Oleh: Salamet Wahedi
Akhirnya, aku menyaksikanmu berkunjung ke sana. Ke rumah yang tiada henti
direnovasi. Rumah yang memancar putih kemilau. Karena kau takut dibilang udik, kau tak bertanya di mana ayah
temanmu terbaring. Menunggu pekabaran nasibnya. Kau langsung masuk lift. Naik ke lantai ruang IRD.
Di dalam lif, kau deg-degan. Sebab di depan lift, sekilas kau lihat kalimat
merah:hanya untuk petugas dan pasien. Tapi kau tetap naik lift. Lebih praktis
dan efektif, pikirmu untuk menghilangkan rasa deg-degan.
Dalam lift kau tetap deg-degan. Kau tidak hanya ingat ayah temanmu
yang kurus dan tirus, kau juga digoda gemerlap kamar lain. Kamar di mana dirimu
bergulat dengan kekasihmu. Aih, di
tengah kesuntukan aroma kematian kepalamu masih dipenuhi amis lendir. Di kepalamu,
kamar tempatmu bergulat dengan kekasihmu, tak jauh beda dengan kamar yang kau
cari. Kematian bisa datang kapan saja. Tapi kenapa di kamarmu, kau dan
kekasihmu begitu alpa? Padahal di sini orang-orang begitu siaga dalam penantian
dan kelesuhan.
Di lantai tiga ruang IRD itulah, kau tercenung. Menyapu sekitar. Hidungmu kau
tarik ke atas. Aku seperti menyeduh aroma yang begitu akrab, mungkin sudah
ribuan kali aroma ini menyerangku, pikirmu. Dan kau terus berpikir tentang
aroma yang menyerangmu. Sebab selain aroma yang sembab dan suntuk, kau pun
nyalang dengan aroma sengat yang menyelinap di antara orang-orang yang duduk, tolah-toleh, lalu kelebat ruang-remang
sadarmu: perempuan yang kau temui di warung kopi, di sepertiga malam,
lamat-lamat muncul menghisap jemarinya. Mulut dan jemarinya membuatmu gatal. Kau
ingin ikut menghisap telunjuk mungilnya. Tapi sayang perempuan itu, esoknya
ditemukan di halaman koran. Berselimut koran. Dengan bercak darah mewarnai
jalan raya.
Kenapa aku begitu alpa waktu itu? Pikirmu lagi menghilangkan ketercenungan.
Kemudian, kau mengarahkan desahmu pada lelaki yang berdiri di dekat pintu lift.
Tepatnya depan pintu ruang tunggu pegawai. Sekilas kau pun mengiyakan diri:
lelaki itu pegawai. Tapi buru-buru kau menarik diri. Kau lempar lagi pandangmu.
Lelaki itu tersenyum. Aha senyumnya,
menyeret lenguhmu pada cerita antah berantah yang lain: kematian di jalan raya.
Lelaki itu yang berjalan beriringan denganmu. Dia naik sepeda motor. Kau
naik sepeda motor. Sebelum perempatan jalan Ahmad Yani, kau berpapasan. Kau
tertarik pada potongan sepedanya. Tidak antik, tidak unik. Tapi bunyinya
memekik. Di perempatan, lampu merah membuat kalian bersisian. Seorang anak muda
menyanyikan lagu untuk kalian. Kau melambaikan tangan. Pengamen itu pindah ke
lelaki itu. Lelaki itu tersenyum, pengamen itu menggelepar. Alangkah kejamnya
lelaki itu, kau tampak ngeri ketika kedua bola mata kalian dalam satu garis
lurus. Lelaki itu menggilas ganas pengamen itu. ‘Dia anak durhaka’, pekik
sepeda motornya.
Kenapa waktu itu aku alpa? Kau hampir lupa, ke rumah sakit ini kau mencari
kamar paru, tempat ayah temanmu di rawat
***
Selang beberapa menit aku sadar: bangku-bangku berderet di depan, di
belakang, dan di samping. Bangku-bangku putih. Bangku-bangku yang pernah kutunggui. Untuk suatu keberangkatan. Entah
kapan? Tapi aku tak boleh menunggu. Aku ingin menjenguk ayah temanku. Aku
beranjak. Kerap setiap beranjak, aku ingat wajahmu di depan cermin sehabis mandi:
mirip lelaki itu. Dia berkemeja putih. Bercelana putih. Sepatunya hitam. Di
dada kirinya ada kantong warna kuning. Tapi dia juga persis ayahmu.
“Ini ruang IRD?
Sebenarnya, aku paham dengan ketersesatanku.
Dia tersenyum, kemudian menjelaskan jalan yang benar ke kamar paru. Tempat ayahmu
terbaring. Mula-mula aku mesti turun ke bawah.
“Lewat lift biar cepat”,
sarannya. Aku berdegup. Bukankah dia petugas? Setelah itu aku keluar. Belok kanan.
Lurus, belok kanan lagi. Masuk lorong berhias kawat. Kiria-kira sepuluh meter,
belok kiri. Lurus. Melintasi orang jualan rokok dan gorengan. Perempatan. Ambil kiri. Lurus. Terus lurus.
“Lalu kau akan memasuki lorong seperti ruang penjara,” lelaki itu begitu
girang menghantarkanku pada jalan yang benar. Aku harus lurus, lalu naik
tangga. Juga di lantai tiga. Di ruang penjara liftnya kurang meyakinkan. “Ini bangunan lama.” Katanya mengimbauku
untuk hati-hati. Di ruang yang mirip penjara ini, aku menemukan kematian: kereta
dorong diiringi pasukan berbaju putih melintas.
Sesampainya di ujung, aku baru sadar, desain lorong ini memang semisal
ruang penyiksaan. Pintu-pintunya berhiaskan lengkung yang menonjol. Di atasnya
tertera nama-penunjuk: ruang penyakit dalam, ruang mata, ruang hati, ruang
jantung. Yang paling membuatku berdegup, setibanya di ujung jalan aku melihat kelebat
lelaki itu lagi. Lelaki yang membuat pengamen muda itu menggelepar. Tidak itu
pegawai yang aku temui di ruang IRD. Bukan. Lelaki itu yang berjalan dalam
cerita: mula-mula dia bersama temannya menaiki perahu. Di perahu, mereka menepi
di sudut dekat kemudi. Dia memandang ke sekitar. Temannya Musa, namanya.
Apakah lelaki itu juga punya teman
Musa di ruangan ini? Sejenak aku tercenung.
Jangan-jangan lelaki putih itu mencari-cari kesempatan. Dia akan menyelipkan tangannya
ke belakang punggungnya. Di sana, dengan sebilah jarum kecil, semisal jarum suntik,
ia melubangi dinding ruangan ini. Mungkin,
akhirnya kapal itu tidak karam. Tapi banguan ini bisa roboh?
Hush, ayah temanku ternyata masih terbaring lemas.
Dokter baru mendiagnosanya minggu depan. Ini melalu program jamkesmas. Murah.
Ya, aku merasa gedung putih itu, bak perahu yang dilubanginya. Hingga tak akan
ada yang selesai: pembangunan kamar mayat, orang-orang pada sakit, dan lelaki
itu berkelebat dengan kematian putih.
“Apa kata dokter” dengan raut temaram, aku lihat temanku menahan gelombang
yang berdenyar tiada henti.
“Hanya Tuhan yang berkuasa”
“Siapa yang melontarkan itu?”
“Petugas.”
“Lelaki berbaju putih?”
“Memang semuanya seperti itu?”
“Aduh?”
“Kenapa?”
Tiba-tiba aku tidak jadi alpa: semuanya akan tuntas kalau lelaki itu
menyelesaikan. Sepanjang koridor panjang kamar pasien, aku menyaksikan kelebat
seribu lelaki putih.
“Mereka para petugas. Kamar penjaga di sebelah kanan pintu masuk.”
“Tapi, kau tidak melihatnya kan?
Hati-hati dia akan melubangi bangunan ini agar roboh” aku tiba-tiba tercekat
ketika hendak mengucapkan kata-kata peringatan itu. Aku tidak jadi alpa: ini
bukan perahu. Tapi rumah sakit.
***
Ayahku akhirnya berangkat. Tapi bayang-bayangnya masih melekat. Aku anak
durhaka. Ayahku mengingkan aku segera menikah. Tapi hingga kini, aku belum
menemukan pasangan yang pas. Aku jadi was-was. Dia akan membunuhku. Benar
katamu, lelaki berkemeja putih itu mencari-cari kesempatan untuk mencungkil
dinding bangunan ini. Agar roboh.
Dengan suara serak, aku membaca tahlil di dekat ayah. Sepanjang jalan
menuju rumah pemberangkatan, talbiyah
seperti tali layang-layang. Isakku serak. Semoga
dia tak mengintaiku, doa itu tiada henti menyelinap di antara
kalimat-kalimat tahlil.
“Ayahmu sudah dioperasi?”
“Ayah masih rabu besok mau dioperasi. Tapi diagnosanya terlalu lama. Ia
sudah tidak kuat. Ayah takut kalau lelaki berkemeja putih akan membunuhku. Ia
pun berangkat.”
“Lewat jalur apa?
“Jamkesmas”
“Ohw, memang agak lama”
“Sudah bayar 250 untuk supir”
Tapi lelaki berkemeja putih, yang kau temui di ruang IRD lantai 3, yang kau
curigai sebagai teman Musa, benar-benar membuatku was-was. Aku ingin meledakkan
rumah sakit ini. Tapi aku sangsi,
benarkah ini orang yang kau temui itu? Benarkan ia memakai sepatu hitam, rambut
dicepak, dan senyum yang mengembang dan mengempis? Benarkah ia mempunyai rencana
keji untukku? Benarkah ia telah menggilas anak pengamen? Sengaja mengaparkan
perempuan yang ingin kau isap jemari mungilnya?
“Benarkah lelaki berbaju putih itu menguntitmu?
“Entahlah” saat kau sangsi, bulu kudukku gemetar. “Sakit apa ayahmu?”
“Ayahku sudah hampir tiga bulan sakit. Katanya TBC. Ayahku agak bandel.”
“Kau ngerti TBC?
“Aku pernah menulis buku tentang TBC. Pesanan”
“Kau kuliah di mana sih?
“Di jurusan filsafat”
Alamak! Menjawab pertanyaanmu, lagi-lagi aku begitu cemas. Lelaki berkemeja
putih itu menyapu lantai. Mungkin dia pura-pura. Seperti katamu, matanya tiada
henti melirik. Padahal ayahku sudah berangkat. Aku yakin dia memang ingin
membunuhku. Setelah itu, seperti katamu, mungkin dia akan membangun sebuah
rumah. Untuk anak-anak yang merantau, katamu.tapi mengapa dia menggusur rumah-rumah
kumuh?
“Di bawah rumah ini ada harta untuk anak-anak rantau”
“Siapa?”
“Mereka yang datang ke tempat ini?”
“Ayahku maksudmu?”
“Entahlah”, kini kau peragu. Tapi aku yakin, lelaki berkemeja putih itu
mengincarku. Bukan dirimu.
Aku sadar: kau ternyata tersenyum melihatku masam. Kau tampak heran. Matamu
berkedip-kedip seperti lampu kota di kejauhan. Lampu yang menyorot airmataku
dengan kerling banalnya. Sedang lelaki itu mengintaiku. Tapi aku akan membaca
tahlil keras-keras agar dia tahu ayahku telah berangkat. Dan aku anak yang
berbakti...
***
Aku tahu kau tersesat. Mungkin pura-pura tersesat. Tempat ayah temanmu di
sana. Di ruang gedung sebelah. Tapi kedatanganmu sungguh menggoda. Setelah
keluar dari lift, wajahmu ceria. Wajahmu seperti deretan bangku, orang-orang
yang berselonjor, dan pilar-pilar yang menjulang. Setelah memastikan ini lantai
3 ruang IRD pada orang di sebelahmu, kau memandangku. Aneh. Matamu sungguh
aneh. Padahal kau tak perlu sangsi, aku pegawai di sini. Aku seperti pernah melihatmu.
Entah di mana. Yang pasti aku pernah mendengar ceritamu. Saat kau bertanya, aku
teringat Musa yang tak sabar itu. Mula-mula ia tak tahan kenapa perahu itu
dilubangi, kemudian…
Menelisik postur dan gelagatmu, aku teringat anakku. Sekarang ia masih di
sekolahan. Matahari yang mulai tergelincir mengisayaratkan sebentar lagi dia
pulang. Dan entah mengapa aku teringat anakku, karena kau bertanya. Anakku
masih kelas 5 SD. Ia pernah dihukum gurunya dua kali. Pertama karena mencuri.
Ia mencuri lipstick teman perempuannya. Ia juga pernah mencuri pandang paha ibu
gurunya yang kebetulan pakai rok pendek.
“Di manakah ruang paru Pak?”, setelah mengucapkan permisi, pertanyaanmu tak
ubahnya basa-basi untuk mengelabuiku. Memang anakku nakal. Selain pernah
mencuri, ia juga pernah dihukum gara-gara di handphone-nya ada video birunya.
Tapi kau tidak akan bisa mengelabuiku. Aku akan mengikutimu. Sengaja aku
memberimu tahu jalan bawah tanah, tidak langsung ke jalan lantai 3 ruang paru.
Sengaja, agar aku bisa mengawasimu. Agar aku bisa muncul di setiap sudut jalan
yang kau lalui. Bahkan ketika kau sibuk membawa barang-barang temanmu,
mengiringi keranda dorong ayah temanmu, mengikuti lautan talbiyah
temanmu, aku masih yakin kau memang
orang itu. Kau ingin mengelabuiku. Kau mengincar anakku. Aku yakin temanmu itu bernama
Musa.
Ikh, kau memandangku. Rautmu
agak culas. Kenapa aku tidak punya
simpati, apalagi empati? Bukankah aku
petugas di sini? Untuk orang yang mengincar anakku, aku tidak punya apa-apa.
“As, kenapa orang ini mengikuti kita?” sewaktu kau mulai menerka-nerka
diriku, aku pun menyiapkan siasat lebih jitu. Orang yang mendorong kereta ayah-temanmu,
temanku. Sengaja kupasang dia agar aku tidak kehilangan jejakmu. Bahkan ketika
kau, temanmu, jenazah ayah temanmu, dan segenap handan-taulan memasuki ambulance
dan mobil keluarga besar temanmu, sengaja kuikuti jejakmu hingga ke pintu
parkir. Dan aku pun mulai membayangkan kau akan melubangi ambulance
bantuan yayasan Ori itu. Kau melubanginya agar pihak rumah sakit
memperbaikinya. Agar pihak rumah sakit membuat proposal lagi: pengadaan barang!
Sayangnya usahamu melubangi ambulance tidak bisa meningkatkan upahku. Ukh...
Dan sebelum kau berlanjut pada episode berikutnya, aku akan melindungi
anakku. Aku akan mendekapnya erat-erat.
Sore telah usai dua jam lalu. Malam mulai bergelayut. Kau mungkin di tengah
jalan. Aku baru saja usai mandi, lalu shalat maghrib. Istriku mengikuti acara
televisi kesukaannya: sinetron. Dan anakku asyik bermain game handphone-nya. Melihatku mendekatinya,
mukanya seperti pagi yang lepas, “Ayah, aku tadi melihat Khidir. Dia mati dekat
rel kereta api, Ayah”.
Kata-kata anakku polos. Aku segera mendekapnya. Erat-erat. Hingga anakku mengeluarkan
keringat hangat.
Jhiletemor-jogja, 2010-2012
Dimuat di Bali Pos, minggu 1 Desember 2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar