Kron - santriwarrior

Breaking

Header Ads

SANTRIWARRIOR 728X90

Minggu, 24 Maret 2013

Kron


Mengenangnya -apalagi menceritakannya- pikiranku seperti terkungkung oleh tirus senyumnya. Bibirnya yang kering dan berdebu melontarkan kata-kata tanpa beban. Seperti melempar kerikil ke tengah laut. Meski begitu, suara cemplung dan riak yang ditimbulkannya, membangkitkan praduga-praduga penuh gairah.

Sekilas postur dan penampilannya jauh dari kesan istimewa. Pakaian a la kadarnya. Compang-camping layaknya gelandangan lazimnya. Pekerjaannya hanya memunguti kaleng, botol, atau gelas air minum bekas.  Hanya urat-urat yang melintang keras dan penuh magis, menunjukkan talenta dalam jiwanya. Entah apa? 

Dan entah bagaimana aku mesti menceritakan pada kalian. Aku masih sangsi menyelidik identitasnya. Antara pemulung, tukang dongeng, juru-kisah, atau penjahat yang tiba-tiba dipaksa keadaan, aku belum bisa memutuskan. Semua kesan buruk yang pernah ditulis media, semisal pakaian kumuh, mata jelalatan, suka memainkan belati, atau berteriak-teriak di tepi jalan, begitu lekat dengan dirinya.

“Aku hanya seorang pemulung. Pemulung kaleng bekas, botol dan gelas air minum bekas,” ujarnya di beranda luar warung Bu Dango dengan raut datar. Matanya seolah pagi yang beranjak tanpa awan.
“Kau pandai bercerita. Cerita-ceritamu penuh kesan.”
“Mungkin aku juga pemulung kata-kata?” tukasnya membuat kami tertawa.

Ia datang padaku di pagi yang celingukan. Tangannya kekar dan hangat mengulurkan keakraban. Kemudian, ia menyuguhkan sepotong hikayat, yang membuka ruang-ruang tualang. Hikayat seorang kakek yang hidup dengan satu istri dan empat orang anak. Penghasilannya hanya didapat dari upah penjualan lencak kaju yang dijajakannya. Satu lencak kaju, memberinya untung tujuh ribu lima ratus rupiah.

“Kakek itu awalnya hanya melintas biasa saja. Seperti orang-orang yang menunggu detik-detik terakhir usianya. Umurnya kira-kira enam-puluhan. Berhari-hari ia datang dan pergi. Bayangan berkelebat di antara baris pohon-pohon tepi jalan dan lalu-lalang kendaraan. Baru seminggu kemudian, aku berkesempatan satu meja dengannya di Warung Bu Dango.”

“Kakek itu seolah tak ambil peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Ia tampak khusuk dengan rokok lintingan dan kopi di ujung hidungnya. Dan dengan nada penuh tanda-tanya kubuyarkan keasyikannya. Sudah lama kakek kerja jualan lancak? Tanyaku. Sebelum mengalihkan pandangannya, ia menyeruput kopinya. Sekitar dua puluh tahun lalu, jawabnya. Usia kakek kini berapa? Mungkin dua tahun lagi ajal menjemputku. Tapi juga bisa besok. Toh itu masih misteri. Setiap hari kakek dapat penghasilan berapa? Tanda-tanya di kepalaku semakin membuhul. Sebelum menjawab pertanyaanku yang kesekian, kakek itu melempar senyum mengejek. Jika dihitung, kau tidak akan percaya. Anakku empat. Semuanya pada sekolah. Yang pertama kelas tiga SMA. Yang nomor dua kelas tiga SMP. Dua lainnya kelas dua dan enam es-de. Dalam sehari, paling banter aku dapat tiga puluh ribu. Harga beras tujuhribu sekilo. Kira-kira kau bisa berhitung dengan penghasilan seperti itu? Kakek itu benar-benar mencibirku. Terus keluarga kakek hidup dari mana? Ia menyedot rokoknya dalam-dalam, lalu dihembuskan dalam satu hentakan. Seperti hendak melepas tumpukan beban di dadanya. Hanya Yang-di-Atas yang berkuasa. Aku hanya menjalankan fitrahku. Kau mau apa?”

Sejenak ia terdiam. Matanya bergerak lebih cepat. Dua bibirinya dihisapnya, seperti menghisap sari pati ceritanya. “Kakek itu telah memberiku pelajaran yang sungguh berarti.”

Pagi itu, ia menemukan jalan cerita yang panjang. Cerita yang mengingatkanku pada cara nenek berdongeng. Setiap malam, sebelum waktu lelap dalam dekap malam, nenek punya satu cerita. Dari cerita itulah, nenek mengurai berbagai peristiwa yang berkelebat silang-sengkarut. Dan di ujung dongeng, nenek selalu menyangui tidurku dengan sebutir buah ceritnya.

Sampai di sini, ia masih misteri bagiku. Mengingatnya, aku selalu dihinggapi keraguan. Tak hanya itu, katanya, ia suka gonta-ganti nama.

“Kenapa?”
“Karena nama kadang tak punya arti.”
“Tapi kadang ia bisa jadi doa.”
“Nah, karena itu aku ingin didoakan sesuai seleraku.“

Lalu ia pun tertawa lepas dengan sedikit tekanan di ujungnya. Karena tawa yang bertekniknya ini, aku berusaha mengingatnya.

***

Kali pertama aku menemukan namanya di Warung Bu Dango di halaman A6 koran minggu: Puisi-puisi Kron! Karyanya mengesankan penghayatan hidup yang dalam. Setiap kata yang dipilihnya seperti dipahami betul sejarah dan mitosnya. Ia begitu jernih menyusunnya. Seperti ricik air di pagi hari.

Kali pertama aku bertemu dengannya, aku tak sangsi kalau ia seorang penyair. Tapi di pertemuan berikutnya, kesan itu sedikit berubah. Petuah-petuahnya, ide-idenya, dan anekdot-anekdot satirnya memberiku potret-potret yang lain: seorang da’i atau aktivis.

“Da’i?”
“Kau seperti mereka yang biasa memberi nasihat atau motivasi di tivi-tivi.”
Ngaco kau.”
“Benar lho.”
“Apanya yang benar?” Kepalanya mendongak.
“Kalau bukan da’i?”
“Ya, biasalah. Seperti ceritaku tentang kakek dan empat orang anaknya beberapa waktu yang lalu.”
“Atau kau aktivis?”
“Aku tidak punya potongan,” selorohnya beranjak meninggalkanku seraya menyanggulkan karung dan menarik tegas ujung gancunya.

Senja waktu itu memanjangkan bayangannya. Bayangannya berkelebat di sela jendela Warung Bu Dango, kemudian menyelinap ke belakang kepalaku.

***

“Pesan apa Mang?” Suara renyah Bu Dango menyambutku. Aku angkat mukaku. Dan kulihat sumringah pagi memenuhi garis-garis riput pipi Bu Dango. .
“Sudah baca cerpen tentangku karya Kron?” Tanya Bu Dango dalam irama penuh kebanggaan. Binar matanya memancar kisi-kisi usia puber. “Warung Tepi Kali, judulnya.”

Sejenak Bu Dango duduk di dekatku. Jemarinya yang tirus gemetar meletakkan kopi-susu pesananku.”Suatu sore ia datang padaku. Ia utarakan niatnya untuk berbagi cerita denganku. Aku pun bercerita,” Bu Dango menerawang jauh. Kata-katanya seperti tetasan hujan awal di pagi hari. Sesekali segulung ombak menderam. Kadang raut Bu Dango terbata-bata. Tatapannya tidak karuan. Ia seperti diserbu puting-beliung dalam menyusun kata-katanya.

Aku akui, cerita Kron tentang Bu Dango dibuka dengan irisan penuh getah. Nasib suram orang cilik yang diapit buldoser kekuasaan. Ia, begitulah Kron memulai ceritanya, hanya seorang penjaga warung. Pendapatan rata-ratanya duapuluh ribu rupiah per hari. Tanggungan keluarga lima orang. Tapi, ia hidup tidak sekadar demi uang dan makan. Ia yakin selain itu ia mesti mengabdi. Karenanya ia berusaha setulus hati. Tapi uang dan makan terasa mengganggunya ketika kekuasaan menderu-deru di depan Warungnya. Narasi tentang Bu Dango runtut dan jelas. Kron punya cara pikir sederhana. Meski di beberapa bagian, ia melompat begitu jauh. Hingga pembaca butuh referensi untuk mengait-ngaitkan antara ujung satu bagian dan ujung bagian berikutnya.

Dan di ujung ceritanya, Kron sedikit pasrah. Tapi ia selalu yakin semuanya sudah diatur olehNya. Makanya, ia mati-matian mempertahankan warungnya. Hingga di malam yang kedap guntur dan awan, diam-diam buldoser merayap pelan-pelan dari belakang warungnya. Dan diam-diam pula, ia bersama suaminya menyiapkan sebotol bensin dan korek gas untuk mereka.

Sekilas cerita Kron tentang Bu Dango, bak reportase huru-hara di media massa. Tapi kilasan-kilasan lain yang tak tertangkap kamera, yang dihadirkannya benar-benar menghasilkan suasana yang bergetah dalam ingatan.

“Kron itu cara ngomongannya apa adanya. Blak-blakan. Apa itu, kalau penyiar tivi bilang, berhaluan kekiri-kirian.” Bu Dango seolah tak canggung untuk membubuhi sepak terjang Kron dengan kutipan berita yang ditangkapnya sekilas-sekilas. Dan buru-buru BU Dango melakukan pembelaan ketika dirinya sadar kalau ‘kekiri-kirian’ kurang baik. “Tapi ia shalat kok. Dua hari kemarin minta air wudlu dan numpang shalat.”

Untuk menghilang kesan negatif, Bu Dango menambhakan: “Kron memiliki pikiran yang tak sembarangan. Tak hanya aku yang diangkatnya jadi cerita. Kasus anak Bu Wiwit yang mencuri sandal, dan dijatuhi hukuman lima tahun, juga dipersoalkannya. Untuk apa kau tulis cerita itu Kron? Kataku. Untuk berbagi dengan ibu. Hanya itu yang saya bisa.”

Di tengah Bu Dango larut dalam cerita Kron, Pak Kandeng mengambang di dagu pintu. “Cerita apa, yo?” Ia memesan kopi item dan sebatang rokok. “Cerita tentang Kron, toh?” Pak Kandeng mengelap keringat yang menetas di dahinya. “Pasti tentang ceritanya yang berani itu. Ia cerdas dan tangkas menuliskan hal-hal semacam itu lho, walau hanya tamatan es-me-a. Pendapat-pendapatnya tidak asal.”

Nggak makan Pak? Suara Bu Dango dari dapur memotong kata-kata Pak Kandeng. Pak Kandeng tersenyum kecil. “Ngopi aja Bu Dango. Sudah sarapan di rumah tadi.” Lalu melanjutkan ceritanya, “Kron itu tafsir Al-Qur’annya fasih. Ia mampu menangkap dan menerangkan isinya dengan detail. Tapi yang membuatku tak habis pikir keberaniannya yang menggebu-gebu.”

Pagi itu ditutup dengan sedikit resah: sudah dua hari Kron tidak nongol di beranda pagi dan senja Warung Bu Dango.
***
Aku tidak bisa menceritakannya secara pasti. Belum bisa! Keraguan dan kegamanganku semakin berlapis. Pencarianku akan siapa sebenarnya Kron, menambah lapisan gelap jejaknya. Tapi hal yang perlu diingat, berdasar simpulanku: Kron adalah orang yang memiliki dunia sendiri. Di mataku dan di mata orang-orang seperti Bu Aslan, Bu Dango, Pak Kandeng, Bu Wiwit, Kron sosok yang pemberani. Diam-diam pun, kami bersaksi tentang totalitasnya berbicara nasib yang terinjak. Karena itu, ketika Kron menghilang seminggu lamanya, kami pun diserbu perasaan was-was.

Dan pagi ini, perasaan itu bergetar hebat. Orang-orang bergegas ke tengah kota. Isu tak sedap menyelinap di sela deru kendaraan. Penguasa kota marah besar, begitu kabar yang bergulung seperti badai menghantam dada kami. Kami mafhum apa makna marah besar penguasa kota. Selama ini, penguasa kotalah yang menjadi bayang-bayang nasib kami. Dan tentunya, kami tak perlu ragu lagi tentang pemicu ledak kemarahannya: Kron.

Di tengah kota, tubuh Kron terpampang mengenaskan. Tubuhnya compang-camping. Ceceran darah mengering di setiap jengkal kulitnya. Aroma amis luka mememnuhi udara kota. Saat mendekati tubuhnya yang robek di sana-sini, hidungku disergap semerbak bunga setaman. Daging Kron mengelupas. Bekas cambukan menyayat dalam. Bibirnya menggumam pedih. Di sekelilingnya, puluhan mata tersedu.

Di bawah langit kelabu, tubuh Kron menjelma mercusuar. Dari tetasan darahnya yang kental, berpercikan butir kristal. Semisal cahaya kunang-kunang di malam pekat.

“Dosa apakah yang kau perbuat, Kawan?” Bisikku di telinganya. Telinganya seperti lorong gelap dengan suara-suara aneh.
“Aku hanya pemulung,” senyumnya bangga. Kedua tapuk matanya berkaca-kaca, memancarkan kebeningan bintang-bintang. Kebeningan yang membentangkan perjalanan maha-panjang. Perjalanan para pemulung.
           

Lidahwetan, maret 2009
Note: Lencak kaju: dipan kayu/ tempat tidur yang terbuat dari kayu.

1 komentar: