Oleh Set Wahedi
Jogja-Surabaya, Feb 2014
dimuat di santrepangarangan.com
santrèpangarangan.com_ Kali pertama masuk pondok, sekitar pertengahan tahun 1997, saya sedikit uring-uringan dengan tradisi jam mandi. Mandi, yang bagi keseharian saya –dan juga orang kebanyakan- dilakukan atas dasar hendak melakukan rutinitas, menyegarkan tubuh, menghadiri pesta, menghilangkan sumuk atau alasan yang dapat dicomot dari mana saja. Karenanya, mandi menjadi kebutuhan insidental yang benar-benar akan menentukan mood seseorang untuk melakukan berbagai aktivitas hidup.
Tradisi jam mandi, kira-kira begitulah saya akan menamai satu fase kenangan awal saya di pondok. Satu fase yang merujuk pada aturan pondok: setiap santri hanya boleh mandi di pagi hari (pukul 06.00-07.00) dan di sore hari (15.30-17.30) atau dengan kalimat lain, santri di larang mandi di luar jam itu. Kalau melanggar ketentuan jam mandi itu, santri tersebut berarti siap untuk diberdirikan, digundul atau disuruh nguras jeding.
Jam mandi dan segala konsekuwensinya, tidak sekadar tradisi yang “mengancam” pada mulanya. Akan tetapi rutinitas yang membosankan. Setiap hari, para santri berebut, antri, dan mandi dengan hitungan detik yang lugas: satu kali sabun, selesai. Kalau tidak? Lagi-lagi hal semacam ini yang menjadikan tradisi jam mandi penyebab saya uring-uringan: kamu akan diolok-olok! Jam mandi bukan jam yang pas untuk kau mandi. Akan tetapi jam mandi adalah jam di mana kau tahu diri untuk mandi.
Baru setelah dua tahun di pondok, saya begitu “enjoy” mengikuti tradisi jam mandi. Saya jadi rajin dan sopan di dalam kamar mandi. Setelah aderres (:belajar baca kitab) seusai shalat ashar, saya segera mempersilahkan tempat sabun mandi saya untuk nangkring di mulut kamar mandi. “Itu sabun saya. nomor tiga. Setelah si anu,” begitu kalimat yang sering diucapkan seorang santri untuk menegaskan nomor antriannya.
Setelah dua tahun, jam mandi saya semakin berdentang nyaring. Saya tidak hanya sopan dan rajin di kamar mandi, akan tetapi saya juga mulai nyanyi-nyanyi. Saya mendapatkan detik yang istimewa untuk gosok gigi, sabun dua kali, dan mendapatkan air yang cukup bersih.
Penyebabnya, sejak menginjak kelas dua tsanawiyah, saya dipercaya untuk jaga koperasi. Dengan dalih sebagai penjaga koperasi, jam mandi saya berdetak dan bermenit dengan murah meriah. Kalau selama dua tahun sebelumnya, saya begitu kesulitan mandi dengan air bersih dan waktu yang enak, sejak jadi penjaga koperasi saya benar-benar menemukan jam mandi benar-benar memiliki keistimewaan.
Setelah purna dari pondok, saya jadi begitu tertarik untuk mengisahkan jam mandi. Tradisi jam mandi ternyata merupakan salah satu usaha “kecil” pondok untuk mendisiplinkan tubuh para santri. Para santri yang berangkat ke pondok dari berbagai latar, mencoba didudukkan dalam ruang bersama. Siapa pun dia, dari golongan keluarga apa pun, sampai dari mana pun mereka berasal, harus tunduk pada keinginan bersama: hidup disiplin.
Disiplin merupakan kata kunci untuk menundukkan dan membentuk tubuh manusia. Dengan disiplin, para santri belajar untuk mendialogkan antara keinginan dirinya dan tuntutan orang di sekitarnya. Dalam hal ini, manusia dengan imajinasi kenikmatannya, kalau tidak diberi garis pembatas, cenderung menjelma makhluk liar. Kebutuhan dan rasa puas dapat menyeretnya untuk melakukan hal-hal yang tak-dianjurkan. Untuk hal itulah, jam mandi menyisakan cerita yang cukup dalam diri saya: kedisiplinan ternyata bukan monopoli militer. Kedisiplinan merupakan kata kunci setiap orang untuk membentuk dirinya sebagai individu yang saleh dan penuh ketaatan.
Selain kedisiplinan, tradisi jam mandi menekankan ketetarutan. Dalam jam mandi, setiap santri belajar untuk saling menghormati dan menghargai. Santri yang lebih dulu naruh tempat sabunnya, memiliki legitimasi penuh untuk mandi lebih dulu. Bahkan dia memiliki otoritas untuk menegur orang lain. Keteraturan jam mandi tidak memandang usia dan pangkat. Siapa pun dia harus tunduk pada tradisi jam mandi. Keteraturan jam mandi, adalah metode tidak langsung untuk membentuk para santri memiliki karakter yang kuat dalam memahami masyarakatnya.
Jogja-Surabaya, Feb 2014
dimuat di santrepangarangan.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar