Pada
kunjungan ke Jogja yang kali ketiga (tahun 2008), saya disuguhi anekdot Sajuri oleh seorang teman. Sajuri adalah
sosok yang berani, berpikiran polos, dan banyak manuvernya. Waktu kuliah dulu,
judulnya skripsinya unik dan tak terpikirkan: salip-menyalip angkot dalam
perspektif Islam. Judul ini ditolak, kemudian Sajuri mengusulkan judul lain:
peran Unta dalam perkembangan Islam. Cerita ini dianggap lucu, karena Sajuri
mengajukan tanpa mengikuti atmosfer kelimuan yang ada. Sajuri ditertawakan
karena kepolosannya.
Dalam
cerita teman yang lain, Sajuri pernah adzan dua lafadz. Setelah lafadz “Allahu
Akbar”, loudspeaker-nya dimatikan. Untuk beberapa menit Sajuri diam
duduk santai di dekat mimbar. Kemudian, louspeaker dihidupkan lagi,
Sajuri mengumandangkan lafadz “Lailahaillallah Muhammadar Rasulullah”. Mendengar kumandang adzan hanya dua lafadz “Allahu
Akbar” dan “Lailahaillallah Muhammadar Rasulullah”, ketua takmir
menegurnya. Dengan enteng Sajuri menjawab, setelah “Allahu Akbar”, listrik
mati dan hidup ketika dia sudah mengumandangkan lafadz “Lailahaillallah
Muhammadar Rasulullah”.
Nilai
lucu cerita sajuri adzan dua lafadz terletak pada keberanian manuver Sajuri dengan
listrik. Sajuri seolah peka dan lihai bagaimana memanfaat listrik atau alat
modern lainnya demi kepentingannya. Dari saking lihainya, Sajuri dapat
menghadirkan jawaban yang pas untuk meredam kejengkelan ketua takmirnya.
Setelah
Sajuri lulus dan melanglang buana ke Jakarta –kini jadi caleg di dapil Madura-,
Sajurilovers tetap mengetengahkan anekdot-anekdot Sajuri di
warung-warung kopi. Mereka menyuguhkan cerita-cerita Sajuri bukan sekadar
karena rindu, tetapi cerita-cerita Sajuri mengandung ‘sesuatu’ yang dapat
direnungkan berulang-ulang, terutama ketika kita dilanda galau. Sajuri seolah
Abu Nawas di tengah adab digital ini.
Anekdot
Sajuri –dan mungkin tokoh konyol lainnya- mungkin adalah hiburan yang pas untuk
kita dengarkan, kemudian merenungkannya sambil tertawa terpingkal-pingkal hari
ini. Kenapa?
Kira-kira
begini. Memasuki tahun 2014, jagad sastra Indonesia seperti panggung politik.
Para sastrawan yang diidamkan sebagai ‘empu’ citarasa seni tinggi, tiba-tiba
lengser ke prabon. Mereka, layaknya para politikus, tebar citra atau
mempertontonkan aib mereka dengan elegannya.
Kita
–khalayak atau penikmat sastra- dipaksa untuk tidak lagi berharap pada sastra
sebagai tempat ungsi atas rasa sakit dari peristiwa. Kita mesti menghadapi
kenaikan harga LPG tanpa sepotong sajak atau cerita di hari minggu yang menghadirkan
katarsis. Kita mesti meratapi korban banjir atau perkosaan tanpa teman biografi
yang mengasyikkan. Kita pun, siap-siap untuk melihat dunia sastra sebagai
antah-berantah bubrah entah mau ke mana. Kenapa?
Buku
“33 Tokoh Sastra Berpengaruh” yang kira-kira memaksa kita untuk tidak terlalu
berharap pada “sastra” Indonesia. Sebenarnya, kita tak perlu menyangsikan lagi
bahwa mereka yang termuat dalam buku tersebut adalah orang-orang berpengaruh.
Amir Hamzah, Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, Sutardji Calzoum Bachri,
Goenawan Muhammad, dan Denny JA –untuk menyebut segelintir nama yang termuat-
adalah sosok-sosok dengan kapasitas dan kredibilitas yang tak diragukan.
Amir
Hamzah sebagai raja Pujangga Baru, Chairil Anwar Pelopor Angkata ’45, Pramoedya
Ananta Toer Bapak realisme sosialis Indonesia, Sutardji Presiden Penyair
Indonesia, Goenawan Muhammad tetua Utan Kayu (komunitas Salihara), dan Denny JA
bos Lingkaran Survei Indonesia (LSI).
Khusus
Denny JA, saya kira perlu mengutak-atiknya. Pertama, Denny JA selama ini
dikenal sebagai salah satu aktor penting dalam hiruk-pikuk demokrasi Indonesia.
Kedua, Denny memulai debut sastranya sekitar awal tahun 2012 (mengacu
pada buku kumpulan puisi esai “Atas Nama Cinta”). Ketiga, seorang calon
sarjana sastra kebingungan ketika hendak meneliti gagasan-gagasan ‘utuh’ Denny
JA dalam dunia sastra.
Nah,
alasan yang terakhir ini bagi saya cukup menarik. Alasannya sederhana, Denny JA
yang dikenal sebagai aktor politik, tiba-tiba “nongol” di jagad sastra.
Artinya, dunia sastra Indonesia, yang selama ini diniatkan seni untuk
seni, telah bergeser. (Orang) politik memang bukan lagi panglima, tetapi ia
ternyata penentu kebijakan seni.
Eit,
tunggu dulu. Tuduhan (orang) politik sebagai penentu kebijakan seni dan tuduhan
lainnya yang beredar, saya kira sedikit sarkasme. Bahkan cenderung tidak
menghargai orang-orang yang merampungkan dan mengumpulkan serakan artikel
seharga lima juta (per-artikel) itu. Dengan kata lain, kita mesti menemukan
formula yang tepat untuk menerima kenyataan bahwa di antara tokoh-tokoh sastra
yang berpengaruh, terdapat aktor politik yang berpengaruh dengan segelintir
karya.
(dimuat di Suara Merdeka, 2 Februari 2014)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar