Ketika saya memilih menulis sebagai karier, keputusan itu
sudah final. Tidak terpikirkan untuk mencoba sesuatu yang lain atau menyerah
jika muncul sesuatu yang lebih menarik. Itu pilihan hidup (Naguib Mahfouz,
1911-2006)
Pie, saat kau Tanya mengapa aku begitu bersikeras untuk
bertahan membaca dan menulis? Aku hanya bisa katakan semua itu mungkin garis
tangan yang diberikan Tuhan padaku. Mulanya, aku menyukai buku, sumber daya
imaji membaca-menulis, karena terpaksa. Mungkin semacam kebetulan. Terpaksa,
karena (seolah) tak ada pilihan lagi untuk mengelak atau menghindar dari yang
namanya membaca dan menulis.
Oh ya, saya menyukai buku-betul-betul menyukai- sejak di
bangku kelas 3 MTs. Oh, ya masa sekolah menengahku, dihabiskan dalam lingkungan
pondok pesantre. Di penjara suci inilah -begitu kami menyebutnya- saya mulai
dipaksa untuk membaca, menghafal dan menulis khazanah ilmu bahasa Arab: nahwu,
sharraf dan aneka menu kitab kuning lainnya. Tapi lama-lama, dunia yang penuh
bunyi-bunyian hijaiyah ini, menyeret saya pada kesuntukan (:kelak saya pun
curiga, bahwa dunia pondok inilah yang banyak membentuk karakter saya menyukai
buku). Akhirnya, tak pelak lagi saya memilih dunia lain; dunia yang bisa
menghibur dan menghilangkan kepenatan: buku-buku cerita berbahasa Indonesia!
Oh, ya buku yang benar-benar saya baca dan sukai, -meski
jauh sebelum itu saya sudah membaca majalah sastra Horizon, sajak Chairil Anwar,
dan karya sastra lainnya- buku Gadis
Pantai dan Cerita dari Blora karya Pramoedya Ananta Toer. Kedua
buku ini juga merupakan buku yang pertama kali saya beli sebagai koleksi
pribadi. Dari kedua buku ini, saya menemukan keunikan dan keenakan cara tutur
yang halus tapi menohok. Membacanya saya seperti menemukan ruang-ruang
percakapan masa lampau saya: dongengan nenek, Pie!
Oh, ya saya belajar menulis mungkin karena kebetulan.
Kebetulan saya waktu itu, di pondok pesantren menjaga koperasi, dan kebetulan
teman-teman yang suka jurnalistik hendak mendirikan majalah dinding, kebetulan
pula saya diajak untuk jadi reporter, sebab kebetulan pula mereka membutuhkan
orang yang punya akses keluar-masuk dengan “bebas”, dan kebetulan saya berada
di posisi kebetulan itu. Satu tahun saya dipaksa dan dibetulkan jadi reporter,
kemudian penanggung jawab laporan utama, kemudian staff redaksi, sekretaris
redaksi hingga pimred redaksi.
Oh, ya pie, nama majalah dinding yang membesarkan saya:
Al-Anwar! Dan sejak bergabung dengan majalah dinding ini, diam-diam saya mulai
menyukai membaca-menulis! Dan saya pun mulai bersepakat dengan kenyataan: bahwa
membaca-menulis yang saya alami dan jalani bukan kebetulan dan keterpaksaan,
tapi ia semacam garis tangan yang diberikan pada saya.
***
Untuk memelihara kebebasan intelektual, orang hanya bisa
berbicara dengan dirinya sendiri dan itu harus dengan kerahasiaan paling dalam… Soul Mountain ditulis
untuk diri saya sendiri dan tanpa harapan akan diterbitkan (Gao Xingjian, pidato nobel: persoalan bagi sastra,
Desember 2000)
Pie, setelah saya mulai bisa membaca-menulis, lalu
datanglah obsesi-obsesi itu. Impian-impian itu. Dengan membaca-menulis, saya
ingin menggubah keindahan. Menganggit kata-kata yang liris, dan keinginan yang
menggelora dan lucu: nama saya ingin dibaca dan dibicarakan oleh teman-teman
saya waktu itu, Pie.
Pie, membaca-menulis di masa permulaan-perkenalan saya,
saya hanya dipenuhi obsesi dan khayalan untuk dikenal orang. Saya dipenuhi
keinginan untuk keluar dari kesuntukan. Saya dipenuhi oleh bayangan-bayangan,
bahwa dengan membaca-menulis saya dikatakan orang hebat di pondok. He…
Mula-mula saya menulis puisi. Mula-mula saya mulai
mengkhayal, membayangkan kejadian-demi-kejadian dalam untaian kata-kata, yang
menurut saya indah. Menurut saya menggugah. Tapi ternyata Pie, membaca-menulis
bukan hanya sekadar bayangan dan obsesi. Pengasuh pondokku, mengolok-olok
mereka yang menulis puisi sebagai kaum pemalas (:kelak saya pun mafhum, bahwa
ejekan pengasuh pondok ini ternyata hanya sebagai tantangan dan semacam
pertanyaan pertanggungjawaban pada para muridnya yang membaca-menulis karya
sastra untuk membuktikan bahwa yang ditulisnya benar-benar kegelisahan manusia
dan kemanusiaannya). Tapi kadang saya merasa kurang beruntung dalam menulis
puisi, Pie. Meski beberapa karya saya sempat dipublikasikan, tapi itu jauh dari
apa yang saya bayangkan. Ratusan puisi yang coba saya tulis, ternyata hanya
segelintir yang mendapat tempat.
Setelah itu, saya mulai belajar menulis prosa. Tempat
melanjutkan kebiasaan untuk berbicara dan menggambarkan persoalan panjang
lebar. Saya terkadang tertawa: menulis prosa bak mengikuti dan membuat
krusak-krusuk dalam bahtsul masail. He…
Menulis prosa, benar-benar saya geluti dan pelajari sejak
semester lima di di bangku kuliah Fakultas Bahasa danSastra Unesa, Pie. Dalam
menulis prosa, saya sedikit beruntung. Beberapa karya prosa saya mulai
dipublikasikan di beberapa media. Dibanding puisi, prosa yang lebih menemukan kemujurannya,
Pie. Oh, ya saya selalu menganggap menulis dan mengirimkan karya kita ke Koran
dan dimuat atas beberapa hal.
Pertama, tulisan memang anak yang baik. Anak yang pantas
untuk dipajang, dipamerkan lalu diperdebatkan. Kedua, tulisan kita selaras dengan
selera redaktur. Ketiga, kita dan tulisan kita memang lagi beruntung. Dan saya
selalu mengalami yang ketiga Pie. Kelak, jika kau menulis, menulislah dengan
hati dan penuh dedikasi, agar karya-karyamu menemukan ‘arti’; kau jangan
menulis karena ingin dimuat di Koran ya? Biar karyamu tidak rusak dan runyam.
Oh, ya Pie saya hampir lupa: membaca-menulis bukan hanya
sekadar obsesi dan keinginan. Tapi ia juga jalan panjang. Jalan panjang yang
kadang dipanggil sepi, sunyi dan kesendirian. Para penulis itu Pie, -penulis
yang saya baca karyanya- menjadikan membaca-menulis sebagai pergumulan hidup.
Mereka tak sekadar mencari ide, inspirasi kemudian menuliskannya dalam karya.
Tapi mereka juga dituntut untuk menemukan dan mempertahankan idenya sebagai
realitas tertinggi dalam kehidupannya.
Sehingga, Pie, tak jarang perjalanan hidup para penulis
dipenuhi cerita tragis, tragedi, ataupun sesekali romantis. Pramoedya Ananta
Toer merupakan pengarang yang rela menghabiskan sebagian besar hidupnya di
balik jeruji penjara. Ia tak membakar foto presiden, mencemooh, apalagi
meledek. Ia ditahan hanya karena tulisannya tak berkompromi dengan yang namanya
kekuasaan. Banyak karya Pramoedya yang hilang dan dibumihanguskan oleh
tangan-tangan kekuasaan negeri ini. Maaf, Pie jika terlalu sentimental
membicarakan Pramoedya.
Tapi saya belum menemukan itu Pie. Saya masih bergulat
dengan obsesi untuk dimuat, dibaca, dan dibicarakan orang. Padahal karya
sastra, mengacu pada karya-karya besar yang ditulis oleh mereka yang
menyerahkan hidupnya untuk menulis, selalu berbicara nasib manusia dan
kemanusiaan; pembicaraan nasib yang melintasi ruang-waktu penulis itu berada.
Pie, sampai di detik ini, saya sadar: saya masih mencari
dan meraba-raba diri saya: benarkah saya bercita-cita ingin membaca-menulis?
Benarkah saya akan memperjuang ide yang saya temukan? Benarkah saya akan
memiliki niat, itikad dan keinginan untuk membaca dan menyuarakan nasib manusia
dan kemanusiaannya, yang terkadang banyak mengalami kisah tragis karena
kebuasan manusia itu sendiri. Saya kadang masih ragu Pie. Ternyata
membaca-menulis ini jalan panjang. Jalan di mana kesepian, kesendirian, dan
kesunyian bertampik begitu rupa.
Dan diam-diam saya menyukainya, Pie.
***
Saya tidak kuat hidup dengan penyair (Pie, 18:25:21, 04/12/2011)
Anekdot yang selalu saya ingat, ketika seorang penulis
melamar calon istrinya. Syahdan, penulis itu datang ke rumah kekasihnya. Jelang
beberapa menit, mertua keluar menemuinya. Mereka berbicara panjang.
Mendiskusikan persoalan-persoalan hidup yang rumit. Kemudian setelah memastikan
calon menantunya baik, si mertua bertanya pekerjaan menantunya. Si menantu, si
penulis ini, dengan gagah dan mantap menjawab: saya seorang penulis. Pekerjaan
saya menulis. Mendengar jawaban calon menantunya, si mertua diam beberapa saat.
Matanya memandang lurus ke depan. Dan dengan acuh berkata: oh, hidup bersama
itu butuh pemikiran yang masak dan matang.
Pie, anekdot itu selalu membayangi dan menghibur saya. Tapi
saya katakan, anekdot itu sebenarnya sisi lain para penulis: kebiasaan buruk
yang mesti dienyahkan. Dengan kata lain, Pie, penulis itu tak selamanya mesti
membanggakan dirinya hidup dalam dunia yang hanya asyik-masyuk dengan dunia
kesepiannya dalam kamar. Tapi ia mesti menemukan kesepiannya di tengah
keramaian dan hiruk pikuk manusia dan kemanusiaannya.
Penulis itu, Pie, mengingat Octavio Paz, Salman Rushdie,
Elliot, Muhammad Iqbal, dan lainnya, adalah orang-orang yang diperhitungkan
oleh masyarakatnya. Bukan karena sekadar menulis Pie. Mereka terjun dan hidup
seperti orang pada umumnya. Meski di ruang batinnya, mereka memiliki kamar
rahasia untuk melahirkan karya sastra yang agung.
Dengan kalimat yang agak panjang –dan mungkin ini bualan
bagimu- pilihan hidup untuk jadi penulis itu memang akan mendatangkan satu
cinta yang pahit. Cinta yang tak bisa diterima semua orang. Terutama keluarga
kita. Tapi Pie, melalui surat panjang ini, saya ingin mengatakan: bahwa pilihan
untuk membaca-menulis bagi saya bukanlah hal yang bodoh. Bukanlah hal yang tak
mampu menghasilkan apa-apa. Bukanlah hal yang tak bisa berbicara dengan dunia.
Saya tak akan berjanji, atau pun berkata-kata muluk-muluk, tapi saya tetap
ingin meyakinkan, pertama-tama diri saya sendiri, bahwa membaca-menulis mesti
dengan satu tekad: merayakan hidup dengan segala fantasi, obsesi, dan
keberhasilannya, seperti yang diiinginkan oleh mereka lewat jalan panjang yang
bernama proses kreatif.
Pie, dengan membaca-menulisku, aku ingin menuliskan satu
kalimat panjang tentang kita: aku ingin menulis nasib kita, sebab tulisan itu
doa, dalam doa itu aku akan membubuhkan kebahagiaan, ketentraman, dan beberapa
keinginan: jadi ‘orang besar’ nanti, bisa berpidato di podium di depan banyak
orang, mengajakmu berkeliling dunia, mendidik anak-anak kita sebagai generasi
yang gemilang, dan dengan bangga kita akan berkata pada mereka: karena
membaca-menulislah kami berhasil merenggut dunia. Berhasil menguasai dunia! (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar