Oleh: Salamet Wahedi
Setiap
pulang kampung, saya hanya melakukan perencanaan kecil: pulang dari Jogja pukul
23.00 WIB sampai terminal Bungurasih, Surabaya sekitar pukul 07.00, kemudian
pindah ke Bus Patas Madura dan sampai di Nambakor pukul 12-an, dan pukul satu
sudah bisa melepas lelah di rumah. Dari Jogja saya biasa memilih antara Bus
Ekonomi atau Bus Cepat. Untuk ke Madura, saya lebih memilih Patas. Tujuannya
untuk menghindari asap rokok dalam bis dan antrian 1-2 jam di pelabuhan Tanjung
Perak. Pasalnya, bus Patas boleh melintasi Jembatan Suramadu di siang hari.
Tapi
pada pulang kampung kali ini (25/06/2013), selain kebiasaan kecil, saya juga
membawa dugaan kecil: ongkos bus naik, karena BBM sudah naik. Betul dugaan
saya. Bus Mira yang biasanya 38 menjadi 47. Patas Jurusan Madura yang biasanya
42 menjadi 48.
Dalam
bus patas jurusan Madura dengan “inisial” Akas, saya mendapat tempat duduk dekat pintu belakang. Jam digital di hand-phone menunjukkan pukul 07.22. Sejauh
ini semua berjalan lancar. Para penumpang dengan raut berdebu dan sedikit
gelisah pada mencari-cari kursi yang masih kosong. Pukul 07.34 bus sudah penuh.
Sebentar lagi akan berangkat, pikirku.
Hingga menjelang pukul 08.00 bus hanya mengerang-ngerang dan sesekali
menggigil. Pukul 08 pas, bus baru menggerakkan badannya.
Bus
bergerak, saya pun lega. Saya tidak akan mengecewakan saudara saya. Saya akan
tiba di Nambakor sesuai dengan perkiraan. Memasuki pintu tol Waru, saya semakin
lega. Hamparan jalan kecil depan rumah, pohon jambu-air, dan sirih merah seolah
mendekat. Semuanya seperti berada di luar kaca jendela bus. Melintas di daerah
Kapasan bus tersendat-sendat, kemudian meluncur pelan hingga di perempatan ke
Kenjeran bus ambil kiri. Hore, sebentar lagi saya akan melintasi
Jembatan Suramadu.
Tapi
buru-buru rasa girang itu saya buang jauh-jauh. Saya masih ingat betul kabar
tidak sedap tentang Jembatan Suramadu. Setelah diresmikan dengan terburu-buru, beberapa
bulan kemudian berhembus kabar kalau mur Jembatan Suramadu banyak yang hilang.
Dan cerita lanjutannya: mur itu dicuri orang Madura untuk dijual kiloan. Saya
menduga dan yakin, streotip orang Madura yang ahli jual-beli besi menjadi
pengalih kenyataan yang pas.
Tapi
saya juga menduga dan yakin, sebenarnya Jembatan Suramadu pada waktu itu (2009)
masih belum ‘sah’ untuk diresmikan. Tapi demi kepentingan pemilu, ah ini
seperti dongeng tipuan putri yang menghidupkan suluh agar ayam berkokok, dan
raksasa itu merasa usahanya gagal.
Lepas
dari Suramadu saya menyaksikan deretan poster “calon wakil gubernur” Reng Madhura.
Ternyata jembatan dengan 5.438 m itu tidak hanya membawa perubahan, tapi juga membangkitkan
“nyali” orang Madhura –setelah beberapa tahun silam H.M Noer pernah
mendudukinya- untuk memperebutkan “kursi” di kantor Gubernuran.
Dalam
udara panas yang mengetuk-ngetuk di kaca, bus melaju sedang. Kecepatan berkisar
antara 60-70. Sepanjang jalan antara Jembatan Suramadu dan jalan raya
Bangkalan, hamparan sawah tampak lesuh. Hijau yang biasanya menarik mata hingga
tepi batas pohon-pohon di kejauhan, menampak warna pudar berdebu. Sebuah pabrik
pun beronggok pongah. Sampai di pertigaan Tangkel, bus memelan. Bus seperti
memberi kesempatan pada jarum jam untuk lebih cepat. Lampu merah berganti
hijau, bus melaju pelan. Belok kanan, sekira dua kali menderu, bus berhenti.
Kondektur dengan sigap membuka pintu belakang. Lalu dua lelaki menggeliat. Tas
ransel tampak menggayuti punggungnya. “Turun mana?” Tuan kondektur mengeluarkan
buntalan karcisnya. “Sampang. Penjara.” Salah satu penumpang baru itu
menjulurkan selembar uang ratusan.
Bus
mempercepat lajunya. Transaksi kondektur dan penumpang baru pun usai. Kondektur
menyelinap ke depan, dengan meninggalkan janji mencarikan bangku kosong. Sampai
di depan, kondektur melambaikan tangan, pertanda tak ada kursi kosong. Dua
penumpang baru bersama-sama mengangkat bahu. Kalau diterjemahkan mungkin ingin
mengungkapkan, “Mau bagaimana lagi? Ya, kita berdiri.”
Selepas
pasar tanah merah, bus memelan. Bus sempat menghentak kemudian berhenti. Seonggok
kepala terdengar setengah berteriak dari luar pintu depan. Kondektur menyambutnya
dengan lambaian. Sudah tiga orang berdiri, gerutuku dalam hati. Setelah melintasi
bebukitan Bangkalan, saya baru sadar bahwa ada yang aneh dengan bus patas ini.
Saya mencari-cari muasal keanehan ini.
Selang
berapa puluh meter, sumber keanehan itu ditemukan. Keanehan itu ternyata
melintas dari bayangan tiga penumpang yang berdiri. Aneh karena ini bus patas,
cetusku. Bukankah bus cepat atau patas penumpangnya tidak boleh berdiri? Bukankah
patas harga tiketnya lebih mahal dari yang biasa? Bukankah harga tiket yang
lebih mahal karena pelayanan patas yang tidak sama dengan bus biasa? Bukankah..
Setelah
mengajukan beberapa pertanyaan, saya jadi uring-uringan dengan awak bus patas. Saya
pun sempat berfikir untuk menyumpahi mereka: dasar rakus! Tapi sebelum sumpah
itu terlontar, saya dapat pesan-pendek
dari teman, kalau dia akan ikut “aksi” kenaikan BBM. Membaca pesan-pendek aksi
kenaikan BBM, saya tidak jadi menyumpah. Saya jadi mafhum, kalau kenaikan bukan
sekadar naiknya bensin, solar dan bahan bakar. Tapi juga menjadi “sirine” bagi
kenaikan berbagai macam kebutuhan. Daripada menyumpahi para awak bus, saya
memutuskan untuk menduga-duga: mereka menaikkan penumpang walau pun tempat
duduk sudah penuh mungkin karena tuntutan. Kalau bekerja sesuai “text-book”
mungkin anak bini mereka sedikit menjerit.
Mungkin juga uang mereka juga bersiap-siap untuk lonjakan harga yang
tidak tentu.
Sambil
menduga-duga berbagai alasan tindakan para awak bus, saya pun teringat dengan
perangai para pemangku kebijakan negeri ini. Kalau negeri ini diibaratkan bus
patas dengan segala fasilitas mewahnya: kekayaan alam yang melimpah, bentangan
hutan dan lautan yang gemah ripah loh
jinawi, maka para pemangku kebijakan tersebut adalah awak yang sedikit lelet. Bahkan mereka dapat dikatakan
kalah cepat mengantisi ancaman ekonomi dibanding para awak bus. Di tengah naik
harga BBM dunia, para pemangku ini tidak bisa bermanuver. Mereka lebih memilih
jalan aman, yaitu ikut menaikkan harga BBM daripada mengurangi anggaran
belanjanya.
Dengan
kalimat yang sedikit kesal, para pemangku kebijakan negeri ini tidak bisa
melakukan terobosan ‘cerdas’ dalam mengelola hajat hidup masyarakatnya. Para pemangku
negeri ini lebih suka bermanuver demi “karcis” dan “aplaus” kekuasaan daripada
mengambil keputusan cepat dan tegas. Keputusan menaikkan BBM sempat
berlarut-larut. Perdebatan di mana-mana. Harga barang sudah melambung sebelum
BBM naik. Akibatnya, sistem presidensiil yang didengungkan pun berasa parlemen.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar