K.H. Moh. Shaleh Abdullah: Pesantren Tidak Pernah Berubah - santriwarrior

Breaking

Header Ads

SANTRIWARRIOR 728X90

Minggu, 08 Desember 2013

K.H. Moh. Shaleh Abdullah: Pesantren Tidak Pernah Berubah

Drs. K.H. Moh. Shaleh Abdullah, salah seorang tokoh masyarakat sekaligus politikus yang tak asing lagi di tengah Masyarakat Sumenep. Sepak terjangnya dalam dunia organisasi dirintisnya sejak tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Peradilan Agama di IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta. Tahun 1979 beliau menjabat sebagai ketua PC IPNU Sumenep, dan selama tujuh tahun (1981-1988) aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jogjakarta.

Dalam ormas NU, karir beliau tak kalah mengilap. Sejak tahun 1994-2002 tercatat sebagai ketua GP Ansor Sumenedp, kemudian beranjak menjabat Wakil Sekretaris PCNU Sumenep (2008-2012), A’wan PCNU Sumenep (2012-sekarang). Dalam dunia politik, pengasuh pondok Pengasuh Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar  Ats-Tsani Gaddhing, ini diawali dengan menjabat Bendahara DPC PKB Sumenep (1997-2007). Tahun 2010, beliau mencalonkan diri jadi Wakil Bupati Sumenep. Kini beliau juga tercatat sebagai calon DPD dari dapi Jawa Timur. 

Di tengah kesibukannya mengasuh Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar Putri, korespondensi Santre Pangarang mendapatkan kesempatan untuk mewawancarainya. Berikut wawancara korespondensi Santre Pangarangan, Salamet Wahedi dan Dewi Hasanah dengan beliau.

Santre Pangarangan: Di tengah era globalisasi ini, pondok pesantren dipandang sebagai benteng terakhir bagi keberadaan negara-bangsa. Dalam arti keberagaman dan keberagamaannya. Kalau  Kiai sendiri bagaimana  memandang pesantren hari ini? Bagaimana keberadaan pesantren secara umum bagi masyarakat, terutama bagi bangsa Indonesia?

K.H. Moh. Shaleh Abdullah: Pesantren tidak berubah. Dalam arti, dari dulu sampai sekarang tidak ada perubahan. Dari sisi perjuangan, tetap. Sebagaimana dulu. Terutama terkait dengan masalah bidang peningkatan kualitas keagamaan. Kontribusi  negara yang harus punya bangsa yang benar-benar beragama.

Santre Pangarangan : Kalau dikaitkan antara peran pesantren dan tuntutan zaman, misalnya lulusan pesantren harus berbuat banyak  di tengah masyrakat, itu bagaimana?

K.H. Moh. Shaleh Abdullah: Bergantung pada sudut-pandang mananya dulu. Nah, kalau pesantren dilihat dari sisi pendidikan dan pengabdian pada masyarakat, pendidikan itu harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Tapi kalau dilihat sebagai kader penerus ajaran agama, itu beda. Jadi kalau sementara ini kita lihat pesantren  sebagai kader penerus pejuang agama. Jadi ditekankan bagaimana pesantren itu berperan aktif di dalam masyarakat.

Santre Pangarangan : Kalau dikaitkan dengan kiprah kyai di dunia politik, masyarakat juga berharap bahwa pesantren memberikan kontribusi terhadap perbaikan sistem pemerintahan. Apakah  dalam hal ini pesantren merasa perlu berbenah diri atau  artinya mengubah strateginya dalam mendidik santri?

K.H. Moh. Shaleh Abdullah: Nah, begini. Jadi kalau  pesantren itu yang saya lihat  dalam rangka memperkuat pondasi pengetahuan agama, maka metode itu hanya bagian dari sistem saja untuk  bagaimana santri itu  bisa memahami dengan tepat dan cepat. Persoalan persantren dilibatkan dengan persoalan  yang muncul di tengah masyarakat akibat dari sebuah kebijakan,  pesantren selama ini, sejak awal, telah menemukan diri pada perannya sebagai pengayom  masyarakat di bidang peningkatan akidah. Jadi kalau mengikuti bagaimana pesantren terlibat langsung dengan  persoalan-persoalan sistem pemerintahan, itu hanya satu yang benar yaitu orang-orang pesantren yang punya peduli. Saya cenderung, secara pribadi, ada semacam bentuk-bentuk yang tidak terlibat langsung di dalam pesantren untuk ikut masuk pada sistem yang  berkaitan dengan masyarakat tadi. Kalau sebagai pengasuh, lebih baik saya cenderung harus tetap sebagai pengelola pesantren yang bisa melahirkan nantinya santri-santri yang siap membela dan mempertahankan akidah dalam masyarakat.

Santre Pangarangan: Kembali lagi pada pesantren sebagai sistem pendidikan, kalau kita mengacu pada sistem pendidikan multitalenta saat ini, seperti halnya sistem pendidikan yang berdasarkan adanya sistem, penilaian, evaluasi, apakah dalam hal ini pesantren perlu menyelaraskan sistemnya yang selama ini dikenal bersifat tradisional (baca: semaan, wetonan) dengan sistem2 pendidikan yang modern?

K.H. Moh. Shaleh Abdullah: Lihat konteksnya dulu. Kalau sistem, kita memang menyesuaikan. Sistem itu tidak  bisa merobah visi-misi yang akan dicapai oleh pesantren. Di pesantren itu beda dengan sistem pendidikan yang banyak menekan pada kemampuan pola pikir. Di pesantren itu tidak hanya menekan pada pola pikir., tetapi juga perilaku. Itu menjadi target pencapaian pendidikan di pesantren. Seorang santri, selain dibekali kemampuan agama, juga punya perilaku yang bisa dilihat sebagai tokoh panutan masyarakat.  Berbeda dengan sistem yang ada di luar, yang menggunakan sistem standar dan sebagainya. Boleh kita mengikuti sistem seperti yang ada di luar itu selagi tidak merusak nilai-nilai yang ingin dicapai atau visi dan misi pensantren. Saya memahami pesantren bukan hanya sebagai lembaga pendidikan saja, tetapi juga sebagai tempat kader.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar