SUMPAH PEMUDA, SAJAK AKU, DAN BUKU “PERGOLAKAN PEMIKIRAN ISLAM” DI TENGAH PERADABAN DIGITAL - santriwarrior

Breaking

Header Ads

SANTRIWARRIOR 728X90

Selasa, 05 Maret 2013

SUMPAH PEMUDA, SAJAK AKU, DAN BUKU “PERGOLAKAN PEMIKIRAN ISLAM” DI TENGAH PERADABAN DIGITAL


"Beri aku sepuluh pemuda, akan kuguncang dunia"
(Soekarno,1901-1970 )

Kata-kata mendiang presiden Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, tidak hanya berupa pepesan kosong atau igauan utopia semata. Tetapi kata-kata itu lebih berupa refleksi dengan penuh keyakinan akan peran-fungsi pemuda di tengah masyarakatnya. Karena bagaimana pun besarnya sebuah bangsa tanpa dibarengi kehadiran generasi muda yang handal, maka sesungguhnya ia hanya menunggu waktu kehancurannya. Mengapa? Pertama, dalam sejarah pereadaban umat manusia pemuda selalu mejadi agen perubahan zamannya. Hal ini bisa dilihat dalam firman Allah dalam surat Al-Anbiya ayat 60: "Mereka berkata:’kami mendengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama ibrahim. Kedua, sesuai dengan pendapat Bisono (dalam Erinawati, 2003:xii), bahwa mereka (pemuda) adalah para penumpang gerbong terdepan dari kereta api masa datang yang bertolak dari stasiun abad ke-20 menuju stasiun abad 21. sebagai penumpang terdepan tentunya, para pemuda akan merasakan, mengalami, dan melakukan berbagai atraksi perubahan terhadap masanya. Dengan kata lain, eksistensi suatu bangsa di masa mendatang bergantung pada sepakterjang generasi mudanya. Kalau generasi mudanya mampu menempa diri dengan berbagai kemampuan dan kompetensi yang mumpuni; intelektual, spritual dan nalar sosial; maka harapan hadirnya suatu tatanan negara yang baldatun toyyibatun wa rabbin ghafur tinggal menunggu waktu landas saja. Begitu pun sebaliknya.

Selain itu, secara psikis, generasi muda memiliki energi karakter yang cukup kuat. Karakter yang dimaksud dapat dipahami dari gerak energik generasi muda dalam pencarian eksistensi dirinya dalam berbagai interaksi. Lebih jauh, peranan generasi muda ini, tidak hanya mejadi trendsetter gaya hidup, tetapi ia juga mampu menjadi medium penetrasi bagi berbagai persoalan bangsa di tengah peradaban digital yang menawarkan berbagai persoalan paradoksal.

Menurut Pilliang (2007) ada enam persoalan paradoks yang dihadapi bangsa ini dalam percaturan peradaban digital ini. Pertama, paradoks pengetahuan, yaitu paradoks antara pengetahuan/ sampah pengetahuan, kebenaran/ kepalsuan, esensial/ banal, dan kemajuan/ degradasi. Kedua, ketelanjangan budaya (cultural transparency). Keadaan ini disebabkan oleh belum adanya aturan dan pembatasan dalam penggunaan dunia informasi. Ketiga, budaya ekses (culture of excess). Perkembangan peradaban digital lebih didominasi oleh aneka ekses yang ditimbulkannya, dengan lebih berkembangnya efek-efek negatif dari dunia digital dan virtual, berupa aneka kejahatan, baik yang nampak maupun dalam dunia maya.
Keempat, ketakpastian etis (ethical indelerminacy). Peradaban digital membangun dunia sebagai sebuah ’kesatuan dunia’ yang di dalamnya setiap tampilan dan representasi budaya menjadi ’milik’ setiap orang dari setiap tempat, setiap keyakinan, bahkan setiap umur. Kelima, kesenjangan digital (digital discrepancy). Perkembangan dunia virtual yang tidak didukung oleh pengelolaan dunia fisik yang memadai telah menciptakan kesenjangan antara dunia elektronik-digital yang bercirikan teknologi tinggi (high tech), dengan realitas sosial keseharian yang masih primitif atau berteknologi rendah. Keenam, kegamangan seni (dizziness of arts). Seni yang dipahami sebagai suatu ungkapan yang mampu mengakomodir berbagai bentuk ekspresi dari realitas hidup ketika dihadapkan pada kenyataan dunia yang semakin dipenuhi berbagai paradoks, maka seni akan terperangkap pada kondisi kegamangan, yaitu ketakberanian secara pasti, utuh dan penuh dalam ekspresi.
Berbagai persoalan peradoksal tersebut, tentunya merupakan persoalan yang cukup komplek dan pelik, yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan budaya tandingan atau penolakan terhadapnya. Tetapi persoalan-persoalan tersebut membutuhkan kearifan generasi bangsa untuk menerima, menghayati, mencerap, menyikapi dan memfilter persoalan-persoalan tersebut dan selanjutnya ’melahirkannya’ sebagai produk globalisasi yang tepat guna bagi bangsa ini.

Produk-produk digital seperti televisi, hanphone, internet, di tengah kehidupan memang merupakan sesuatu yang mesti diterima. Penerimaan awal akan kehadiran produk-produk lebih ditekankan pada pemahaman tentang peran-fungsi dan dampaknya terhadap perjalanan realita hidup yang selalu dipenuhi dengan fantasi dan keinginan untuk memuaskan segala kebutuhan. Yang pada tataran teknis, diusahakan adanya identifikasi terhadap berbagai dampak-dampak produk digital ini melalui penghayatan, pencerapan, yang untuk selanjutnya sikap dari generasi muda inilah yang akan memberikan suatu pemfilteran terhadap berbagai dampak negatif produk digital tersebut sekaligus dapat memadukan manfaatnya dengan realitas sosial masyarakat Indonesia yang masih primitif.

Sumpah Pemuda: Refleksi Tonggak Kesadaran Kebangsaan di Tengah Pergulatan Global

Sumpah pemuda 75 tahun silam, 28 Oktober 1928, merupakan ’ikrar setia’ dari semangat dan kesadaran para pemuda akan pentingnya persatuan dan kesatuan sebagai perekat bangsa. Yang pada tataran praktis, memiliki arti yang sangat signifikan bagi pembangunan kesadaran rakyat Republik Indonesia ke depan. Kesadaran kebangsaan yang dicetuskan dalam sumpah pemuda ini, dalam sejarah bangsa, juga telah membersitkan gelora nasionalisme yang menjadi letupan patriotik untuk melawan segala bentuk penjajahan. Lalu bagaimana relevansi sumpah pemuda bagi eksistensi bangsa di tengah peradaban digital?

Selain persoalan-persoalan kebudayaan yang paradoks, di tengah perdaban digital ini, bangsa ini juga masih dililit masalah kebangsaan yang ’akut’ dan berkepanjangan’ sentimen keagamaan, golongan dan kedaerahan; yang kalau semua persoalan tersebut tidak segera diatasi, bukan hal yang tidak mungkin, akan mengaburkan dan merontokkan nilai-nilai persatuan dan kesatuan bangsa. Di tengah semua itu, refleksi sumpah pemuda memilki peran yang cukup vital untuk kembali membangun semangat persatuan dan kesatuan bangsa (Tim Sosialisasi penyemaian jati diri bangsa, 2003:49). Hal ini bisa dipahami dari latar belakang peristiwa sumpah pemuda yang dicetuskan dengan penuh kesadaran dan semangat akan pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia untuk menjadi kuat dan maju.
Lebih jauh, kesadaran generasi muda akan peran-fungsinya, di tengah pluralitas bangsa, persoalan bangsa yang belum berakhir, dan goncangan dunia global, akan memberikan harapan baru bangsa ini untuk menatap masa depan yang lebih cerah. Dalam konteks kekinian, perlu kiranya kita mengikrarkan beberapa sumpah untuk negeri ini. Pertama, kita perlu bersumpah untuk tidak berbuat dan membasmi korupsi. Kedua, kita bersumpah untuk hidup sederhana. Ketiga, kita bersumpah untuk sadar hukum. Keempat, kita bersumpah untuk lebih mengedepankan sikap altruistik. Kelima, kita bersumpah untuk berhenti mengatasnamakan rakyat demi kepentingan pribadi atau kelompok. Keenam, kita bersumpah untuk berpegang teguh pada jati diri bangsa yang religius dan berbudaya.
Selain sumpah-sumpah itu, tentunya masih banyak sumpah lagi yang mesti kita ikrarkan untuk menjadi modal awal dari komitmen bersama untuk mengatasi krisis multidimensi negeri ini.

Sajak Aku: Menegaskan Identitas Generasi Bangsa

Kalau sampai waktuku//’Ku mau tak seorang ’kan merayu// Tidak juga kau// Tak perlu sedu sedan itu// ......//Biar peluru menembus kulitku// Aku tetap meradang menerjang// Luka dan bisa kubawa berlari// Berlari// Hingga hilang pedih peri// Dan aku akan lebih tidak perduli..//Aku mau hidup seribu tahun lagi. Sajak Aku-nya Chairil Anwar tersebut adalah sajak yang sering dideklamasikan dengan penuh kobaran semangat. Bahkan di setiap acara sastra, sajak tersebut begitu familiar untuk dibawakn oleh anak-anak muda dengan gaya mengepalkan tangan atau membusungkan dada. Meski kalau dirunut dalam sejarahnya sajak "Aku" bukanlah sajak yang lahir dari kondisi perjuangan bangsa waktu itu, melainkan sajak "Aku" ini dilatarbelakngi pergolakan subjektivitas pengarangnya sebagai bentuk penolakan atas bujuk rayu ayahnya untuk hidup bersama. Lalu apa keistimewaan sajak "Aku" ini dibanding sajak Chairil Anwar yang lain atau penyair yang lain untuk diperbincang dalam tulisan ini, kaitannya dengan peradaban digital yang telah menimbulkan berbagai kegamangan identitas diri?

Pertama, Chairil Anwar adalah salah satu pemuda yang menjadi pelopor angkatan ’45 dalam sastra Indonesia yang memberikan warna baru bagi perpuisian Indonesia Modern. Pembaharuan yang dilakukan Chairil Anwar tentunya bisa dijadikan contoh kecil untuk memacu semangat para pemuda dalam mencari jati diri ke-Aku-annya yang akan memberikan sumbangsih bagi perkembangan bangsa ini. Kedua, sajak "Aku" merupakan simbol ’pemberontakan’ Chairil Anwar terhadap ayahnya yang telah menelantarkan ibunya. Dengan kata lain, melalui sajak ini Chairil telah melakukan satu langkah pasti untuk menolak yang namanya kesewenang-wenangan serta segala macam bentuk penindasan terhadap harkat dan martabat manusia.

Ketiga, cita-cita yang tinggi. Keinginan aku mau hidup seribu tahun lagi mungkin merupakan hal yang mustahil diwujudkan. Namun kata-kata ini lebih menyiratkan pada keinginan yang cukup tinggi untuk mengukir prestasi hidup. Keempat, pendirian yang kokoh. Salah satu sikap yang perlu disimak lagi dan dicermati dengan penuh gairah dari sajak ini adalah keteguhan untuk ku mau tak seorang kan merayu// tidak juga kau// tidak sedu sedan itu; sebuah sikap yang menunjukkan akan kokhnya pendirian seorang generasi muda. Kelima, berpegang teguh dan cinta pada keadaan diri sendiri. Walau dalam berbagai suasana apa pun, dalam keadaan biar peluru menembus kulitku, hendaknya generasi muda mesti dapat mengatakan aku tetap maradang menerjang; sebuah ungkapan yang berpegang teguh pada kondisi sosial masyarakat sendiri, ketimbang harus ikut dengan orang lain.
Lebih lanjut, melalui refleksi sajak "Aku" diharapkan tumbuhnya kesadaran dan semangat kebangsaan generasi muda akan pentingnya jati diri di tengah percaturan global ini. Jati diri di sini adalah kesadaran akan hakikat kehidupan bangsa indonesia yang dikenal sebagai bangsa yang berbudaya dan beragama. Sehingga dengan kesadaran akan jati dirinya, para pemuda benar-benar mampu menjadikan dirinya sebagai garda depan perubahan sekaligus pemegang tongkat estafet dari para founding fathers bangsa ini yang bersusah payah merumuskan Indonesia sebagai negara yang Bhineka Tunggal Ika, merumuskan pancasila sebagai falsafah hidup dan mencetuskan pembukaan UUD 45 untuk bersama-sama menghapuskan segala bentuk penjajahan di atas bumi ini.

Buku "Pergolakan Pemikiran Islam": Memantapkan Eksistensi Agent Of Change

"Buku harus menjadi kapak es yang memecahkan lautan beku dalam diri kita," tulis Franz Kafka (1883-1924). Saya menemukan kata-kata itu dalam buku Dunia Tanpa Ingatan-nya Anton Kurnia setelah puluhan tahun saya mengaetahui wahyu yang pertama kali turun adalah surat Al-Alaq yang memerintahkan Nabi Muhammad Saw. untuk "bacalah dengan nama Tuhanmu".

Buku? Ah, mungkin dunia lain, tempat kita mesti mengungsi ketika kita menemukan dunia ini terlalu buruk; tulis Gustave Flaubert. Dan Sartre juga menemukan ’dunia lain’nya dalam buku. Bahkan buku bagi Sartre adalah agama yang ditemukannya. Lalu bagaimana nasib buku di negeri ini?

Buku, sepanjang sejarah peradaban umat manusia merupakan barang yang selalu membawa gagasan perubahan zamannya. Dan buku sepanjang peradaban manusia selalu menajdi anti tesis dari kenyataan hidup; buku Dr. Zhivago-nya Borris Pasternak dianggap kontra-revolusi oleh penguasa Uni Soviet; buku Perempuan di Titik Nol, telah menyebabkan pengarangnya, Nawal El-Saadawi, dianggap melakukan ’kajahatan politik’ terhadap rezim Anwar Sadat; dan buku-buku lainnya yang ditampilkan sebagai bentuk anti tesis terhadap lika-liku zamannya. Lebih-lebih buku kadang lahir sebagai ’penyambung lidah rakyat’ dan alat perlawanan terhadap kekuasaan yang menindas.

Di negeri ini, buku juga pernah mengalami ‘era kegelapan’ di rezim orde baru. Buku-buku karya Pramoedya, Tan Malaka, dan pengarang rakyat lainnya tidak mendapat ruang gerak yang semestinya sebagai sumber ilmu. Bahkan tidak jarang karya-karya mesti lenyap ditelan kepicikan para penguasa.

Baru di zaman reformasi ini, buku-buku yang selama ini ’berlabel’ hitam, bisa beredar dan dinikmati oleh setiap orang yang ’suka’ baca. Keberadaan buku, yang sudah mendapat nafas segar ini, diharapkan mampu dipahami oleh generasi muda kita sebagai wahana mencerdaskan kehidupan bangsa yang beberapa dekade orde baru telah terabaikan. Apalagi di tengah peradaban digital yang menuntut kompetensi penuh dari para pelakunya.
Dalam percaturan peradaban digital ini, buku merupakan pusaka yang mesti dijadikan senjata sekaligus tameng oleh generasi muda. Ini mengingat buku masih menjadi barang istimewa masyarakat kita. Buku pada tataran praktis memiliki beberapa peran yang mesti diadari oleh setiap generasi bangsa. Pertama, buku merupakan jendela informasi sekaligus acuan awal setiap individu mengambang potensi dirinya. Kedua, dengan buku setiap individu mampu menelorkan gagasan-gagasannya. Hal ini bisa dilihat pada sosok Ahmad Wahib, satu dari sekian para pemuda Inbdonesia, yang mengabadikan gagasannya dalam buku "Pergolakan Pemikiran Islam". Buku ini memang sempat memancing kamarahan tokoh-tokoh islam. Namun di luar itu semua, buku ini telah menjadi bukti otentik dari peran-fungsi pemuda sebagai agen perubahan zamannya.

Epilog: Menatap Masa Depan Dengan Generasi Pilihan

Era globalisasi dengan peradaban digitalnya telah menajdi ’hantu’ bagi sebagai negara-negara berkembang, termasuk Indonesia yang berada di kawasan strategis bagi lalu-lalang produk-produk ’instan’ digital tersebut. Tantangan yang dihadirkan oleh peradaban digital ini tidak hanya tuntutan pada peningkatan kualitas sumber daya manusianya saja, akan tetapi juga pada kesadaran dan kemantapan setiap individu akan eksistensinya demi menatap dam menata kehidupan yang akan datang dengan "berdikari" (berdiri di atas kaki sendiri).
Dalam konteks inilah, peranan generasi muda (baca:pemuda) sebagai tulang punggung bangsa, menempati posisi yang cukup sentral dan vital. Dengan kesadaran ini, diharapkan generasi muda indonesia mampu menempa dirinya dalam platform kebangsaan yang menitik beratkan pengembangan yang berorientasi ke "dalam" sekaligus pembekalan kemampuan intelektual yang mumpuni guna menjawab berbagai tantangan golabalisasi yang semakin kompleks. Generasi muda seperti apakah yang akan menjadi tumpuan harapan bangsa?
Berdasar uraian di atas ada beberapa kriteria generasi muda yang menjadi tumpuan harapan bangsa. Pertama, generasi muda yang bisa mengingat dan menghargai sejarah bangsanya. Seperti yang dipesankan oleh Bung Karno "jangan sekali-kali kita meninggalkan searah bangsa" ( Rahardjo dan Sudarso, 2006:x). Dengan berbekal ’ingatan’ akan sejarah bangsa Indonesia merebut kemerdekaannya, terutama sumpah pemuda yang menjadi tonggak kesadaran generasi muda akan pentingnya rasa persatuan dan kesatuan dalam melawan penjajah, diharapkan generasi muda mampu menjadi garda depan bagi perjalanan Indonesia ke depan.

Kedua, generasi muda yang sadar akan eksistensi kebangsaannya. Percaturan era globalisasi yang semakin menelanjangi batas setiap dimensi hidup, telah menjadi ’pe-er’ bagi generasi muda untuk lebih menunjukkan eksistensinya, guna menjaga keutuhan negara-bangsa.
Ketiga, generasi muda yang berwawasan intelektual tinggi. Sudah barang tentu kehadiran produk-produk baru dengan teknologi tinggi, telah menuntut kita untuk lebih memacu diti. Karena tanpa adanya usaha untuk meningkatkan kemampuan intelektual kita akan tersisih dari percaturan global yang tidak bisa dielakkan ini. Peningkatan kamampuan ini tentunya bisa dilakukan dengan cara melakukan pembacaan yang intensif terhadap media informasi (baca:buku) dan alam sekitarnya (baca:kondisi sosial).

Selanjutnya, dari generasi muda-generasi muda seperti inilah diharapkan lahirnya pemimpin-pemimpin yang mampu mengarahkan gerbong negara-bangsa indonesia ke arah yang lebih cerah; pemimpin-pemimpin yang memiliki kapasitas dan kapabilitas yang dapat dipertanggungjawabkan, dicontoh dan dijadikan panutan sepanjang sejarah.

Daftar Rujukan

Erinawati, Euis. 2003. Ngetop Bareng Biar Peace. Jakarta: Gema Insani Press
Kurnia, Anton. 2004. Dunia Tanpa Ingatan. Jogjakarta: Jalasutra
Pilliang, Yasraf A. 2007. Peradaban Digital: Dinamika Kehidupan dalam Virtualitas Budaya. Makalah disampaikan dalam acara seminar "peradaban baru", Festival Seni Surabaya 2007, gedung mitra, kompleks balai pemuda Surabaya, 14 Juni 2007.
Pradopo, Rachmat Djoko. 2002. Pengkajian Puisi. Jogjakarta: Gadjah Mada University Press
Rahardjo, Imam Toto K., Suko Sudarsono (ed.). 2006. Bung Karno, Islam, Pancasila & NKRI. Jakarta: Komunitas Nasinalisme Religius Indonesia 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar