
Teks kuno, bagi sebagian besar masyarakat, merupakan mitos atau mungkin ajimat yang mesti diawetkan di menara gading nan sakral. Teks kuno diyakini menyimpan kekuatan gaib dan memiliki ‘perawat’ khusus. Sehingga, setiap waktu, terutama hari keramat, pemilik teks kuno dituntut memberi ‘makanan’ berupa sesajen dan mantra-mantra pemujaan. Yang lebih esktrim, teks kuno juga diyakini membawa kutuk bagi penelantarnya.
Keyakinan ‘kolot’ teks kuno di atas memiliki dampak yang cukup miris. Di satu sisi, nilai-nilai teks kuno tak tersentuh, dan di sisi lain generasi muda mengalami alergi untuk bersentuhan dengan teks kuno. Padahal tidak jarang teks kuno menyimpan silsilah dan sejarah moyang. Dengan demikian, generasi muda tidak memiliki bekal yang cukup untuk membentuk dirinya menghadapi perkembangan zaman.
Dewasa ini, kenyataan kolot ini ternyata mengundang keprihatinan para pemerhati budaya. Di mata mereka, teks kuno merupakan sejarah dan catatan masyarakat di masa lampau yang berharga. Dari teks kuno ini, modal kehidupan berbangsa dan bernegara mesti digali dan dipahami. Sehingga, untuk menyelamatkan khazanah dan kandungan teks kuno, dilakukan berbagai upaya untuk menerjemahkan, mensyarahkan, dan sesekali mengaktualisasikan nilai-nilai teks kuno di tengah kehidupan -yang disinyalir memasuki- zaman edan.
Serat Centhini yang ‘terlarang’ berpuluh tahun lamanya, akhirnya menjadi terang benderang di tangan Elizabeth D. Inandiak (2008). Cerita-cerita panji yang hanya berkutat pada dongeng kuno dan lusuh, menjadi tercerahkan pada sayembara penulisan cerita panji dalam perspektif modern, yang digagas Dewan Kesenian Jombang bekerjasama dengan Dewan Kesenian Jawa Timur (2010). Usaha menyelamatkan teks kuno, tanpa dinyana memberikan banyak barang berharga untuk dijadikan contoh dan patokan memahami gerak perubahan zaman. Terlebih, teks-teks kuno yang banyak dilahirkan dilingkungan keraton, ini juga menyimpan cerita lain: inspirasi bagi karya-karya sastra kini. Lewat pembacaan dan penjabaran teks kuno, terurailah ruang-ruang tafsir yang selama ini jumud.
Pembacaaan-tafsir terhadap teks kuno inilah yang disuguhkan cerpenis Fahrudin Nasrullah dalam kumpulan cerpennya, “Syekh bajirum dan Rajah Anjing”. Usaha Fahrudin membongkar teks kuno, merupakan wujud kesadaran yang menembus batas ruang-waktu. Cerita Prahara Giri Kedaton, pemberontakan Surapati, sampai misteri pertemuan agung para wali kutub, didedahkan dengan narasi yang brenas, dan nuansa yang masih mistis dan sakral. Sehingga cerita menjadi arena penjabaran nilai-nilai filosofis dan pergulatan estetika. Bahkan, cerita para priyayi londo diuraikan dengan kadar dialogis tingkat tinggi.
Serangkaian usaha untuk menafsir teks masa lalu dapat dijumpai pada penggalan ‘mantra’ yang treserak dalam beberapa cerpen. Penggalan mantra yang memperkuat daya tarik pintu cerita atau mempertegas suasana yang terbangun, Mata areng rasa kecubung// Pecut lurik nyacah sirah// Manuk prenjak gawa gatal// Wani natah suing bajul// Ngaku dunung Gusti Nabi// Lambe delima ani-ani// Yo rineyo tak ladeni// (cerpen “Surabawuk Megatruh”, hlm. 1); Ahoi iman dan kematian// Beterbangan bak belati// Bercahaya api, duhai// Seharum melati// Membasuh bimbang hati// (cerpen “Nubuat dari Sabrang”, hlm. 79); Sekerumun kisah mengabu di sebutir debu di rimba waktu, terhempas diamuk desah azan subuh. Mengekalkan cakap angin, saat bayangan tuhan mengambang di hening awan…(cerpen “Syekh Bejirum dan Rajah Anjing, hlm. 106) Mantra-mantra mistis itu memberi kesan yang kuat akan ingatan bersama tentang mitos dan ruang gelap teks kuno. Bersamanya pula, cerita-cerita mengalir lancar dan akrab. Tak jarang pula, mantra-mantra mistis itu ikut serta mendorong daya khayal untuk menghadirkan suasana yang penuh luapan emosi dan empati. Bahkan dalam cerpen “Prahara Giri Kedaton”, mantra mistis ini menghasilkan aura estetis yang ekstase, Badai nafsu dari seberang// Abu tubuh lingsir menembang// Kau susuri suluk sejati// Kutempuh rasa sunyi Hyang suci// (hlm. 43).
Pembongkaran teks masa lalu yang dilakukan Fahrudin, seakan hendak membangun kembali reruntuhan puing cerita yang mengelisut dalam dongeng-lisan atau yang disamarkan dalam syair Jawa. Dengan demikian, cerita yang selama ini hanya mengalir pesan-kesan-amanatnya semata, bisa dipahami secara ‘fakta’. Cerita tentang penyerbuan Giri Kedaton dan pembantaian atas para keturunannya, yang dalam serat Centhini hanya disuguhkan ‘sekilas’, oleh Fahrudin dihadirkan dengan huru-hara dan luapan emosi yang mengoyak. Pekikan pangeran Pekik, semangat perlawanan para santri Giri, hingga percakapan esktase Amongraga dan Tambangraras, tersuguh dengan jalin-kelindan cerita yang unik dan menarik. (cerpen “Prahara Giri Kedaton”, hlm. 37-45)
Selain berusaha untuk menghadirkan kenyataan cerita yang utuh, Fahrudin dengan gaya petualang silat komik, juga hendak meluruskan kabar burung yang beredar seputar literatur di masa lampau,… dan ihwal kitab itu, setelah kami menyelidiki dengan data-data yang akurat dari penyidik rahasia kami di Batavia; kami menyatakan bahwa kitab tersebut bukanlah karya Tuan Snouck, melainkan semata karya Teungku Husein Goeje. (cerpen “Nubuat dari Sabrang”, hlm. 86). Sebuah pembacaan yang tak hanya menafsir. Tapi juga menelusuri berbagai data untuk mendudukkan persoalan pada tempatnya.
Kelihaian Fahrudin mengolah data, lengkap dengan catatan-kaki teks kuno, dan kemampuannya menghadirkan narasi yang penuh luapan emosi, menjadikan buku “Syekh Bejirum dan Rajah Anjing” tak hanya sekadar membongkar masa lalu. Tapi cerita-cerita yang disuguhkan dengan tensi tinggi dalam serial silat komik: tegang, banal, dan sesekali penuh histeri, benar-benar menjadi ruang petualangan. Penuh gejolak esktase sekaligus konstruk kesadaran untuk memaknai kembali nilai-nilai teks kuno yang terabaikan dan termitoskan. (SW)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar