Chavez dan Kita - santriwarrior

Breaking

Header Ads

SANTRIWARRIOR 728X90

Jumat, 05 April 2013

Chavez dan Kita


Kabar kematian Hugo Chavez (Rabu, 6/03/2013) seperti lonceng duka yang bergenta cukup dalam dan berat di dada para ‘penggemar’nya. Ucapan belasungkawa dari para pemimpin dunia, bukti kebesaran dan integritas kebangsaan “El Commandante” dari Venezuela ini.  Kebesaran Chavez bukan karena tubuh kekar dan pidatonya yang berkobar. Tapi lebih disebabkan oleh sosoknya yang merakyat, dan keberaniannya untuk menolak imperialisme.

Gagasannya membangun demokrasi sosialis, mengintegrasi Amerika Latin, mengkritisi globalisasi neo-liberal dan gaya ‘polisi dunia’-nya Amerika Serikat dan sekutunya, menjadikannya tokoh yang mendapatkan sorotan dan perhatian. Kebijakan kontroversinya yang lain, ialah Undang-undang Reformasi kepemilikan tanah yang melegalkan pemerintahannya mengambil alih lahan-lahan tidur, tanah milik swasta demi merangsang pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyatnya.  

Mengenai sosok yang meninggal dalam usia 58 tahun karena penyakit kanker dan infeksi pernapasan ini, tidak banyak yang saya tahu dari sepak terjangnya selama 14 tahun masa pemerintahannya (2 Februari 1999 – 5 Maret 2013). Satu-satunya ‘kenangan’ tentang Cahvez terjadi pada tahun 2007. Kenangan itu terjadi dalam acara nonton dan diskusi bareng film “The Revolution Will Not be Televised”, Kelompok Belajar Mentari di Pacet, Mojokerto.

Film dokumenter yang diproduksi tahun 2002, ini menampilkan Chavez bertubuh gempal dengan kata-kata yang lugas dan membahana. Gaya bicaranya di atas podium, mengingatkan kita pada orator ulung negeri ini: Soekarno. Kata-katanya di depan puluhan ribu rakyatnya, “Here in Venezuela, and in the rest of Latin America we were being taken over by the savage project of neo-liberalism with its claim that there are a hidden hand wich regulates the market. It’s a lie, a lie! A lie a thousand times over! Of course there are alternatives, and in Venezuela, we are proving it. I’ve had to withstand Hugo international pressures, but I don’t care if it means that one day I have to go to the gates of hell to defend the people of Venezuela then so be it I will defend you come what may!”, benar-benar membangkitkan Venezuela.

Kepemimpinan Chavez seperti memberi harapan baru bagi rakyat Venezuela. Mereka tidak lagi apatis dengan dunia politik. Chavez mampu menerjemahkan politik sebagai demokrasi yang benar-benar partisipatif. Ia mendorong rakyatnya membaca dan memahami konstitusi negaranya. Ia juga menunjukkan, pemerintahannya bukanlah istana dengan pintu tertutup dan sibuk dengan pertemuan-pertemuan partai.

Tak heranlah, ketika ekonom kapitalis Pedro Carmona, yang didukung kaum imperialis internasional, melancarkan kudeta, hanya sehari berhasil menggulingkan Chavez dari tahtanya. Rakyat kecil yang dicerdaskan dan dicintainya turun ke jalan-jalan kota Caracas. Mereka meneriakkan revolusi dan menuntut Chavez dikembalikan pada istana kepresidenan.

Chavez dalam “The Revolution Will Not be Televised”, mungkin bukan model yang pas untuk memimpin negeri ini. Tapi gebrakan dan gagasan Bolivariannya, cukup menggugah dan menyadarkan kita, bahwa apa yang dikatakan dan dikerjakan Chavez tidak jauh dengan apa yang kita miliki.

Seruan Chavez “First you must start reading” dalam mendidik rakyatnya, adalah gema lain “mencerdaskan kehidupan bangsa” yang dicetuskan founding father kita beberapa tahun silam. Rakyat memang harus didorong untuk cedas, melek, dan paham tentang kondisi negaranya. Sehingga di setiap momentum atas nama mereka –entah pemilu legislatif maupun ekskutif- mereka dapat menentukan nasibnya; mereka dapat menilai, mengapresiasi sekaligus menghukum para pemimpin selalu alpa pada janjinya.

Rakyat yang cerdas akan melahirkan pemimpin yang santun, ksatria, dan kuat. Berbagai kasus korupsi dan gonjang ganjing politik akan terselesaikan dengan tuntas dan jelas. Dan topeng-topeng neo-liberalisme akan tampak dari kata-kata bulsitnya.

Keberanian dan integritas kebangsaan Chavez, juga dapat kita temukan dalam diri Soekarno. Keduanya mungkin berbeda: zaman dan sosoknya. Chavez tumbuh dan dibesarkan dalam lingkungan militer yang berontak terhadap imperialisme, Soekarno dididik dalam lingkaran kaum sipil yang berkobar melawan kolonialisme. Chavez berusaha mengembalikan kedaulatan Venezuela, Soekarno berjuang mempertahankan dan mengisi kemerdekaan negerinya. Tapi keduanya memiliki kesamaan yang patut dicatat: berani, tegas, anti-imperialis, dan memiliki visi-misi kebangsaan yang cemerlang. Bahkan dibanding Chavez yang ‘militer’, Soekarno yang ‘sipil’ mungkin lebih mampu menggebrak. Keputusannya menyatakan Indonesia keluar dari PBB, inisiatifnya membentuk gerakan non-blok, hingga konsep trisaktinya untuk urusan dalam negeri, merupakan gagasan brilian.

Sekali lagi, Chavez mungkin bukan model yang pas buat negeri ini. Tapi dengannya, kita mesti mengingat dan belajar sejarah, bahwa negeri ini membutuhkan pemimpin yang dapat mendengarkan keluh-kesah rakyatnya; yang berani menentang eksploitasi pihak asing; yang berani mengesampingkan kepentingan golongannya; yang mau memberi tepukan hangat dan senyum kebersamaan bagi si miskin.

Selamat jalan Chavez! (Pie)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar