Drs. K.H. Moh. Shaleh Abdullah, salah seorang tokoh
masyarakat sekaligus politikus yang tak asing lagi di tengah Masyarakat
Sumenep. Sepak terjangnya dalam dunia organisasi dirintisnya sejak tercatat
sebagai mahasiswa Jurusan Peradilan Agama di IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta.
Tahun 1979 beliau menjabat sebagai ketua PC IPNU Sumenep, dan selama tujuh
tahun (1981-1988) aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)
Jogjakarta.
Dalam ormas NU, karir beliau tak kalah mengilap. Sejak
tahun 1994-2002 tercatat sebagai ketua GP Ansor Sumenedp, kemudian beranjak
menjabat Wakil Sekretaris
PCNU Sumenep (2008-2012), A’wan PCNU Sumenep (2012-sekarang). Dalam
dunia politik, pengasuh pondok Pengasuh Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar Ats-Tsani Gaddhing, ini diawali
dengan menjabat Bendahara DPC PKB Sumenep (1997-2007). Tahun 2010, beliau
mencalonkan diri jadi Wakil Bupati Sumenep. Kini beliau juga tercatat sebagai
calon DPD dari dapi Jawa Timur.
Di tengah kesibukannya mengasuh Pondok Pesantren Mathali’ul
Anwar Putri, korespondensi Santre
Pangarang mendapatkan kesempatan untuk mewawancarainya. Berikut wawancara
korespondensi Santre Pangarangan, Salamet Wahedi dan Dewi Hasanah dengan
beliau.
Santre Pangarangan: Di tengah era globalisasi ini, pondok pesantren dipandang sebagai
benteng terakhir bagi keberadaan negara-bangsa. Dalam arti keberagaman dan
keberagamaannya. Kalau Kiai sendiri bagaimana memandang
pesantren hari ini? Bagaimana
keberadaan pesantren secara umum bagi masyarakat, terutama
bagi bangsa Indonesia?
K.H. Moh. Shaleh Abdullah: Pesantren tidak berubah. Dalam
arti, dari dulu sampai sekarang tidak ada
perubahan. Dari sisi
perjuangan, tetap. Sebagaimana
dulu. Terutama terkait dengan masalah bidang
peningkatan kualitas keagamaan. Kontribusi negara yang harus punya bangsa yang
benar-benar beragama.
Santre Pangarangan : Kalau
dikaitkan antara peran pesantren
dan tuntutan zaman, misalnya lulusan pesantren harus berbuat banyak di tengah masyrakat, itu bagaimana?
K.H. Moh. Shaleh Abdullah: Bergantung
pada sudut-pandang
mananya dulu. Nah, kalau
pesantren dilihat dari sisi
pendidikan dan pengabdian pada
masyarakat, pendidikan
itu harus
sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Tapi
kalau
dilihat sebagai
kader penerus ajaran agama, itu beda. Jadi
kalau sementara ini kita lihat pesantren sebagai kader penerus pejuang agama. Jadi
ditekankan bagaimana
pesantren itu berperan aktif di
dalam
masyarakat.
Santre Pangarangan : Kalau
dikaitkan dengan
kiprah kyai di dunia
politik, masyarakat juga berharap bahwa pesantren memberikan kontribusi terhadap
perbaikan sistem pemerintahan. Apakah
dalam hal ini pesantren merasa perlu
berbenah diri atau artinya mengubah
strateginya dalam mendidik santri?
K.H. Moh. Shaleh Abdullah: Nah,
begini. Jadi kalau pesantren itu yang saya lihat dalam rangka memperkuat pondasi pengetahuan
agama, maka metode itu hanya bagian dari sistem
saja untuk bagaimana santri itu bisa memahami dengan tepat dan cepat. Persoalan persantren dilibatkan dengan persoalan yang muncul di tengah masyarakat akibat dari
sebuah kebijakan, pesantren selama ini,
sejak awal, telah menemukan diri pada perannya sebagai pengayom masyarakat di bidang peningkatan akidah. Jadi
kalau mengikuti
bagaimana pesantren terlibat langsung dengan
persoalan-persoalan sistem pemerintahan, itu hanya satu yang
benar yaitu orang-orang
pesantren yang punya peduli. Saya cenderung, secara
pribadi, ada semacam bentuk-bentuk yang
tidak terlibat langsung di dalam
pesantren untuk ikut masuk pada sistem yang
berkaitan dengan masyarakat tadi. Kalau sebagai pengasuh,
lebih baik saya
cenderung harus tetap sebagai
pengelola pesantren yang bisa melahirkan nantinya santri-santri
yang siap membela dan mempertahankan akidah dalam
masyarakat.
Santre Pangarangan: Kembali lagi pada pesantren sebagai sistem pendidikan, kalau kita mengacu
pada sistem pendidikan multitalenta saat ini, seperti halnya sistem pendidikan yang berdasarkan adanya sistem,
penilaian, evaluasi, apakah dalam hal ini
pesantren perlu menyelaraskan sistemnya yang selama ini dikenal bersifat tradisional (baca:
semaan, wetonan) dengan sistem2 pendidikan yang modern?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar