Kamran - santriwarrior

Breaking

Header Ads

SANTRIWARRIOR 728X90

Rabu, 15 Januari 2014

Kamran

Oleh Salamet Wahedi (Set Wahedi)

Kamran. Ini nama teman sekolah saya semasa Tsanawiyah. Menginjak menengah atas, ia memutuskan berhenti di tengah jalan. Setelah itu, saya dihinggapi lupa. Sampai bertahun-tahun, nama itu tenggelam dalam dering kesibukan dan bising kota tempat saya melanjutkan pelayaran. Ya, saya menamai masa sekolah saya –dari SD hingga perguruan tinggi- sebagai pelayaran. Di masa sekolah ini, saya bak menghadapi laut. Mula-mula ricik, menggelembung, lalu jadi gelombang.

Di tengah pelayaran itu, saya menghambur sebagai pelaut yang baru kali pertama menarik layar. Karena sebelumnya, saya tak punya banyangan sekolah sejauh itu (perguruan tinggi). Perahu saya oleng, terkadang angin buritan membuat saya panik. Karena itu, saya berjuang mati-matian bertahan di tengah laut. Karena itu, saya banyak melupakan hal-hal yang tak berhubungan dengan perahu dan laut. 

Tidak hanya itu, ingatan saya yang seumpama kapas, tak mampu menyerap banyak air. Sedangkan lautan peristiwa begitu deras dan kuat. Ingatan saya tak bisa menadah, atau menangkap. Malah ingatan saya hanyut dalam pusaran. Maka, mengingat bagi saya merupakan perjuangan.

Kamran. Saya kembali menemukan nama ini dalam acara reuni teman-teman Memoar ‘04 di tahun 2013. Saya menemukannya seperti kerikil. Kecil, tapi cukup untuk mengganjal lamak tempat saya duduk. Ia muncul di tengah perbincangan dan cerita-cerita hangat masa lalu. “Mana Kamran?” pertanyaan itu tiba-tiba saja membuat saya  tersedak, bahwa sekian tahun, teman saya itu lupa saya perbincangkan. Lalu diam-diam saya berusaha untuk nguping dan berjuang mengingatnya.

Kamran. Ia teman yang karikatur. Raut mukanya, caranya berjalan, kata-katanya yang kadang menggugu, mengingatkan saya pada tokoh utama dalam dunia persilatan film kuno. Sayangnya, dalam ‘rimba’ pondok pesantren Kamran menjadi pendekar yang sering kalah. Ia berulang menjalani hukuman: digundul, diberdirikan, menguras kamar mandi, nyapu halaman, dan seabrek hukuman lainnya.

“Kami pernah ke surabaya,” kata Iyan, teman sekamarnya dulu. Syukurlah, batinku. Kamran ternyata sudah mengenal kota metropolitan. Ia mungkin sudah tahu Jembatan Suramadu yang membentang dengan gagah. Ia mungkin sudah masuk Tunjungan Plaza yang megah. “Tapi setelah itu, kami berpisah. Saya kehilangan jejaknya.” Kalimat itu diucapkan Iyan seperti mengeja daun yang luruh.

Aduh, sergahku dalam hati. “Kemarin saya lihat di selatan Masji Agung. Ia mbecak.” Kata seorang teman –entah siapa, saya lupa suaranya. Astaga, saya ingin memotongnya, tapi suara teman yang lain membuat saya menyisih.

Setelah pertemuan itu, saya lupa lagi. Nama itu tenggelam. Berhari-hari, berbulan-bulan. Baru di awal 2014, saya seperti dipaksa untuk mengingatnya lagi. Saya berjuang mengingatnya atas dua hal. Pertama, saya ingin bertanya padanya. Saya ingin bertanya, benarkah pidato pertumbuhan ekonomi, pengumuman kenaikan harga LPG, berita penggrebekan teroris, dan tersiarnya isu-isu hangat rakyat di tahun politik ini, benar-benar berdampak dalam kehidupannya? Semisal, ketika pertumbuhan ekonomi naik, ia dengan mudah dapat pekerjaan? Kalau toh, kita kira dia sudah kerja di pabrik, apa kabar harga LPG naik juga berimplikasi pada naiknya upahnya?

Alasan kedua saya mengingatnya, saya ingin berbincang-bincang atau bertukar cerita dengannya. Kelak, pikir saya, kalau saya berhasil mewancarai atau mengorek berbagai pengalamannya lari dari pondok, hidup berjuang di Surabaya, lalu keputusannya mengadu nasib dengan mbecak, saya ingin menuliskan setiap katanya dengan ritmis. Saya ingin ceritanya itu lekang dalam ingatan saya.

Segala peristiwa yang diceritakannya akan saya tulis sebagai potongan kenangan, yang setiap orang mesti mengenangnya. Kenapa? Karena dengan kenanganlah –apalagi dengan Kamran yang karikatur- kita bisa tersenyum. Sejenak mengungsikan segala kerisauan. Kembali optimis, bahwa hidup itu permainan. Karenanya kalah menang itu biasa. Tinggal bagaimana kita memosisikan diri.
Atau kalau suatu saat, ketika orang bertanya atau gelisah tentang tuntutan kebutuhan dan kepuasan hidup, saya tinggal mengajaknya untuk kembali membaca cerita Kamran. Kemudian kami akan merenung, bahwa dalam hidup perencanaan itu penting, tapi keyakinan dan semangat untuk hidup itu lebih menentukan.

Tapi sampai tulisan ini mau berakhir, saya belum menemukan jejaknya. Dua teman yang saya kira memiliki nomor kontak atau alamatnya, sama-sama memberikan jawaban yang sama pada pesan saya: tidak tahu. Sejenak saya menghirup napas, dan berencana mengirim pesan pada teman lain, tapi tulisan ini sudah benar-benar mau selesai. Karena itu, saya hanya bisa menuliskan harapan di penghujung tulisan ini dengan huruf bold: Kamran, di mana kah kau kini?

1 komentar:

  1. Tulisan-tulisan menarik . Ayooo tulisan yang lain. Sebagian kirim untuk www.lontarmadura,com, untuk tulisan Madura

    BalasHapus