Chairil Anwar, sepotong nama yang begitu akrab dan
familiar di kalangan penikmat sastra Indonesia. Pertama kali saya “mengenal”nya,
sewaktu duduk di bangku MTs Yayasan Abdullah Sumenep. Waktu itu saya suka
membaca puisi ‘Aku’nya dengan perasaan haru. Meski waktu itu, saya belum tahu
benar siapa si binatang jalan kumpulannya
terbuang ini. Dan ketika membacakan puisi itu, saya hanya mengalir saja
memainkan nada, irama dan rima sesuai dengan kesan jiwa saya pada diksi dan
lompatan imaji eksistensi karyanya.
Baru kelas dua SMA, saya lamat-lamat “mengenal” sosok Chairil relatif utuh. Saya mengenal sisi-sisi hidup Chairil dari dongeng dan obrolan guru dan teman-teman ’bengkel sastra’ Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar. Saya mengikuti cerita Chairil di sela-sela kesibukan menghafal dan mengeja huruf hijaiyah dengan ilmu nahu, sharraf, fiqih, tauhid dan lainnya, sehingga pemahaman saya tentangnya tetaplah kurang.
Hal yang paling berkesan dari diri Chairil adalah kegigihannya untuk menunjukkan dan mempertahankan eksistensinya sebagai sosok yang ‘dibuang dari kumpulannya’. Sosok yang mampu menolak untuk berkawan dengan ketidakadilan ayahnya. Sosok yang mampu mendobrak ’kejumudan zamannya’, stagnansi pola dan gaya sastra Indonesia waktu itu. Dengan karya-karyanya yang begitu orisinil, Chairil menjelma tokoh sastra angkatan’45 yang selalu disebut-sebut namanya sepanjang sejarah sastra Indonesia, sekaligus gerbang perpuisian Indonesia modern.
Yang perlu dicermati dari karya-karya Chairil adalah proses kelahirannya yang menginspirasi perubahan bagi generasi setelahnya. Dengan sosok eksistensialisnya, Chairil menegaskan karya-karyanya tidak hanya layak untuk di’ziarahi’, tapi telah menjadi literer kegigihan seorang penulis untuk membesarkan ‘anak sulungnya’ yang bernama karya dengan penuh totalitas.
Selain kegigihannya untuk berkarya, kelahiran Chairil sebagai pelopor angkatan ’45 juga melalui proses perdebatan yang panjang. Dengan kata lain, Chairil yang ditasbihkan sebagai tonggak perpuisian modern tidak hanya sekadar dapat ’stempel’ dari H.B Jassin. Tapi keliaran dan kebinalan puisinya dibanding puisi-puisi angkatan sebelumnya, menjadi alasan utama untuk memulai perbincangan Indonesia modern dari titik kehadirannya. Meski begitu, hal yang paling perlu kita ingat dalam kelahiran Chairil adalah ‘kejujuran’ kritisisme H.B Jassin untuk memilah dan menempatkan karya Chairil pada posisi yang semestinya. Seperti kita ketahui, H.B Jassin tidak hanya menemukan karya Chairil, tapi ia juga mampu memilah dan memilih karya Chairil, yang disinyalir sebagiannya merupakan saduran dari karya orang lain. Dengan kelebihan dan kekurangan yang diungkap H. B Jassin inilah, kesempurnaan Chairil sebagai manusia dibicarakan.
Merefleksikan sosok Chairil, yang menjelma manusia
dengan berbagai sisi dan sepak terjangnya serta pengalaman kejiwaannya, yang
tertuang dalam keutuhan karya-karyanya, saya selalu mempunyai alasan dan ruang
untuk sebentar berziarah ke kebun karet kediamannya, meski hanya dengan
sepenggal tulisan. Dan tulisan ini, di tengah gemuruh perpuisian Indoensia di
abad digital ini, saya merasakannya seperti sebuah ringkih dalam sunyinya.
***
Di era globalisasi ini, semua menjadi serba mungkin. Serba terbuka. Produk instan yang dilahirkan dunai elektronik, tidak hanya menjelmakan sosok manusia mekanistis, tetapi lewat desakan birahi kebutuhan yang begitu tinggi untuk dipenuhi, telah mendorong manusia pada realitas pragmatisme-opurtunis. Ayalnya, implikasi pergeseran budaya dan karakter pola pikir ini menyeret segala dimensi kehidupan pada kotak komoditas. Bahan layak jual.
Di dalam kesenian, saya teringat pada beberapa catatan perjalanan saya mengikuti dikusi sastra. Pertama, ungkapan Yasraf A. Pilliang (2007) dalam seminar ‘peradaban baru’ Festival Seni Surabaya (FSS). Kurang lebih ungkapannya yang menghantui saya, adalah adanya kegamangan peradaban digital yang akan memerangkap gerak nalar dan ekspresi kesenian. Kedua, tanggapan seorang teman atas sajak-sajak yang beredar di koran hari ini dan dunia cyber. Menurutnya, banyak karya sastra yang diterbitkan hari ini merupakan ‘turunan’ (kalau tidak mengatakan plagiat) dari karya sastra hari kemarin. Dengan kata-katanya yang lain, para penyair telah kehilangan jati dirinya untuk terus mencari dan menemukan ‘dunia baru’ karyanya. Yang paling membuat teman saya resah, penyair-penyair generasi abad digital ini tak ubahnya pengrajian puisi.
Ketiga, catatan ini saya dapatkan dari tulisan ‘Yang Fenomenal, Yang Monumental.’ Tulisan yang dimuat Majalah Kidung (edisi 13/2009) kurang lebih mengabarkan akan ‘tradisi’ dan sosok-sosok yang mengisi daftar sejarah panjang perhelatan karya sastra (:prosa) Indonesia, khususnya di Jawa Timur. Catatan ini tidak hanya berkabar semata. Tapi ia juga menggelitik saya. Saya membayangkan, penulisnya (Arif Junianto) duduk di dalam kamar, tapi kepalanya berkelana di dinding kamar yang dikiranya Jawa Timur. Mengapa begitu? Meneropong tradisi sastra di Jawa Timur, tidak hanya mesti kita lihat pada lingkar ‘kekuasaan’ sastra semata. Tetapi juga harus membuka ingatan kita akan sejarah panjangnya. Membuka literatur yang mungkin telah mengartefak. Dengan kata lain, telah ada kelesuan dari generasi penyair maupun kritikus seni untuk membaca sastra secara lebih utuh dan menyeluruh.
Kegamangan seni, memang tidak bisa dipungkiri terus menggiring kita pada kekacauan dan kekaburan konsep sastra. Batas antara ‘yang fenomenal, yang monomental’ dan ‘yang binal, tanpa kanal’ akhirnya ditentukan seberapa jauh ‘kekuasaan’ mendukungnya. Seberapa jauh ‘kebijakan’ sastra berpihak padanya.
Kadang saya ragu akan perayaan sastra kita. Festival, pertemuan, atau seminar sastra lainnya, tak ubahnya testimoni atau cangkru’an saja. Dengan kata lain, pengarang dan karyanya di tengah kancah globalisasi ini, kadang juga dipaksa kehilangan pijakan untuk mencipta karyanya. Menemukan dunianya. Bahkan perayaan dan perdebatan kelahiran tradisi dan sosok baru dunia kesastraan kita pun, kehilangan nuansanya. Kesusastraan kita pun kehilangan prosesnya.
Kalau Chairil dipertanyakan dulu, digeledah dulu, dipertentangkan dulu, sebelum karya-karyanya dinobatkan sebagai tonggak perpuisian Indonesia modern, di era globalisasi ini kelahiran seorang pengarang cukup ditandai dengan dimuatnya karyanya di koran, kedekatannya dengan ‘sang penguasa’ dan menjadi pembicara dalam pagelaran sastra. Pameo pun menggelegar dalam benak saya: untuk jadi seniman cukup cangkru’an di dekat gedung dewan kesenian, atau ‘nyontek’ karya orang lain dan sekadar diubah kata-kata seperlunya. Sudah jadi! Atau kalau boleh saya usulkan: bagaimana kalau diadakan audisi Penyair Indonesia, semisal acara-acara di televisi kita? Ah saya jadi ngawur membicarakan kegelisahan dan kegagapan saya tentang karya seni kita masa kini.
Kembali pada pokok perbincangan sosok Chairil. Chairil ternyata telah yang menjadi ikon sastra yang benar-benar dikultuskan. Simpulan ini saya dapat dari sebuah artikel di koran Surabaya Post. Tulisan itu menguraikan bahwa setiap bulan Mei, kita pecinta sastra seolah diminta untuk berziarah ke kuburnya. Dan tulisan ini pun mungkin secuil suara untuk ikut mengultuskan Chairil. Tapi bukan tulisan ini yang akan mengultuskan Chairil Anwar. Bukan pula Jassin yang melahirkan sosok Chairil Anwar. Tetapi karyanyalah yang mengultuskannya. Sejarahlah yang melahirkan sosoknya sebagai tonggak perpuisian Indonesia modern.
Chairil Anwar tidak hanya jadi inspirator. Ia sudah memiliki trademark sendiri dalam dunia sastra. Pada kata pengantar Antologi “Derai-derai Cemara”, Asrul Sani, sastrawan gelanggang seangkatannya menceritakan tentang kenalannya, Gerrit Achterbeg, Penyair Belanda, yang begitu senang menyalaminya karena tahu ia sahabat Chairil. Di sini saya hendak mengajukan pertanyaan: bagaimana cara kita akan mengultuskan Chairil di bulan Mei di tengah kegelisahan sastra era digital ini? Merayakan kesenangan kita akan sosok Chairil yang mendobrak kejumudan zamannya?
Mungkin jawabannya masih perlu kita perbincangkan lebih jauh. Tapi paling tidak lewat tulisan ini, saya hanya ingin merefleksikan sepakterjang Chairil di tengah kegelisahan karya seni yang membuat saya gagap.
Chairil Anwar, seperti kita ketahui merupakan sosok yang penuh dedikasi. Totalitasnya dalam melahirkan dan mengasuh ‘anak sulungnya’, tak diragukan lagi. Bahkan spiritnya untuk menemukan jati diri ‘karyanya yang menjadi’ dapat kita lihat dalam rentang kehidupannya. Seperti dituturkan Evawani Alissa Ch. Anwar dalam kata pengantar antologi “Derai-Derai Cemara’, pada suatu ketika, Chairil pernah berkata kepada istrinya, “Gajah, kalau umurku panjang, aku akan jadi menteri... tapi kalau umurku ditakdirkan pendek, anak-anak sekolah akan berziarah ke kuburku menabur bunga.
Spirit dan optimis Chairil Anwar ini telah melahirkan parade karya-karya yang binal dan liar menembus konvensi dan kejumudan zamannya. Mungkin inilah yang mesti kita teladani dan kita pancangkan dalam diri kita untuk mengobarkan ke’aku’an kita dalam mencari dan menemukan bentuk karya ‘yang menjadi’.
Dengan kata lain, perayaan akan sosok Chairil Anwar hendaknya dibarengi oleh sebuah refleksi untuk kembali membaca dan merumuskan konsep sastra yang jelas. Konsep sastra yang akan melahirkan gagasan ‘dunia baru’ bagi khasanah sastra Indonesia modern.
Lewat sosok Chairil Anwar, kita mesti belajar
melahirkan karya-karya yang liar dan binal. Bukan karya yang membebek!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar