Oleh: Salamet Wahedi
:Darsi yang menubuh Chairil
:Darsi yang menubuh Chairil
semestinya,
kita mesti berikhtiar, Darsi
dengan
sepenuh hati dan segenap isyarat
yang
diselipkan waktu di sanggul magismu.
sekadar
merayakan kematian sekaligus kelahirannya.
hingga
malam kehilangan desah
hingga
puntung rokok menerangi jalan rebah
segelas
kopi dan botol mineral beradu di bibirmu
seperti
denting puisi dan lagu
mendekatkan
gunung pada daftar menu
tapi
Darsi, di halaman berapakah penyair itu mengeraskan doanya?
penyair
itu menamatkan detik hijaunya
seperti
mata kucing yang meratap di antara kita
antara
meja kesepuluh dan kursi keempat dari kitab bisu
silsilah
yang menyimpan perempuan-perempuan dengan bibir perak
tapi
Darsi, kematian atau kelahiran bukanlah riwayat puntung rokok
abu
usia yang mencintai asbak dengan segenap kepasrahan
tukang
parkir menarik nasibnya dari gemerincing kantong kita
pun
puisi yang kau hunjamkan
sebatas
membuka jeda riuh bagi si penjaja buku
semestinya
kita mesti berikhtiar
dengan
sepenuh hati dan segenap kata yang disimpan malam, Darsi
sekadar
memajang senyumnya di jantung kafe
dengan
dada cokelat tua dan lambung dari bambu
dengan
suara tuhan tersimpan dalam keriut bangsal di atas kepala
ilustrasi diambil dari: www.cafesara.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar