena mimpi
kejatuhan bulan? Kalau begitu kenapa ia mesti menyingkir ke Goa Pajuddhan?
Kenapa ‘Joko Tole’ dibuang?” sebelum meneruskan pertanyaannya, Joko Tole
menoleh ke belakang, memastikan Pak Sunan yang berdiri di pojok kanan kelas mendengarkannya.
“Saya dengar ayah Joko Tole, Adi Podai? Atau jangan-jangan telah terjadi
‘keakraban’ antara Potre Koneng dan Adi Podai?”
Setelah Joko
Tole mengakhiri pertanyaannya, Pak Sunan bergerak ke depan. Ia mengambil posisi
di tengah kelas. “Pertanyaan yang bagus. Tepuk tangan untuk Joko Tole dan kita
semua.”
Kelas
bergemuruh. Tapi gemuruh tepuk tangan tak ubahnya gemuntur megatruh di hati
Joko Tole yang sangsi dan kelu.
“Menurut sumber
cerita memang begitulah. Potre Koneng bermimpi kejatuhan bulan, lalu hamil. Dan
lahirlah Joko Tole.” Pak Sunan kembali mengulang penjelasannya yang sudah-sudah.
Pak Sunan masih bersikukuh dengan sumber asal ceritanya. Pak Sunan tidak mau
memasukkan kata ‘keakraban’. “Kalau memang terjadi hubungan antara Potre Koneng
dan Adi Podai, itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki
kesaktian mandraguna.”
Joko Tole hanya
bisa menelan ludah. Memendam uneg-unegnya. Joko Tole masih yakin, bahwa telah
terjadi ‘keakraban’ terlarang antara Potre Koneng dan Adi Podai. Joko Tole juga
yakin, Potre Koneng tidak menyepi, tapi diungsikan oleh pihak kerajaan. Pihak
kerajaan tidak mau menanggung beban aib. Mereka pun tak mau ‘Joko Tole’ dibawa
pulang ke kerajaan.
“Kasihan ‘Joko
Tole’. sepanjang hidupnya dihabiskan mencari sosok ayah.” Joko Tole berseru
pelan. Seperti desahan untuk meratapi nasibnya. Joko Tole juga membayangkan,
bahwa tokoh utama muda Pak Sunan itu juga dilanda kesangsian seperti dirinya.
‘Joko tole’ pasti mencari-cari siapa ayahnya, batinnya. Seperti aku yang selalu
sangsi seperti apa wajah ayahku sebenarnya.
***
Ibu, benarkah
aku anak bulan?
Jhilatemor, Juni
2010

Tidak ada komentar:
Posting Komentar