DELAPAN
belas September 1945 adalah tanggal dan hari bersejarah perjuangan yang
ditandai dengan insiden bendera: para pemuda (= arek-arek Suroboyo) merobek
bendera Belanda (Merah-Putih-Biru) menjadi bendera Indonesia (Merah-Putih) di
Hotel Yamato Surabaya (sekarang Hotel Majapahit Surabaya). Insiden itu
didahului oleh gagalnya perundingan antara Sudirman (residen Surabaya) dan Mr.
W.V.Ch Ploegman untuk menurunkan bendera Belanda.
Hal
yang menarik dari insiden di sini, bendera memiliki arti yang cukup vital bagi
hadirnya sebuah bangsa. Eksistensi bendera tidak hanya sekadar sebagai tanda,
tapi bendera juga mengibarkan semangat, harga diri, spirit serta martabat
sebagai sebuah bangsa.
Kesadaran
ini telah menjadi ingatan bersama sebuah bangsa. Sehingga tidak jarang, untuk
menandai kebahagiaan atau kemurungan, bendera dikibarkan. Orang-orang yang
merasa diirinya merdeka, akan berusaha mengibarkan bendera selambai dan
setinggi mungkin. Orang-orang yang berduka akan memilih mengibarkan bendera
setengah tiang.
Lebih
jauh, kehadiran simbol nasionalisme sekaligus penanda kesadaran kita akan
ruang-wakrtu eksistensi, ternyata menjadi satu doktrin yang muncul sejak kecil.
Upacara bendera di setiap hari senin atau hari-hari besar kenegaraan, tanpa
disadari menanamkan satu kesepakatn menepatkan bendera di atas segalanya.
Bahkan bendera pun dimaksudkan untuk mewakili kesadaran dan kearifan dalam
memahami berbagai peristiwa kemanusiaan.
Dengan kata lain, di samping sebagai simbol, bendera juga menjadi penanda pembacaan kita akan peristiwa di sekitar. Bendera mengibarkan kesadaran dan kearifan untuk memahami berbagai peristiwa kemanusiaan sebagai sesuatu yang perlu dimaknai dan disuarakan.
Bendera,
baik sebagai simbol Negara maupun doktrin nasionalisme, ternyata juga
menawarkan ruang tafsir. Ruang tafsir di sini, adalah melihat dan menjadikan
bendera sebagai titik pijak menyerap dan memahami berbagai perisitiwa.
Bendera sebagai ruang tafsir ini, dapat kita lihat pada pameran tunggal M. Yunizar Mursyidi, dengan tema ‘Di Depan Warna Merah Putih’. Pameran yang diselenggarkan mulai tanggal 14-20 Februari 2012 lalu di Ruang Pamer IFI (Institut Francais Indonesia) Surabaya ini seolah mengajak kita untuk kembali mengikutkan arti dan spirit bendera dalam membaca berbagai peristiwa di negeri ini.
Duabelas
lukisan dan satu instlasi kursi dengan latar belakang warna merah putih, seolah
menjadi representasi alam bawah sadar. Yunisar menangkap dan melakukan tafsir
terhadap bentuk-bentuk kecemasan yang menghantuinya.
Kecemasan yang dialami Yunizar, tidak hanya membawa kita pada satu pemahaman bahwa di negeri ini bendera mulai terkoyak. Tapi, lebih dari itu. Sudah saatnya kita untuk bertanya tentang doktrin nasionalisme itu. Nilai dan rasa kebangsaan hanya di dengungkan di forum dan ruang-ruang rapat semata. Sementara di luar itu semua, bendera menjadi kamuflase perpecahan, tragedi kebangsaan dan kegelisahan kebudayaan kita. Hal ini dengan jelas coba dibicarakan Yunizar dengan bahasa kuas yang lugas.
Kekerasan
sosial dan terabainya nasib rakyat di depan para penguasa dapat kita lihat
lukisan “Di Depan Warna Merah Putih #1”. Sepotong wajah yang menyeruak
di antara pagar dan kursi kedudukan yang mapan, menyiratkan sebuah kritik yang
cukup tajam. Wajah yang membayang dibalik keras tembok dan kursi kekuasaan
seolah merepresentasikan nasib masyarakat Indonesia di tengah arena panggung
politik. Wajah yang menyeruak adalah wajah menyimpan narasi kelusuan, kemuakan,
dan ketakberdayaan.
Tidak
hanya itu, lewat suguhan kotak segidelapan, Yunizar seperti ingin mengingatkan
kita tentang kecemasan demi kecemasan yang terus membayang. Penegakan hukum
yang masih tebang pilih, serta ketakjelasan penyelesaian berbagai kasus, telah
menjadi akumulasi kemuakan yang satir. Para penegak hukum tak ubahnya robot
koin. Mereka mau bergerak dan bertindak kalau sudah ada ‘koin’ yang nyemplung
dalam kepala mereka (‘Di Depan Warna Merah Putih #3).
Sosok polisi, yang seyogyanya menjadi pelindung, pengayom masyarakat, justru ‘berlomba’ untuk menjadikan dirinya ‘celengan’. Maka lubang koin di kepala aparat lukisan Yunizar, seolah-olah menjadi titik persoalan mencuatnya isu rekening gendut di korp cokelat ini beberapa waktu lalu.
Mengenai kebudayaan, Yunisar lebih tajam lagi menafsir. Berbagai persoalan, semisal latah, westernisme (= amerikaisme), hingga pola hidup yang paradoks, mendapat sorotan yang cukup serius. Gambar-gambar Yunisar seolah berusaha menyuarakan bahwa ada pertanyaan besar dalam kebudayaan kita. Kebudayaan kita telah kehilangan akar dan sense jati dirinya.
Parahnya, label dunia ketiga, dengan ingatan kolonialnya, menjadikan masyarakat kita seperti tergagap-gagap dengan segala kemajuan yang datang membanjir. Mereka yang dipersepsikan lugu, eksotis, ternyata mulai lihai mengikuti gerak alur westernisasi. Sosok wanita yang ambigu –di satu sisi tubuh dipamerkan karena kemolekan eksotik dan daya tarik,dan di sisi lain ditelanjangi dan dilecehkan- pada lukisan ‘Di Depan Warna Merah Putih #4’, merupakan metafor cukup jelas untuk mengandaikan eksotisme kebudayaan kita telah tergerus.
Bahkan, kebiasaan mengekor masyarakat Indonesia, menjadi penyakit akut. Semua orang, termasuk mereka yang mengaku pelaku kebudayaan, ternyata diliputi satu wabah warholisme. Manusia kebudayaan kita telah terjebak pada pop art besar-besaran. Sehingga tak pelak lagi menelan mentah-mentah yang disuarakan kebudayaan global. Sehingga, wajah berslayer bendera Amerika Serikat pada lukisan ‘Di Depan Warna Merah Putih #5’, mengingatkan kita akan mulai bergesernya isu kebudayaan kita: dari kearifan local menuju pop art.
Maka, dengan berbagai tumpukan kecemasan dan pertanyaan besar terhadap simbol dan doktrin nasionalisme, Yunizar membaca sekelebat kegelisahan masyarakat Indonesia. Kegelisahan yang tumpah ruah dari deru modernisasi, terutama paradoks pengetahuan, intrik kekuasaan, dan kegamangan budaya mengekor. ***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar