Bus Cepat Rasa Parlemen - santriwarrior

Breaking

Header Ads

SANTRIWARRIOR 728X90

Senin, 02 September 2013

Bus Cepat Rasa Parlemen

Oleh: Salamet Wahedi
Setiap pulang kampung, saya hanya melakukan perencanaan kecil: pulang dari Jogja pukul 23.00 WIB sampai terminal Bungurasih, Surabaya sekitar pukul 07.00, kemudian pindah ke Bus Patas Madura dan sampai di Nambakor pukul 12-an, dan pukul satu sudah bisa melepas lelah di rumah. Dari Jogja saya biasa memilih antara Bus Ekonomi atau Bus Cepat. Untuk ke Madura, saya lebih memilih Patas. Tujuannya untuk menghindari asap rokok dalam bis dan antrian 1-2 jam di pelabuhan Tanjung Perak. Pasalnya, bus Patas boleh melintasi Jembatan Suramadu di siang hari.

Tapi pada pulang kampung kali ini (25/06/2013), selain kebiasaan kecil, saya juga membawa dugaan kecil: ongkos bus naik, karena BBM sudah naik. Betul dugaan saya. Bus Mira yang biasanya 38 menjadi 47. Patas Jurusan Madura yang biasanya 42  menjadi 48.

Dalam bus patas jurusan Madura dengan “inisial” Akas, saya mendapat tempat duduk  dekat pintu belakang. Jam digital di hand-phone menunjukkan pukul 07.22. Sejauh ini semua berjalan lancar. Para penumpang dengan raut berdebu dan sedikit gelisah pada mencari-cari kursi yang masih kosong. Pukul 07.34 bus sudah penuh. Sebentar  lagi akan berangkat, pikirku. Hingga menjelang pukul 08.00 bus hanya mengerang-ngerang dan sesekali menggigil. Pukul 08 pas, bus baru menggerakkan badannya.

Bus bergerak, saya pun lega. Saya tidak akan mengecewakan saudara saya. Saya akan tiba di Nambakor sesuai dengan perkiraan. Memasuki pintu tol Waru, saya semakin lega. Hamparan jalan kecil depan rumah, pohon jambu-air, dan sirih merah seolah mendekat. Semuanya seperti berada di luar kaca jendela bus. Melintas di daerah Kapasan bus tersendat-sendat, kemudian meluncur pelan hingga di perempatan ke Kenjeran bus ambil kiri. Hore, sebentar lagi saya akan melintasi Jembatan Suramadu.

Tapi buru-buru rasa girang itu saya buang jauh-jauh. Saya masih ingat betul kabar tidak sedap tentang Jembatan Suramadu. Setelah diresmikan dengan terburu-buru, beberapa bulan kemudian berhembus kabar kalau mur Jembatan Suramadu banyak yang hilang. Dan cerita lanjutannya: mur itu dicuri orang Madura untuk dijual kiloan. Saya menduga dan yakin, streotip orang Madura yang ahli jual-beli besi menjadi pengalih kenyataan yang pas.

Tapi saya juga menduga dan yakin, sebenarnya Jembatan Suramadu pada waktu itu (2009) masih belum ‘sah’ untuk diresmikan. Tapi demi kepentingan pemilu, ah ini seperti dongeng tipuan putri yang menghidupkan suluh agar ayam berkokok, dan raksasa itu merasa usahanya gagal.

Lepas dari Suramadu saya menyaksikan deretan poster “calon wakil gubernur” Reng Madhura. Ternyata jembatan dengan 5.438 m itu tidak hanya membawa perubahan, tapi juga membangkitkan “nyali” orang Madhura –setelah beberapa tahun silam H.M Noer pernah mendudukinya- untuk memperebutkan “kursi” di kantor Gubernuran.

Dalam udara panas yang mengetuk-ngetuk di kaca, bus melaju sedang. Kecepatan berkisar antara 60-70. Sepanjang jalan antara Jembatan Suramadu dan jalan raya Bangkalan, hamparan sawah tampak lesuh. Hijau yang biasanya menarik mata hingga tepi batas pohon-pohon di kejauhan, menampak warna pudar berdebu. Sebuah pabrik pun beronggok pongah. Sampai di pertigaan Tangkel, bus memelan. Bus seperti memberi kesempatan pada jarum jam untuk lebih cepat. Lampu merah berganti hijau, bus melaju pelan. Belok kanan, sekira dua kali menderu, bus berhenti. Kondektur dengan sigap membuka pintu belakang. Lalu dua lelaki menggeliat. Tas ransel tampak menggayuti punggungnya. “Turun mana?” Tuan kondektur mengeluarkan buntalan karcisnya. “Sampang. Penjara.” Salah satu penumpang baru itu menjulurkan selembar uang ratusan.
  
Bus mempercepat lajunya. Transaksi kondektur dan penumpang baru pun usai. Kondektur menyelinap ke depan, dengan meninggalkan janji mencarikan bangku kosong. Sampai di depan, kondektur melambaikan tangan, pertanda tak ada kursi kosong. Dua penumpang baru bersama-sama mengangkat bahu. Kalau diterjemahkan mungkin ingin mengungkapkan, “Mau bagaimana lagi? Ya, kita berdiri.”

Selepas pasar tanah merah, bus memelan. Bus sempat menghentak kemudian berhenti. Seonggok kepala terdengar setengah berteriak dari luar pintu depan. Kondektur menyambutnya dengan lambaian. Sudah tiga orang berdiri, gerutuku dalam hati. Setelah melintasi bebukitan Bangkalan, saya baru sadar bahwa ada yang aneh dengan bus patas ini. Saya mencari-cari muasal keanehan ini.

Selang berapa puluh meter, sumber keanehan itu ditemukan. Keanehan itu ternyata melintas dari bayangan tiga penumpang yang berdiri. Aneh karena ini bus patas, cetusku. Bukankah bus cepat atau patas penumpangnya tidak boleh berdiri? Bukankah patas harga tiketnya lebih mahal dari yang biasa? Bukankah harga tiket yang lebih mahal karena pelayanan patas yang tidak sama dengan bus biasa? Bukankah..
  
Setelah mengajukan beberapa pertanyaan, saya jadi uring-uringan dengan awak bus patas. Saya pun sempat berfikir untuk menyumpahi mereka: dasar rakus! Tapi sebelum sumpah itu terlontar, saya dapat pesan-pendek dari teman, kalau dia akan ikut “aksi” kenaikan BBM. Membaca pesan-pendek aksi kenaikan BBM, saya tidak jadi menyumpah. Saya jadi mafhum, kalau kenaikan bukan sekadar naiknya bensin, solar dan bahan bakar. Tapi juga menjadi “sirine” bagi kenaikan berbagai macam kebutuhan. Daripada menyumpahi para awak bus, saya memutuskan untuk menduga-duga: mereka menaikkan penumpang walau pun tempat duduk sudah penuh mungkin karena tuntutan. Kalau bekerja sesuai “text-book” mungkin anak bini mereka sedikit menjerit.  Mungkin juga uang mereka juga bersiap-siap untuk lonjakan harga yang tidak tentu.

Sambil menduga-duga berbagai alasan tindakan para awak bus, saya pun teringat dengan perangai para pemangku kebijakan negeri ini. Kalau negeri ini diibaratkan bus patas dengan segala fasilitas mewahnya: kekayaan alam yang melimpah, bentangan hutan dan lautan yang gemah ripah loh jinawi, maka para pemangku kebijakan tersebut adalah awak yang sedikit lelet. Bahkan mereka dapat dikatakan kalah cepat mengantisi ancaman ekonomi dibanding para awak bus. Di tengah naik harga BBM dunia, para pemangku ini tidak bisa bermanuver. Mereka lebih memilih jalan aman, yaitu ikut menaikkan harga BBM daripada mengurangi anggaran belanjanya.

Dengan kalimat yang sedikit kesal, para pemangku kebijakan negeri ini tidak bisa melakukan terobosan ‘cerdas’ dalam mengelola hajat hidup masyarakatnya. Para pemangku negeri ini lebih suka bermanuver demi “karcis” dan “aplaus” kekuasaan daripada mengambil keputusan cepat dan tegas. Keputusan menaikkan BBM sempat berlarut-larut. Perdebatan di mana-mana. Harga barang sudah melambung sebelum BBM naik. Akibatnya, sistem presidensiil yang didengungkan pun berasa parlemen.

Kalau negeri ini diibaratkan bus patas, maka masyarakat adalah para yang mendapati manuver awak bus yang tidak jelas. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar