Jerit Malam - santriwarrior

Breaking

Header Ads

SANTRIWARRIOR 728X90

Selasa, 25 Februari 2014

Jerit Malam

Oleh Salamet Wahedi

Perempuan itu menjerit malam itu, Ayah. Sepotong telinga mendengarnya. Dinding-dinding di sekeliling rumah itu juga mendengarnya. Dan mulut Mabsiyah telah menelorkannya. Menjadi telur-telur laknat. Menetas dari satu rumah ke rumah yang lain. Hingga menggumpal menjadi seobor kata-kata bergeriap kuning-merah di jalanan. Siap membakar siapa saja yang menerimanya.

Anak muda, berusia separuh umur uban di kepalamu dan gigi gerahammu yang berlepasan, sepupu perempuan itu, pun menerimanya seumpama wahyu pembakaran. Di depanmu dia benar-benar terbakar. Matanya memerah. Tadi, sebelum kau datang. Sebelum telunjuknya menuding ke arahmu, dia menatapku dengan binar pupil tak acuh.

“Kau perlu sama aku atau ayah?
“Tenang saja”, jawabnya gemetar.

Dia benar-benar terbakar. Getar suaranya bergolak. Adzan magrib yang baru saja berlalu, tak membuatnya surut untuk sekadar menarik nafas panjang. Atau menundukkan kepala. Sejenak dia hanya menata letupan kata-kata apinya. Dia kini memandangmu, Ayah. Seperti malaikat Munkar-Nakir, dia menanyaimu. Dia memastikan, apakah kau benar-benar masuk ke rumah perempuan itu?

Malam itu, kau gagu Ayah. Kau jelaskan padanya, kau memang masuk. Tapi kau tak punya maksud. Tapi anak muda separuh usiamu itu membantah. Dia tetap bersikukuh, ayah datang dengan rupa Lucifer.

“Maksud Bapak malam itu apa? Saya yakin, Bapak mempunyai maksud yang tak pantas”

Dia terus membantahmu. Meski kau berulang jelaskan, ini mungkin kesalahpahaman. Dia buru-buru memanggil perempuan itu. Mengorek kenyataan seperti menyadap getah siwalan. Sejenak aku tertegun ayah. Dari balik lemari tengah, dadaku berdegup memandangnya. Perempuan itu, ibu perempuan itu, bibi perempuan itu, paman perempuan itu, seperti gerombolan yang menusuk nadiku. Perempuan itu menumpahkan kata-katanya bak kaki hujan dimainkan angin dan tumpah-ruah di mulut pancoran.

Setengah sesenggukan, perempuan itu mengacungkan telunjuknya. Matanya sembab, menatapmu dengan raut runcing. Dia ingin menikamkan kilat kebencian. Dan ibu perempuan itu ikut mengutukmu. Dia mengata-ngataimu tidak punya ‘mata’. Dia juga menyinggung anak-anakmu. Dadaku teriris, Ayah. Adik menggelepar dengan sliuet merah di bawah alisnya.

Dengan terbata-bata, kau coba sanggah. Kau jelaskan malam itu, kau hanya ingin bermain. Tak lebih.

“Kalau saya punya maksud jahat, mana buktinya? Saya tak mencongkel jendela rumah orang lain. Bibimu membukakan saya pintu. Saya masuk dan duduk. Lalu, entah kenapa dia agak berteriak. Saya hanya melempar gurau yang seperti biasanya.”

Tapi malam itu sudah jadi seteru. Kobar kata-kata sudah tak terelakkanberkobar, Ayah. Mata mereka merah. Didih darahnya bergeriap di ujung pupil. Berkilatan di bawah neon lima watt. Sedang dadaku terus tercabik mengikuti drama itu. Degup dan desir darah terasa kecut.

Tak puas dengan berempat, mereka memanggil dua orang lagi. Suami perempuan itu, dan Dhe Sata. Ah, aku pun mulai meraba-raba, tontonan apalagi ini. Orang-orang mulai memenuhi halaman rumah. Mereka seolah ingin menyaksikan sebuah pengadilan agung bagimu. Yang lebih dramatis, kasak-kusuk mereka terus menggiringmu, anak-anakmu sebagai pesakitan.

Dhe Sata tampak ketus meledakkan kesaksiannya. Malam itu, dia mendengar perempuan itu menjerit. Setengah menjerit.

“Kalau saya tak ‘melihat’ Sampeyan, dan kalau saya akur dengannya, sudah saya hunjam rumah itu, ” dia ingin meyakinkan semua orang, bahwa dirimu benar-benar pesakitan yang mesti segera disalib.

Sedang suami perempuan itu di kursi panjang di depanmu hanya menelan ludah. Airmukanya mengalirkan ricik ketakacuhan. Seperti detak detik jam, dia lebih berhati-hati mengeluarkan kata-kata. Dia seolah ingin mencicil segala uneg-uneg dan rasa tak percayanya.

Anak muda separuh usia ubanmu kembali menuding. Orang-orang semakin berjubel. Mereka seperti segerombolan lebah. Siap menyantap. Siap mengeroyok. Tapi itulah kenyataannya Ayah, mereka siap menyantap dan mengeroyok karena bergerombol. Bergerombol Ayah.

Dan ibu belum datang dari pasar hingga pertunjukan itu usai.

***

“Saya merasa aneh dengan kejadian ini. Ibu perempuan itu minta diessep. Dan kejadian sudah berlangsung satu setengah bulan lalu.”

Ibu seolah tak percaya. Tapi dia tetap menerimamu. Ibu belum sepenuhnya dapat menerima: begitu panjang dan lamakah kata-kata itu bergera. Terus mendera. Dan malam perempuan itu menjerit, seolah lonceng yang akan bergenta sepanjang musim.
“Buk Mabsiyah yang maleddhuk caca.

Adik dengan isak yang sengak meminta ibu untuk diam.

***

Lelaki itu memandangku. Sorot matanya seperti menyusuri lekuk wajahku. Dan berulang airmukanya meminta kepastian.

“Ya, saya anaknya Pak Alim. Saya sekarang di kota S.”

Aku sodorkan ktp-ku. Dia menarik nafas ringan. Dia, seperti ingin menghapus bentangan jarak-ruang-waktu 27 tahun lalu. 27 tahun saat malam itu menjerit. Ya, bentangan 27 tahun, ternyata tak hanya mengubah berbagai hal. Tapi juga menyisakan ruang-lorong maha panjang gelap nan pengap. Ruang-lorong yang meranggas, merangkum jejak keluarga kita.

“Saya ingin berkunjung ke rumah Syamsul. Adik saya. Saya sudah lupa rumahnya”.

Seperti baru sadar dari lamunan panjang, lelaki itu buru-buru mengambil inisiatif pembicaraan. Tanpa aku minta, dia mengawali cerita itu lagi. Waktu itu, di malam perempuan itu menjerit, dia masih berumur 20-an. Dia sedang kuliah. Ketika berumur 30-an, dia baru pulang ke tanah kelahirannya.

“Aku tercatat sebagai Kepala Desa paling muda di kabupaten ini. Mungkin di negeri ini”, dia mengurai cerita keluargaku dari muasal paling dini. Sesekali dia juga membeberkan jejaknya. Membanggakan dirinya.
“Aku tahu cerita keluargamu dari paman.”

Cerita keluargaku benar-benar merayap hitam di dinding sejarah. Malam itu gelap dan kelam. Jeritan itu terus mendera dan membelam. Dan perempuan itu…

***

Kata paman, malam itu benar-benar kelam bagi keluargamu. Semua orang, termasuk paman sebagai kepala dusun, pada kebingungan. Perempuan itu menjerit tengah malam. Sekitar pukul 10-an. Ayahmu katanya masuk. Empat puluh hari setelahnya, perempuan itu menjerit lagi. Keluarganya mengepung rumahmu. Mengeroyok ayahmu.

“Aku tak bisa menentukan siapa yang salah. Tapi keputusan kudu diambil untuk tentukan siapa yang kalah”

Sungguh, pamanku tak ada pilihan lain. Perempuan itu menjerit. Kata-katanya merambat. Bergolak dan berkobar laksana api. Semua orang ikut terbakar.

Ayahmu, ibumu dan kau, dengan meninggalkan adikmu yang sudah berkeluarga, kata paman memilih meninggalkan desa ini. Tapi perempuan itu tetap menjerit...

***

Dia seperti turis. Tak ubahnya seorang arkeolog, dia pun meneliti dan mengamati setiap puing-puing rumahnya. Empat puluh tahun lalu, tangisnya pecah di salah satu ruang kamarnya. Sepuluh tahun usianya berlalu di setiap sudut dan lubangnya. Kenangan akannya pun berlumut. Lumut yang getas dan ganas: di sebuah malam, perempuan muda menjerit. Rumahnya kosong. Suaminya di luar kota. Pukul sepuluh malam, ayahnya, katanya mencoba menerobos masuk. Padahal pintu itu, juga pintu-pintu yang lain masih terbuka.

Memandang ke sekeliling, dia terdampar asing. Sorot berpasang mata, seolah seperti mata belati. Mengincar dan siap menggorok lehernya. Adiknya, seperti dijelaskan Kepala Desa, turut pergi sepuluh tahun setelahnya. Mereka pergi tersebab cerita jerit perempuan itu di tengah malam terus bergenta dan bergema. Tetangganya yang dulu berkerumun dan siap memberi kesaksian akan jeritan perempuan itu, pun telah pada entah.

Seorang perempuan muda melintas di dekatnya. Semburat senja menjatuhkan bayangannya memanjang dan menyemu jingga. Perempuan muda itu menatapnya. Tatapan asing dan penuh tanda tanya.

“Dhe Syamsul pergi. Entah ke mana?”

Untuk sementara waktu, mungkin sepuluh menit, dia memilih berbincang dengan perempuan muda itu. Cerita jeritan perempuan di tengah malam, dan terusirnya keluarganya, ternyata melegenda sampai kesekian generasi.

“Setelah keluarga itu pergi, perempuan itu masih menjerit tengah malam,” perempuan muda itu, seolah ingin memberi kesaksian lain. Kesaksian yang akan mengenangkan nasib ayahnya: waktu itu, mereka mengeroyoknya. Kebenaran seolah hanya milik gerombolan.

Dari celah jendela yang rapuh, dia melihat potret keluarganya masih terpampang di ruang tamu. Ayahnya dan ibunya sudah kusam. Dia dan dua adiknya yang berdiri di belakang dan di samping, dimakan rayap. Ada keinginan dirinya hendak masuk. Tapi keremangan senja yang benar-benar menyemu jingga, membuatnya berpikir sejenak: jangan-jangan rumah ini akan roboh. Sementara dirinya masih menimb
ang, perempuan muda itu mengajaknya mampir dulu.

Malam bergayut rendah.

Tapi buru-buru dia menghaturkan sembah. “Maaf saya harus pergi, ” dia memandang sekilas pada cerlang perempuan muda di depannya. Di kepalanya masih berkelebat genta perempuan itu menjerit.

Dan malam itu benar-benar laknat.
           
Muaragaram-jhiletemor, sepetember 2010
dimuat di bali post 23 februari 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar