Kabar
kematian Hugo Chavez (Rabu, 6/03/2013) seperti lonceng duka yang bergenta cukup
dalam dan berat di dada para ‘penggemar’nya. Ucapan belasungkawa dari para
pemimpin dunia, bukti kebesaran dan integritas kebangsaan “El Commandante” dari
Venezuela ini. Kebesaran Chavez bukan
karena tubuh kekar dan pidatonya yang berkobar. Tapi lebih disebabkan oleh sosoknya
yang merakyat, dan keberaniannya untuk menolak imperialisme.
Gagasannya
membangun demokrasi sosialis,
mengintegrasi Amerika Latin, mengkritisi globalisasi neo-liberal
dan gaya ‘polisi dunia’-nya
Amerika Serikat dan sekutunya, menjadikannya tokoh yang mendapatkan
sorotan dan perhatian. Kebijakan kontroversinya yang lain, ialah Undang-undang
Reformasi kepemilikan tanah yang melegalkan pemerintahannya mengambil alih
lahan-lahan tidur, tanah milik swasta demi merangsang pertumbuhan ekonomi dan
kesejahteraan rakyatnya.
Mengenai
sosok yang meninggal dalam usia 58 tahun karena penyakit kanker dan infeksi pernapasan ini, tidak
banyak yang saya
tahu dari sepak terjangnya selama 14 tahun masa pemerintahannya (2 Februari 1999 – 5 Maret 2013). Satu-satunya
‘kenangan’ tentang Cahvez terjadi pada tahun 2007. Kenangan itu terjadi dalam acara
nonton dan diskusi bareng film “The Revolution Will Not be Televised”, Kelompok
Belajar Mentari di Pacet, Mojokerto.
Film
dokumenter yang diproduksi tahun 2002, ini menampilkan Chavez bertubuh gempal
dengan kata-kata yang lugas dan membahana. Gaya bicaranya di atas podium,
mengingatkan kita pada orator ulung negeri ini: Soekarno. Kata-katanya di depan
puluhan ribu rakyatnya, “Here in
Venezuela, and in the rest of Latin America we were being taken over by the
savage project of neo-liberalism with its claim that there are a hidden hand
wich regulates the market. It’s a lie, a lie! A lie a thousand times over! Of
course there are alternatives, and in Venezuela, we are proving it. I’ve had to
withstand Hugo international pressures, but I don’t care if it means that one
day I have to go to the gates of hell to defend the people of Venezuela then so
be it I will defend you come what may!”, benar-benar membangkitkan Venezuela.
Kepemimpinan
Chavez seperti memberi harapan baru bagi rakyat Venezuela. Mereka tidak lagi
apatis dengan dunia politik. Chavez mampu menerjemahkan politik sebagai demokrasi
yang benar-benar partisipatif. Ia mendorong rakyatnya membaca dan memahami
konstitusi negaranya. Ia juga menunjukkan, pemerintahannya bukanlah istana dengan
pintu tertutup dan sibuk dengan pertemuan-pertemuan partai.
Tak
heranlah, ketika ekonom kapitalis Pedro Carmona, yang
didukung kaum imperialis internasional, melancarkan kudeta, hanya sehari berhasil
menggulingkan Chavez dari tahtanya. Rakyat kecil yang dicerdaskan dan dicintainya
turun ke jalan-jalan kota Caracas. Mereka meneriakkan revolusi dan menuntut
Chavez dikembalikan pada istana kepresidenan.
Chavez
dalam “The Revolution Will Not be Televised”, mungkin bukan model yang pas untuk memimpin negeri ini. Tapi
gebrakan dan gagasan Bolivariannya, cukup menggugah dan menyadarkan kita, bahwa
apa yang dikatakan dan dikerjakan Chavez tidak jauh dengan apa yang kita
miliki.
Seruan
Chavez “First you must start reading”
dalam mendidik rakyatnya, adalah gema lain “mencerdaskan kehidupan bangsa” yang
dicetuskan founding father kita
beberapa tahun silam. Rakyat memang harus didorong untuk cedas, melek, dan
paham tentang kondisi negaranya. Sehingga di setiap momentum atas nama mereka
–entah pemilu legislatif maupun ekskutif- mereka dapat menentukan nasibnya;
mereka dapat menilai, mengapresiasi sekaligus menghukum para pemimpin selalu
alpa pada janjinya.
Rakyat
yang cerdas akan melahirkan pemimpin yang santun, ksatria, dan kuat. Berbagai kasus
korupsi dan gonjang ganjing politik akan terselesaikan dengan tuntas dan jelas.
Dan topeng-topeng neo-liberalisme akan tampak dari kata-kata bulsitnya.
Keberanian
dan integritas kebangsaan Chavez, juga dapat kita temukan dalam diri Soekarno.
Keduanya mungkin berbeda: zaman dan sosoknya. Chavez tumbuh dan dibesarkan dalam
lingkungan militer yang berontak terhadap imperialisme, Soekarno dididik dalam
lingkaran kaum sipil yang berkobar melawan kolonialisme. Chavez berusaha
mengembalikan kedaulatan Venezuela, Soekarno berjuang mempertahankan dan
mengisi kemerdekaan negerinya. Tapi keduanya memiliki kesamaan yang patut
dicatat: berani, tegas, anti-imperialis, dan memiliki visi-misi kebangsaan yang
cemerlang. Bahkan dibanding Chavez yang ‘militer’, Soekarno yang ‘sipil’ mungkin
lebih mampu menggebrak. Keputusannya menyatakan Indonesia keluar dari PBB,
inisiatifnya membentuk gerakan non-blok, hingga konsep trisaktinya untuk urusan
dalam negeri, merupakan gagasan brilian.
Sekali
lagi, Chavez mungkin bukan model yang pas buat negeri ini. Tapi dengannya, kita
mesti mengingat dan belajar sejarah, bahwa negeri ini membutuhkan pemimpin yang
dapat mendengarkan keluh-kesah rakyatnya; yang berani menentang eksploitasi
pihak asing; yang berani mengesampingkan kepentingan golongannya; yang mau memberi
tepukan hangat dan senyum kebersamaan bagi si miskin.
Selamat
jalan Chavez! (Pie)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar