Mengenangnya -apalagi menceritakannya- pikiranku seperti terkungkung oleh
tirus senyumnya. Bibirnya yang kering dan berdebu melontarkan kata-kata tanpa
beban. Seperti melempar kerikil ke tengah laut. Meski begitu, suara cemplung
dan riak yang ditimbulkannya, membangkitkan praduga-praduga penuh gairah.
Sekilas postur dan penampilannya jauh dari kesan istimewa. Pakaian a la
kadarnya. Compang-camping layaknya gelandangan lazimnya. Pekerjaannya hanya
memunguti kaleng, botol, atau gelas air minum bekas. Hanya urat-urat yang melintang keras dan penuh
magis, menunjukkan talenta dalam jiwanya. Entah apa?
Dan entah bagaimana aku mesti menceritakan pada kalian. Aku masih sangsi
menyelidik identitasnya. Antara pemulung, tukang dongeng, juru-kisah, atau
penjahat yang tiba-tiba dipaksa keadaan, aku belum bisa memutuskan. Semua kesan
buruk yang pernah ditulis media, semisal pakaian kumuh, mata jelalatan, suka
memainkan belati, atau berteriak-teriak di tepi jalan, begitu lekat dengan
dirinya.
“Aku hanya seorang pemulung. Pemulung kaleng bekas, botol dan gelas air
minum bekas,” ujarnya di beranda luar warung Bu Dango dengan raut datar.
Matanya seolah pagi yang beranjak tanpa awan.
“Kau pandai bercerita. Cerita-ceritamu penuh kesan.”
“Mungkin aku juga pemulung kata-kata?” tukasnya membuat kami tertawa.
Ia datang padaku di pagi yang celingukan. Tangannya kekar dan hangat
mengulurkan keakraban. Kemudian, ia menyuguhkan sepotong hikayat, yang membuka ruang-ruang
tualang. Hikayat seorang kakek yang hidup dengan satu istri dan empat orang
anak. Penghasilannya hanya didapat dari upah penjualan lencak kaju yang
dijajakannya. Satu lencak kaju, memberinya untung tujuh ribu lima ratus rupiah.
“Kakek itu awalnya hanya melintas biasa saja. Seperti orang-orang yang
menunggu detik-detik terakhir usianya. Umurnya kira-kira enam-puluhan.
Berhari-hari ia datang dan pergi. Bayangan berkelebat di antara baris
pohon-pohon tepi jalan dan lalu-lalang kendaraan. Baru seminggu kemudian, aku
berkesempatan satu meja dengannya di Warung Bu Dango.”
“Kakek itu seolah tak ambil peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Ia
tampak khusuk dengan rokok lintingan dan kopi di ujung hidungnya. Dan dengan
nada penuh tanda-tanya kubuyarkan keasyikannya. Sudah lama kakek kerja jualan
lancak? Tanyaku. Sebelum mengalihkan pandangannya, ia menyeruput kopinya.
Sekitar dua puluh tahun lalu, jawabnya. Usia kakek kini berapa? Mungkin dua
tahun lagi ajal menjemputku. Tapi juga bisa besok. Toh itu masih misteri.
Setiap hari kakek dapat penghasilan berapa? Tanda-tanya di kepalaku semakin
membuhul. Sebelum menjawab pertanyaanku yang kesekian, kakek itu melempar
senyum mengejek. Jika dihitung, kau tidak akan percaya. Anakku empat. Semuanya
pada sekolah. Yang pertama kelas tiga SMA. Yang nomor dua kelas tiga SMP. Dua
lainnya kelas dua dan enam es-de. Dalam sehari, paling banter aku dapat tiga
puluh ribu. Harga beras tujuhribu sekilo. Kira-kira kau bisa berhitung dengan
penghasilan seperti itu? Kakek itu benar-benar mencibirku. Terus keluarga kakek
hidup dari mana? Ia menyedot rokoknya dalam-dalam, lalu dihembuskan dalam satu
hentakan. Seperti hendak melepas tumpukan beban di dadanya. Hanya Yang-di-Atas
yang berkuasa. Aku hanya menjalankan fitrahku. Kau mau apa?”
Sejenak ia terdiam. Matanya bergerak lebih cepat. Dua bibirinya dihisapnya,
seperti menghisap sari pati ceritanya. “Kakek itu telah memberiku pelajaran
yang sungguh berarti.”
Pagi itu, ia menemukan jalan cerita yang panjang. Cerita yang mengingatkanku
pada cara nenek berdongeng. Setiap malam, sebelum waktu lelap dalam dekap
malam, nenek punya satu cerita. Dari cerita itulah, nenek mengurai berbagai
peristiwa yang berkelebat silang-sengkarut. Dan di ujung dongeng, nenek selalu menyangui
tidurku dengan sebutir buah ceritnya.
Sampai di sini, ia masih misteri bagiku. Mengingatnya, aku selalu
dihinggapi keraguan. Tak hanya itu, katanya, ia suka gonta-ganti nama.
“Kenapa?”
“Karena nama kadang tak punya arti.”
“Tapi kadang ia bisa jadi doa.”
“Nah, karena itu aku ingin didoakan sesuai seleraku.“
Lalu ia pun tertawa lepas dengan sedikit tekanan di ujungnya. Karena tawa
yang bertekniknya ini, aku berusaha mengingatnya.
***
Kali pertama aku menemukan namanya di Warung Bu Dango di halaman A6 koran
minggu: Puisi-puisi Kron! Karyanya mengesankan penghayatan hidup yang dalam. Setiap
kata yang dipilihnya seperti dipahami betul sejarah dan mitosnya. Ia begitu
jernih menyusunnya. Seperti ricik air di pagi hari.
Kali pertama aku bertemu dengannya, aku tak sangsi kalau ia seorang
penyair. Tapi di pertemuan berikutnya, kesan itu sedikit berubah. Petuah-petuahnya,
ide-idenya, dan anekdot-anekdot satirnya memberiku potret-potret yang lain:
seorang da’i atau aktivis.
“Da’i?”
“Kau seperti mereka yang biasa memberi nasihat atau motivasi di tivi-tivi.”
“Ngaco kau.”
“Ngaco kau.”
“Benar lho.”
“Apanya yang benar?” Kepalanya mendongak.
“Kalau bukan da’i?”
“Ya, biasalah. Seperti ceritaku tentang kakek dan empat orang anaknya
beberapa waktu yang lalu.”
“Atau kau aktivis?”
“Aku tidak punya potongan,” selorohnya beranjak meninggalkanku seraya menyanggulkan
karung dan menarik tegas ujung gancunya.
Senja waktu itu memanjangkan bayangannya. Bayangannya berkelebat di sela jendela
Warung Bu Dango, kemudian menyelinap ke belakang kepalaku.
***
“Pesan apa Mang?” Suara renyah Bu Dango menyambutku. Aku angkat mukaku. Dan
kulihat sumringah pagi memenuhi garis-garis riput pipi Bu Dango. .
“Sudah baca cerpen tentangku karya Kron?” Tanya Bu Dango dalam irama penuh
kebanggaan. Binar matanya memancar kisi-kisi usia puber. “Warung Tepi Kali,
judulnya.”
Sejenak Bu Dango duduk di dekatku. Jemarinya yang tirus gemetar meletakkan
kopi-susu pesananku.”Suatu sore ia datang padaku. Ia utarakan niatnya untuk
berbagi cerita denganku. Aku pun bercerita,” Bu Dango menerawang jauh.
Kata-katanya seperti tetasan hujan awal di pagi hari. Sesekali segulung ombak
menderam. Kadang raut Bu Dango terbata-bata. Tatapannya tidak karuan. Ia
seperti diserbu puting-beliung dalam menyusun kata-katanya.
Aku akui, cerita Kron tentang Bu Dango dibuka dengan irisan penuh getah. Nasib
suram orang cilik yang diapit buldoser kekuasaan. Ia, begitulah Kron
memulai ceritanya, hanya seorang penjaga warung. Pendapatan rata-ratanya duapuluh
ribu rupiah per hari. Tanggungan keluarga lima orang. Tapi, ia hidup tidak
sekadar demi uang dan makan. Ia yakin selain itu ia mesti
mengabdi. Karenanya ia berusaha setulus hati. Tapi uang dan makan terasa
mengganggunya ketika kekuasaan menderu-deru di depan Warungnya. Narasi
tentang Bu Dango runtut dan jelas. Kron punya cara pikir sederhana. Meski di
beberapa bagian, ia melompat begitu jauh. Hingga pembaca butuh referensi untuk
mengait-ngaitkan antara ujung satu bagian dan ujung bagian berikutnya.
Dan di ujung ceritanya, Kron sedikit pasrah. Tapi ia selalu yakin
semuanya sudah diatur olehNya. Makanya, ia mati-matian mempertahankan
warungnya. Hingga di malam yang kedap guntur dan awan, diam-diam buldoser
merayap pelan-pelan dari belakang warungnya. Dan diam-diam pula, ia bersama
suaminya menyiapkan sebotol bensin dan korek gas untuk mereka.
Sekilas cerita Kron tentang Bu Dango, bak reportase huru-hara di media
massa. Tapi kilasan-kilasan lain yang tak tertangkap kamera, yang dihadirkannya
benar-benar menghasilkan suasana yang bergetah dalam ingatan.
“Kron itu cara ngomongannya apa adanya. Blak-blakan. Apa itu,
kalau penyiar tivi bilang, berhaluan kekiri-kirian.” Bu Dango seolah tak
canggung untuk membubuhi sepak terjang Kron dengan kutipan berita yang
ditangkapnya sekilas-sekilas. Dan buru-buru BU Dango melakukan pembelaan ketika
dirinya sadar kalau ‘kekiri-kirian’ kurang baik. “Tapi ia shalat kok. Dua hari
kemarin minta air wudlu dan numpang shalat.”
Untuk menghilang kesan negatif, Bu Dango menambhakan: “Kron memiliki pikiran
yang tak sembarangan. Tak hanya aku yang diangkatnya jadi cerita. Kasus anak Bu
Wiwit yang mencuri sandal, dan dijatuhi hukuman lima tahun, juga dipersoalkannya.
Untuk apa kau tulis cerita itu Kron? Kataku. Untuk berbagi dengan ibu. Hanya
itu yang saya bisa.”
Di tengah Bu Dango larut dalam cerita Kron, Pak Kandeng mengambang di dagu
pintu. “Cerita apa, yo?” Ia memesan kopi item dan sebatang rokok. “Cerita
tentang Kron, toh?” Pak Kandeng mengelap keringat yang menetas di
dahinya. “Pasti tentang ceritanya yang berani itu. Ia cerdas dan tangkas menuliskan
hal-hal semacam itu lho, walau hanya tamatan es-me-a. Pendapat-pendapatnya
tidak asal.”
“Nggak makan Pak? Suara Bu Dango dari dapur memotong kata-kata Pak
Kandeng. Pak Kandeng tersenyum kecil. “Ngopi aja Bu Dango. Sudah sarapan di
rumah tadi.” Lalu melanjutkan ceritanya, “Kron itu tafsir Al-Qur’annya fasih. Ia
mampu menangkap dan menerangkan isinya dengan detail. Tapi yang membuatku tak
habis pikir keberaniannya yang menggebu-gebu.”
Pagi itu ditutup dengan sedikit resah: sudah dua hari Kron tidak nongol di
beranda pagi dan senja Warung Bu Dango.
***
Aku tidak bisa menceritakannya secara pasti. Belum bisa! Keraguan dan
kegamanganku semakin berlapis. Pencarianku akan siapa sebenarnya Kron, menambah
lapisan gelap jejaknya. Tapi hal yang perlu diingat, berdasar simpulanku: Kron
adalah orang yang memiliki dunia sendiri. Di mataku dan di mata orang-orang
seperti Bu Aslan, Bu Dango, Pak Kandeng, Bu Wiwit, Kron sosok yang pemberani. Diam-diam
pun, kami bersaksi tentang totalitasnya berbicara nasib yang terinjak. Karena
itu, ketika Kron menghilang seminggu lamanya, kami pun diserbu perasaan was-was.
Dan pagi ini, perasaan itu bergetar hebat. Orang-orang bergegas ke tengah
kota. Isu tak sedap menyelinap di sela deru kendaraan. Penguasa kota marah
besar, begitu kabar yang bergulung seperti badai menghantam dada kami. Kami
mafhum apa makna marah besar penguasa kota. Selama ini, penguasa kotalah yang
menjadi bayang-bayang nasib kami. Dan tentunya, kami tak perlu ragu lagi
tentang pemicu ledak kemarahannya: Kron.
Di tengah kota, tubuh Kron terpampang mengenaskan. Tubuhnya compang-camping.
Ceceran darah mengering di setiap jengkal kulitnya. Aroma amis luka mememnuhi
udara kota. Saat mendekati tubuhnya yang robek di sana-sini, hidungku disergap
semerbak bunga setaman. Daging Kron mengelupas. Bekas cambukan menyayat dalam.
Bibirnya menggumam pedih. Di sekelilingnya, puluhan mata tersedu.
Di bawah langit kelabu, tubuh Kron menjelma mercusuar. Dari tetasan darahnya
yang kental, berpercikan butir kristal. Semisal cahaya kunang-kunang di malam
pekat.
“Dosa apakah yang kau perbuat, Kawan?” Bisikku di telinganya. Telinganya seperti
lorong gelap dengan suara-suara aneh.
“Aku hanya pemulung,” senyumnya bangga. Kedua tapuk matanya berkaca-kaca,
memancarkan kebeningan bintang-bintang. Kebeningan yang membentangkan
perjalanan maha-panjang. Perjalanan para pemulung.
Lidahwetan, maret 2009
Note: Lencak kaju: dipan kayu/ tempat tidur yang terbuat dari kayu.

(y)
BalasHapus